
Ceklek (suara pintu di buka)
Ken mendongak ke arah pintu sang majikan. Merasakan ruangan itu tidak berpenghuni, Ken keluar dari kamarnya untuk mempersiapkan menu makan malam.
"Dari siang ga keluar kamar, masih hidup ga tuh orang," gumam Ken dengan suara yang cukup keras. Ia sengaja bicara dengan dirinya sendiri agar mengurangi rasa ketakutannya.
"Hah," Ken terbelalak. Ia melihat bahan masakan yang sudah disiapkan di atas kitchen set bagian bawah kok berkurang. Box yang beisi daging sudah tidak ada lagi di situ.
"Kemana ini?" tanyanya begitu panik.
Ken mencari di bagian kanan kiri atas bawah, barangkali box itu terjadi namun hasilnya nihil. Ia kembali membuka lemari es, memeriksa tumpukan box bagian lauk pauk satu persatu.
"Astaga! Kenapa kok ada di sini lagi," pekiknya begitu kaget.
Ia mengeryitkan keningnya, memijit pelipis matanya. Ken yakin benda itu sudah dikeluarkan sebelum ia masuk kamar sore tadi.
"Kenapa dagingnya sudah beku lagi. Berarti sudah lama box ini pindah tempat,"
"Siapa yang memindahkan box ini?" tanya Ken makin bergidik. Ia melihat kamar atas itu dengan pandangan yang tajam.
"Kalau dia keluar, aku pasti bisa denger suaranya. Dari tadi aku tidak mendengar suara apapun di dapur," bisik Ken yang membuat bulu kuduknya semakin merinding.
"Ya Tuhan, kenapa bisa se-horor ini? Apa rumah ini benar-benar didiami dedemit selain mahluk aneh yang satu itu?" pekik Ken nyaris putus asa. Ia tidak habis pikir, kenapa keanehan demi keanehan terus terjadi di rumah ini?
Ken ingat pesan ibunya, dalam keadaan takut seperti itu harus banyak-banyak berdoa agar tidak larut pada suasana. Jadi untuk menghilangkan ketakutannya, mulutnya tidak berhenti komat-kamit, membaca ayat kursi yang sudah berapa kali ia ulang dan ulangi lagi.
"Kalo beku begini bagaimana bisa di goreng? Terus kalau ga dimasak dia mau makan apa? Masa iya telor ceplok lagi. Sarapan pagi dan makan siangnya sudah bikin telor ceplok. Kalau aku buatin lagi, bisa-bisa aku yang digaplok. Ah.......," Ken makin kesal dengan urusan dapur yang model begini.
Sambil berpikir keras, Ken menyiapkan bumbu cah kangkung dan jus untuk majikan. Setelah itu ia menengok ke jam dinding.
"10 menit lagi jadwalnya makan malam. Duh gimana ini?" Pikirnya makin panik.
"Ya sudahlah. Dimasak aja apa adanya,"
__ADS_1
Ken browsing di internet cara mengolah daging yang beku. Alternatifnya cukup sulit karena harus menggunakan oven dengan suhu tertentu, belum lagi ia tidak ia tidak tahu dimana ibunya menyimpan oven dan cara menggunakannya.
"Panaskan wajan, tuang minyak. Sebelum minyak terlalu panas, masukkan potongan daging. Api jangan terlalu besar," Ken mengikuti petunjuk yang dianggap paling sederhana dan mudah di lakukan.
Sesuai petunjuk, satu menit....dua menit.....belum ada perubahan warna daging. Hanya minyaknya terlihat mulai mendidih.
"Tambah dikit apinya," Ken memutar sedikit tombol kompor itu ke kanan dan terlihat api sedikit membesar.
"Nah, ini sudah pas sepertinya," Ken terus saya bicara sendiri sembari menyelesaikan masakan.
Sambil menunggu daging itu matang, ia menyalakan kompor satu lagi untuk memasak cah kangkung.
"Dor.......dor........," suara letupan dari wajan di samping mulai terdengar. Ken panik melihat cipratan minyak panas yang mulai ke mana-mana.
"Duh, gimana ini?" Pikirnya. Ia ingin memastikan kompor justru ledakan yang semakin keras terjadi. Tak nyala lagi, tangan Ken kena semburan minyak panas dari gorengan daging yang masih beku tapi.
