
"Mau ngapain lagi nih?" tanya Al setelah mereka selesai makan malam di kamar. Al sengaja menggoda Ken dengan pertanyaan itu setelah seperempat jam lebih hanya diam. Ken pura-pura asik melihat tayangan televisi, sedangkan Al memperhatikan tingkah gadis itu yang tampak gusar.
"Apa yang harus saya kerjakan?" tanya Ken balik. Ia sebenarnya bingung mau menjawab apa karena tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukannya kecuali nonton TV.
"Duduklah di sini!" Ajak Al. Ia memberi kode agar Ken pindah ke kasur di mana ia sedang menyandarkan tubuhnya. Ken hanya dia dan tersenyum simpul. Ia tidak memenuhi permintaan bosnya itu.
"Kau takut?" tanya Al menyelidik.
"Bukankah kita pernah tidur bareng?" ujarnya lagi. Kali ini ia memasang wajah setengah mencibir.
"Tidak, Pak. Saya di sini saja," tolak Ken dengan halus. Ia masih duduk di sofa yang ada di dekat pintu. Tatapannya masih tertuju pada layar televisi.
"Ken," panggil Al lagi.
"Iya, Pak,"
"Kemarilah. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu," pintanya. Kali ini dengan nada yang lembut, syarat dengan permohonan.
"Sini, duduk di sampingku," pintanya lagi.
Ken meluruskan permintaannya, ia beranjak dari sofa empunya, duduk di samping Al.
"Ga usah takut begitu," gumamnya lagi.
"Iya, Pak,"
"Kenapa harus memanggil, Pak?" tanya Al. Ia menatap wajah Ken dengan pandangan yang tajam.
"Hemmm... karena bapak adalah bos saya,"
"Yang bekerja denganku kan ibumu. Dari dulu aku juga tidak suka dipanggil dengan sebutan itu, tapi Bu Ros tetap saja memaksakan diri," keluh Al.
"Bagiku, Pak Parman dan ibumu sudah seperti keluarga. Aku tidak pernah membuat jarak pada mereka, apalagi sampai ada pikiran majikan dan pelayan,"
__ADS_1
"Iya, jadi aku panggil apa?" Ken pura-pura bingung.
"Terserah kau saja, yang penting jangan panggil "Pak". Kau bisa lihat sendiri, aku masih muda, kan?" guyon Al untuk mencairkan suasana.
"Iya," sahut Ken sembari mengangguk pelan.
"Ken, mungkin untuk seminggu ini aku akan tinggal di sini," Al kembali memulai pembicaraan setelah mereka cukup lama sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ken cukup kaget mendengarnya. Matanya membulat sempurna sementara bibirnya hanya diam. Ia tidak tau harus bicara ala untuk menanggapi pernyataan itu.
"Tentu saja tidak denganmu. Jangan ge-er," dalih Al melemparkan bantal yang menyanggah kepalanya ke arah Ken. Ekpresi Ken yang seperti itu cukup membuatnya geli.
Ken tersenyum malu, ia menjatuhkan pandangannya karena malu.
"Bener-bener polos, nih anak," pikir Al dalam hati.
"Tadi aku menemui papaku," Al tidak meneruskan ucapannya. Ia sengaja menahannya untuk mengetahui reaksi Ken.
Tampaknya harapan Al terwujud, Ken mengangkat wajahnya dan mulai memasang pendengarannya. Al tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
"Maksudnya?" tanya Ken bingung. Ia belum faham dengan maksud ucapan Al.
"Kenal Baron?" tanya Al
"Tidak," sahut Ken datar dikuti kepalanya yang menggeleng pelan.
"Haji Bahrudin?" tanya Al lagi.
Lagi-lagi Ken menggeleng. Ia tidak pernah mendengar orang-orang yang disebut oleh Al, apalagi mengenalnya.
"Berita apa yang kau baca? Masa tidak pernah mendengar nama itu. Padahal berita tentang orang itu kerap muncul di internet," keluh Al.
"Aku hanya membuka internet untuk urusan tugas, kalau berita dan yang lainnya liat di tv," jawab Ken.
__ADS_1
"Kau ini, bener-bener lugu atau bloon," Ledek Al yang mulai kesal.
