
Setelah Lisha tinggal di kediaman Al, Pak Komar kembali diminta untuk menjadi supir pribadi di rumah itu. Khusus mengantar Lisha jika ada urusan di klinik. Memang tidak setiap hari, paling sering seminggu tiga kali ia keluar rumah.
Meskipun begitu, Pak Komar sudah sangat senang. Ia yang selama ini menggantungkan hidupnya dari ojek kini punya sumber ekonomi yang baru. Al membayar penuh gajinya walaupun tidak bekerja setiap waktu. Malah sebagai tanda ucapan terima kasih, Lisha membeli rumah kecil, dekat tempat tinggal Al agar pak Komar tidak terlalu jauh mondar-mandir. Rumah itu diberikan secara gratis, hingga pada akhirnya Pak Komar menjual rumahnya yang ada di Bekasi dan memboyong keluarganya pindah ke Bogor.
Pagi itu, Pak Komar sudah siap mengantar Lisha dan Ken pergi ke salon. Lisha sengaja membawa untuk memperbaiki penampilan untuk memberikan surprise pada putranya. Mereka akan menghadiri akad nikah Bram, ia ingin Ken berpenampilan yang berbeda dari biasanya.
"Bajunya sudah di siapkan," tanya Lisha sebelum Ken masuk ke mobil.
"Sudah,Bu," sahut Ken sembari tersenyum.
"Baju, sepatu, tas, tidak ada yang ketinggalan kan? Lisha berusaha membantu ingatan gadis itu karena Al pernah cerita bagaimana cerobohnya Ken dan sifat pelupanya.
"Sudah, semuanya ada di godybac kemarin. Belum saya keluarkan sama sekali," Ken menunjuk pada tas berukuran besar yang masih tergeletak di jok penumpang.
Ya, mereka kemarin juga pergi bersama. Membeli baju yang layak di salah satu butik yang cukup di dekat klinik yang pernah Lisha tinggali.
"Kita ke salon dulu, Pak baru ke acara Bram," Lisha menjelaskan.
"Iya, nyonya,"
"Keluarga bapak sudah berangkat?" tanya Lisha pada pria itu ketika mobil yang mereka tumpangi sudah melaju di jalan raya.
"Sudah sejak pagi. Berangkat naik taxi online," sahut Pak Komar.
"Syukurlah. Semoga tidak macet," gumam Lisha lagi.
"Arah ke salon sih tidak, khawatirnya kita akan kena macet begitu menuju ke rumah Chica,"
"Ya, mudah-mudahan tidak. Saya sudah bikin janji dengan pemilik salon. Cuma menata rambut Ken dan merias tipis. Tidak lama kok,"
"Iya, nyonya. Sebentar lagi sampai, yang ada di ujung jalan itu kan?" Tanya Pak Parman.
"Iya,"
"Itu salon milik artis ternama yang punya acara talk show di TV 4 itu bukan?" tanya Pak Komar.
"Iya,"
Butuh waktu sekitar 20 menit untuk menyiapkn Ken agar bisa tampil elegan di acaranya Bram. Meskipun hanya menggelar akad nikah dulu, namun keluarga Chica mengundang cukup banyak keluarga dan relasi ayahnya. Lisha ingin calon mantunya ini terlihat cantik dan pantas bersanding dengan putranya.
Hasilnya memang tidak mengecewakan. Ken terlihat cantik dan elegan. Lisha dan Pak Komar tidak henti-hentinya memuji penampilan Ken yang sangat berbeda pagi ini.
"Bisa pangling nih, Den Al," ujar Pak Komar sembari melongok dari kaca spion.
"He...he....bapak bisa aja," sahut Ken malu-malu.
"Bener Ken, kamu terlihat berbeda sekali. Cantik," puji Lisha sembari tersenyum puas melihat hasil usahanya.
"Terimakasih, Bu," sahut Ken malu-malu.
******
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Lisha berhenti di rest area yang sudah di sepakati untuk menunggu Al yang berangkat dari apartemennya dan keluarga Bram. Mereka berencana jalan beriringan sebagai keluarga mempelai
laki-laki menuju ke kediaman mempelai perempuan.
"Itu mobil Al," seru pak Komar dan langsung mengarah mobilnya ke arah yang dituju.
Mendapati mobil Mama sudah datang, Al segera yang sudah datang beberapa menit yang lalu segera keluar dari mobilnya.
"Kita langsung berangkat. Bram dan keluarganya juga sudah dekat," ujar Al pada pak Komar yang sudah menyambutnya dengan senyum dan membuka kaca mobilnya.
