
Ken berjalan mengelilingi pekarangan rumah. Ia mencari keberadaan Pak Parman yang sejak pagi tadi tidak terlihat. Ken hanya ingin mengingatkan bahwa pria yang sudah seumuran ibunya itu belum makan siang.
"Di mana, dia?" tanya Ken pada dirinya sendiri sambil memeriksa halaman depan hingga ke belakang.
Ken tidak berani berteriak memanggil Pak Parman karena ia ingat pesan ibunya. Sang majikan tidak suka dengan kebisingan.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi halaman sambil mengamati pohon yang tumbuh di sekitar rumah. Ada rambutan, jambu biji, mangga, belimbing, jambu air, dan buah kampung lainya sudah tinggi dan berdahan rindang. keberadaan pohon-pohon inilah yang membuat rumah ini menjadi asri dan sejuk.
Di dekat kolam renang juga ditanam anggur merah sebagai pelindung kolam dari terik matahari.
"Pantes saja dia suka menghabiskan waktu di sini, adem dan tenang," Ken membayangkan bisa menyelesaikannya skripsinya sambil rebahan di situ.
Gemercik air kolam bisa membuat siapapun yang ada di gazebo depan kolam itu bisa terbawa suasana alam.
Tepat di pintu belakang rumah, Ken melihat ada pohon sawo yang sedang berbuah lebat. Beberapa sawo yang sudah ranum tergeletak di tanah.
"Wah ini jatuh karena udah mateng. Pasti manis banget," ia menundukkan badannya dan memungut sawo yang masih layak untuk di makan.
"Kenapa kok tidak dipanen. Mubazir sekali," Pandangannya mengamati sawo yang bergelantungan di pohon.
"Jangan-jangan yang punya medit , nih. Lebih baik hasil kebunnya mubazir begini daripada di jual atau di bagi-bagi tetangga," Ken mulai berpikir kemana-mana.
Merasa tidak menemukan Pak Parman, Ken kembali ke dalam dengan beberapa buah sawo jatuhan di tangannya. Berputar lagi, masuk lewat pintu depan.
Sampai di dapur ia mencuci bersih sawo yang dipungutnya kemudian mengupas kulitnya.
"Hemmmm.......benar dugaanku. Manis banget," gumamnya sembari terus mengupas sisa buah yang ada.
Ken melihat kamar atas yang letaknya persis bersebrangan dengan dapur. Pintu kamar itu tertutup. Sejak makan siang majikannya itu kembali ke rutinitasnya, menyembunyikan diri di kamar.
Sebenarnya Ken ingin mengambil cucian dan sapu yang tadi pagi ditinggalkan begitu saja di kamar itu namun ia tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu.
"Jam segini aku belum nyapu dan nyuci baju," ujarnya sembari menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan sembarang.
__ADS_1
"Kalau aku naik ke atas, malah ganggu. Entah apa yang di kerjakan orang itu. Apa iya dia main game seharian suntuk?"
"Sepi......suntuk......,"
Belum sehari di rumah ini, Ken sudah tidak betah. Ia memang bukan tipe remaja yang suka kumpul-kumpul dengan temannya, jalan ke mall atau ngobrol di sosmed. Ken tidak punya banyak teman karena ia membatasi diri dari pergaulan teman-teman yang cenderung lebih glamor, konsumtif, bergelimpangan barang mewah. Ia bisa kuliah saya sudah sangat bersyukur, apalagi bisa diterima di universitas negeri ternama di kota ini.
Jika tidak ada kuliah, ia lebih memilih kembali ke kontrakan dan membaca buku atau nonton tv jika tidak ada tugas kuliah.
Meski biasa sendiri, namun di rumah ini berasa berbeda. Apa karena posisi rumah yang jauh dari tetangga kanan dan kiri hingga Ken nyaris tidak mendengar suara orang atau kendaraan dari rumah ini. Beda dengan kontrakan mereka yang berada di daerah padat penduduk. Selama 24 jam selalu ramai suara tetangga dan bunyi kendaraan bermotor.
"Hoam .....," Ken yang sibuk dengan pikirannya sendiri itu mendadak menguap. Tanpa sadar ia menggeletakan kepalanya di atas meja makan hanya beralaskan kedua tangannya.
Ken tertidur pulas. Potongan sawo yang ada di piring dan pisau yang ia gunakanlah tadi masih tergeletak di sisi kepalanya. Begitu juga dengan sampah kulit dan biji sawonya.
Entah sudah berapa lama ia tertidur. Saking nyenyaknya, Ken tidak sadar bahwa bosnya sudah ada di ruang makan. Dengan pelan ia mengisi gelasnya dengan air putih dan meneguknya pelan.
"Kenapa dia tidur di sini? Tidur kok di sembarang tempat!"
Mengetahui pemiliknya sudah pulas, duduklah ia di meja makan. Ia menarik kursi begitu hati-hati hingga tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun. Dengan tenangnya ia habiskan 6 potong sawo yang wangi dan ranum itu.
"Enak juga, ternyata kalau sudah dikupas begini makannya ga bikin repot,"
Meskipun suka sawo, selama ini Al tidak pernah menyentuh buah itu karena ia males mulutnya jadi belepotan kena air sawo. Kadang airnya bisa mengenai pakaian dll.
"Pinter juga dia, dikupas seperti ini jadi lebih praktis," gumannya lagi.
"Bagaimana ia dapat buah ini? Bukannya pohonnya tinggi dan Pak Parman juga sudah pamit dari tadi,"
"Apa dia nekat manjat pohon itu sendiri?"
Al memperhatikan Ken dari jarak yang begitu dekat. Rambut Ken yang panjang dan lebat itu dikat sembarang saja. Bulu matanya yang lentik semakin terlihat kala ia terpejam seperti itu. Tanpa sadar, tangan Al membenahi anak rambut yang menutupi wajah Ken.
"Cantik juga," bisik Al dalam hati.
__ADS_1
Ia tersenyum, ada perasaan bahagia bisa memandangi gadis ini dengan jarak yang sedekat ini.
Al segera sadar, ia tidak mau berlama-lama di tempat itu, ia merasakan ada sesuatu yang tidak wajar dalam dirinya. Darahnya begitu bergemuruh, jantungnya mendadak berdengub kencang. Tiba-tiba tubuhnya jadi gemetar.
"Kenapa bisa begini ?"
Ia bangkit dari tempat duduknya, mengisi kembali gelasnya yang telah kosong dengan air hangat hingga penuh dan buru-buru ia kembali ke kamarnya.
Al yang menghabiskan masa remaja untuk bekerja dan tidak pernah dekat dengan lawan jenisnya menjadi bingung dengan perasaannya saat ini. Kenapa darahnya mengalir begitu deras dan jantungnya berdetak kencang begitu ia melihat Ken.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.20 WIB. Ia harus segera kembali ke kamar. Target hari ini masih jauh dari estimasi, jika sore ini belum nutup, alamat dia akan begadang lagi nanti malam.
"Pasarnya jelek sekali, dikira untung aku malah rugi rarusan dolar,"
"Fokus, biar target segera tercapai,"
Sambil melangkah, Al masih kepikiran dengan kerugian yang baru saja di alaminya. Sudah hampir dua tahun ini prediksi tidak pernah meleset. Dalam satu hari ia bisa menghasilkan ratusan dolar dengan gampang.
Namun hari ini begitu apes, ia harus menelan pil pahit. Modal yang ada di salah satu akunnya mengalami kerugian cukup besar, modal yang tersisa hanya tinggal 30 persennya saja.
"Mudah-mudahan bisa nutup lagi," bisik Al penuh harap.
*****
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊
__ADS_1