Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Nilai Plus


__ADS_3

Ken merasa perutnya begah, terlalu banyak makan yang masuk ke dalam perutnya. Mulai dari makanan pokok, desert, hingga minuman. Walhasil ia merasa tidak nyaman. Duduk salah, berdiri juga tidak nyaman.


Usai makan siang, mereka harus kembali ke kampus karena masih ada sesi berikutnya.


"Kemaruk sih, makan ga pake Takeran," ledek Al. Ia juga tidak nyaman melihat Ken yang tidak tenang.


"Aku Laper, udah itu lega karena selesai ujian. Bawaan mau balas dendam ," ungkap Ken tanpa rasa berdosa.


"Oh, gitu. Tapi kan ga gitu-gitu banget. Aku jadi sakit mata melihatmu. Dari tadi udah kaya ulet nangka,"


Ken merasa tersinggung. Ia menggeser kursinya agar lebih jauh dari Al. Wajahnya cemberut dan membuang wajahnya ke arah ruang auditorium.


Al hanya tersenyum. Baginya, jika Ken sudah ngambek dan memasang wajah cemberut menjadi pemandangan yang paling menarik baginya.


Jadi jangan heran, jika ia membiarkan Ken ngambek, bahkan sampai yang bersangkutan capek sendiri.


"Aku masuk dulu," Ken mengikuti teman-teman yang lain ketika sudah ada panggilan, semua peserta ujian masuk ruangan untuk mengikuti acara penutupan dan pengumuman hasil ujian.


"Sukses, ya. Semoga dapat nilai plus," Al masih bisa memberikan support, sebelum Ken meninggalkan ruang tunggu.


"Terimakasih,"


Hampir satu jam menunggu acara penutupan itu selesai, saat pintu di buka dan mahasiswa peserta ujian ke luar satu persatu dengan wajah yang sumringah, Ken terlihat tampak lesu di banding ketika ia ke luar dari ruang pesakitan itu usai ujian. Melihat perubahan itu, Al jadi tercekat.


"Jangan-jangan ga lulus nih?" pikirannya dalam hati.


Al bangkit dari tempat duduknya sebelum Ken menghampirinya, dengan hati-hati ia bertanya pada gadis itu


"Lulus?"


"Lulus, tapi.....," sahut Ken lemas. Belum selesai menjawab, Al sudah memotong pembicaraannya


"Stttt .... ga ada tapi-tapi. Yang penting lulus. Titik,"


"Tapi kan.....," Sela Ken.


"Sttt......udah ga usah di bahas. Kalau sudah tidak ada urusan, kita pulang," ajak Al.


"Iya, tar aku mau ketemu dosen pembimbing dulu. Tapi dia pesan, usai ujian dia mau bicara empat mata,"


"Ya udah, aku tunggu di mobil ya! Tinggal aja, barang-barangnya biar aku yang beresin," Al mengumpulkan buku-buku referensi dan tas yang tergeletak di lantai dan mengangkutnya ke mobil.


Sementara Ken sudah masuk ke ruang sebelah, bersama beberapa temannya yang lain.


******

__ADS_1


"Kita langsung pulang, kan?" tanya Al ketika Ken sudah duduk di sampingnya.


"Iya, udah selesai kok,"


"Ok, pasang sabuknya," Al mengingatkan Ken karena wanita itu terlihat bengong sejak masuk mobil.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika mereka meninggalkan kampus itu. Mau tidak mau mereka harus berjuang melawan kemacetan untuk sampai ke apartemen.


"Berapapun nilai yang kau dapat dan berapa banyak catatan yang diberikan dosen penguji jangan dipikirin. Yang penting kau lulus dan sudah berhasil meraih apa yang kau cita-citakan. Memang aku tidak begitu faham urusan ujian skripsi dan lain-lain karena lulus SMA juga kagak, tapi sedikit banyak membaca keluhan mahasiswa di internet,"


"Ga banyak yang harus di perbaiki tapi nilaiku cuma B yang lain B+ dan satu orang dapet nilai A," keluh Ken.


"Udah, ga usah dipikirin. Segitu juga sudah bagus mengingat kamu kan udah cuti lama. Wajar kalau banyak ilmu yang sudah lupa," Al mencoba menghibur kekasihnya.


