
Siang itu, Baron ada di ruang kerjanya. Ia sedang mempelajari laporan keuangan yang
baru saja dikirim oleh bagian keuangan via email.
Setelah beberapa tahun ia absen dengan urusan kantor, ia ingin memantau perkembangan usahanya itu. Apalagi belakangan ini ia mulai mempertimbangkan apa yang disampaikan oleh putranya, tentang kecurigaan Al terhadap perkembangan perusahaan.
Saat itu juga terdengar suara ketukan pintu. Baron bisa menduga siapa yang datang. Pada jam segini, biasa Mbak Win akan membawanya minuman dan buah-buahan segar untuknya.
Sejak ia menikahi Maria, Mbak Win dipekerjakan khusus oleh istri keduanya ini untuk melayani segala kebutuhan Baron. Pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh Lisha dan Bik Sum sudah pindah tangan ke Mbak Win. Mulai dari menyusun menu diet tanpa gula, mengolah masakan hingga menyajikannya, sampai keperluan lainnya.
Sejak ada dia di rumah ini, Bik Sum sudah tidak diizinkan mengurus makanan yang harus dikonsumsi Baron. Begitu juga dengan Lisha.
"Mbak kangen sama keluarga atau teman spesialnya apa? Saya amati sejak di sini belum pernah pulang kampung atau ketemu dengan teman laki-lakinya," tanya Baron pada Mbak Win yang sudah 11 tahun dipekerjakan Maria di rumah ini sebagai asisten rumah tangga.
"Duduklah!" Baron menghentikan pekerjaannya dan meminta wanita itu duduk di kursi, tepat di depan meja kerjanya.
"Terimakasih, Tuan," sahut wanita itu. Ia menggeser kursi itu dengan pelan dan duduk di depan majikannya.
"Mau pak, saya bisa pulang kalau lebaran aja. Itu juga cuma dua atau tiga hari aja," ucap wanita itu.
"Kok begitu?"Baron pura-pura tidak tahu dengan disiplin kerja yang diterapkan istrinya.
"Nyonya tidak mengizinkannya," sahutnya pelan.
"Kalau saya kasih cuti mau?" Baron mulai memasang umpan.
"Mau banget, Tua!" Mbak Win memperlihatkan wajah sumringahnya.
"Mbak Win usianya berapa?" selidik Baron lagi.
"29 Tuan"
"Duh, usia yang cukup matang untuk menikah. Kalau saya punya usul, baiknya mbak Win jangan menunda-nunda lagi. Kalau sudah ada calon, segerakan,"
"Saya sudah punya calon, Tuan,"
"Bagus itu. Kerja di mana? Tinggal di mana?" Tanya Baron atusias.
"Masih orang kampung saya, Tuan. Dia buka usaha warung kopi kecil-kecilan,"
"Bagus sekali, jadi kalau sudah menikah Mbak Win bisa fokus bantu suami di warung. Rezeki orang yang sudah menikah itu akan dipermudah oleh Allah, siapa tau nanti berkembang jadi cafe atau restoran,"
__ADS_1
"Iya, saya juga berniat berhenti kerja kalau sudah menikah,"
"Mbak Win masih betah di sini, bagaimana bisa menikah. Dia juga belum tentu sabar menunggu jika terlalu lama tidak ada kepastian. Kalaupun dipaksakan nikah sekarang, kasian suaminya kalau harus LDR,"
Baron mencoba membuka pikiran gadis itu.
"Iya, Tuan. Tapi Tuan Barent belum kasih ijin saya berenti karena harus urus keperluan tuan selama nyonya tidak ada. Sejak nyonya pulang, saya belum bicara lagi. Mereka sepertinya sibuk. Jarang di rumah,"
"Kalau sudah niat, laksanakan. Usia itu ga bisa menunggu," Baron makin bersemangat mendorong agar Mbak Wit segera angkat kaki dari rumahnya.
"Saya mau siapapun yang pernah bekerja di sini bisa hidup mandiri. Jadi jika mbak berniat menikah dalam waktu dekat segera beritahu saya. Saya akan kasih bonus satu tahun gaji. Mudah-mudahan bisa buat tambahan modal usaha," pancing Baron lagi.
"Yang bener, Tuan?" tanya Mbak Win tidak percaya. Selama sebelas tahun lebih ia bekerja di sini, baru kali ini majikannya itu mengajaknya bicara, suatu kehormatan bagi Mbak Win.
"Apa saya terlihat sedang bercanda?" Baron mulai memasang muka serius.
