
Suasana di kantor menjadi sangat sibuk bagi Ayu pasca pengunduran diri Mitha, karena sampai sekarang Ayu belum menemukan orang yang cocok untuk jadi asisten pribadinya menggantikan
Mitha.
"maaf buk, saya sudah melarang nya masuk, tapi.."
Kata seorang perempuan ketika Novan nekat menerobos masuk ke ruangan Ayu
"tidak apa apa, kamu kelluar saja"
Ayu menghela nafas panjang melihat Novan yang bersikukuh menerobos masuk keruangan nya
"ada yang bisa di bantu tuan Novan?"
"Ayu...aku mohon, pikirkan lagi tentang pernikahan kita, tentang Naya..."
"siapa tadi....Naya....siapa dia....apakah anda kenal dengan Naya"
Berlagak bodoh menghadapi Novan
"Yuk jangan egois...."
"eits....apa tadi anda bilang...egois ...siapa yang egois .... apakah anda ingat anda pernah mengusir dan tidak mau mengakui Naya....karena anda akan punya anak dari istri baru anda....oh ...mungkin anda sudah lupa...."
Rasanya Ayu sangat muak lama lama berbicara dengan laki laki munafik itu, kerjaan banyak di tambah dengan masalah yang tak penting ini hufffttt....
"saya rasa anda salah tempat, ini kantor dan saya masih banyak pekerjaan, silahkan anda keluar..."
"aku perlu ngomong Yuk, nanti kita makan siang bareng "
"oh...makan siang ya...tapi maaf saya biasa makan siang di resto hotel bintang 5, saya nggak biasa makan di kantin kantor....dan anda staf biasa mampu kah traktir saya di hotel bintang 5"
Seketika muka Novan merah padam, antara marah dan malu, dulu dia sering menghina istrinya yang tak pernah di ajak nya makan ke resto mahal, menganggap istrinya kampungan dan tak pantas ke resto mahal, sekarang keadaan berbalik 180°
"anda benar benar membuang waktu saya, silahkan keluar atau saya panggilkan security."
Dengan langkah gontai Novan berjalan menuju pintu
"oh iya tuan Novan, tolong besok besok jangan datang ke ruangan saya untuk hal yang tidak penting karena saya tidak punya banyak waktu untuk itu dan.....salam buat istri anda"
Sesaat Novan terdiam, seolah olah lupa bahwa dia sudah punya istri lagi, Siska yang sekarang sedang hamil anak nya.
Belum lama Novan keluar dari ruangan nya, tiba tiba Siska nyelonong masuk.
Membuat Ayu menggeleng gelengkan kepalanya....
"Ayu aku mohon..."
"Anda memohon pada saya?"
Rasanya Ayu mau teriak marah dengan kelakuan sepasang suami istri itu
"Aku mohon, demi anak yang ada di dalam kandunganku....tolong jangan ambil mas Novan dariku, dan kembalikan jabatan mas Novan...aku mohon Yuk"
"apakah kamu tidak salah bicara ibu Siska".
Ayu menatap Siska tajam
" siapa yang mengambil siapa"
Siska menunduk mendengar jawaban Ayu
"anda pikir saya akan menerima Novan lagi setelah kalian menghina saya habis habis an....."
Siska meremas ujung bajunya seraya menunduk
"tapi Yuk, Novan seperti ingin meninggalkan aku, dia selalu menceritakan kamu, dia seperti mau..."
"mau apa dia?....apakah kamu lupa kalau saya juga sudah menikah dengan laki laki yang jauh lebih segalanya dari pada Novan, apakah menurutmu aku akan meninggalkan suamiku yang tampan, kaya raya dan tidak munafik hanya demi seorang yang tidak berguna seperti suami anda."
__ADS_1
Siska semakin menunduk, terlihat jelas wajah nya kebingungan karena Novan yang mungkin mengacuhkan nya
"sudahlah sebaiknya kamu pergi...dan saya tidak mau tau urusan rumah tangga anda, saya sangat sibuk dan anda membuang buang waktu saya,"
Dengan langkah gontai Siska meninggalkan ruangan CEO muda, wajahnya tampak lesu dan murung.
Hari ini benar benar hari yang buruk bagi Ayu masalah kerjaan yang menumpuk, belum lagi mantan suami nya yang masih bikin ulah belum lagi masalah suaminya Arga.
Entahlah semenjak kejadian di villa karang anyar itu Arga menjadi sedikit murung dan terlihat menjaga jarak dengan Ayu
Padahal mereka sudah satu ranjang dan sudah menjalankan kewajiban sebagai suami istri, entah apa yang ada di pikiran Arga, sehingga dia bersikap seolah olah menghindar dari istrinya.
"Arga, aku sudah siapin makanan"
Kata Ayu ketika Arga pulang dari kantor
"aku sudah makan tadi sama klien di luar, kamu makan saja, aku mau istirahat, capek."
Bahkan sampai saat ini pun Arga masih memutuskan untuk tidak satu kamar dengan Ayu.
Suasana apartemen menjadi semakin dingin tak ada lagi canda dan tawa seperti biasanya,
Ayu merenung sendiri menatap ke luar jendela dimana terlihat lampu lampu kota yang mirip bintang bertaburan
Di helanya nafas dalam dalam.
Pikiran nya tak bisa fokus ke satu masalah, semua seperti tercampur jadi satu dalam benaknya.
Waktu sudah menunjuk kan pukul 12 malam tapi Ayu masih berdiri di depan jendela.
Drttt...drt....getar hp nya membuyarkan lamunan nya
"halo mamah."
