
Ken luar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap. Ia menghampiri Al dan duduk di depan pria itu dengan wajah ceria. Ken masih memegang handuk sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah.
"Sini aku kasih contoh cara mengeringkan rambut, kalau begini caranya rambutmu bisa bercabang," Al mengambil handuk Ken dan meminta Ken untuk berbalik. Membelakanginya.
"Kalau abis keramas, jangan memelintir atau memeras rambut seperti ini, rambutmu jadi gampang patah. Cukup di remas pelan, airnya juga sudah keluar,"'
"Balikkin rambut depan, sisir pelan-pelan rambut dengan tangan," ucap Al lagi. Ia membalik rambut Ken yang sudah setengah kering ke depan dan dengan sabar ia menyisir rambut itu dengan kelima jari tangannya.
"Geli," Ken menggeliat karena ia merasakan sesuatu yang hangat di tengkuknya.
"Emang diapain? Aku cuma nyisirin rambut doang kok," sahut Al berbohong. Ia tidak mau mengaku jika meniup leher belakang Ken pelan-pelan dengan maksud mengganggu.
"Bohong,"
"Ngarep banget, ya?" Al tidak lagi meneruskan pekerjaannya. Ia menarik tangannya dari rambut Ken. Al mendekap Ken dari belakang dan merapatkan tubuh itu ke arahnya.
"Mau diginiin," Al menciumi leher bagian belakang Ken hingga ia kegelian dan melepaskan tangan Al dari tubuhnya.
"Jorok," Ken memutar tubuhnya dan kini sudah duduk menghadap Al kembsli sembari memasang wajah galaknya.
"Tapi suka, Kan?" tanya Al nakal.
"Geli, tau," sahut Ken sembari tersungkur.
"Baguslah, kalau ada reaksi begitu berarti kamu normal," sahut Al sekenannya.
"Sembarang aja, dikira aku udah mati yang ha bisa merasakan kalau digeliin,"
"Ha...ha.....udah ga usah dibahas. Tuh rambutnya udah kering. Jangan disisir dulu. Sisir pake jari aja. Besok-besok kalau mau lebih cepet, jangan pake handuk begini ngeringinnya, pake kaos katun kalau ada. Coba aja, gampang kering,"
"Iya, nanti di coba. Tapi lebih gampang kalau pake hair dryer, sih," Ken bicara seperti itu dengan maksud menyindir, ia masih ingat bagaimana Al ber-teori cara menangkap ikan ujung-ujungnya pake serokan.
"Ha..ha.....iya. kok kamu tambah pinter sih?"
"Kamu suka iseng. Jadi udah hafal,"
"Good. Pasti aku beliin hair dryer karena alat itu pasti sangat kau butuhkan. Jika keramas 4-5 kali sehari kan repot harus mengeringkan rambut seperti ini," ucap Al sambil menahan senyum.
"Maksudnya?" tanya Ken bingung. Ia masih belum bisa mencerna arah pembicaraan kekasihnya itu.
"Ga ada gunanya di jawab sekarang, nanti langsung aku buktikan saja," ucapnya makin geli.
"Ih, apaan sih? Ga jelas tau," Ken merajuk.
"Ha..ha....," tawa Al makin geli.
"Ayo, berangkat, aku sudah laper," Ajak Al. Ia langsung berdiri dari duduknya. Ken juga langsung mengikuti Al.
"Emang ga bedakan dulu atau apa gitu?" tanya Al bingung.
"Bedakannya nanti aja, ga ada gunanya sekarang. Yang lihat kan cuma kamu doang," sahut Ken dengan maksud balas dendam atas ucapan Al tadi.
__ADS_1
"Ha....ha...... terserah lah. Kamu pake bedak atau enggak mah sama aja. Tetep cakep," Al menyentil ujung hidung Ken sambil tersenyum nakal.
"Gitu, ya?" sahut Ken manja.
"Kalo ga cakep mana mungkin aku capek-capek ke sini. Ogah banget," Al langsung ke luar dan menghampiri motornya yang di parkir di depan rumah petak itu.
Ken mematikan lampu ruangan sebelum ia keluar. Namun buru-buru Al mengingatkan sesuatu karena melihat Ken hanya lengang tangan.
"Hp mana?"
