Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Siapa Dia?


__ADS_3

"Siapa?" tanya Bram ketika Al datang ke kamarnya. Masih di depan pintu.


"Bukan urusanmu. Aku minta kau datang bukan untuk ikut campur urusannya," jawab Al dengan nada kesal. Ia masih gedeq mengingat bagaimana orang ini mengetuk pintu dengan keras hingga mengganggu momen berharganya dengan Ken.


"Nyaris saja aku bisa melakukannya, tapi orang ini datang, semua buyar," gerutu Al dalam hati.


"Udah main rahasia-rahasian. Udah berani pesen wanita. Diem-diem parah juga kau ini, kawan,"


"Bukan urusanmu! Dia bukan wanita pesanan. Jaga ucapanmu," bentak Al begitu geram.


"Hey ...hayolah. Kenapa uring-uringan begini. Kau tidak lagi PMS kan?" Sergah Bram yang tampak heran melihat kelakuan Al. Tidak seperti biasanya dia bertingkah seperti itu.


"Apa kau sedang jatuh cinta?" selidik Bram.


"Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Maaf jika aku berlaku kasar," elaknya. Al duduk di sisi tempat tidur, meraih botol minuman yang ada di atas nakas dan meneguk isinya dengan pelan. Sementara Bram sudah selonjoran di sofa sejak tadi.


"Kenapa bisa bermalam di sini?" tanya Bram serius. Ia memandang Al yang tengah meneguk air mineral.


Setelah menghabiskan air yang ada di botol itu, Al menceritakan pada Bram bahwa ia sudah menemui Papanya hingga alasannya bermalam di sini.


"Sepuluh tahun ga ketemu, otaknya masih konslet aja. Dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Darah dagingnya sendiripun sudah tidak didengarnya lagi. Aneh sekali tuan gengster itu," oceh Bram geram.


"Dia bukan gangster, ralat ucapanmu," protes Al.


"Oh, salah ya. Bos preman,"


"Bram. Berhenti bercanda. Dia tidak pernah mekakukan tindak kriminal. Bukan perampok, pembunuh, atau pejabat yang dituduhkan orang. Papa hanya pelaku bisnis hiburan dan jasa debcolector. Aku tidak suka kau mengolok-olok dia,"


"Hem....masih saja kau membelanya. Dia saja sudah lupa kalau pernah punya anak bernama Al," tukas Bram masih dengan nada geram.


"Bram!" Al mencoba mengingatkan sahabatnya itu.


"Iya, maaf. Aku terpancing emosi mendengar ceritamu,"


"Papa tidak salah. Otaknya selalu di cuci oleh Masta dan anaknya. Aku masih berharap bisa bicara baik-baik dengannya hingga ia tau apa yang terjadi sebenarnya,"


"Barent masih ada di rumah itu?" tanya Bram lagi.


"Entahlah. Saat aku datang rumah itu sepi. Hanya ada penjaga keamanan di depan. Saat kami bertengkar, ada perempuan yang datang ke ruang Papa. Sepertinya mereka punya hubungan khusus hingga dia bisa masuk ruangan itu tanpa mengetuk pintu,"


"Bisa jadi dia ibu sambungmu," celetuk Bram.

__ADS_1


Al mendelik. Meskipun itu benar namun ia tidak ingin siapapun mencemooh orang tuanya.


"Iya...maaf," Bram memukul kepalanya sendiri, cukup keras. Ia memang kerap terpancing emosi begitu membicarakan orang tua Al.


"Jadi apa rencanmu?" selidik Bram lagi.


"Aku akan mencari cara, bagaimana agar bisa ketemu Papa dan menyelesaikan masalah keluarga ini. Urusan Masta aku sangat butuh bantuanmu,"


"Aku sudah cari informasi. Wanita itu akan keluar minggu depan,"


"Papa juga bilang begitu padaku," sela Al.