Terdengar suara cadel khas dari seberang telepon, Naya
" naya tadi cudah bobok mah, kebangun kalna mimpi, becok mamah kesini yah mah, Naya mau belangkat cekolah baleng mamah"
"iya sayang, besok mamah jemput yah, Naya nakal nggak di sekolah?"
"nggak mah, kata budhe nggak boleh nakal, nanti nggak punya temen"
"pinter anak mamah, ya sudah sekarang Naya bobok yah, besok mamah jemput, kita berangkat bareng"
karena kesibukan nya Ayu belum pernah mengantar Naya ke sekolah, selalu dengan mbak Gendhis mungkin besok saatnya Ayu menjadi ibu buat Naya.
Karena tidur larut, Ayu kesiangan, meninggalkan secarik memo bertuliskan bahwa dia tidak sempat masak dan harus segera menjemput Naya....
Jalanan cukup macet membuat Ayu tak tenang, takut Naya terlambat ke sekolah
"lebih baik aku lewat jalan kampung aja biar cepet."
Pikir Ayu dalam hati
Memang tidak begitu ramai, tapi jalan nya sempit.
Keluar kamar Arga merasa ada yang aneh, karena tidak biasanya pagi hari tanpa ada bau masakan, karena biasanya pagi pagi sekali Ayu sudah memasak untuk nya, tapi pagi ini sepi dan tak ada aktifitas di dapur
*aku kesiangan tak sempat masak, kamu sarapan di kantor mu saja*
Secarik kertas tergeletak di meja makan
"apa apa an ini, dia tidak melaksanakan kewajiban nya sebagai istri, di ambilnya hp dan memencet nomor istrinya
Drttttt....drttttt....
Suara getar hp ayu membuyarkan konsentrasi nya pada jalanan yang sempit...
" siapa sih ...."
__ADS_1
Gerutu Ayu melihat layar hp menunjukan nomor suaminya
"halo....ada apa...aku lagi di jalan"
Ayu menjawab dengan menjepit hp di antara pipi dan pundak nya
"kamu itu bagaimana, kenapa tidak menyediakan sarapan untuk suami mu"
" iya, maaf Arga aku.....ah..."
Hp Ayu terjatuh karena Ayu harus fokus pada jalan, di coba raih hp nya yang jatuh di bawah kaki nya....
Aahhhhh......karena tak bisa fokus ke jalan, Ayu terkejut ketika tiba tiba ada anak kecil yang nyeberang jalan, dengan sigap Ayu membanting setir nya ke kiri hingga mobilnya masuk ke jurangan yang tidak begitu dalam dan ringseng menabrak pohon.....
"halo Ayu...halo...Ayu..kamu baik baik saja...Ayu...."
Arga teriak teriak memanggil istrinya mendengar Ayu berteriak dan terdengar seperti suara benturan yang keras.
Di cek nya posisi Ayu terakhir lewat Gps Ayu dan bergegas menuju lokasi.
Terdapat banyak orang berkerumun melihat mobil yang masuk jurangan namun tidak dalam, mobil mewah berwarna putih itu terlihat mengeluarkan asap mengepul dari mesin depan.
Beberapa orang berusaha menjebol pintu mobil untuk menolong pengemudi nya yang terlihat tidak sadarkan diri dengan darah mengucur dari kening nya.
Arga yang masih di atas melihat kondisi mobil istrinya yang ringsek, segera berlari ke bawah, dengan bantuan warga mendobrak pintu karena percikan api sudah mulai terlihat di mesin depan mobil
"pak bantu saya menarik pintu nya"
Arga dengan panik menarik pintu dengan paksa, namun kondisi kaki Ayu yang terjepit membuatnya susah di tarik keluar, butuh waktu 30 menit untuk mengeluarkan Ayu yang terjepit di kursi kemudi dengan kondisi tidak sadar.
"Yuk, Ayu....bangun Yuk, Ayu....bangun sayang..Ayu buka matamu sayang"
Arga mengguncang guncang tubuh Ayu yang tidak sadar dan bersimbah darah
"Ayo bangun Yuk, sadar sayang.....Ayu...sadar Yuk, ada aku di sini....Yuk bangun..."
Di ciumi nya wajah Ayu yang penuh dengan darah.
Segera di angkat istrinya ke mobil, di bawanya ke rumah sakit terdekat.
"budhe kok mamah belum juga campai."
Gadis kecil cantik bermata biru itu, Naya sudah menunggu di teras rumah cukup lama
"sebentar biar budhe telfon dulu, mungkin mamah kejebak macet sayang"
Gendhis segera menghubungi nomor Ayu, tapi tak bisa nomor nya tidak aktif, lalu di pencetnya nomor Arga
"halo Arga...ini mbak Gendhis, apa kamu sekarang lagi sama Ayu.."
Sesaat muka Gendhis berubah tegang
"trus gimana...nggak apa apa kan"
Gendhis melihat ke arah Naya cemas
"oke nanti aku kesana....kamu kirim alamatnya yah"
Gendhis yang mendengar kabar kecelakaan Ayu tak tega kalau harus jujur pada Naya.
"sayang, mamah tadinya mau kesini tapi kata om Arga jalan nya macet banget, mobil on Arga ga bisa jalan karena macet, Naya berangkat sama budhe dulu soalnya nanti kalau nungguin mamah, Naya sekolahnya telat"
Gadis kecil itu diam, berfikir sejenak
"iya deh budhe"
Jawabnya dengan nada kecewa
Tapi alangkah sedih nya lagi kalau sampai Naya tahu bahwa mamah nya kecelakaan, rasanya Gendhis tak sanggup kalau harus jujur pada gadis kecil itu...
__ADS_1