Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Warung Tenda


__ADS_3

"Ayo?" ajak Al ketika Ken muncul dari kamar mandi. Masih dengan pakaian yang sama namun wajahnya terlihat lebih fresh.


"Kemana?" tanya Ken menunjukkan mimik kebingungan. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Al karena masih malu.


"Cari makan!" Al beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah pintu. Gadis itu pun mengikuti langkah Al dari belakang.


"Kenapa dia sudah berani menampakkan diri di muka umum? Kenapa juga ia mengajakku ikut dengannya? Apa yang sudah terjadi padanya?" deretan pertanyaan muncul di kepala Ken namun ia tidak berani mengungkapkan nya.


"Kita cari makan di depan. Di pinggir jalan banyak warung tenda dadakan jam segini," ujar Al ketika mereka sudah ada di lift.


"Iya," sahut Ken sembari mengangguk.


"Mau makan apa?" tanyanya lagi.


"Apa aja,"


Al merapatkan tubuhnya ke arah Ken karena ada beberapa penghuni apartemen yang masuk. Kini posisi Al dan Ken ada di pojok belakang.


Al bisa melihat gadis itu lebih dekat. Bahkan ia bisa mencium wangi rambutnya yang dibiarkan terurai dan masih basah. Nyaris tidak ada jarak diantara keduanya karena lift penuh sesak.


Al tersenyum. Entah sadar atau tidak, tangannya sudah menggenggam tangan Ken dengan erat. Ken makin serba salah, ia merasa wajahnya pasti merah padam saat itu juga. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka hanya bicara dengan bahasa tubuhnya masing-masing.


"Yuk," ajak Al lagi ketika pintu lift terbuka dan orang-orang yang memadati tempat itu keluar satu persatu. Al melepaskan tangannya, mereka berjalan beriringan.


"Jalan kaki aja, sekitar 200 meter dari pintu keluar. Kalau mau banyak pilihan lagi, kita harus jalan ke arah taman kota," Al mengarahkan tangannya ke barisan warung tenda yang sudah berdiri di beberapa titik.


"Mau makan apa?" Tanya Al lagi karena sejak tadi Ken hanya diam dan tersenyum canggung padanya.


"Apa aja,"


"Kita liat-liat aja dulu, ya" Al menimpali.


Kedua sudah ada di pelataran dan menuju pintu keluar. Suasana begitu ramai, barisan pengemudi ojol yang menunggu penumpang berkumpul di salah satu sudut, di depan pintu gerbang. Beberapa diantaranya ada yang keluar masuk menenteng makanan, antar jemput makanan yang dipesan oleh penghuni apartemen.


"Mereka masih saja mengintai," gumam Al geram ketika ia menangkap sosok pria yang belakangan ini terus mengikutinya.


"Siapa?" tanya Ken. Meskipun tidak begitu jelas, ia bisa mendengar umpatan itu. Ia berusaha mengarahkan pandangannya ke arah mata Al.


"Orang suruhan Papa,"


"Kau tidak terganggu?" selidik Ken.


"Sangat. Tapi biarkan saja. Aku akan membicarakannya pada papa. Mereka hanya melaksanakan tugas. Tak ada gunanya menegur mereka,"


"Oh....," gumam Ken.

__ADS_1


Setelah jalan cukup jauh meninggalkan apartemen, pilihan mereka tertuju pada tenda bebek Madura. Kedua duduk bersebelahan, di bangku panjang yang menghadap ke arah jalan.


"Kita makan di sini dulu, lain waktu aku akan mengajakmu dinner di hotel berbintang," ujar Al setengah berbisik. Lagi-lagi wajah Ken memerah.


"Di sini juga sudah Alhamdulillah. Aku sudah seneng, kok,"


"Perutmu sudah berbunyi sejak tadi, apa kau belum makan?" tanya Al karena ia mendengar suara dari perut Ken yang makin kencang.


"Belum?" sahut Ken jujur. Kemudian ia menceritakan bagaimana ia bisa kehabisan uang dan menahan diri untuk tidak makan siang.


"Aku kasih uang kau menolak, jadi aku bisa apa? Kau memang keras kepala. Bagaimana jika kau sakit?" gerutu Al. Ia mengeluarkan ATM dari dompetnya dan memberikan pada Ken.


