
Baron merasa puas dengan hasil kerja orang suruhannya. Tidak butuh waktu, Maria sudah terbujuk oleh saran mereka. Jika menajemen diskotik memberikan fasilitas plus-plus bagi pengunjung, otomatis pasti rame.
Memang benar, angka pengunjung tiga minggu terakhir melonjak drastis dan pengunjung yang menggunakan kamar selalu antri.
"Dasar matre, yang ada di otaknya hanya uang dan uang. Tidak berpikir dampak negatifnya," gumam Baron. Senyum kemenangan mengembang di wajahnya.
Baron sudah tidak sabar ingin menjenguk Maria di tahanan sementara polres, namun salah satu rekannya meminta agar dia bersandar. Biarlah Maria tidak usah tahu kalau musibah ini bagian dari rencana balas dendamnya.
Jika proses hukum sudah selesai dan Maria sudah mendekam di penjara, barulah Baron menampakkan batang hidungnya. Bahkan nomer ponsel Maria juga sudah diblokir oleh Baron agar perempuan itu tidak merengek-rengek minta bantuannya.
*******
Saat melintas di depan diskotik milik Maria, Al mengurangi laju kendaraannya. Ia ingin memastikan bahwa berita yang dibaca pagi ini memang benar-benar terjadi.
Al menarik nafas dengan lega, dari kejauhan bangunan itu sudah dipasang police Line. Keadaan di sekitar situ juga tampak sepi.
"Hem..... akhirnya kau tumbang juga," gumamnya dalam hati.
Tidak hanya sampai di situ, Al juga ingin memastikan keadaan Maria di polres tanpa sepengetahuan papanya. Pagi ini ia sudah janji dengan Bram, bertemu di TKP dan ingin tau siapa yang membantu Maria dalam menghadapi masalahnya.
******
"Al, terimakasih sudah mau menjenguk ibu," ucap Barent ketika mereka berpapasan di lift.
"What? Menjenguk mama?" Al memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri seolah mencari seseorang.
Melihat tingkahnya yang terkesan sangat kekanak-kanakan itu, Bram langsung menyenggol perut Al dengan sikutnya.
"Aku tidak mengerti ucapanmu!" Ucap Al berlagak lugu.
"Aku tahu kau pasti sudah membaca berita yang berkeliaran di media, untuk itu kau datang ke mari" tukas Barent.
"Oh, maaf. Sekali lagi aku pastikan. Aku ke sini karena ada urusan," sergah Al lagi.
Barent sadar, Al masih dendam padanya. Oleh karena itu ia tidak mau melanjutkan obrolan. Ia memilih diam hingga lift itu berhenti di lantai tujuh.
Karena gengsi, Al tidak ikut ke luar meskipun pintunya telah terbuka. Lebih baik ia turun lagi daripada harus melihat orang yang pernah menjadi anak tiri papanya.
"Terus kita ke mana?" tanya Bram bingung.
"Kita tunggu sampai anak tukang parfum itu keluar,"
"Apa? Gila aja. Bisa-bisa ia di sini sampai malam, apa kau mau menunggu selama itu? Kalau aku sih ogah,"
__ADS_1
"Jadi begitu?" Tuding Al dengan nada tidajk suka.
"Logika aja Al. Dia itu mau menemui ibunya, masa mau kita tungguin," elak Bram.
"Ya udah, kita naik lagi," Al segera memencet tombol angka 7. Bram makin dibuat geleng-geleng kepala oleh bosnya ini.
"Kita temui aja si Maria itu. Aku ingin melihat ekspresinya ketika kau menemuinya dalam kondisi seperti ini," kini Bram sudah berubah menjadi senang kembali.
Saat lift di lantai 3, pintu terbuka. Ternyata Tuan Kadir yang masuk. Al yang sudah pernah ketemu dengan orang ini, bahkan mendatangi rumahnya bersama om Ryan segera memberi salam.
"Masih ingat saya, Pak?" Sapa Al dengan ramah.
"Eh, iya. Ingat dong. Al, kan?" Tuan mengulurkan tangannya ke arah Al. Gantian ke Bram.
