Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Turun!


__ADS_3

"Jadi ga enak sama semuanya. Aku malu," ucap Ken begitu motor yang mereka kendarai sudah melesat di jalanan.


"Katanya pengen naik motor biar kayak orang pacaran, sekarang bilangnya kok malu. Sia-sia dong udah bikin sudah Bram," sahut Al terkekeh.


"Itu salah satunya. Aku jadi ga anak liat muka Bram cemberut. Dia makin ga suka aja sama aku,"


"Ditambah lagi ekpresi ibu dan Tuan Baron. Aku jadi malu," ucap Ken lagi.


"Ga ada urusan Bram suka sama kamu apa enggak. Dua itu cemburu kalau aku sudah kasih perhatian sama kamu?"


"Cemburu? Emang kalian pacaran?" tanya Ken pura-pura lugu.


"Enggak. Kami belum pernah naik motor berdua, mana bisa dibilang pacaran. Ha..ha....," balas Al dengan candanya juga.


"Ga lucu," Sahut Ken merajuk.


"Tadi kamu bilang perhatian sama aku, jadi tersanjung. Terimakasih ya atas kejutannya pagi ini," ucap Ken lagi.


"Gitu dong. Harusnya kau bilang dari tadi. Jadi aku ga sia-sia, pagi-pagi sudah bikin Bram sudah. Yang penting kamu senang,"


"Iya, aku seneng bisa naik motor bareng sama cowok. Impian terbesar dalam hidupku akhirnya terwujud. Bisa punya pacar dan dianter naik motor. Seneng banget," ucap Ken begitu bahagia.


"Ken, pegangan. Tar jatuh," Al mengingatkan Ken yang terasa menjaga jarak darinya.


"Udah. Ini pengangan samping dari tadi,"


"Jangan begitu. Kalo aku ngegas mendadak kamu kejedak loh,"


"Alesan," gumam Ken.

__ADS_1


"Kemaren kamu yang minta motor beginian biar ga kayak bapak-bapak nganterin istrinya belanja ke pasar sekarang pura-pura malu. Ngeselin, ih," ucap Al mulai ngambek.


Saat lampu merah, Al menghentikan motornya. Ia menoleh ke ke belakang, Ken terlihat mengembangkan senyumnya, dibalik kaca helm yang dikenakannya.


Al menepuk lembut paha Ken. Ia mengambil tangannya gadis itu dan mengarahkan ke pinggangnya.


"Begini caranya," ucapnya sambil tersenyum nakal.


Meskipun masih malu-malu, Ken tidak menolak permintaan itu. Kini kedua tangannya sudah memegang pinggang Al dengan erat. Berada sedekat itu, membuat ia bisa mencium aroma tubuh laki-laki ini. Ken memejamkan matanya sesaat, menikmati segarnya penciuman yang dirasakannya.


"Udah kayak pacaran beneran, kan?" tanya Al lagi. Membuat Ken terjaga dari lamunannya.


Keburu lampu hijau, Ken belum menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia sedikit merapatkan tubuhnya ke arah Al hingga ia bisa merasakan hangatnya tubuh gadis itu.


"Asik di peluk," ucap Al bahagia.


Ken mencubit pinggang Al karena kegenitannya. Al teriak kaget karena medkipun kecil cubitan itu sakit sekali.


"Iya, kok tahu?" Tanya Al penasaran.


" Kan sering lewat sini. Waktu naik taxi, sopirnya cerita kalau diskotik itu milik Tuan Baron aku pura-pura ga tahu. Kebetulan aja, karena beberapa tamu masih ada yang baru keluar padahal waktu itu sudah sekitar jam 6 pagi," kelas Ken.


" Kenapa ga bilang kalau kau kenal sama pemiliknya. Malu ya? Karena papaku preman," tebak Al.


"Enggak. Cuma males kalau di ajak ngobrol berkelanjutan. Mending menikmati padatnya jalanan,"


"Bisa aja. Kirain malu sama orang tuanya tapi demen sama anaknya," guman Al lagi.


"Au," teriak Al cukup keras. Ken mencubit perut Al lagi. Kali ini sedikit keras dari sebelumnya. Hingga Al teriak dan menarik perhatian pengemudi yang ada di sebelah mereka.

__ADS_1


"Tuh, jadi diliati orang," protes Ken


"Abis main cubit aja. Sakit," protes Al tidak mau kalah.


Saat melintas di depan diskotik Adisa, Al menangkap seseorang yang sangat di kenalnya keluar dari gedung milik papanya. Orang yang mengenakan kaca mata hitam itu melangkah menuju ke mobil yang sudah menunggunya di parkiran sambil melihat layar ponselnya.


Darahnya berdesir seketika itu juga. Meskipun sering melintas di daerah ini, baru kali ini ia bisa melihat orang itu. Tidak mau melewatkan kesempatan, Al menghentikan motornya dan meminta Ken turun.


"Turun, pesan ojol atau naik taxi aja," perintah Al terburu-buru.


"Kenapa?" tanya Ken bingung. Apa karena dicubit perutnya pria itu marah dan menurunkannya di pinggir jalan saperti ini.


Al tidak menjawab, ia langsung tancap gas. Agar bisa mengikuti mobil yang di maksud ia harus mencari putar balik.


"Al," panggilan Ken setengah berteriak. Ken yakin Al tidak mendengarnya. Karena jarak mereka yang sudah cukup jauh pendengaran laki-laki itu tertutup helm.


"Begini banget sih. Bener-bener ngeselin," gerutu Ken sambil menghempaskan kakinya ke bumi. Ia membuka helm yang masih terpasang di kepala dan mulai berjalan ke arah halte. Terpaksa ia harus menunggu angkutan untuk bisa sampai ke kampusnya yang masih sangat jauh.


*****


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2