
Siapa yang tidak kenal dengannya?
Jika mendengar nama Baron, orang pasti berpikir bahwa pria ini adalah preman yang menguasai ibu kota. Bisnis yang dijalankan pria keturunan Arab ini memang agak menyampang dari warga keturunan timur tengah pada umumnya
Sejak muda, Baron sudah dikenal sebagai debt collector yang sangat piawai bernegosiasi dalam menjalankan tugasnya tanpa harus melakukan kekerasan. Banyak pengusaha ternama menggunakan jasanya baik sebagai pengawal maupun untuk menyelesaikan sangkutan dengan rekan bisnisnya.
Belajar dari pengalaman, akhirnya Baron membuka jasa debt collector. Cukup banyak pemuda yang bekerja padanya karena nama besarnya cukup di kenal masyarakat pelaku ekonomi.
Makin lama, bisnisnya makin berkembang. Ia melebarkan sayap dengan membuka usaha hiburan dan karaoke. . Pundi-pundi uang makin membuat status sosial dan wibawanya di masyarakat terangkat dan nama besarnya makin disegani. Di usia kepala dua, pria berdarah Arab ini sudah mapan dari segi finansial dan punya massa di berbagai sudut kota-kota besar.
Memiliki nama besar, harta yang berlimpah dan pengikut yang banyak, bukan berarti keamanan seseorang bisa terjamin. Karena pekerjaan kerap menyerempet bahaya, kadang nyawa bisa jadi taruhannya.
Saat Baron disewa secara khusus oleh pengusaha minyak, ia harus terlibat baku hantam dengan lawan bisnis orang yang di lindunginya. Ia sekarat dan harus istirahat total selama seminggu di rumah sakit nomer satu dengan pengawalan ketat.
Di sini Baron ketemu dengan belahan hatinya. Ia jatuh hati dengan perawat yang menangani. Perempuan keturunan jawa yang lemah lembut dan begitu telaten dalam menjalankan tugasnya.
"Aku minta dia yang merawatku di sini," pinta Baron pada dokter yang piket pagi itu.
Permintaan itu tiba-tiba ia utarakan setelah perawat yang bertugas menanganinya malam itu selesai melakukan tugasnya pagi ini dan akan digantikan oleh perawat lainnya.
"Di sini sistem shif pak, jadi setiap perawat sudah punya jadwal dan pembagian tugasnya masing-masing,"
"Aku tidak mau tau. Hanya dia yang boleh masuk kamar ini dan merawatku. Titik," tegas Baron yang begitu keras kepala.
"Jika tidak bisa, hari ini juga saya akan keluar dari sini," Baron minta pada anak buah yang menjaganya waktu itu untuk menghubungi Pak Subrata, pengusaha yang sedang menyewa dirinya.
Permintaan itu akhirnya diluruskan oleh pihak rumah sakit. Selama seminggu suster Lisha hanya bertugas mengurus satu pasien. Bahrudin Rashif Al- Farabi alias Baron, 24 jam full. Tentu saja ia mendapat biaya lembut dan tips khusus waktu itu.
__ADS_1
Kehidupan Baron memang dekat dengan kekerasan namun hatinya lembut dan sangat baik. Tidak butuh waktu yang lama bagi dirinya untuk bisa mengenal Lisha lebih dekat.
"Anda harus lebih hati-hati, jangan sampai terluka lagi seperti ini," Lisha mengingatkan pasiennya yang sudah bisa buka perban dan segera kontrol jahitan pada beberapa bagian tubuhnya.
"Kau tau sendiri pekerjaanku. Mana mungkin bisa menghindari baku hantam begini jika pihak sebelah menghendaki,"
"Setidaknya Anda bisa mencegahnya. Bukankah tidak semua masalah bisa selesai dengan kekerasan?"
"Aku akan baik-baik saja jika engkau bersedia menjadi perawatku," pinta Baron dengan sepenuh hati. Ia tatap perempuan yang sedang memeriksa bagian tubuhnya yang masih terluka.
