teratai

teratai
merawat bayi


__ADS_3

"sorry honey..... Aku sama sekali tak mengira akan jadi seperti ini"


Michell menunjuk kan wajah melas nya di hadapan Ayu.


Mata yang sebelum nya masih sangat mengantuk sudah tak bisa terpejam lagi setelah melihat berita di internet, dan parah nya lagi justru Arga lah yang memberitahu nya.


Seperti nya dia harus mempersiap kan diri untuk menghadapi perang dunia ke 4.


karena emosi orang yang sedang cemburu akan melebihi dasyat nya ledakan nuklir dan bom atom.


"sudah lah, nasi sudah menjadi bubur"


Jawab Ayu pasrah, karena memang semua sudah terlanjur terjadi.


Memarahi Michell pun sudah tak ada guna nya sekarang.


"nanti aku bantu ngomong sama Arga"


"it's ok Chell, aku saja, lagi pula dia tak akan marah lama pada ku"


"karena dia sudah bucin"


Kedua nya tergelak bersama, mengingat betapa bucin nya seorang Arga pada Ayu.


🥀


🥀


🥀


🥀


"aku tahu kamu tidak kekurangan harta, tapi sebagai seorang ayah, aku juga ingin memanjakan putri ku."


"berapa kali aku bilang, aku tak menuntut tanggung jawab dari mu, cukup kau tahu bahwa kau ayah nya saja"


"tidak bisa, aku juga ingin melihat nya tumbuh dan juga memanjakan nya"


"ckkk....kau ini benar benar merepot kan, tau seperti ini tak usah ku beritahu saja kalau kau ayah nya"


"aku hanya ingin ikut membiayai nya saja, lagi pula itu hal wajar kan kalau seorang ayah ingin menghidupi putri nya"


"ish.."


Shella mencebikkan bibir nya kesal karena Agus masih bersikeras untuk ikut andil dalam membesarkan dan membiayai putri nya.


"kalau begitu kau asuh dia seharian ini, aku ada urusan, semua keperluan nya ada dalam tas."


"tapi... Aku harus kerja hari ini!"


Agus melotot menatap Shella tak percaya.


"bukan kan tadi kamu ngotot ingin memanjakan nya, ya sudah sekarang saat nya, nanti jam 4 aku ambil dia lagi."


"tapi..."


Belum sempat Agus menyelesaikan kalimat nya, Shella sudah menyerahkan bayi dalam stroler yang sedang tertidur pulas itu pada nya.


"Shella.... Jangan bercanda, aku tidak bisa merawat bayi....Shella..."


Agus teriak panik memanggil Shella yang sudah berjalan menjauh dari nya.


"Shella...kamu jangan gila.."


Karena teriakan Agus bayi kecil yang tertidur itu terbangun dan menangis dengan kencang, merasa tidur nya terganggu.


"aduh...menangis lagi....gimana ini....Tuhan....aduh..."


Agus semakin bingung kala bayi itu semakin kencang menangis membuat nya menjadi pusat perhatian di taman karena bayi nya yang tak juga mau diam.


🥀


🥀


🥀


🥀


"Dina tolong katakan pada Agus untuk ke ruangan ku SEGERA."


Karena tak juga menemukan asisten setia nya, mood yang memang sudah buruk dari pagi membuat semua karyawan ikut merasakan getah nya.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


"masuk..."


Ceklek....


Pintu ruangan terbuka, sosok Agus masuk ke ruangan atasan nya, membuat Arga melongo melihatnya.


"jangan melihat ku seperti itu bos!"


Agus yang sudah bisa menebak arti tatapan mata atasan nya, sedikit kesal.


"ckk..... Agus...."


"maaf bos... Tadi Shella menitip kan nya padaku.."


Hahaha.....


Seketika tawa Arga meledak, menggema di ruang kerja nya, melihat Agus dengan setelan jas kerja tapi menggendong bayi dengan kain jarik dan botol susu di tangan nya.


Sangat aneh dan menggelikan.


mood yang tadi nya berantakan terbayar melihat Agus yang begitu menggelikan dengan bayi yang terlihat tak tenang dalam gendongan nya.


"jangan ketawa bos, aku susah payah mendiam kan nya dari tadi... Awas kalau dia nangis lagi, bos tak suruh tanggung jawab."


Mendengar perkataan Agus membuat Arga semakin tertawa.


dan benar saja, oeekkkkkk....


bayi yang memang tak nyaman dengan gendongan Agus menangis lagi dengan kencang, mengalah kan suara tawa Arga.


"eh... Eh... Eh... Jangan nangis lagi Sefia sayang.... Kasihanilah ayah mu ini...cup cup cup....diem ya sayang."


Bukan nya diam, bayi itu justru menangis semakin kencang.


Arga menahan tawa nya melihat Agus yang panik dengan suara tangis bayi nya.


"rasain.... Itu lah susah nya merawat bayi..jangan cuma mau enak nya aja"


"bantuin bos.... Bos kan udah biasa sama Bryatta.... Siapa tahu nanti kita besanan."


