Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Tetaplah Di Sini!


__ADS_3

Usai makan malam, Baron dan Lisha mengajak Bu Ros duduk bareng. Perasaan Bu Ros sudah mulai tidak enak, selain karena mereka belum begitu kenal satu sama lain, Bu Ros berpikir jika majikan sudah ingin bicara seserius itu, kalau ga dipecat pasti ada kesalahan fatal yang sudah diperbuat.


"Ga usah terlalu tegang,Bu. Kita ngobrol santai," Ujar Baron ketika mereka sudah duduk di ruang tengah.


"Iya, Tuan. Maaf anak saya berbuat salah?" tanya Bu Ros khawatir.


"Kita duduk di sini karena saya akan menyampaikan sesuatu, ini tentang Ken,"


"Kenapa dengan dia? Apa dia sudah membuat kesalahanan yang fatal," Bu Ros begitu ketakutan. Suaranya jadi terbata-bata. Lisha yang duduk di samping suaminya hanya tersenyum simpul melihat ekpresi Bu Ros.


"Putrimu harus bertanggung jawab atas perasaan Al. Ia sudah membuat Al gila,"


"Maksudnya, Tuan? Saya tidak faham," wajah Bu Ros jadi pucat, ia terlihat makin panik.


"Bang, ga usah muter-muter begitu. Kasihan Bu Ros, loh," Lisha menepuk pundak suaminya. Mengingatkan suaminya.


"He....he......Gimana ya? Saya juga bingung mau menyampaikannya!" seru Baron lagi.


"Jadi begini, Bu. Anak-anak kita itu saling mencintai. Mereka butuh restu kita untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan," ucap Baron lagi.


"Maksud Tuan bagaimana?" tanya Bu Ros terbata-bata. Antara kaget dan tidak percaya ia mencoba minta penjelasan.


"Ya, begitulah namanya juga anak muda. Saya melihat mereka pasangan yang cocok. Ken juga bisa membuat Al jadi lebih terbuka dengan lingkungan. Saya sangat senang," Baron kembali memberikan alasannya, kenapa ia menyukai hubungan mereka.


Bu Ros masih diam. Ia tidak tahu mau bicara apa? Berita ini terlalu tiba-tiba dan membuatnya belum siap untuk bersikap.


"Tau Ken disuruh pulang, dia panik Bu," Lisha menimpali.


"Saya bingung, saya minta maaf jika Ken sudah membuat suasana rumah ini tidak seperti dulu lagi,"


"Bu Ros Jangan bicara seperti itu. Justru keseriusannya dengan putrimu membuat Al punya kekuatan dan berpikir terbuka. Ia jadi punya keinginan untuk mengetahui kehidupan keluarganya, termasuk mencari saya dan kembali ke rumah papanya," ucap Lisha menambahkan.


"Saya bingung, Tuan. Ken saya minta mengantikan tugas saya di sini, kenapa kok jadi seperti ini," Bu jadi makin serba salah.


"Biarkan mereka menjalani masanya, kita sebagai orang tua cukup memberikan restu selagi itu tidak melanggar aturan agama," ucap Baron lagi.


"Maaf tuan, mungkin Tuan dan nyonya belum mengetahui hal ini. Ken itu bukan putri kandung saya. Ia anak teman saya,"


"Maksudnya, Bu?" Baron dan Lisha saling pandang, ia cukup kaget dengan ucapan Bu Ros.


Lisha menceritakan bagaimana Ken bisa bersamanya hingga sampai detik ini ibunya tidak pernah kembali.


"Apa orang tua Ken masih hidup," tanya Baron dan Lisha nyaris bersamaan.


"Saya tidak tahu. Dulu kami pernah bekerja di Condet. Kami kenal di situ. Siapa keluarganya, saya tidak tahu,"


"Kau telah merawatnya dengan baik, Bu. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berbudi. Aku menyukainya. Terlebih, Al begitu bahagia di sisinya. Itu yang penting. Aku mohon Bu Ros memberi restu pada mereka," pinta Lisha dengan penuh kerendahan hati.


"Perkara orang tua kandung Ken, nanti kita cari sama-sama. Ibu tidak usah sedih," Lisha menambahi.


"Saya sih terserah anaknya saja, Nyonya. Jika Tuan dan nyonya tidak malu punya menantu yang tidak jelas asal usulnya dan satu-satunya keluarga yang ia miliki hanya seorang pembantu, saya sangat senang. Jika Ken bahagia, saya juga begitu. Saya merawat dan memberikan pendidikan yang baik padanya agar dia bisa hidup layak, tidak seperti ibunya," ucap Bu Ros.


"Ken pasti sangat bangga punya orang tua seperti ibu. Ibu sudah berhasil mendidiknya,"

__ADS_1


Lisha berusaha menguatkan hati Bu Ros.


"Terimakasih, Nyonya,"


"Kita istirahat dulu. Tidak usah menunggu Al. Ken juga akan baik-baik saja dengan-nya. Bu Ros jangan khawatir ya?