"Enak aja, emang standar seseorang bisa di sebut pinter kalau dia kenal Baron dan Haji Bahrudin?" Protes Ken tidak tertarima atas ucapan Al yang dituduhkan padanya.
"Setidaknya kau juga punya pengetahuan tentang kehidupan sosial di sekitarmu. Apalagi informasi yang tidak akan kau ditemukan di buku pelajaran atau di media, televisi" kilah Al.
Ken hanya bisa nyengir kuda. Apa yang dikatakan Al memang ada benarnya. Ia jarang sekali mengikuti berita politik, gosib, dan kehidupan sosial masyarakat. Mungkin karena itulah ia terkesan polos. "Polos apa bloon, ya?" pikirnya lagi, mengulang ucapan Al yang dituduhkan padanya. Akhirnya ia hanya nyengir. Menampakkan susunan giginya yang bersih dan rapi.
"Sudahlah, kalau kau tidak kenal dia. Kau cukup mendengarkan apa yang akan aku sampaikan,"
Tanpa sadar, Ken menggeser tubuhnya. Kini jarak antara dirinya dan Al sudah begitu dekat. Al tidak mau berkomentar untuk itu, ia hanya tersenyum simpul dan melanjutkan ceritanya.
"Baron dan Haji Bahrudin itu orang yang sama. Dia itu Papaku. Nama lengkapnya Bahrudin Yusuf Al - Farabi. Orang lebih mengenalnya sebagai Tuan Baron karena sepak terjangnya di club malam terbesar di ibu kota. Lebih sederhananya papaku itu bosnya preman di Jakarta. Ia menguasai bisnis hiburan di Jakarta,"
Ken mengeryitkan keningnya. Satu sisi ia ingin tau lebih jauh tentang diri Al, namun perasaan takut menghatui dirinya begitu Al menyebutkan siapa orang tuanya.
"Sebagai anak tunggal, aku tidak punya teman. Selain pergi sekolah aku tidak pernah keluar rumah. Jadi aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan fasilitas komunikasi yang ada di kamarku. Main game, buka YouTube, nonton TV dan lain-lain. Lama kelamaan aku menjadi jenuh,"
"Usia 10 tahun, aku mulai kenal dunia trading dari iklan di internet. Aku mulai tertarik dan belajar secara diam-diam menggunakan akun demo. Begitu ada tawaran dari salah satu broker internasional dan di beri modal awal 500 US Dollar jika buka akun, aku segera daftar dan mulai trading dengan akun real. Sejak usia sebelas tahun, aku sudah punya penghasilan sendiri," lanjut Al.
Al diam sejenak. Ia melihat reaksi Ken, gadis itu menyimak dengan serius apa yang ia utarakan. Raut muka yang tampak memperlihatkan ketakutan itu, kini berubah menjadi ekpresi kagum. Al jadi bersemangat melanjutkan ceritanya.
"Aku minta pada Papa untuk dicarikan guru privat trading. Aku ingin belajar lebih serius karena hasil yang aku peroleh cukup menggiurkan untukku. Aku berhasil membujuk papa dengan iming-iming perolehan yang sudah aku dapat, akhirnya Papa mempekerjakan Maria, trader yang di kenal dengan kelas on-linenya. Aku tidak tahu persis, dari mana mereka kenal,"
"Dalam seminggu, tiga kali ia datang ke rumah. Bayaran yang ia dapat dari papa juga tidak sedikit. Dari Masta muda itu aku bisa membaca prediksi pasar, seluk beluk broker dan pengetahuan tentang dunia trading lebih mendalam. Dalam waktu singkat, ia bisa menjadikan aku sebagai trader muda yang mulai punya nama dan di kenal di kalangan trader,"
"Papa sangat puas dengan hasil kerjanya. Karena keberhasilannya itu, Papa akhirnya meminta Maria untuk mengelola uangnya dengan sistem bagi hasil. Sekejap saja papa bisa mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Konon, dari hasil trading yang di jalankan Maria Papa bisa mendirikan diskotik Adisa yang ada di daerah Kuningan,"
"Bagaimana dengan Mamamu?" Ken memberanikan diri untuk bertanya karena Al belum menyinggung wanita yang telah menghadirkan dirinya ke dunia ini.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
__ADS_1
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.