Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Salah Alamat


__ADS_3

Al baru beranjak dari ruang kerjanya, transaksi yang ia buka usai subuh sudah menghasilkan profit yang cukup lumayan. Ia tidak mengejar target apapun, jika pasarnya bagus ia dagang, jika tidak ia akan memilih santai di apartemennya.


Sejak pindah ke apartemen, hanya dua akun trading yang dia mainkan. Satu akun keramat dan satu akun baru, nyoba-nyoba pakai MT 5. Sejak dulu ia bermain satu perangkat satu akun, jadi tidak keluar masuk. Karena perangkat komputer yang ada di rumah tidak dipindahkan, jadi 4 akun lainnya sementara istirahat dulu.


"Sarapan dulu, abis itu mau renang," ujarnya sembari melangkah ke luar menuju ke dapur. Ia sudah memesan bubur ayam dari kantin yang ada di bawah, namun belum juga sampai.


"Mungkin antri, jam segini pasti banyak yang cari sarapan," gumamnya lagi. Sementara menunggu, ia menyeduh susu non fat.


Al melangkah ke arah sofa yang ada di ruang tamu, satu mug susu hangat di tangannya. Begitu ia meletakkan cangkir keramik itu di atas meja, suara bel terdengar.


"Ting...tong...,"


"Buburnya dateng, nih," pikirnya dengan senang. Perutnya yang sudah lapar sejak tadi sudah susah diajak kompromi. Penghuninya sudah teriak-teriak minta di kasih makan dengan segera.


"Permisi, maaf mengganggu. Dengan Sutan Al- Farabi," Ujar pria dengan perawakan gemuk pendek, berkulit putih yang sudah berdiri di depan pintu. Al mendapatkan dua pria asing sudah berdiri di persis di hadapannya dan menyapanya.


"Iya. Maaf ada apa, Pak?" tanya Al heran karena belum pernah melihat orang ini sebelum. Ditilik dari penampilannya, pria itu terlihat seperti juragan atau cukong dan yang berperawakan tinggi besar itu dept collector, mungkin juga bodyguardnya.


"Boleh saya masuk, ada sesuatu yang perlu saya sampaikan pada anda," ujar pria yang pria itu lagi.


Al menyapukan pandangannya ke sekitar koridor, ia begitu heran dengan keamanan di apartemen ini. Kenapa orang asing ini bisa langsung ke kamarnya.


"Maaf, tadi saya bilang ke penjaga kalau saya ingin menemui keluarga. Makanya langsung diijinkan naik," pria itu memberikan alasan. Sepertinya Ia bisa membaca pikiran Al.


"Mari, Pak. Silahkan," tidak ada pilihan lain bagi Al kecuali mengajak tamunya itu masuk ke ruangannya.


Mereka bertiga duduk di sofa, Al cukup bingung juga. Selama hidupnya baru kali ini tempat tinggalnya kedatangan tamu. Apalagi orang yang belum ia kenal sama sekali. Saking bingungnya ia lupa menyediakan minuman untuk kedua orang itu.


"Ada apa, ya?" tanda Al tanpa basah basi lagi.

__ADS_1


"Maaf, saya Hendro Wijoyo dan ini asisten saya. Mungkin anda lupa dengan saya karena saat kita kerja sama, waktu itu anda masih sangat muda," ujarnya dengan tenang.


"Kerja sama?" tanya Al bingung. Ia merasa tidak pernah kerja sama dengan siapapun. Namun mendadak ia teringat masalah investasi yang dihimpun Maria belasan tahun yang lalu. Al tidak mau gegabah, ia biarkan orang itu menjelaskan semuanya.


"Waktu itu saya titip modal dengan ibu anda sebesar Rp.150juta di akun trading anda. Dalam perjanjian saya akan mendapatkan profit 20 persen dengan masa kontrak satu tahun. Saya baru dapat satu kali bagi hasil ternyata dapat kabar dananya macet karena ada indikasi pencucian uang. Jadi saya ke sini untuk menanyakan bagaimana dana yang saya titipkan pada anda,"


Meskipun Al sudah menduga ini ada kaitannya dengan investasi bodong Maria, namun cukup membuatnya kaget juga. Apalagi orang ini bisa menemukan alamatnya setelah sepuluh tahun ia menyembunyikan diri.


"Saya cukup prihatin dengan kejadian yang bapak alami. Namun ada yang perlu saya luruskan diri sini. Sejak usia sepuluh tahun saya memang sudah belajar trading dan menghasilkan rupiah. Modal yang saya pakai itu uang saku yang saya terima dari orang tua saya. Karena saya ingin serius mempelajari trading dan menjadikan pekerjaan itu sebagai mata pencaharian saya di masa yang akan datang, akhirnya orang tua saya membayar Masta Maria sebagai guru privat. Tidak lama kemudian Maria dan ayah saya menikah," jelas Al dengan tenang. Kedua pria yang ada di depannya itu terlihat menyimak dengan baik apa yang ia sampaikan.