"Aaaw.....," pekiknya kaget. Suaranya cukup keras. Namun kepanikan tidak lebih mengalahkan rasa sakitnya.
"Tutup panci.....mana tutup panci? " Ken membuka bagian rak paling bawah untuk mencari tutup panci yang berukuran cukup besar. Begitu ia mendapat benda itu, segera menangkupkannya ke sumber letupan.
"Waduh, ini minyak juga sudah panas," seru Ken lagi. Wajan yang seyogyanya untuk membuat cah kangkung itu juga mulai berasap karena Ken menghabiskan cukup waktu untuk mencari tutup panci.
Buru-buru Ken memasukkan bumbu cah kangkung yang sudah ia siapkan terlebih dahulu. Meskipun bau gosong sudah lenyap dan asap yang sempat mengebul juga sudah terhisap oleh alat yang ada di dapur itu, Ken belum bisa lega.
Ia melihat bumbu cah kangkung yang diosengnya itu gosong.
"Ah....," Pekiknya lagi.
Tapi apa yang bisa diperbuatnya sementara jarum jam terus saja berputar. Mau tidak mau ia masukkan juga kangkung yang sudah di cuci bersih itu dalam bumbu yang tidak lagi tercium harumnya. Aroma gosong lebih mendominasi masakannya kali ini.
"Bismillah, semoga saja dia lagi sakit tenggorokan dan belekkan. Jadi cak kangkung yang eksotik ini masih terlihat seksi di matanya dan masih bisa melesat di tenggorokan karena nafsu yang menguasainya," Doa Ken penuh harap karena sudah putus asa dengan hasil kerjanya sendiri.
"Udah. Cah kangkung siap dihidangkan," Ken meletakkan masakan dalam piring dan menaruhnya di atas meja makan. Kini ia mengecek daging yang ia tutup beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Kenapa bisa begini?" Tampang dagingnya itu lebih menyerupai pantat kera. Hitam pada bagian pinggirnya, sedangkan tengahnya masih mentah.
"Ih...ih ...ih......," Ken hanya bisa geleng-geleng kepala. Dengan sikap pasrah, ia membalik daging itu agar bagian yang lain juga ikut matang. Sembari menunggu, ia menyiapkan nasi dan jus yang sudah disiapkan sebelumnya di dalam kulkas.
"Sudah siap. Aku sudah berusaha, apapun hasilnya, tuan besar yang punya kuasa," pikir Ken makin sedih. Daging dari penggorengan dengan warna yang berlapis itu, juga Ken letakkan di atas meja.
Belum sempat membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak, Ken segera menyembunyikan dirinya kembali di kamar.
"Sudah saatnya dia keluar. Aku tidak boleh menampakkan diriku lagi,"
Buru-buru ia masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Tentu saja dia tidak tidur atau duduk santai di kamar. Seperti biasa, Ken mengintai dari balik hordeng detik-detik keluarnya tuan besar hingga ia bisa memastikan orang itu duduk di meja makan dan melahap menu yang dihidangkan,"
"Satu ...dua....," Ken menghitung dengan frekuensi yang diatur perdetik. Benar saja, belum juga hitungan ke sepuluh, Ken melihat pintu kamar atas terbuka. Ia melihat majikan ibunya itu sudah mengenakan kostum yang beda dari pakaian yang di kenakan nya tadi siang.
Pria itu dengan langkah yang begitu tenang menuruni anak tangga dan berjalan lurus menuju meja makan.
Setelah beberapa saat melihat isi tudung saji, wajahnya sedikit berkerut. Namun tidak menampakkan wajah angkernya. Pria itu tidak segera duduk di kursi, ia malah melangkah ke arah kamar Ken.
Buru-buru Ken menarik diri agar keberadaan di balik hordeng itu tidak diketahui olehnya. Kini ia merapatkan diri di tembok, persis di belakang pintu.
"Deg," jantung Ken berdengup saat itu juga.
"Ya, Tuhan. Salah lagi aku," ia menepuk keningnya lagi. Kali ini dengan suara yang cukup keras hingga terdengar seperti orang sedang memukul nyamuk yang hinggap dan mengisap darah di tubuhnya.
...........
Alhamdulillah bisa nambah part lagi, mohon maaf yang sudah nunggu kelanjutannya cerita itu. Karena ada kesibukan di dunia nyata, he...he.....jadi baru sempet update lagi.
Mohon dukungan, ya!
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
__ADS_1
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