"Pakailah!"


Ken memberanikan diri menatap wajah Al. Ia masih ragu untuk mengambil benda itu.


"Ambilah, aku tidak pernah menggunakan," ujar Al lagi.


"Apa? Bagaimana orang ini tidak pernah menggunakan ATM-nya?" bisik Ken dalam hati.


"Segala kebutuhan keuangan diurus Bram, jadi aku nyaris tidak pernah menggunakannya. Aku juga tidak pernah keluar rumah. Jadi untuk apa? Ambilah, ini perintah," Al menyodorkannya lebih dekat lagi.


Dengan ragu Ken menerima benda pipih itu dan menyimpannya dalam saku blusnya.


"Kau ini, bagaimana jika aku hanya membayar makananku saja," Al mencoba menggoda Ken. Ia memasang muka serius untuk melihat reaksi gadis itu.


"Aku tinggalkan ATM sebagai jaminan," sahut Ken dengan wajah tanpa dosa.


"Ha..ha ...," Al tidak bisa menahan tawanya. Melihat seperti itu Ken jadi senang. Baru kali ini ia bisa melihat tawa pria itu. Makin mempesona. Ken hanya tersenyum simpul ke arah Al, kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah jalanan.


"Terimakasih, ya," ucap Al.


"Untuk apa?" tanya Ken bingung. Ia tidak memberi sesuatu apapun tapi pria itu berterima kasih padanya.


"Kau sudah mau memanggilku dengan sebutan, Al," serunya lirih.


"Oh, maaf tadi itu refleks," buru-buru Ken menjelaskan. Tentu saja mukanya jadi merah karena Al mengingat peristiwa itu lagi.


"Tetaplah seperti itu. Aku suka jika kau memanggilku seperti itu," pintanya dengan tulus.


Ken tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sembari mengarahkan piring berisi nasi ke arah Al. Pesan mereka sudah datang.


"Ayo kita makan," ajak Al begitu satu porsi nasi berikut bebek cabe ijo terhidang di depannya.


Untuk beberapa saat mereka menikmati makanannya. Tidak ada suara karena ada pengunjung lain yang datang dan duduk di samping mereka.

__ADS_1


*****


Usai makan, mereka harus segera keluar dari tenda karena pengunjung yang datang tidak kebagian tempat duduk. Mungkin karena hujan, banyak yang mampir. Mereka mengisi perut sekalian berteduh.


"Tambah Dedes,nih!" seru Ken begitu sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, ya. Nunggu reda juga ga bisa," sahut Al.


"Lari," usul Ken.


"Kau tidak takut kuyup?" tanya Al dengan tatapan serius. Ken menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya.


" Ok. Aku hitung sampai tiga, kita lari menuju halte," ujar Al dan diikuti anggukan oleh Ken. Mereka berlari dibawah guyuran hujan yang makin deras. Menuju halte yang yang ada di depan apartemen, letaknya sekitar 200 meter dari warung bebek Madura.


Jantung Al berdetak kencang, debarannya begitu kuat hingga ia makin erat memegang tangan Ken. Sesekali pandangan mereka bertemu. Senyum kedua mengembang begitu saja. Mereka sangat bahagia.


"Bermalam di sini aja, kau tidak mungkin pulang dalam kondisi hujan begini,' ucap Al ketika mereka sudah berteduh di halte.


"Jangan takut, satu kamar masih kosong," tambah Al lagi. Ia melihat Ken yang masih ragu.


"Kita juga tinggal satu atap sebelumnya, kenapa takut?" desaknya lagi.


"Iya, Pak. Aku nginep di sini aja," sahut Ken ragu.


"Al..." koreksi Al.


"Iya, Al," sahut Ken pelan.


"Apa kau masih lapar? Suaramu tidak terdengar!" protes Al.


"Iya, Al," suara Ken terdengar lebih keras.


Al tersenyum. Ia meraih tangan Ken kembali. Digenggamnya tangan Ken yang lembut.


"Ayo, sekalian basah," ajak Al. Mereka kembali menembus pelataran di bawah guyuran hujan. Hanya beberapa meter saja dari halte.


*******


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2