
Sejak Mbak Win pulang kampung, Baron tidak mengizinkan Maria untuk mencari pengganti. Ia beralasan cukup Bik Sumi yang memasak dan mengurus pekerjaan rumah tangga. Yang dibutuhkan saat ini justru pegawai laki-laki untuk bersih - bersih rumah sekaligus supir jika sewaktu-waktu ia ingin keluar dan malas nyetir sendiri.
"Besok aku akan bicara pada Robby, biar dia yang cari," ujar Maria ketika mereka sedang ada di meja makan, menikmati sarapan pagi.
"Robby kan dari kampung, kita cari orang sekitar sini saja. Tidak harus nginep. Minta bantuan tukang sayur atau satpam kompleks," sanggah Baron. Ia tidak ingin Maria menempatkan orang-orangnya lagi di rumah ini.
"Oh begitu. Ya sudah. Nanti aku urus,"
"Kau sudah terlalu capek ngurus pekerjaan di kantor. Belum lagi harus mengontrol diskotik. Jangan menambah beban dengan mengurus remehan begini. Yang penting kita butuh orang yang bisa bekerja dan amanah," Baron memberi alasan lagi. Ia terpaksa berpura-pura simpati pada kesibukan istrinya itu.
"Baiklah, terserah Abang saja,"
"Bagaimana dengan tradingmu. Apakah Karto Mulyono masih menitipkan modalnya?" tanya Baron mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Masih. Sebenarnya aku sudah ingin mengembalikan modal dia seluruhnya tapi ia menolak. Aku ingin berhenti trading dan fokus bantuin kamu ngurus perusahaan,"
"Apa kontraknya sudah habis?"
"Belum. Masih satu tahun lagi. Aku terpaksa mengelola modalnya karena adiknya kepala lapas. Kalau tidak, aku juga males," Maria bicara dengan nada kesal.
"Simbiosis mutualisme. Kalau hanya mengelola modal satu orang kan tidak berat, itung-itung dia yang punya modal kalian berdua bisa menikmati hasilnya,"
"Tapi trading itu susah-susah gampang, Bang. Prediksi market selalu berubah-ubah. Dia taunya untung, aku yang kerja mati-matian," protes Maria.
"Tapi nutup kan untuk bayar profit yang kau janjikan?" Selidik Baron.
"Cukup,"
" Bagus itu, Kau memang trader handal. Meskipun sedang menjalani masa tahanan namu masih berdaya guna untuk masyarakat," puji Baron. Ia terpaksa berbohong agar Maria tidak curiga jika ia sudah mencium adanya kebocoran uang perusahaan yang terus mengalir ke rekening wanita licik ini.
"Sejak kejadian itu aku masih down. Kalau tidak karena fasilitas yang diberikan dia selama aku di lapas, aku tidak mau lagi trading," Maria mulai mengeluh.
"Aku tidak begitu faham dengan dunia trading namun aku hanya bisa memberi saran, selesai tanggung jawabmu. Jika sudah selesai kontrak kau punya hak untuk tidak memperpanjangnya,"
__ADS_1
"Iya,Bang. Terimakasih,"
"Kau istriku. Sudah kewajiban kita saling mengingatkan,"
"Iya, Bang. Terimakasih," sahut Maria mengulangi ucapannya lagi.
"Hari ini aku mau ke puncak, touring HD Club Kemungkinan nginep di sana," Baron mengungkapkan niatnya yang akan berangkat tauring bersama teman-teman perkumpulan moge.
"Iya, Bang. Aku akan menyelesaikan administrasi di kantor. Sejak akuntan senior kita resign, administrasi keuangan jadi sedikit amburadul,"
"Aku percaya padamu. Kau dan Barent bisa menyelesaikannya dengan baik," sahut Baron berbohong lagi. Ia tahu Maria berusaha merekayasa laporan agar pengeluaran selama ini bisa diakal-akali.
"Barent sudah bertanggung jawab penuh atas tugasnya. Aku rasa sudah waktunya kita kasih kepercayaan padanya untuk mengelola usaha itu. Jika perusahaan itu kita balik nama atas namanya, ia pasti akan lebih maksimal lagi memajukan perusahaan," Maria mencoba membujuk suaminya. Ia takut, suaminya akan berubah pikiran karena Al sudah berani menampakkan dirinya di rumah ini.