"Ken ikut sama aku," pinta Al begitu ia mendongak ke arah jok penumpang dan melihat Ken duduk di samping Mamanya.
"Tuh Ken, disuruh pindah," Goda Lisha yang juga membuka kaca mobil di sisinya.
Ken tidak langsung turun. Ia tersenyum malu. Baginya kelakuan Al itu sangat norak. Kenapa ia harus pindah mobil, bukankah ia merasa tidak enak dengan Nyonya Lisha.
"Aku di sini aja," sahut Ken lagi begitu Al memintanya kembali.
Al tidak peduli dengan penolakan gadis itu. Ia membuka pintu di samping tempat duduk Ken dan meraih tangan gadis itu agar keluar dari mobil yang di tumpangi mamanya.
"Dia sama aku ya, Ma" Al meminta Ken pada Lisha.
Wanita itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia sudah bisa menduga sebelumnya. Begitu mereka ketemu, Al pasti meminta Ken untuk pindah mobil. Menemani nyetir hingga ke tempat tujuan.
Al segera meninggalkan mobil itu, dengan tetap menggandeng Ken ia berjalan ke arah mobilnya sendiri. Wajahnya terlihat begitu cerah dan tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya.
"Ada yang aneh, dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Ken yang sudah duduk di samping kursi pengemudi. Ia merasa tidak nyaman dengan sikap Al yang pasti ditujukan padanya.
"Hem... benarkah?" tanya Ken dengan mimik kurang yakin.
"Iya, bener," sahut Al berusaha meyakinkan gadis itu.
"Kamu cantik sekali," ujar Al lagi.
"Alhamdulillah kalo begitu. Kamu orang ke 999 yang bilang begitu padaku hari ini," sahut Ken geli.
"Apa?" Siapa orang yang memujimu seperti itu," selidik Al dengan nada cemburu.
"Pak Komar," sahut Ken diiringi tawanya yang lepas begitu saja.
"Oh, aku kira siapa? Aki-Aki tua itu akan membuat perhitungan denganku," guman Al sembari melaju meninggalkan tempat itu diikuti mobil yang ditumpangi Lisha dengan jarak yang cukup dekat.
Sepanjang perjalanan, Al terus saja mencuri pandang pada Ken. Sesekali tangannya memainkan ujung rambut gadis itu yang dibuat sedikit bergelombang.
"Ingat! Begitu turun dari mobil, jangan pernah membuat jarak denganku," Al mengingatkan Ken begitu mereka sudah memasuki kompleks perumahan mempelai perempuan.
"Ga bisa begitu, nanti malah kita yang dikira pasangan pengantinnya," canda Ken sekenannya.
"Apa sekalian aja kita ijab kabul, ya. Surat-surat nya kan bisa diurus belakang," balas Al
"Apaan, ga....," pekik Ken yang merasa tertampar oleh ucapannya as diri.
__ADS_1
"Emang kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?" selidik Al mulai serius.
"Jangan sekarang, tadi aku cuma becanda kok,"
"Tapi aku menangkapnya sebagai kode," canda Al yang membuat Ken jadi memerah pipinya.
"Enggak. becanda doang," ucap Ken menegaskan.
"Terus....seriusnya kapan?" tanya Al. Kali ini ia memandang wajah Ken dengan serius.
"Kita masih punya banyak waktu. Nunggu ibu pulang,"
"Hem..aku kira kita bisa bikin kejutan untuk Bu Ros. dia datang janur kuning sudah mengembangkan," ujar Al tersenyum nakal.
"Apaan ih, becanda terus," protes Ken yang terus tersipu malu.
"Aku serius, Kok," tagas Al lagi.
"Serius yang mana? Jangan sekarang," Ken makin ketakutan. Ia takut Al benar-benar membuktikan ucapannya. ikut ijab kabul hari ini.
"Sekarang. Ga boleh nolak," ujar Al setengah memerintah.
"Al, jangan begitu," Ken mulai takut pada laki-laki itu.
"Apa kau tidak mau? Apa permintaanku cukup susah untuk kau penuhi?" Tegas Al lagi.
"Mau, tapi tidak sekarang," sahut Ken yang mulai menahan Isak karena begitu takut.
"Kenapa takut? Emang aku minta apa?" Tanya Al lagi.
"ijab kabul," sahut Ken malu.
"ha...ha...... kau ini lucu banget Ken. Bukannya tadi aku minta agar kau tidak jauh-jauh dariku?"
tegas Al.
"iya," sahut Ken malu.
Ken hanya tersenyum. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengikuti apa yang dimaui oleh pria yang sudah menjadi kekasihnya itu.
*********
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
__ADS_1
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!