Lisha tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Seketika itu ia menghentikan pekerjaannya dan berdiri memantung di sisi ranjang pasien.
"Apa kau mau?" tanya Baron lagi. Ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Jangan menolakku. Aku belum pernah meminta perempuan seperti ini jadi aku tidak mau dikecewakan," ucapnya lagi.
"Anda memaksa saya?" tanya Lisha yang masih bingung. Ia belum bisa menjawab pertanyaan pertama namun sudah dihujani permohonan yang lainnya.
"Itu sama saja memaksa. Anda tidak memberi kesempatan pada saya untuk berpikir," elak Lisha.
"Lisha, menikahlah denganku. Aku mohon. Aku akan meluruskan semua keinginaanmu asal kau mau menerimaku,"
Lisha hanya bisa diam. Satu sisi ada keraguan dalam hatinya mengingat latar belakang pekerjaan orang yang memintanya untuk hidup bersama. Di sisi lain, usianya sudah tidak muda lagi. Ibunya kerap mendesak ia untuk segera menikah dan melihat anak satu-satunya itu bisa punya keluarga yang menemaninya jika Tuhan mengambil nyawanya. Tiba-tiba ucapan ibu ketika ia pulang kampung bulan lalu terngiang-ngiang kembali.
[ Ibu bisa tenang jika kau sudah ketemu jodohmu. Usiamu sudah lebih dari cukup, ibu sedih jika arisan atau pengajian orang-orang selalu tanya kapan kau menikah? ]
"Lisha?" suara Baron menyadarkan Lisha dari lamunannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku mau," jawab Lisha begitu yakin.
Jawaban yang memberi atmosfer pada Baron hingga ia merasa sehat saat itu juga dan minta pulang ke rumah setelah buka perban. Tentu saja Lisha ikut serta dengannya sebagai perawat pribadinya selama ia harus rawat jalan.
******
Setelah Baron sehat dan bisa berjalan normal, pernikahannya itu segera dilaksanakan. Baron melamar Lisha secara resmi di kediaman ibunya, di ujung pulau Jawa dan resepsi juga digelar secara mewah.
Baron memboyong istrinya kembali ke Jakarta. Lisha tidak berhasil membujuk ibunya ikut serta dengan dirinya karena sang ibu ingin menikmati masa tuanya di kota kelahirannya.
Lisha yang telah menyandang status sebagai istri Baron, tidak lagi bekerja di rumah sakit. Ia hanya mengurus suami dan namun tetap diizinkan aktif di organisasi kemanusiaan yang sudah ia ikuti sejak masa kuliah.
Setahun setelah pernikahan, lahir Al di tengah-tengah mereka. Sebagai ucapan rasa syukur atas kelahiran putranya itu, Baron mengajak istrinya menunaikan ibadah haji dan mendirikan panti asuhan di daerah Jawa Barat.
Menyandang status sebagai ibu, Lisha lebih fokus mengurus suami dan putra mereka. Ia mengurangi kegiatan sosialnya, namun masih aktif sebagai penyumbang dana dan memantau aktifitasnya kelompoknya di grup WA dan media sosial lainnya.
Kehidupan Baron begitu bahagia. Apalagi Al tumbuh sebagai anak yang tampan dan cerdas. Meskipun Lisha belum bisa memberikan adik pada Al, Baron tidak ambil pusing. Ia sudah sangat bersyukur dengan kehadiran Lisha dan Al di rumah dan menjadi penyemangat hidupnya.
Kebahagiaan dan keharmonisan keluarga itu terkikis sedikit demi sedikit sejak hadirnya Maria, guru privat Al yang kemudian menjadi trader yang mengelola modal pribadi Baron hingga Baron bisa mengembangkan usahanya. Semula hanya bisnis jasa dept collector dan karaoke, kini bis membuka diskotik yang cukup besar di ibu kota.
Lisha yang merasa keberatan saat suaminya membuka usaha hiburan malam, menjadi senjata ampuh bagi Maria untuk menyingkirkan wanita itu dari kehidupan dan merebut kerajaan bisnis pria keturunan Arab itu.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