Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Password


__ADS_3

"Alhamdulillah, pagi ini libur bikin sarapan," Ken tersenyum lega begitu Pak Parman memberitahu akan keluar beli bubur ayam untuk sarapan mereka.


"Berarti aku bisa cek ulang bab 3 sebelum menghadap dosen pembimbing,"


Ken sudah menyiapkan handuk dan sepatu untuk olahraga sang majikan, benda itu ia siapkan di sofa depan TV. Juga air mineral dalam tumbler ukuran satu liter. Ken juga sudah menyiapkan rebusan rimpang sesuai resep yang diberikan ibunya.


"Sudah siap semua, lanjut skripsi lagi, nih,"


Ketika ia membuka laptop dan mencari file revisi pada google Drive namun tidak segera terhubung. Hanya muter-muter dan terakhir ada notifikasi "sambungan internet tidak tersedia"


Ken memastikan bahwa hotspot dari ponselnya itu sudah terhubung ke perangkat komputernya.


"Sudah nyambung. Disconec, nih! Atau jangan-jangan?" Ia mulai panik dan memeriksa pulsa yang tersedia.


"Ya salam, tuh kan bener. Paket internetnya sudah habis. Beli dimana ya?"


Ken memeriksa sambungan WiFi dari perangkat komputer, sinyalnya begitu kuat. Saat ia mencoba masuk ternyata harus menggunakan password.


"Halah.....ternyata tidak ada yang gratisan di dunia ini," Ken tersenyum pada dirinya sendiri. Berharap sambungan WiFi itu bisa ia nikmati ternyata dikunci oleh pemiliknya.


"Apa mungkin ini sambungan dari rumah ini? Tuh orang kerjaannya kan main game, bisa jadi wife ini miliknya,"


"Baiklah, aku akan minta password nya dulu sama dia,"


Ken akhirnya beranjak ke ruang olahraga dimana pemilik rumah sedang melakukan aktifitas pagi. Dari luar, Ken bisa melihat pria itu sedang lari dengan treadmill elektrik cukup kencang. Ia bisa melihatnya dengan jelas karena antara ruang tamu dan ruang GIM hanya dibatasi dinding kaca yang transparan. Hordeng yang biasanya menutup ruang itu, digeser ke pinggir semua.


"Permisi," Ken masuk ruang itu karena pintu terbuka lebar.


"Pak," panggil Ken lagi karena orang itu seperti tidak mendengar suaranya. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Ken di ruang itu.


Dua kali Ken manganggil Al. Karena tidak ada tanggapan akhirnya dia memberanikan diri masuk ruangan. Kira - kira tiga langkah lagi Ken tiba di samping pria itu, ia memalingkan wajahnya ke arah Ken.


"Ada apa?" Al melepas earphone yang terpasang di telinganya.


"Hemmm.... pantesan," bisik Ken dala hati.


"Paket data saya habis, boleh ga numpang WiFi nya?" tanya Ken ragu.


"Untuk apa?"


"Hi...... internet kok untuk apa. Ya buat online, lah," bisik Ken kesal.


"Mau cek email dari dosen?" jawab Ken sekenanya saja.


"Oh, pake aja," jawabnya ringan. Ia menyalakan treadmillnya dan mulai berlari lagi.


"Password nya apa, Pak?" Ken bertanya lagi karena pria itu mengizinkan Ken menggunakan WiFi tapi tidak memberi tahu passwordnya.

__ADS_1


"Sama aja boong," ocehnya lagi. Tentu saja di dalam hati.


"Pak, password apa?" Ken mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


"Kiss me," jawabnya datar tanpa melihat ke arah Ken. Ia terus berlari dengan arah pandang ke depan.


Kontan saja wajah Ken memerah saat itu juga, bak lobster rebus yang baru diangkat dari air mendidih. Ken mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Dengan wajahnya yang tegang Ken memberanikan diri memandang pria itu.


"Kenapa?" pria itu menoleh ke arah Ken sebentar karena Ken tetap saja berdiri di situ.


"Passwordnya, Pak?" ia terpaksa mengulang kalimat itu. Jujur saja ia bingung mau bicara apa lagi.


"Kiss me!" sahut Al dengan nada memerintah. Tentu saja volume suaranya lebih tinggi dari sebelumnya.


Ken kesal. Ia merasa dipermainkan oleh majikan ibunya itu. Tanpa permisi ia membalikkan tubuhnya, meninggalkan ruangan itu.


"Dasar orang aneh. Apa maksudnya coba, dia minta seperti itu. Dasar kurang ajar," umpat Ken sembari berjalan meninggalkan ruang itu.


Al hanya bisa memandang aneh atas kelakuan Ken yang cukup membingungkan itu. Ia mengangkat kedua bahunya sebelum melanjutkan larinya.