"Saya mendengar Masta menghimpun dana dari beberapa pengusaha dan masyarakat sekitar. Setelah bisnisnya macet saya baru tahu jika dia bisa dengan mudah mendapatkan kepercayaan dari orang karena dana itu dikelola di dunia trading. Mirisnya lagi nama saya juga terseret di sana. Jujur saya, Pak. Saya tidak tau menahu urusan investasi itu. Saya trading pakai modal sendiri, sepeserpun tidak ada modal Maria di akun saya , bahkan hasil trading saya dinikmati oleh Maria seluruhnya," ujar Al lagi.


"Saya sudah menemui Maria sewaktu dia ada di penjara, ia berkelit modal itu ada sama anda. Selama pencarian dari bank dunia belum selesai, anda tidak ingin menampakkan diri ditengah masyarakat. Beberapa hari ini saya dapat info anda sudah kembali, makanya saya datang ke sini. Saya membutuhkan uang itu karena itu modal usaha saya," ungkapnya dengan nada ingin dikasihani.


"Apa ada bukti yang menunjukkan uang itu di kirim ke rekening saya atau yang lainnya. Apa ada surat yang saya tanda tangani sebagai bukti bahwa saya yang menerima uang itu?" tanya Al lagi.


"Nah, itu sudah jadi bukti yang kuat. Waktu Maria mulai bermain investasi, usia saya masih sekitar 15 tahun. Saya belum faham waktu ia sering mengambil foto saya, profit yang saya hasilkan dan juga histori akun trading saya untuk kepentingan apa? Setelah terjadi peristiwa itu baru diketahui bahwa ia mencatut nama saya sebagai trader andalan yang mengelola dana dari investor,"


"Jadi gimana, ini? tanya pria itu lagi.


" Maria sudah bebas, bapak bisa menemuinya. Minta kejelasan dari dia?" Al mencoba memberi saran.


"Saya sudah cukup sabar. Sepuluh tahun saya menunggu dan tidak mau mengambil langkah hukum karena saya masih percaya uang saya bisa kembali. Saya sudah menemui ibumu, dia bilang yang tahu persis kapan uang itu bisa masuk ke Indonesia adalah Anda, tapi saya kecewa sekali. Setelah bersusah payah saya mencari keberadaan anda, ternyata jawabannya seperti ini," ujar Pak Hendro dengan nada yang cukup tinggi.


"Maaf, Pak. Mohon tidak berteriak. Saya sudah menyampaikan apa adanya. Dana yang dihimpun wanita itu tidak ada sama saya, jadi jika dia memberi alasan apapun konfirmasi lagi ke orang yang bersangkutan. Perlu bapak ingat, Maria bukan ibu saya. Dia guru privat saya yang kemudian menikah dengan papa saya," sahut Al tak kalah tegasnya.


"Kalian kira saya bisa di bohongi," bentak Pak Hendro lagi. Pria bertubuh tegap yang sedari tadi hanya diam sudah mulai memberikan reaksi. Namun tangan pak Hendro memberi kode agar dia tetap tenang


"Sudah saya bilang, saya tidak mengizinkan anda bicara keras-keras di tempat saya," ujar Al dengan nada yang cukup tegas.

__ADS_1


"Saya akan melaporkan anda ke pihak berwajib. Saya dan para korban lainnya yang tergabung dalam grup akan memperkarakan hal ini sampai ke pengadilan," ancam pria itu.


"Saya tidak menikmati uang kalian sepeserpun. Mau diintimidasi seperti apapun jawaban saya tetap sama. Jadi kalau bapak mau buat laporan atau menempuh jalur hukum silahkan saja. Sebagai warga negara yang baik, saya akan bersikap kooperatif. Jika dipanggil untuk diminta sebagai saksi atau yang lainnya akan saya penuhi," tantang Al.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya, diikuti pria berbadan tegas yang setia mengawalnya. Dengan kesal ia berdiri di depan Al dan mengacungkan kepalan tinju.


"Jangan main kekerasan, saya sudah berlaku baik pada tamu saya," dengan tenang Al bangkit dari tempat duduknya dan menyingkirkan tangan pria itu.


"Niat anda hanya ingin uang anda kembali jangan sampai karena emosi anda justru akan menginap di balik jeruji. Ingat! Aku tidak berhutang satu sen pun dari anda, anda salah alamat," Al mempersilahkan orang-orang itu keluar dari kamarnya dengan sopan.


Al membukakan pintu, tanpa permisi Pak Hendro dan bodyguard nya langsung keluar Al terus memandangi orang itu hingga keduanya masuk lift, tentu saja dengan wajahnya yang tenang dan cerdas.


"Apa betul ia datang ke sini atas kemauannya sendiri? Bukan settingan yang dibuat oleh Barent atau Maria untuk memerasku?" tanya Al dalam hati.


Saat ia ingin menutup kembali pintu itu, Al melihat kurir yang datang ke arahnya, membawa saru porsi bubur ayam.


"Maaf Pak harus nunggu cukup lama, hari ini satu pegawai saya libur jadi agak kerepotan juga melayani pesan antar," perempuan separuh baya itu buru-buru minta maaf pada pelanggannya karena telat mengantarkan pesanan.


"Iya, Bu. Tidak apa. Belum terlalu siang untuk sarapan, kok," ujar Al sembari tersenyum. Ia menerima bubur itu dan memberikan selembar uang 20 ribu sebagai pembayaran.


****


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2