
Arga mengahadapi orang tua Mitha dan juga sanak family nya dengan wajah cemas, berkali kali menoleh ke arah luar, melihat kondisi cuaca di luar yang sedang hujan deras, di sertai kilat yang menyambar nyambar.
Hati nya tak tenang memikirkan sosok Ayu yang berlari entah kemana, dan bagaimana kalau dia pingsan lagi.
Tapi untuk menyusul pun juga tak mungkin, karena orang tua Mitha sudah terlanjur datang bahkan dengan sodara sodara jauh nya.
Tak mungkin juga lari dari tanggung jawab nya.
Wajah nya benar benar terlihat cemas, bahkan pertanyaan dari bapak Mitha sampai di ulang berkali kali karena Arga gagal fokus dan bingung untuk menjawab.
Hati nya benar benar tak tenang memikirkan orang yang begitu di cintai nya entah di mana, dan bagaimana keadaan nya.
Mitha hanya menunduk sedih, melihat Arga yang terlihat cemas dan tak fokus sama sekali pada diri nya maupun keluarga nya.
Mata nya sedikit berkaca kaca, namun tetap terlihat tegar demi menutupi semua dari keluarga nya.
Malam itu keluarga Mitha membahas tentang pernikahan dan segala sesuatu nya yang harus di laksanakan segera, mengingat perut Mitha yang sudah semakin membesar, sekalian acara tujuh bulanan atas kehamilan nya.
Tapi Arga tetap nge blank, dia hanya bisa mengangguk dan berkata iya pasrah, karena memang pikiran nya di tempat lain.
Saat di tanya soal surat surat kelangkapan untuk pernikahan, Arga semakin bingung, harus bagaimana, sementara dalam KTP dan KK dia adalah suami sah dari Rahayu cahyaning tyas.
Akhirnya Mitha angkat bicara dan mengatakan kalau Arga terburu buru kesini jadi tidak sempat mengurus surat surat, dan sebaik nya mereka menikah sirih dulu yang penting sodara dan tetangga tahu bahwa Mitha hamil ada yang bertanggung jawab dan tidak menjadi aib keluarga, sekalian acara tujuh bulanan kehamilan Mitha.
Karena memang adat di kampung acara tujuh bulanan di lakukan sebelum kehamilan masuk usia tujuh bulan.
Arga tak bisa berfikir sama sekali, pikiran nya tertuju pada sosok istri nya yang entah di mana sekarang. Hp nya juga tidak aktif. Mitha yang mengetahui kegalauan Arga hanya bisa diam.
"setelah anak ku lahir, kamu bisa kembali pada nya"
Kata Mitha lirih membuka percakapan ketika semua sudah tertidur tinggal mereka berdua karena memang sudah sangat larut.
Arga hanya menoleh, wajah nya datar.
"aku hanya butuh pengakuan, agar orang tua ku tidak mendapatkan malu"
"maaf kan aku"
Arga berkata sangat lirih.
"tak apa...aku yang bodoh, terlalu berharap pada mu yang jelas hati mu masih milik nya"
"aku sungguh minta maaf... Kupikir, waktu itu aku bisa mengganti nya dengan mu, karena aku merasa sangat nyaman dengan mu"
Mitha menghela nafas panjang, menyadari ternyata diri nya selama ini adalah peran pengganti yang kalau gagal move on akan di tinggal kan.
__ADS_1
Dan kesalahan terfatal nya dia memberikan seluruh hati nya untuk laki laki itu.
"boleh aku bertanyan ?"
Tanya Mitha dengan mata berkaca kaca
"seandainya kamu tidak di jodohkan lagi dengan Ayu untuk kedua kali nya, seandai nya Ayu tidak hadir lagi dalam hidup mu, apakah kamu bisa mencintaiku?"
Arga menatap Mitha dalam seraya menghela nafas dalam
"tak perlu di jawab...
Ternyata aku lah yang salaah tempat"
Mitha mengusap bulir bening di sudut mata nya.