"Iya, Nyonya. Terimakasih,"


"Dan satu lagi, jangan panggil Nyonya dan tuan lagi. Bukankah kita sudah mau jadi besan? Ucap Baron di sertai tawa.


"Iya, Pak. Terimakasih,"


"Nah, itu lebih enak di dengar,"


Bu Ros kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Lisha dan Baron. Meskipun jam sudah sudah menunjukkan pukul 23.00, Al belum memberi kabar pada orang tuanya.


*******


Usai makan, Al menyiapkan kamar untuk Ken. Satu kamar yang belum pernah di pakai, persis di samping kamar yang ia tempati.


"Ini kamarmu, mulai malam ini dan seterusnya kau akan tinggal di sini," ujar Al setengah memerintah.


"Ga bisa begitu. Ibu sudah memesan tiket untukku. Besok aku harus pulang kampung,"


"Tidak, aku tidak mengizinkan kau pulang kampung. Kau harus di sini bersamaku sampai urusan kita selesai. Tentang ibumu, biar aku yang urus,"


"Al, kau memaksaku?"


"Tidak. Aku hanya ingin memastikan calon istriku tetap ada di sisiku,'


"Aku tidak akan tinggal di sini. Jangan punya pikiran yang ngaco,"


"Oh....he..he...maaf,"


"Tapi aku harus pulang dulu. Malam ini akan membereskan kontrakan. Sewanya sudah habis,"


"Tidak bisa. Biar Bram yang urus. Kau diam saja di sini,"


Ken hanya diam. Ia merasa senang Al begitu perhatian padanya namun ada ketakutan yang tiba-tiba muncul mendapati pria ini yang terkesan mengatur hidupnya.


"Kenapa diam? Apa kau tidak suka?"


"Aku tidak bisa begini. Ibu minta tolong agar aku pulang kampung karena ada urusan penting,"


"Baik, kau boleh pulang kampung. Tapi aku ikut"


"Al, tidak bisa begitu. Apa kata orang jika aku pulang bawa laki-laki yang bukan suamiku,"


"Jika kau ingin menikah sekarang, ayo kita nikah,"


"Al.....,"


Pria itu duduk di sisi tempat tidur. Di samping Ken. Ia meraih pundak gadis itu dan membawanya ke rangkulannya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan kau ada untukku. Temani Aku," pinta Al dengan suara yang begitu mengharap.


Ken tidak menjawab, ia hanya merapatkan tubuhnya ke pria itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Al.


"Aku akan bicara ke Bu Ros, kau tidak usah khawatir. Ia tidak akan menolakku. Justru ia sangat bersyukur ada pemuda tampan dan mapan yang ingin serius dengan putrinya,"


"Ih..... Kepedean," teriak Ken sembari mencubit pinggang Al.


"Lah memang begitu kan? Kau itu beruntung bisa dapetin aku," ucap Al begitu pede.


"Tidak begitu. Kau yang beruntung mendapatkan aku dan aku yang harus sabar mengikuti maumu,"


"Ha...ha....Kok jadinya kayak ga iklas begini. Ha...ha....," Al mencium ujung kepala Ken dengan lembut.


"Aku pulang dulu, ya. Sangat berbahaya jika aku nginap di sini. Besok aku datang agak siangan, mau cari duit dulu biar bisa beliin hair dryer untukmu," canda Al.


"Dih, apaan sih,"


"Kau akan sangat membutuhkan benda itu. Percayalah," ujar Al sembari tersenyum nakal.


Al bangkit dari sisi tempat tidur dan melangkah ke arah ruang tamu. Ia mengenakan jaket dan perlengkapan lainnya sebelum keluar apartemen.


"Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat malam untukku?" tanya Al yang sudah mengenakan jaket dan sarung tangan. Pria itu merentangkan kedua tangannya, meminta Ken datang padanya.


Ken mendekat. Merapatkan tubuhnya ke arah Al. Al meraih pinggang gadis itu hingga mempersempit jarak di antara mereka.


"Cuma begini?" tanya Al lagi.


Ken mengangkat kepalanya. Dengan sigap Al menangkap dagu Ken.


"Cup," satu kecupan lembut mendarat di bibir Ken. Wajahnya langsung memerah meski ini bukan kecupan yang pertama dari pria itu.


"Mau lagi?" tanya Al menggoda.


Ken belum menjawab, dua kecupan bertubi-tubi ia terima. Ken merasa geli dan melepaskan tangan Al yang melingkar di pinggangnya.


"Aku pulang dulu ya. Kau boleh pakai bajuku. Daleman juga kalau kau mau,"


"Jorok....tidak akan," Ken kembali mencubit pinggang Al.


"Ha..ha....kau tidak mungkin pakai baju itu sampai besok pagi," ucap Al sembari melangkah ke luar. Ken mengikuti pria itu hingga ke pintu. Satu kecupan diterima Ken sebelum Al benar-benar pergi.


Ken tersenyum. Hatinya begitu bahagia. Malam ini ia pasti akan tidur dengan nyenyak karena Al sudah memberikan perhatian yang begitu besar padanya.


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2