"Lama ga ketemu, ya? Bahkan aku juga belum mengucapkan terimakasih padamu,"
"Terimakasih? Untuk apa?" tanya Al bingung.
"Barent sudah kembali bersamaku. Semua berkat dirimu,"
"Oh, maksudnya bagaimana ya. Saya makin ga faham," tanya Al makin bingung.
"Sejak dia tahu kalau aku masih hidup, dia langsung meninggalkan ibunya. Sejak itu dia tinggal bersama. Barent cerita, kau yang memberitahunya. Saat aku mau menemuimu dan mengucapkan terimakasih, dia melarangku. Aku faham, kehadiran dia dan ibunya di rumahmu sudah membuat suasana jadi kacau balau, jadi wajar jika hubungan kalian tidak sehat," Jelas Tuan Kadir
"Iya, hampir satu bulan ini," sahut pria itu dengan lembut. Wajahnya terlihat begitu senang.
"Terimakasih, Al," ucap tuan Kadir lagi.
"Iya pak. Semua terjadi karena tidak sengaja. Aku melakukan semuanya demi mengembalikan keutuhan keluargaku. Jika kau ikut bahagia karena ini, aku juga senang," Al bicara dengan jujur.
"Iya, itulah yang namanya takdir. Keberuntungan kita karena ada musibah dari orang lain," ujar pria itu.
"Iya, anda betul itu. Bapak mau ke mana?" tanya Al pura-pura tidak tahu.
"Saya menemani Baret. Dia mau menemui Maria. Pagi tadi ia di ringkus karena bisnis haramnya,"
"Iya, aku ikut prihatin," gumam Al sedih.
"Cepat atau lambat, dia pasti akan mendapatkan. Sudah banyak orang yang menderita karenanya," ada nada sedih dari ucapan pria itu.
"Maaf jika sudah membuat Bapak sedih," buru-buru Al minta maaf.
"Tidak. Untuk apa aku bersedih? Dia sudah mengusir orang-orang yang aku cintai,"
__ADS_1
"Orang-orang? Setau aku mereka hanya punya satu anak. Siapa yang dimaksud oleh pria inii?" tanya Al dalam hati.
"Melihat pintu yang sudah terbuka, Al mempersilahkan Tuan Kadir keluar lebih dulu. Ia menyusul langkah pria itu dari belakang.
"Kau juga mau menemuinya?" tanya Tuan Kadir
"Sebetulnya aku ada urusan lain namun petugas yang mau aku temui belum datang, jadi aku mau lihat wanita itu sekalian," sahut Al.
"Itu Barent, sepertinya Maria ada di ruang itu," Tuan Kadir menunjuk ke arah Barent yang tengah duduk. Sepertinya ia sedang menunggu sesuatu.
"Sudah ketemu?" tanya Tuan Kadir pada putranya.
"Belum. Masih menunggu kabar dari dalam. Apa komandan yang menangani bisa mengizinkan keluarganya menjenguk,"
"Oh, aku ketemu Al di lift. Dia aku ajak ke sin," ujar Tuan Kadir. Ia bicara seperti itu karena Barent merasa aneh mendapatkan mereka datang serempak.
"Oh, iya. Aku hampir lupa. Kalian kan sudah saling kenal satu sa lain,"
"
Mereka bertiga berbagi tempat duduk di ruang tunggu itu. Tidak ada yang bicara, semua diam dengan pikirannya masing-masing.
Tiba petugas jaga itu masuk ke ruang itu, Barent langsung memberondong pria muda itu dengan berbagai pertanyaan.
"Gimana pak, apa kami bisa diizinkan untuk menemui Maria? Bagaimana keadaannya?,"
*Sabar, Pak. Masih ada pemeriksaan. Nanti keluarganya di perkenankan masuk, tapi hanya dua orang saja.
"Tunggu, ya. Nanti akan dipanggil," ucap pria itu lagi. Kemudian ia duduk di meja jaga, yang ada di tempat duduk tempat mereka menunggu.
🌳🌳🌳🌳
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1