"Iya, aku lupa," buru-buru Ken masuk ke dalam dan menyambar tas ranselnya. Mereka meninggalkan kontrakan itu saat jam sudah menunjukkan pukul 21.10 WIB.
********
"Kok kita ke sini?" Ken jadi bingung ketika motor yang dikendarai oleh Al menuju ke apartemennya.
"Udah diem aja,"
"Katanya mau makan, kok malah ke sini?' protes Ken.
"Pesen makanan via online. Terserah kau mau makan apa yang penting kenyang. Kirim ke apartemen," perintah Al.
"Kenapa ga di warung tenda yang di depan apartemen aja?" tanya Ken masih mencoba nego.
"Lama antrinya, males. Pesan aja sekarang. Kita sampe, makanan juga sampe. Buruan, aku udah laper,"
"Iya, aku pesan dulu. Aku mau seafood. Boleh ga?" tanya Ken setengah merengek.
"Ok. Cari resto yang terdekat dari apartemen aja," ujar Ken seraya bicara pada dirinya sendiri. Tangannya sudah sibuk dengan ponselnya, bikin orderan.
"15 menit, nih. Kecepatan, ga?" tanya Ken. Ia khawatir makanan udah sampai tapi mereka masih di jalan.
"Ga, kita juga udah mau sampe ini,"
********
Tiba di apartemen, makan mereka sudah menunggu. Al langsung memberi tips pada sang driver karena sudah mau menunggu. Sementara Ken langsung membawa masuk makanan dan menyiapkannya di meja makan.
"Cepet banget, tadi diaplikasikan 15 menit," ujar Al.
"Ada orderan di sini juga, jadi sekalian dibuat,"
"Oh, terimakasih Pak. Tadi belanjaan sudah dibayar via aplikasi, ya!"
"Iya, Mas. Terimakasih," ucap pria itu.
Kerang dara saos Padang yang dipesan Ken dan dua porsi nasi sudah terhidang di atas meja.
"Makanya di sini aja," pinta Al.
"Ok. Aku pindahin dulu ke sana," Dengan repotnya Ken menggotong makanan yang sudah siap di meja makan itu ke meja tamu.
__ADS_1
"Enak banget nih kayaknya," ucap Al begitu melihat kerang dengan kuah merah dan satu ekor ikan bakar.
Al langsung membuka nasi dan langsung makan. Lahap, sepertinya ia memang sudah terlalu lapar. Ken juga begitu, isakan tidak kalah serunya dari Al.
Entah karena lapar atau baru ketemu makanan yang enak, Ken melahap hidangannya dengan semangat. Sampai-sampai bibirnya belepotan saos kerang. Al sudah memperingatkan agar ia makan dengan tenang, namun ia tetap mengulanginya.
"Dulu kalau makan sama aku malu-malu, sekarang malu-maluin," ucap Al yang melihat Ken makan berantakan sekali.
"He..He....aku laper banget. Maaf,"
"Jorok tuh liat! Pada netes di baju," oceh Al.
"Mejanya terlalu pendek,"
"Diangkat piringnya. Liat, nih," Al mencontohkan bagaimana makan yang baik tanpa meja. Tangan kiri memegang piring, tangan kanan untuk menyuap.
"Udah tanggung. Nasinya udah abis baru ngomong,"
"Tadi aku juga begini, kau aja yang ga merhatiin,"
"Tuh, ih kamu makan begini jorok banget," protes Al ketika saos itu berceceran lagi di bibir Ken. Al cukup kesal karena Ken tidak menghiraukan ucapannya. Akhirnya Al membersihkan saus itu dengan bibirnya.
"Cup...cup....cup. ..," Ken kaget ketika Al yang sudah selesai makan langsung menyerangnya bertubi-tubi.
"Jorok," Ken mendorong tubuh Al ke belakang.
"Ha...ha.....Cuiman yang terasa pedas, asin, gurih, rasa kerang dara saos Padang," ujarnya terkekeh.
"Jigongnya kemana-mana nih," Ken mengelap bibirnya yang kena sapu oleh Al.
"Abis dibilangin orang ga denger. Tau rasa kab?"
"Hah....jadi ga selera makan kalo begini," Ken mulai ngambek.
"Apa? Kau bilang ga selera? Nasi satu bungkus udah abis!" Protes Al.
"Ha....ha....," Ken merasa menang karena berhasil membuat Al naik pitam.
🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1