"amit amit ..."


"bos... Ini gimana?.... Kenapa nggak diem diem..."


Wajah Agus sudah sedikit pucat karena panik, bayi nya menangis sejak di tinggal Shella, hanya diam sebentar untuk minum susu, setelah iti nangis lagi.


"ya mana aku tahu, putraku kan tidak suka menangis seperti itu."


"bos..bos... Tanya mbak Ayu, biasa nya kalau bayi nangis itu minta apa?


Dari tadi nangis terus."


"nggak"


"ayolah bos....nggak kasihan apa, dari pagi aku seperti ini."


Rengek Agus dengan wajah memelas.


"itu resiko jadi seorang ayah, jangan cuma suka pas bikin nya saja, kamu belajar juga cara mengurus bayi."


"iya tapi dari pagi nggak berenti nangis nya bos!"


"kamu minta tolong saja sama Dina, biasa nya perempuan lebih tahu."


"tapi Dina kan belum punya anak, belum menikah bos"


"ya coba dulu"


Tanpa menjawab Agus segera keluar dari ruangan Arga, mencari sekretaris Dina di ruangan nya.


Dan benar, seorang perempuan pasti akan lebih tahu tentang cara mengurus bayi dari pada laki laki.


"dia kenapa Din?"


"dia itu ngantuk pak Agus, mau tidur"


Jawab Dina melihat bayi yang sudah ada di gendongan nya itu terlihat hampir tertidur.


"tapi tadi, aku juga gendong dia seperti kamu, tapi nangis terus."

__ADS_1


jawab Agus bingung karena sedari tadi dia juga menggendong bayi nya seperti yang di lakukan Dina, tapi bayi itu tetap menangis.


"mungkin cara nya pak Agus kurang pas, jadi dia nggak nyaman makanya nggak bisa tidur."


"oooo"


Seperti orang bodoh Agus mengekor di belakang Dina yang memggendong dan mencoba menidur kan bayi nya.


"trus kalau sudah tidur gimana Din?"


"ya di tidur kan di stroler nya pak Agus, kasian kalau di gendong terus."


"oooh... Kqmu benar benar keibuan Dina"


Kata yang keluar begitu saja dari mulut Agus sempurna membuat pipi halus Dina merona, padahal Agus mengatakannya spontan karena melihat Dina yang terlihat begitu pintar merawat bayi nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


"kamu dimana?"


"aku menunggu di taman yang tadi pagi."


"ya sudah aku sudah hampir sampai, tunggu sebentar lagi."


Setelah menjawab Agus melalui ponsel nya, Shella segera mematikan ponsel nya.


Dari jauh terlihat seorang perempuan sexy berjalan dengan anggun ke arah Agus dan Dina yang sedang menggendong bayi.


"apa dia rewel?"


Tanya Shella tanpa mempedulikan Dina yang menatap nya datar, dan segera mengambil bayi nya dari gendongan Dina.


"oh... Tidak, dia sangat manis...."


Jawab Agus bohong, karena kenyataan nya dia seharian kewalahan mengurus bayi nya yang lebih sering menangis.


"oh..oke... Terima kasih, sudah menjaga nya.... Aku bawa dia pulang."


Tanpa banyak basa basi Shella segera menaruh bayi nya dalam stroller dan mendorong nya menjauh dari Agus dan Dina.


Sikap nya sangat acuh dan dingin.


"oh ya, makasih ya Din, sudah bantu aku merawat Sefia tadi."


"sama sama pak Agus, saya boleh tanya sesuatu?"


Dengan wajah ragu Dina memberanikan diri bertanya pada Agus.


"iya, kenapa Din?"


"itu... tadi bayi siapa pak?"


"itu bayi ku Din!"


Dina melotot mendengar jawaban Agus, karena sepengetahuan nya Agus masih lajang alias belum beristri.


Jadi bagaimana mungkin, tiba tiba seorang Agus datang ke kantor dengan membawa bayi dan itu adalah anak nya.


"anak pak Agus?"


Ulang Dina ambigu dengan jawaban Agus.


"iya Dina.... Kenapa?... Dia memang anak ku, yah.... Anak yang tidak sengaja ada.."


Dengan santai Agus menjawab pertanyaan Dina seolah hal seperti itu bukan lah hal yang besar dan sudah biasa.


"jangan melotot seperti itu Dina,di sini sistem pergaulan seperti itu sudah biasa kan.... Sudah lah, ayo ku antar kamu pulang"


Tanpa menjawab Dina hanya mengekor langkah Agus yang akan mengantar nya pulang.


Sungguh di luar dugaan nya, Agus yang berwajah innocent, ramah dan selalu tersenyum itu ternyata penganut kehidupan bebas.


Sungguh di sayang kan.


Atau kah memang Dina saja yang terlalu kuper padahal hal seperti itu sudah biasa untuk kehidupan jaman sekarang ini.

__ADS_1


Punya anak tanpa ikatan pernikahan.


__ADS_2