
Kecurigaan Al pada Barent dan ibunya perlu pembuktian. Terutama tentang sikap Papa dan kondisi kesehatannya.
Merasa tidak diizinkan bertemu dengan Papanya, Al mencari cara agar bisa bertemu dan bicara dengan pria yang cukup membuatnya khawatir beberapa hari terakhir.
Seperti pagi ini, sejak jam 8 pagi ia sudah mengintai keadaan rumah yang pernah ia tempati bersama orang tuanya. Menunggu Barent dan Maria keluar rumah agar bisa masuk ke rumah itu.
Hampir setengah jam ia menunggu, tidak ada yang keluar dari rumah yang megah itu. Robby, yang menjaga pintu gerbang juga belum menampakkan batang hidungnya.
Sesaat kemudian terlihat seorang perempuan yang mengenakan daster batik keluar dari pintu kecil yang ada di pokok kanan. Al masih mengenali perempuan itu karena sejak kecil ia yang merawat dirinya.
"Ternyata Bik Sum masih bekerja di sini," gumam Al dalam hati. Ia terus mengamati perempuan yang membuang sampah dan berjalan ke arah taman.
Al mengikuti perempuan itu, mobil yang ditumpangi berjalan pelan ke arah taman. Begitu sudah sampai di sisi perempuan itu, Al membuka kaca mobil dan memanggil nama perempuan itu.
"Bik,..., Bik Sum!" Panggil Al yang duduk di kursi belakang sopir. Kaca mobil itu sudah diturunkan sejak tadi.
Merasa ada seseorang yang memanggilnya, Bik Sum menghentikan langkahnya. Ia mengeryitkan keningnya, sepertinya ia sedang mengingat sesuatu.
"Bik Sum," panggil Al, senyum merekah dari ujung bibirnya.
"Ikut aku, Bik. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padaku!" Al minta wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
Perempuan itu masih berdiri mematung, tatapan tertuju pada seseorang yang memanggilnya. Meskipun ia sudah berusaha keras untuk mengingat, namun ia tidak berhasil mengenali pemuda yang ada di taxi itu.
"Aku Al, Bik. Anak mama Lisha," Al terpaksa membantu ingatan perempuan itu dengan menyebutkan nama ibu kandungnya.
"Al?" tanya Bik Sum tidak percaya.
"Iya, ikut aku sebentar Bik. Ayolah!" ajak Al lagi.
__ADS_1
Bik Sum mengedarkan pandangannya, ia khawatir ada orang yang melihat dan akan dilaporkan pada majikannya yang galak. Akhirnya ia terpaksa acting agar bisa memenuhi permintaan anak bos besar nya itu.
"Tunggu di mini market deket pengkolan sana, aku khawatir Robby melihat kita," Bik Sum terlihat seperti orang yang sedang memberikan petunjuk arah pada orang yang mencari alamat.
Dari kaca spion, Al bisa melihat ke arah rumahnya. Meskipun sepi, bisa jadi alat pengintai yang dipasang bisa merekam pertemuan mereka.
Al menutup kembali kaca mobilnya dan meninggalkan tempat itu setelah Bik Sum menundukkan kepalanya dan tersenyum kepada.
Bik Sum tidak langsung pergi ke mini market, ia tetap pada tujuannya semula. Belanja di tukang sayur keliling yang biasa menunggu pelanggannya di dekat taman.
"Ada gula batu, bang," tanya Bik Sum pada pedagang sayur keliling itu.
"Ga ada Bik. Tumben nyari begituan, buat apa?" tanya Kang sayur.
"Buat teh hijau, tuan besar lagi pegen," Bik Sum memberi alasan.
"Di mini market depan pasti ada, saya suka beli di sana," sahut Bik Ijah, salah satu pembantu yang sedang berbelanja sayur.
Tidak harus berlama-lama di tempat itu, Bik Sum segera meninggalkan tempat itu dan berjalan santai ke arah mini market. Letaknya tidak begitu jauh, sekitar 300 meter dari taman menuju ke pusat pertokoan yang di bangun di bagian depan komplek mewah itu.
*******
"Kamu tampan sekali, Al. Bibik jadi pangling," ujar Bik Sum ketika ia sudah duduk di samping Al. Masih di dalam taxi.
"Bibik bisa aja, aku kaget bercampur senang melihat bibik keluar dari rumah itu?"
"Apa mereka melarangmu mengunjungi Papa?" selidik Bik Sum.
"Iya, Barent bilang papa lagi kurang sehat. Untuk sementara jangan diganggu dulu,"
__ADS_1
"Aku sempat menemui Papa di ruang kerjanya ketika Maria belum bebas dan Barent tidak ada di rumah. Setelah itu aku tidak diizinkan lagi,"
"Apa tuan menerimamu?" Selidik Bik Sum.
"Iya, bahkan dia memintaku untuk tinggal,"
"Al, bibik tidak bisa lama-lama. Nanti bibik telpon aja, ya!" Bik Sum bicara dengan mimik ketakutan. Ia khawatir jika ada yang memergokinya bicara dengan Al, yang notabene musuh Maria dan putranya.
"Hanya aku pegawai yang masih bertahan di rumah itu. Yang lain semuanya orang kepercayaan Maria. Bibik harus hati-hati, jangan sampai di pecat seperti pak Komar karena ketahuan berpihak pada nyonya Lisha,"
"Baik, Bik. Tuliskan nomormu di sini," Al memberi ponselnya yang sudah terbuka, Bik Sum menuliskan nomor hp nya di daftar kontak itu.
"Maaf, bukan bibik tidak mau menemui mu. Tapi ini demi kebaikan kita semua," ujar perempuan itu lagi.
"Iya, Bik. Saya faham. Terimakasih sudah mau menemuiku," ujar Al lagi.
"Bibik senang mendapati kau sehat-sehat saja,"
"Terimakasih, Bik,"
Bik Sum segera turun dari taxi yang ditumpangi oleh anak majikannya itu. Berkali-kali ia bilang pada Al, akan segera menghubunginya jika situasi rumah cukup sepi.
Bik Sum segera masuk ke mini market dan membiarkan Al yang terus saja memandanginya dari kejauhan. Sesuai rencana, ia akan membeli gula batu dan beberapa kebutuhan pribadinya.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