Ken keluar dari rumah dengan setengah berlari. Ia terpaksa harus jalan kaki mencari toko terdekat yang menjual pulsa karena motor satu-satunya yang ada di rumah itu dibawa pak Parman membeli bubur ayam sejak tadi.


"Ini rumah jauh kemana-mana. Pegel juga kalo harus jalan kaki hingga ketemu jalan raya,"


Selain ada di tanjakan,rumah yang didiami Al ini juga jauh dari tetangga kanan dan kiri. Tanahnya cukup luas, wilayah sekitarnya juga hanya ditanami sayur mayur oleh tetangga sekitar. Entah siapa pemilik lahan terbuka yang cukup luas ini?


"Sepi begini. Mana ada yang jualan," Ia membalikkan tubuhnya dan pulang ke rumah.


Ken putus asa, siang ini ada rencana mau konsultasi karena dosennya itu cukup legang jadwalnya. Kalau ga siap? Berarti Ken harus sabar, ia harus menunggu satu minggu lagi.


"Harus dapat, pokoknya harus dapet," Ken bertekad menemui Al lagi untuk minta passwordnya. Ia berjalan ngos-ngosan karena harus melalui tanjakan untuk balik lagi ke rumah itu.


Sebetulnya ia malu menampakkan diri dan menanyakan hal yang sama. Tapi apa boleh buat, ia harus melakukannya agar bisa konsultasi hari ini.


Al masih ada di ruang GIM saat Ken menampakkan dirinya kembali. Sepertinya ia sudah selesai karena ia mulai melakukan gerakan pendinginan.


"Pak," panggil Ken ragu. Al berhenti sebentar. Ia mengelap peluh yang mulai membasahi wajahnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.


"Ya," jawannya singkat.


"Aku sudah keluar ternyata tidak ada yang jual pulsa di sekitar sini," Ken memberi penjelasan.


"Terus?" tanyanya tanpa rasa berdosa.


"Saya minta password WiFi, dong," pinta Ken dengan wajah setengah memelas. Kedua tangannya meangkup di depan dadanya.


"Kiss me," ucapnya datar dan memandang lurus ke arah Ken.

__ADS_1


"Hem.....," Ken menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan terpaksa.


"Baiklah, jika ia bercanda aku juga bisa kok meladeni orang ini. Bikin emosi aja," gerutu Ken dalam hati.


Ken maju beberapa langkah menuju ke arah Al. Masih dengan menahan nafas, ia memandang Al dengan tatapan elang yang siap menangkap mangsanya.


Diperlakukan seperti itu, Al memandang Ken penuh heran. Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat hingga Ken memberanikan diri untuk mengulang tujuannya.


"Passwordnya apa, Pak,"


"Kiss me," ucap Al lagi, dengan nada yang cukup tegas agar Ken bisa mendengarnya dengan jelas.


Ken maju satu langkah lagi, kini jarak antara dia dan Al hanya beberapa senti saja. Jantung Ken berdengup begitu kencang apalagi ia bisa merasakan nafas pria itu yang makin tidak beraturan.


"Dia tampan sekali," Ken berdecis sendiri di dalam hati melihat Al dengan kostum olah raga yang basah oleh keringat dan celana yang sedikit tinggi, membuat tampilan makin seksi.


"Kiss me tanpa spasi. Huruf kecil semua," Al mengeja kalimat itu dengan keras meskipun jarak ia dan Ken hanya beberapa senti saja.


"Huf....," Ken nyaris pingsan karena malu. Lututnya tiba-tiba gemetar dan lidahnya menjadi kelu. Ia tidak bisa berbuat apapun selain berdiri dan mencerna kata-kata itu. Matanya yang terpejam kini membelalak lebar, membentuk bulatan yang sempurna.


"Ya Tuhan, passwordnya itu toh," pekiknya dalam hati.


"Kenapa diam. Masih kurang jelas?" dengan nada setengah ngeledek, Al pura-pura bertanya balik pada Ken. Ia tahu jika Ken begitu malu atas sangkanya yang liar. Senyum tipis mengembangkan dari bibirnya. Kali ini ia sukses membuat Ken begitu malu dihadapannya.


"Kamu udah mikir yang jorok, ya?" ledek Al lagi sembari mengambil Tumbler dan meneguk isinya dengan pelan.


Begitu tatapan pria itu sudah tidak tertuju padanya, ini kesempatan bagi Ken untuk kabur dari ruang itu. Memutar tubuhnya, tanpa pamit Ken langsung ambil langkah seribu.


"Bodoh. ..bodoh...," Ken mengumpat dirinya sendiri sambil terus setengah berlari ke arah kamarnya.


Al membiarkan Ken pergi dengan senyum jahilnya.


"Ha...ha......kejebak kan?" bisiknya penuh kemenangan.


Setelah menghabiskan air minumnya Al juga keluar dari ruang itu menuju ke ruang makan.


******


Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2