"maaf kan aku...aku sudah merusak kehidupan mu, persahabatan mu dan masa depan mu."
Arga menggenggam tangan Mitha.
"sudahlah...tak ada guna nya lagi sekarang"
"aku akan mempertanggun jawab kan semua kesalahan ku, pada mu juga pada Ayu."
"tak perlu...aku hanya butuh pengakuan mu saja, karena tak mungkin menjalani rumah tangga dengan orang yang tidak kamu cintai"
Air mata nya benar benar tumpah.
"aku akan tetap mempertanggung jawab kan semua, jangan berfikir terlalu keras, kasihan anak dalam kamdungan mu, tidurlah....kamu pasti lelah"
Tanpa menjawab Mitha segera berlalu dari hadapan Arga, besok dia akan menikah, pada umum nya perempuan yang akan menikah pastilah sangat bahagia karena akan bersama dengan orang yang di cintai nya, tapi tidak dengan nya.
Berkali kali Arga menghela nafas panjang, mondar mandir di ruang tengah yang sangat luas, di lirik nya arloji di tangan nya menunjuk kan pukul 2 pagi, tapi dia tetap tidak mengantuk dan tidak tenang.
Setelah di pastikan Mitha dan keluarga nya tertidur, Arga keluar rumah, berniat mencari istri nya yang entah dimana dan bagaimana keadaan nya.
Arga mengemudikan mobil nya sedikit pelan, mencari cari sosok perempuan yang tak kunjung di jumpai nya.
Bertanya pada pedagang yang masih terlihat buka kalau kalau mereka melihat Ayu.
Ke stasiun, ke terminal, ke pangkalan ojek, tapi tak ada yang tau.
Mau menghubungi orang rumah juga tak mungkin, mereka akan khawatir dan kebingungan bila tau yang sebenar nya, dan pasti nya juga akan mempertanya kan perihal Ayu yang meninggal kan nya.
Pikiran dan hati nya benar benar kacau, wajah terlihat sangat lusuh.
__ADS_1
Waktu menunjuk kan pukul 4 pagi ketika Arga kembali ke rumah Mitha.
Wajah nya benar benar putus asa.
Pikiran nya semrawut, ingin rasanya kembali ke Jogja untuk memastikan keadaan Ayu baik baik saja .
Tapi tak mungkin juga dia meninggal kan janji nya begitu saja.
Dia tak mungkin membiarkan Mitha menanggung semua nya sendiri. Dia bukan lah laki laki pengecut yang berani berbuat tak berani bertanggung jawab.
Di ambil nya ponsel nya, di cari beberapa nama yang mungkin bisa di hubungi nya
"halo Edo..kamu di mana?"
Dengan ragu Arga menghubungi sopir dan kepercayaan keluarga Ayu
"apa Ayu ada di rumah tolong kamu cek ke apartemen ku"
"bukan kah nona bersamamu?"
"aku....tolong lihat dulu?"
"aku baru dari apartemen mengambil file nona Ayu, dia tidak ada, apa yang terjadi"
Jawab dari seberang telefon
"di rumah ayah?"
"sebenar nya ada apa? Apa yang terjadi pada nona, jangan bilang kamu membuat nya sedih?"
"tolong Do, pastikan keberadaan Ayu di rumah ayah atau tidak?"
"sekarang aku di rumah pak Rahardjo, tak ada non Ayu disini."
Arga semakin cemas mendengar Ayu tidak ada di ke dua rumah itu.
"jangan bilang non Ayu hilang!"
"jangan sok tau, kalau Ayu pulang tolong kabari aku, satu lagi... Tolong jangan beritahu ayah sama ibu dulu tentang ini"
Arga menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang.
Pikiran nya menerawang entah kemana, antara cemas, takut, bingung, resah, tak tenang....semua rasa bercampur jadi satu.
Di rebahkan nya tubuh nya di kursi tatkala suara adzan subuh berkumandang keras.
__ADS_1