"Terus setelah ini mau apa? selidik Al penasaran.


"Aku mau kerja. Waktu kecil, kalau lihat perempuan pake baju kantoran terus berangkat dan pulang kerja pakai mobil kok rasanya keren banget. Aku pengen cari kerja dan merasakan bagaimana punya uang dari hasil kerja sendiri,"


"Oh....," Guman Al sedikit kecewa.


"Ibu pasti senang kalau liat hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak,"


"Iya, wajar itu. Terus mau ngelamar ke mana?"


"Belum tau, mungkin di tempat aku kerja dulu. Barangkali mereka butuh seorang akuntan,"


"Aku mau coba ngelamar kerja kantoran dulu," sahut Ken masih dengan pendiriannya.


"Tapi ga ada salahnya juga kau pasang iklan di media, kan tidak mengikat waktu. Jika sudah ada panggilan kerja kau tinggalkan menutup iklan itu," Al masih berusaha memberi masukan.


"Iya, nanti aku coba,"


"Terus kita gimana? Aku sudah 27 tahun. Untuk ukuran perempuan kau juga sudah cukup usia. Masa mau gini-gini aja?" Al bicara dengan nada yang terbata-bata.


"Maksudnya gimana?"


"Hemmmm wajar kau ga bisa dapet nilai B+ apalagi A. Urusan begini aja kau ga bisa menelaah," ejek Al. Ia tersenyum menyeringai. Sudah berusaha keras mengumpulkan kekuatan untuk bicara seperti itu malah yang di ajak bicara tidak nyambung.


"Al....kau keterlaluan, deh. Jadi kau mau bilang kalau aku bodoh gitu?"


"Kau yang bilang,"


"Ih, nyebelin banget," Ken mulai ngambek.


"Iya, biar nyebelin kamu suka, kan?" Al mencolek pipi kanan Ken diikuti dengan kerlingan mata kirinya.

__ADS_1


"Al," panggil Ken pelan.


"Ya," Sahutnya. Pandangannya tetap tertuju ke jalan raya.


"Aku mau," ucapnya pelan.


"Mau apa?"


"Iya itu tadi. Aku kan udah 24 tahun jadi mau-mau aja kalau ada yang memintaku untuk mengurus rumahnya" ucapnya malu-malu. Ken langsung menjatuhkan pandangannya, tidak berani menatap wajah Al.


"Hem ... maksudnya?" Kini giliran Al yang bingung dengan ucapan Ken.


Ken tidak menjawab, ia terlihat menelan ludahnya. Sepertinya kecewa sekali dengan tanggapan Al.


"Apa aku salah persepsi. Mungkin maksud dia tadi ga ngajakin aku nikah, ya? Ha......malu sekali aku. Kenapa bisa mikir sejauh itu,"


"Alhamdulillah da sampe, lega banget udah bebas dari jalanan yang kusut. Tinggal mikirin gimana biar pikirannya ga kusut, ya?" canda Al. Ekpresinya datar-datar saja, sepertinya ia memang tidak faham dengan kode yang dilempar Ken.


"Apa kau mengizinkan aku mampir?" tanya Al begitu ia sudah memarkirkan kendaraannya di baseman.


"Terserah, ini kan apartemenmu," sahut Ken ketus. Ia menutup pintu mobil dengan sedikit mengeluarkan tenaga.


"Oh, siap aku bawain barang-barangnya. Silahkan duluan tuan putri duluan," sindir Al.


Ken yang sudah berjalan beberapa langkah jadi menghentikan langkahnya, wajahnya merah padam mendengar ucapan Al.


"Maaf, " Ken buru-buru mengambil tasnya yang sudah di tentang Al.


"Yang ini biar aku yang bawa, berat," Al menepis tangan Ken yang ingin mengangkat tas ransel berisi buku-buku resensi dan laptopnya.


Ken berusaha untuk tersenyum walau terlihat begitu dipaksakan. Melihat ekpresi itu, Al makin girang.


"Ha..ha.....," Tawa Al dalam hati. Ia mengikuti langkah Ken dan terus mengembangkan senyum kemenangan.


🌳🌳🌳🌳🌳


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2