Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Apa Kita Pacaran?


__ADS_3

Pukul 11.30 wib, Al keluar dari kamarnya karena tenggorokan terasa kering. Ia ingin minum sekaligus mengisi tumbler yang sudah kosong.


Usai makan Al langsung ke kamar. Melanjutkan trading karena marketnya sedang bagus-bagusnya. Ia tidak mau melewatkan kesempatan itu, hanya satu kali TP ia sudah mengantongi keuntungan puluhan dolar dalam hitungan menit saja.


"Alhamdulillah, bisa istirahat malam ini," Al begitu senang. Ucapan syukur selalu terucap dari bibirnya. Meski hidupnya terlalu dramatis namun Tuhan memberikan nikmat dengan cara yang lain. Rezekinya senantiasa dilapangkan meskipun ia tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang membanggakan.


Al kaget, saat menuruni anak tangga ia melihat Ken duduk di sofa tengah namun tv yang ada di depannya tidak menyala.


"Belum tidur?" tanya Al. Ia mengurungkan niatnya mengambil air minum. Langkah berbalik menghampiri Ken. Ia duduk di sisi gadis itu dan memasang wajah ramahnya.


"Belum ngantuk," sahut Ken.


"Iya, sore sudah tidur di jalan. Padahal kalau tidur jam segitu bisa memicu otak kita cepat pikun," ujar Al menjelaskan.


"Biasanya ga begitu. Belakangan aku ga bisa tidur kalo malem jadi siang-siang ngantuk," Ken memberi alasan.


"Apa karena di rumah sendirian?" tanya Al curiga.


"Iya, aku takut kalo di kamar. Jadi kalau malem aku akan menghabiskan waktu semalam di sini. Nonton TV,"


"Ya Tuhan, kenapa kau tidak bilang. Kalau takut sendiri aku bisa cari cara lain agar kau punya teman,"


"Sudahlah. Udah lewat," ucap Ken sembari tersenyum.


"Maaf ya, sudah membuatmu ketakutan dan tidak bisa tidur semalaman,"


"Iya, ga apa. Kau mau apa jam segini turun. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Ken untuk mencairkan suasana.


"Aku haus," ujar Al dengan nada merengek.


"Iya, bentar aku ambilin,"


"Nih sekalian isiin," Al menyodorkan tumbler yang dipegangnya.


Ken bangun dari tempat duduknya, ia melangkah ke arah dapur untuk mengambil air putih. Tidak berapa lama, ia sudah kembali ke sofa dengan satu gelas air putih dan tumbler yang sudah beisi penuh.


"Duduklah," pinta Al. Ia segera meneguk air putih yang disodorkan Ken ke arahnya.


Ken mengikutiku permintaan laki-laki itu. Ia kembali duduk di tempatnya semula. Di sisi kiri Al.


"Ini HP-nya. Sudah bisa kau gunakan," Al menyodorkan HP yang diambilnya dari saku celananya.


"Sudah di install?" tanya Ken bingung. Ia menerima hp itu dengan agak ragu.


"Iya. Aku buatkan email baru,"


"Terimakasih," ucap Ken singkat.


"Aku sudah save no kontakku di situ. Jangan diganti,"


"Iya,"


"Dicek dulu. Bisa nyala atau ga? Tombol power ada di kanan bawah,"

__ADS_1


"Kan masih baru,pasti nyala dong,"


"Kodenya?" tanya Ken. Setelah ia menekankan tombol power diminta kode agar bisa membuka aplikasi berikutnya.


"Love Al," ujar Al dengan wajah imutnya.


Ken memasukkan password itu, kini ia bisa membuka aplikasi yang sudah diinstal oleh Al. Ada WA, ojol, dan YouTube yang terpajang di halaman depan.


"Yang lainnya install sendiri,"


"Iya, terimakasih,"


Ken membuka-buka Hp baru yang dibelikan Al. Ia sangat senang, seumur hidup baru kali ini punya gedget secanggih ini. Iseng-iseng ia membuka galeri, di situ sudah tersimpan beberapa foto Al dengan berbagai gaya. Dari background dan kostum yang dikenakan, terlihat foto itu di ambil di ruang kerja Al beberapa waktu lalu.


"Mungkin dia ngetes kecanggihan kameranya dan lupa menghapus foto-foto yang diambilnya," pikir Ken. Ia tidak mau berpikir terlalu jauh dan menyebabkan ia harus kecewa lagi.


Al merapatkan tubuhnya ke arah Ken, merangkul bahu gadis itu dan tersenyum begitu manisnya.


"Kau tidak ingin mengambil foto kita berdua," tanyanya. Tanpa menunggu Jawaban, ia sudah mengambil ponsel yang ada di tangan Ken.


"Selfi yuk," ajaknya begitu layar kamera sudah mengarah ke arah mereka.