"Selama di penjara, dia mendapat perlakuan istimewa. Mendapat ruang khusus dan fasilitas mewah bak tahanan politik atau pejabat pemerintah. Menurut kusir lapas yang aku mintai keterangan, wanita itu kerap ditemui beberapa orang pejabat bahkan ia juga sering diizinkan untuk meninggalkan lapas dengan pengawasan dan jaminan. Ia masih trading, bisa jadi uang yang dikelolanya itu milik orang-orang yang sering mengunjunginya,"


"Apa kau punya foto-foto kondisi kamarnya?" tanya Al.


"Tidak, petugas yang aku mintai keterangan masih takut untuk memberikan informasi yang lebih banyak. Nanti aku usahakan jika kau membutuhkan,"


"Untuk jaga-jaga. Siapa tau dia mengadang cerita yang berbeda pada Papaku. Bukti itu mungkin akan aku perlukan sewaktu-waktu,"


"Baiklah, besok aku akan ke sana lagi. Aku siapkan informasi yang engkau butuhkan,"


"Bagus, kau memang bisa diandalkan," puji Al.


"Ha...ha....," Al terkekeh juga mendengar protes dari orang yang sangat dipercayainya itu.


"Aku butuh apartemen," Al kembali bicara.


"Sewa?" selidik Bram.


"Beli. Aku tidak akan pulang sebelum masalah ini selesai. Aku tidak ingin mereka mengetahui tempat tinggalku dan membuat kacau semuanya. Aku sudah nyaman tinggal di sana, jadi aku tidak ingin ada orang yang membuat keributan sekecil apapun di rumah itu,"


"Baiklah, kau mau di daerah mana?"


"Pusat kota,"


"Baik, aku cari yang terbagus untukmu,"


"Yang penting keamanan dan tidak terlalu bising,"


"Baiklah,"

__ADS_1


Siang itu, mereka menghabiskan waktu di kamar. Membicarakan bagaimana rencana yang akan dilakukan baik urusan Al dengan Papanya maupun Bram dengan tanggung jawabnya mengurus Masta Maria. Menjelang Ashar Bram baru bisa pamit.


Ia harus pergi karena akan menemui seseorang yang akan menjual unit apartemennya, melanjutkan pembicaraan mereka via pesan di platform jual beli properti terbesar di tanah air.


******


"Dia ada di sini, bos. Sepertinya hanya sendiri," pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu memberikan informasi pada orang yang ada di seberang.


"Awasi terus. Cari tau siapa yang menemui dan juga yang ditemuinya," perintah orang yang ditelpon ya itu.


"Baik, tadi sore sepertinya ada seseorang yang menemui tapi aku kurang yakin karena kami berpapasan di lift,"


"Awasi terus. Tidak mungkin dia hanya berdiam diri di kamar. Bila perlu buka kamar yang berdekatan agar bisa memantau aktifitasnya,"


"Baik, bos,"


"Tugasmu hanya mengawasi, jangan berbuat sesuatu diluar perintahku,"


"Baik, bos. Saya faham,"


"Sekarang dia lagi makan. Sendirian," tambahnya lagi.


"Bagus. Laporkan apapun yang dilakukannya,"


"Baik,"


"Buka kamar, biar pihak hotel tidak curiga denganmu,"


"Baik,"


Ferdy menutup telponnya setelah tidak ada suara lagi dari arah seberang. Ia mendapat tugas dari bosnya untuk mengawasi pria yang menginap di hotel ini. Sudah hampir lima jam ia duduk di loby hotel dan baru bisa melihat orang yang diintainya itu keluar dari kamar, makan malam di restoran hotel.


"Siapa dia? Kenapa Barent begitu ingin tau tentang orang ini. Menilik dari sikapnya, sepertinya dia orang baik-baik," gumam Ferdy .


"Sekilas wajahnya mirip seseorang, tapi siapa ya?" Ia berusaha berpikir, mengingat-ingat wajah yang duduk dan menikmati makan malamnya dengan tenang.


*****


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Ditunggu.......

__ADS_1


VOTE, like, dan spam komentarnnya.


__ADS_2