
"Aku ikut prihatin," hanya itu yang bisa terucap dari bibir Ken. Ia masih terbengong-bengong mendengar kisah Al yang begitu pelik.
"Terimakasih,"
Ken menggeser tubuhnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan meraih botol air mineral yang ada di atas meja. Setelah membuka segelnya, ia memberikan air minum itu pada Al.
"Minumlah!"
Al meneguk air putih itu hingga setengahnya, setelah itu menyerahkan kembali botol minuman itu pada Ken. Ken menutup kembali botol minuman itu dan mengembalikan ke tempatnya semula.
"Terimakasih," ujarnya lembut begitu Ken sudah duduk di depanya kembali.
Ken tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan menepuk-nepuk kaki Al yang sejak tadi selonjor di atas kasur.
"Kau belum cerita, kenapa Papamu sampai ingin membunuhmu?" Ken bertanya kembali setelah melihat Al mulai tenang.
"Waktu investor sudah mulai curiga, Maria sering share foto-foto ku di grup investor. Ia membuat alibi, beberapa member yang belum mendapatkan profit harus sabar karena master tradernya sedang tidak sehat. Jadi untuk sementara libur trading daripada terjadi hal-hal di luar prediksi,"
"Mereka percaya?"
"Sebagian besar, iya. Namun yang sudah berpengalaman ikut investasi mereka segera menarik modal mereka. Mulai dari situ Maria dan Om Ryan kerap bertengkar saling mengalahkan satu sama lain. Bahkan wanita itu minta bantuan Papa untuk menghadapi investor yang mulai main kekerasan agar duitnya bisa kembali,"
"Papa mau bantu?"
"Maria itu pandai bersilat lidah, ia berdalih aku sengaja membuat bisnis mereka berantakan. Akun trading dibuat los hingga rugi ribuan dollar. Padahal uang yang aku kelola tidak ada masalah, aku hanya menolak ketika Maria memintaku untuk melakukan transaksi berkali-kali dalam sehari agar bisa untung banyak. Aku menolaknya, dari teori yang aku dapat darinya juga pengalaman selama trading aku memutuskan untuk dagang hingga pukul empat sore, kalo sudah malam sering ruginya. Akhirnya ia menahanku, aku tidak boleh sekolah. Mulai dari pagi hingga sore aku dipaksa dagang, bahkan dia juga membuat beberapa akun lagi dengan modal yang cukup besar. Aku tidak hanya memegang 3 akun lagi, tapi sudah harus menghasilkan profit dari 7 akun yang berbeda,"
"Bisa menutup tagihan,"
"Mana mungkin? Yang yang mereka himpun itu banyak sedangkan investor yang lebih dulu sadar tidak hanya minta modal mereka ada juga yang memaksa Maria untuk membayar profit mereka sesuai perjanjian. Akhirnya ada yang bisa menyelamatkan uangnya ada juga yang harus gigit jari hingga saat ini. Uang mereka tidak pernah di kembalikan oleh Maria,"
__ADS_1
"Kejam sekali dia. Tapi kenapa Papamu bisa percaya begitu saja, bukankah nominal uang yang masuk itu jumlah sangat fantastis?"
"Itulah wanita, entah apa yang ia perbuat? Jika ia sudah bicara, apapun itu akan menjadi suatu kitab yang akan dipercayai oleh Papa," keluh Al
"Hemm.... seperti tidak juga. Masih banyak kok wanita yang bisa menjaga kodratnya. Jangan ambil kesimpulan begitu, dong," protes Ken.
Al tersenyum, wajah Ken yang pura-pura tersinggung itu makin lucu menurutnya. Apalagi saat ia menyibakkan rambutnya dengan gaya yang elegan dan feminim. Meskipun Ken terlihat grogi bagi Al terkesan flirting, menjadi daya tarik tersendiriyang membuat Al makin memuji kecantikan wanita ini.
"Kenapa harus tersinggung. Jelas yang dimaksud itu Maria, bukan kamu?"
"Iya, tapi kau menyamaratakan wanita,"
"Enggaklah, apalagi kamu. Aku yakin kau bisa lebih sadis darinya," ledek Al yang membuat Ken makin kesal.
"Enak aja, emang aku ada bakat seperti itu?" tanya Ken makin kesal. Kali ini ia mencubit kaki Al karena jengkel.
"Tuh, belum apa-apa sudah berani main kekerasan. Sakit tau," serunya lagi.
"Biarin, abisnya kamu gitu sih,"
"Gitu gimana? Aku cerita apa adanya. Kamunnya aja yang baper,"
"Kok jadi nyalahin aku," suara Ken jadi melemah. Ia mulai sedih dan juga takut Al akan marah padanya.
"Tuh, kan. Udah mau nangis. Kamu ini aneh banget. Udah baperan cengeng lagi. Ga inget umur apa?" seru Al dengan nada mengejek
Ken bertambah sedih, sungguh ia tidak bermaksud membuat suasana jadi seperti ini. Jika Al sudah bicara seperti itu, ia sulit untuk mengartikan. Pria itu marah atau hanya bercanda padanya?
Melihat Ken yang jadi ketakutan seperti itu, Al menggeser tubuhnya. Ia mengambil tangan Ken dan menggenggamnya dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa jadi sedih, aku cuma bercanda kok!"
Al terlambat, tangis Ken sudah pecah duluan. Ia segera menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang tergeletak di samping Al.
"Ken, aku minta maaf," ucap Al dengan suara yang begitu lembut. Kini Al yang bingung sendiri, selain tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang, kini malah dihadapkan pada perempuan yang ngambek begini. Akhirnya ia milih diam, membiarkan Ken dalam tangisnya hingga suara itu hilang dan yang bersangkutan tertidur lelap.
"Aneh sekali. Sudah baperan, cengeng, tukang molor, plus jorok lagi. Bisa-bisa ia nangis sampe tertidur, belum mandi lagi," Al menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Keny yang dianggapnya aneh.
Al membenahi posisi Ken. Ia luruskan tubuh gadis itu, memasang bantal sebagai sandaran kepala dan menyelimuti tubuh Ken yang menggelung karena dingin.
"Cengeng," Al mengusap sisa air nata yang membekas di kedua pipi wanita itu.
"Tapi cantik," ujarnya lagi . Ia memandang wajah itu dengan intens dan ia tersenyum tipis.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, Al beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengambil kartu dan meninggalkan Ken tidur sendirian di kamarnya.
Al menuju ke lantai bawah. Suasana mulai terlihat sepi. Hanya ada suara orang sedang karaoke dari bar yang ada di sisi kanan ruang resepsionis.
Cukup lama Al duduk di lobby hotel seorang diri. Ia ingin mencari tau, apa ada orang-orang suruhan Papanya yang mengintainya hingga ke tempat ini. Untuk menghilangkan kecurigaan, Al pura-pura sibuk dengan gadget-nya. Sesekali ia terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya. Ia mengulanginya hingga tiga kali.
Al tidak sadar, dar balik ruang karaoke yang hanya di batasi kaca tembus pandang dari dalam, ada sepasang mata yang terus mengawasi. Orang itu sempat mengambil beberapa foto Al dan mengirimkannya pada seseorang.
********
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.
__ADS_1