"Senyum, jangan ditekuk begitu," protes Al yang melihat wajah tanpa ekspresi itu terpampang jelas di kamera.


"Beberapa foto sudah diambil. Ia memilih-milih fose yang paling bagus. Satu foto yang tertangkap saat keduanya senyum, dipilih Al untuk menjadi DP wallpaper di hp itu.


"Jangan diganti," pintanya dengan paksa.


Ken hanya tersenyum datar, ia tidak faham dengan apa yang ada di otak laki-laki ini. Kenapa ia menjadi foto mereka berdua sebagai DP wallpaper di hp yang diberikan pada Ken.


Lagi-lagi Ken hanya nyengir kuda, ia tidak menjawab dengan kata-kata atau bahasa tubuh lainnya.


"Jangan diganti apalagi menghapus foto-foto yang ada di galeri itu," pintanya lagi.


"Al..," panggil Ken pelan.


"Iya," sahut pria itu yang sudah menggeser tubuhnya dari Ken dan masih terlihat asik dengan ponsel milik Ken


"Apa kita pacaran?" tanya Ken serius. Ia memberanikan diri karena bingung atas sikap pria itu.


Al mengalihkan pandangannya ke arah Ken. Ia menatap wajah gadis itu dengan serius. Cukup lama. Seolah - olah ingin mencari sesuatu.


"Kok nanya begitu?" Al tidak menjawab, ia malah bertanya balik. Jujur saja, Ken makin bingung dibuatnya.


"Maaf, ga jadi tanya deh," Ken memilih menarik ucapan daripada harus membahas sesuatu yang membuatnya makin pusing.


"Emang harus bilang ya? Yuk kita pacaran! Gitu?" tanya Al cukup serius. Entah ia bercanda atau memang benar-benar bertanya.


"Tadi kau bilang kau pura-pura. Sekarang bilangnya beda lagi. Aku bingung," keluh Ken sembari membuang muka.


"Ken, Ayuk kita pacaran," Al memegang kedua tangan Ken. Menatap wajah gadis itu dengan serius. Tidak menjawab, Ken malah tertawa geli.


"Tuh kan malah diketawain,"

__ADS_1


"Abis lucu. Kayak main-main aja. Kayak anak kecil tau," sahut Ken sembari memukulkan bantal kursi yang ada di sampingnya ke arah Al.


"Jadi bagaimana biar dianggap serius?"


"Masa setua itu kau tidak tau bagaimana caranya meminta seorang gadis untuk menjadi pacarmu," Ken menjawab dengan membalikkan kata-kata Al yang diucapkan Al padanya pada saat makan tadi.


"Hemm.... Gitu ya!"


"Ha...ha.....satu sama," tawa Ken geli.


"Tadi itu becanda. Kamu aja yang bentar-bentar ngambek. Sebentar...," ujar Al. Ia tidak melanjutkan ucapannya karena buru-buru dipotong oleh Ken.


"Stop! Jangan dilanjutkan!"


"Iya. Jadi kita pacaran kan?"


"Ga mau. Masa jadiannya ga romantis,"


" Maunya gimana?"


"Ya pikir sendiri lah, aku mau kau bilang begitu di tempat yang romantis lah,"


"Banyak maunya," gerutu Al.


"Ya udah, ga usah kalau begitu,"


"Eit.....mau ke mana?" Al menahan Ken yang ingin beranjak dari sofa. Agar Ken tidak pergi lagi, Al malah membaringkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Ken sebagai bantalnya. Wajahnya mendongak ke atas hingga bisa melihat Ken dari bawah. Dagu Ken yang lancip terlihat lebih runcing jika dalam posisi seperti ini.


"Aku mau tidur," ujarnya tanpa beban.


"Kenapa begini? Kenapa tidak ke kamarmu saja,"


"Aku mau di sayang," ujar pria itu sembari mengambil tangan Ken dan membawa ke kepalanya.


Dengan agak ragu, Ken mengelus kepala itu dengan lembut. Berulang-ulang hingga Al terlihat begitu menikmatinya.


"Terimakasih ya," ucap Al lagi.


"Tidurlah. Aku akan menemanimu,"


Beberapa saat kemudian, situasi menjadi terbaik. Al merasakan tangan Ken yang makin pelan mengusap kepalanya hingga berhenti sama sekali. Ken justru sudah terlelap lebih dulu sementara Al masih menikmati kebersamaannya dengan Ken.


Al tidak tega membiarkan Ken tidur dengan posisi seperti itu. Akhirnya ia membaringkan tubuh gadis itu di sofa, sementara Al sendiri duduk di ubin. Kepalanya ia letakkan di sisi sofa, tepat di depan wajah Ken. Ia memandangi wajah yang begitu terlelap hingga akhirnya ikut terpejam dengan sendirinya.


********


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2