"Maaf, Tuan. Saya kaget. Itu kan banyak banget,"
"Pikirkan lagi. Saya menyampaikan ini bukan berarti ingin mengusir Mbak dari sini. Saya sudah dibantu selama sekian belas tahun sangat berterima kasih sekali. Untuk itu saya juga harus memikirkan masa depan Mbak Sum,"
"Tuan, apa boleh saya memutuskan sekarang?" tanya Mbak Win lagi.
"Saya mau, Tuan. Saya mau bonus itu. Jika diizinkan saya akan pulang kampung sesegera mungkin. Saya ingin kasih kejutan pada keluarga dan calon suami saya,"
"Bagus itu. Tapi ada syaratnya!" Baron sengaja menggantung ucapannya.
"Apa Tuan," nada suara Mbak Win sudah mulai berubah, yang semula senang menjadi penasaran dan was-was.
"Jangan bilang ke siapapun apa yang kita bicarakan sekarang. Terutama pada nyonya dan Barent. Jangankan mengizinkmu pulang, mereka pasti tidak mengizinkanku memberi bonus untukmu," Baron sengaja menakut-nakuti wanita itu agar ia bisa menjaga rahasia.
"Tentu, Tuan. Saya pastikan tidak akan ada yang tau masalah ini," Mbak Win bicara dengan penuh keyakinan.
"Baiklah. Ingat, aku tidak pernah mengusir atau memecatmu, tapi aku ingin kau bisa berumah tangga dan membuka usaha untuk masa depanmu!"
"Iya, Tuan. Saya tidak berpikir sampai ke situ. Justru saya sangat senang. Tuan begitu baik pada saya," ujar Mbak Win penuh haru.
"Kapan kau akan pulang? Biar Robby yang akan memesan tiket dan mengantarkan mu,"
"Apa boleh jika saya pulang besok. Jika tidak dapat tiket kereta, saya naik bis saja. Setiap hari ada kok,"
"Tentu saja boleh. Uangnya mau ditransfer atau cash?" tanya Baron.
__ADS_1
"Transfer saja tuan, kalau cash bahaya. Takut terjadi sesuatu di jalan,"
"Tuliskan no rekeningmu. Akan aku transfer sekarang juga," Baron memberikan kertas kosong pada Mbak Win.
"Iya, Tuan. Saya tidak ingat. Nanti saya lihat dulu buku tabungannya,"
"Baiklah. Berikan pada saya begitu kau sudah menemukannya,"
"Terimakasih, Tuan. Terimakasih....anda begitu baik pada saya,"
"Hanya itu yang bisa saya berikan untukmu. Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah kau kerjakan untuk keluarga ini," lagi-lagi Baron membuat Mbak Win merasa sangat diperlukan secara terhormat.
"Saya bekerja karena saya mendapat imbalan. Jadi yang saya lakukan selama ini adalah kewajiban saya,"
"Iya, Mbak. Terimakasih. Jika mau beres-beres silahkan, semua yang akan saya sampaikan sudah saya utarakan,"
"Baik, Tuan. Saya permisi," Mbak Win mohon undur diri dari ruang kerja majikannya itu. Ia melangkah dengan senyum yang merekah dengan sempurna. Entah mimpi apa? Tiba-tiba dapat durian jatuh seperti ini.
"Hemmm....," Baron menarik nafas panjang begitu asisten rumah tangganya itu sudah keluar dari ruangan dan menutup pintunya dengan rapat.
Ia benar-benar lega, satu masalah sudah selesai. Hanya dengan satu gerakan kecil, ia berhasil menyingkirkan pembatu kepercayaan Maria dengan cara yang bijaksana.
"Maafkan aku. Semoga pesangon itu bisa bermanfaat untuk masa depanmu," bisiknya dalam hati.
Baron melanjutkan pekerjaannya kembali. Ia harus mempelajari semuanya dengan baik sebelum mengambil keputusan. Baron sudah mengungkapkan pada Maria dan Barent jika ia ingin fokus mengurusi perusahaan. Semakin lama ia berdiam diri di rumah semakin membuatnya merasa tidak sehat.
Meskipun anak dan ibunya itu merasa keberatan dengan keputusan Baron yang di nilai begitu tiba-tiba itu, namun keduanya tidak bisa melarang.
Baron bisa membaca keterkejutan mereka dan itu menjadi point tambahan bahwa memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka.
"Aku yang memulai semuanya. Aku juga yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya," bisik Baron dalam hati.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗
__ADS_1