"Aku tau, dia anak yang cerdas dan bertanggung jawab. Nanti bisa kita bicarakan lagi. Masih banyak waktu, bukankah aku masih sehat dan kuat," ucap Baron.
"Apa dia tau kalau Al sudah kembali?" tanya Baron dalam hati. Perasaan tiba-tiba tidak enak, kenapa ia bisa bicara begitu padanya.
Maria tau jika Barent itu bukan anaknya, bagaimana ia bisa berpikir jika Baron akan memenuhi permintaan. Jika itu dilakukan oleh Baron, yang pasti tidak untuk saat ini. Dia masih sehat dan kuat untuk mengelolanya sendiri.
"Tentu saja aku lebih sehat, Bik Sum mengganti menu yang kau anjurkan untukku," bisik Baron dalam hati.
"Aku lebih sering jalan pagi dan bersepeda akhir-akhir ini karena harus bahagiakan kedua istriku," canda Baron. Ia menyindir istrinya itu karena sejak pulang dari penjara belum mau di sentuh sama sekali.
"Aku belum bisa melakukan, aku sakit hati mendapati kau menikah lagi," sahut Maria beralasan. Dalam hatinya ia memang sudah tidak berminat dengan laki-laki tua bangka yang ada di depannya ini. Jika bukan karena hartanya, ia sudah pergi dari sini.
"Maafkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa wanita,"
"Sudahlah, tidak ada gunanya kita membahas hal ini. Bagaimana juga kau tidak akan menceraikannya karena aku. Aku berangkat dulu, Bang. Keburu macet," Maria buru-buru bangkit dari kursinya. Ia mengambil tas kerjanya yang ia letakkan di sandaran kursi. Sebelum pergi, ia meninggalkan kecupan kecil di kening suaminya.
"Aku berangkat duluan, selamat bersenang-senang, Bang" pamitnya lagi.
Baron tidak menjawab, ia hanya melambaikan tangan ke arah istrinya yang sudah bersiap-siap mengeluarkan mobilnya dari bagasi.
__ADS_1
*******
Selepas Maria pergi, Baron memanfaatkan kesempatan untuk bicara dengan Bik Sum. Hari ini ia akan pergi tapi tidak untuk touring. Ia sedang menghimpun beberapa informasi untuk mencari Lisha. Salah satunya ia harus mencari pak Komar lebih dulu. Pria itu yang lebih banyak tau tentang aktifitas Lisha, karena kemanapun istrinya pergi selalu diantar pak Komar.
"Alamat pastinya saya tidak tahu, Tuan. Hanya dia sering cerita kalau rumahnya itu di kampung bulak, deket pelabuhan," Bik Sum mencoba mengingat apa yang terekam tentang Pak Komar.
"Aku ingin menemuinya," gumam Baron. Suaranya begitu lirih.
"Nomer HP-nya juga sudah tidak bisa dihubungi. Saya beberapa kali menelpon tapi tidak pernah terhubung. Sejak ia tidak kembali ke rumah ini, komunikasi terputus,"
"Saya curiga, ada sesuatu yang ia sembunyikan,"
"Sepertinya begitu, Tuan. Ia ijin pulang lebih awal karena istrinya sakit tapi tidak ada beritanya hingga kini," sahut Bik Sum.
"Terimakasih, Bik. Jika ada sesuatu tentang Pak Komar yang bisa kau ingat, segera beritahu. Aku akan minta seseorang menemukan secepat mungkin,"
"Iya, Tuan. Saya senang jika Tuan bisa menemukannya. Saya permisi ke belakang dulu,"
"Silahkan,Bik. Terimakasih jus-nya. Sudah lama tidak aku tidak merasakan minuman ini,"
"Iya, Tuan. Saya berusaha menyajikan menu yang sesuai dengan standar kesehatan untuk penderita diabetes yang di buat resep nya oleh Nyonya,"
Baron hanya bisa menarik nafas panjang. Dadanya mendadak sesak jika Bik Sum sudah mengingatkannya pada sosok perempuan yang begitu dicintainya itu. Perempuan yang memilih pergi, meninggalkan keluarganya tanpa alasan.
"Aku akan menemukanmu, lihat saja!" bisiknya geram.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗🤗