Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Pindah Ke Apartemen.


__ADS_3

"Nak, bangun," Pak Parman terus memanggil Bram. Kedua pipi pria muda itu tak henti-hentinya ia tepuk pelan. Tidak ada reaksi, keadaan ini membuat Pak Parman makin khawatir. Begitu juga dengan Ken.a


Pak Parman juga melonggarkan pakaiannya, tiga kancing bagian atas kemeja dibuka dan ikat pinggang yang dikenakan Bram juga dilonggarkan agar bisa membuka kancing celananya . Tindakan itu diharapkan dapat lebih mudah dan nyaman untuk bernapas.


Meskipun kakinya juga sudah dinaikkan lebih tinggi sekitar 30 cm dari dada agar mengembalikan aliran darah kembali ke otak, Bram belum sadar juga.


"Gimana ini? Dia belum sadar juga," Pak Parman mulai panik.


"Apa perlu telpon ambulans?" tanya Ken yang tidak kalah paniknya. Tubuhnya gemetar dan mulai berkeringat. Ia takut jika pria yang dipikulnya itu mati. Bisa-bisa ia masuk penjara karena kecerobohannya itu.


"Nafas dan denyut nadinya masih normal. Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang fatal," Pak Parman setelah ia mengecek denyut nadi Bram dengan cara manual.


Pak Parman menundukkan kepalanya, kini posisi tubuhnya persis di depan wajah Bram. Karena usahanya tidak membuat anak muda itu segera sadar, ia memilih untuk memberikan nafas buatan.


Pak Parman menutup hidung Bram dengan tangan kirinya, begitu ia menundukkan kepalanya ingin meniupkan napas dari mulut ke mulut, tubuh yang ada dibawah menggeliat. Matanya terbuka dengan pelan.


Melihat posisi Pak Parman yang demikian, otomatis mata yang baru saja terbuka itu membulat seketika. Ia kaget dan nyaris terlonjak jika pak Parman tidak menahannya.


"Mau ngapain?" tanya Bram bingung bercampur kaget.


"Tenang......syukur kau sudah sadar," ucap pak Parman dan membenahi posisi tubuhnya.


"Jangan duduk dulu, tetaplah berbaring," ujar Pak Parman lagi sembari mengambil bantal untuk menopang kepala Bram agar posisinya lebih tinggi dari tubuhnya.


"Tolong buatkan teh hangat," pinta Pak Parman pada Ken yang masih berdiri di sisinya.


Ketika sadar, berikan dia minuman manis, seperti teh manis. Minuman manis dapat meningkatkan gula darah dan mengembalikan energi yang diperlukan tubuhnya.


Sekilas Bram sempat melihat Ken sebelum ia meninggalkan kamar, turun ke bawah membuat minuman hangat untuk Bram.


"Dia yang memukul kepalaku?" tanya Bram pada Pak Parman sembari menunjuk ke arah pintu yang dilewati Ken.


Pak Parman tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum getir dan meluruskan kembali kaki Bram yang tadi sempat ditekuk ke atas.


"Siapa dia?" tanya Bram lagi. Ia makin penasaran karena Pak Parman tidak menjawab pertanyaannya.


"Anak Bu Ros, dia menggantikan ibunya yang lagi pergi umroh," sahut Pak Parman dengan suara sedikit tertahan. Ia takut jika Bram akan murka pada Ken.


"Hem.....," Bram hanya mampu bergumam lirih sebelum ia memejamkan matanya kembali.


"Apa masih pusing?" tanya Pak Parman panik.


"Iya,"


"Kita ke rumah sakit saja. Biar saya siapkan mobil dulu," ujar pak Parman memberikan solusi.


"Tidak usah, sebentar juga baikan,"

__ADS_1


"Nah, minum tehnya dulu," ujar Pak Parman lagi ketika Ken muncul dengan nampan yang ada ditangannya.


Bram mengikuti anjuran Pak Parman, ia menarik tubuhnya lebih tinggi. Pak Parman tidak tinggal diam. Ia membantu mengarahkan cangkir yang berisi teh hangat itu ke arah mulutnya.


"Biar saya saja," sebelum mengarahkan cangkir yang sudah dipengangnya ke arah mulutnya, Bram sempat memandang Ken dengan pandangan yang cukup tajam. Ken makin jiper, ia menjatuhkan pandangannya ke lantai.


"Baiknya Nak Bram bermalam saja di sini. Biar saya masukkan mobilnya,"


"Iya, saya belum bisa nyetir. Kepala masih pusing," keluh Bram. Sekilas ia melirik ke arah Ken untuk melihat reaksi gadis itu.


Ken mengigit ujung bibirnya, tangan meremas baju yang dikenakannya. Jelas sekali bahwa gadis itu begitu ketakutan.


Bram begitu menikmati pemandangan itu. Otak usilnya mulai bermain, ia ingin memberikan pelajaran pada gadis itu.


"Huek ....," bunyi suara Bram yang pura-pura ingin muntah.


"Miring sedikit," Pak Parman segera membantu Bram agar memiringkan tubuhnya.


"Ken, ambil tempat. Buruan," perintah Pak Parman yang melihat gadis itu hanya terpaku di sisi tempat tidur.


Ken buru-buru ke kamar mandi dan mengambil gayung. Ia tengadahkan gayung itu ke arah mulut Bram agar muntahannya tidak kemana-mana.


Beberapa kali Bram pura-pura mual dan tidak membuat benar-benar muntah. Akhirnya Ia kembali telentang dan menurunkan tubuhnya hingga posisinya kini setengah berbaring.


"Aku ingin tidur, kepalaku berat sekali," ujar Bram dengan nada yang begitu memelas. Pelan-pelan ia menutup matanya dan pura-pura terlelap.


"Pak, apa dia pingsan lagi," tanya Ken khawatir.


"Iya, kalau begitu biar saya yang memasukkan mobilnya," usul Ken yang masih panik.


Ken buru-buru turun ke bawah untuk memindahkan mobil Bram yang masih terparkir di luar. Setelah beres, ia kembali ke kamar Al. Di temani Pak Parman, Ken menjaga Bram hingga pria itu bangun, saat matahari sudah mulai meninggi.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Bram ketika ia melihat sinar matahari yang sudah begitu terang dari kaca jendela kamar Al. Ia melihat Pak Parman masih duduk di sisi tempat tidur.


"Berarti dia semalaman nungguin aku," pikir Bram dalam hati.


"Biar Nak Bram istirahat," sahut Pak Parman.


Bram menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar, ia tidak menemukan Ken ada di tempat itu.


"Ken sedang membuat sarapan untukmu, baiknya tunggu saja di sini," ujar Pak Parman lagi.


"Saya sudah sehat, kok. Saya harus pergi karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan pagi ini," ujarnya begitu khawatir.


"Sarapan dulu, seperti makanannya sudah siap. Saya ambilkan dulu," Pak Parman beranjak dari tempat duduknya dan ingin meninggalkan kamar itu.


"Ga usah, Pak. Biar saya sarapan di bawah. Saya mau mandi dulu," Bram langsung bangun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.

__ADS_1


"Oh, ok kalo begitu. Saya minta Ken supaya menyiapkan sarapannya,"


******


"Aku ada urusan di notaris. Bisakah kau mengantarkan barang ini ke tempat majikan mu," ujar Bram dengan nada ketus.


"Barang itu pesanan Al, aku tidak ada niat mencuri di rumah ini," ujarnya kesal.


"Maaf, Pak. Saya panik, karena belum pernah melihat bapak sebelumnya di rumah ini jadi saya kira pencurian yang suka beraksi di rumah kosong,"


Bram mendengus pelan. Ia memandang Ken yang tengah berdiri di sisi meja makan, menyiapkan sarapan untuknya. Setelah bisa mengatur nafasnya kembali, ia meraih gelas yang berisi air putih dan meneguknya dengan pelan.


"Segera antarkan barang itu ke apartemen Piramid lantai 10 nomer 1015,"


"Baik, pak,"


"Secepatnya," perintahnya lagi.


"Iya, saya siap-siap dulu,"


Ken bergegas ke kamarnya untuk ganti baju dan mengambil skripsi yang akan dibawa menghadap ke dosen pembimbingnya. Dalam sekejap, ia sudah keluar dengan pakaian yang cukup rapi dan tas ransel yang ada dipundaknya.


"Aku memintamu untuk mengantarkan barang milik Al, kenapa kau bawa ranselmu seakan mau pergi camping,"


"Saya sekalian mau ke kampus. Mau konsultasi," sahut Ken lirih.


"Oh, jadi kamu masih kuliah," gumam Bram disertai anggukan kepala.


"Pantes aja ga ada gampang pembokat," pikirannya dalam hati.


"Hanya tas itu yang saya antar?" Ken memberanikan diri untuk bertanya karena Bram kembali menikmati sarapannya. Tangannya menunjuk ke arah tas yang tergeletak di atas sofa, di depan TV


"Iya," sahutnya tanpa menoleh ke arah Ken.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu,"


Tidak ada sahutan. Ken meninggalkan Bram di ruang makan dengan menjinjing tas yang berisi barang-barang milik Al.


"Ha...ha.... ternyata dia sangat lucu saat wajahnya begitu ketakutan," Bram mengembangkan senyum jahilnya begitu Ken sudah keluar dari rumah.


"Rasain kau cantik. Terima hukuman untukmu," gumamnya lagi.


******


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu

__ADS_1


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗


__ADS_2