
"cantik kan?
Jelas lah, punya ku bibit unggul sih"
Kata Agus dengan bangga yang langsung mendapat cibiran dari Arga.
"kamu yakin dia benar benar anak kamu?"
"yakin lah bos, lihat aja muka nya, hidung nya, bibir nya, mirip sama aku"
"kamu nggak mau cari tahu dulu dengan tes DNA mungkin?"
"aku yakin bos dia anak ku, seperti ada ikatan batin setiap kali aku melihat dan dekat dengan bayi itu."
"yah... Semoga fisik nya saja yang mirip, semoga gila nya nggak nurun"
Agus nyengir mendapat sindiran dari sahabat sekaligus bos nya itu.
"kalau dia benar benar anak mu, kenapa tak kau nikahi aja Shella?"
Agus terdiam, mata nya mengerjap berkali kali, seolah olah tak pernah terbesit pikiran seperti yang di katakan Arga.
"ya..... aku dan dia kan sama sama nggak cinta"
"trus bagaimana dengan status bayi yang kata mu anak mu itu?"
"ya.... Aku tetap ayah biologis nya, aku bersedia membiayai semua kebutuhan nya sampai dewasa nanti, lagi pula Shella juga tak meminta pertanggung jawaban ku."
Kilah Agus dengan menggaruk garuk leher belakang nya yang sama sekali tidak gatal.
"ya sudah kalau begitu mau mu, tapi kalau suatu saat Shella menikah dengan laki laki lain, pasti nanti nya bayi itu akan memanggil suami sella dengan sebutan papa."
Balas Arga dengan sedikit senyum licik terpancar di sudut bibir nya, membuat Agus bungkam seketika.
"kalau Shella menikah, aku akan meminta hak asuh atas anak ku"
"bodoh!!!
Kau pikir bisa?
Bahkan selama Shella hamil sampai anak nya lahir pun kau tak pernah membiayai nya, bahkan mungkin di akta kelahiran bayi itu tak ada nama mu sebagai ayah nya.
Apa mungkin pengadilan akan memberikan hak asuh begitu saja padamu"
"ya.... Pokok nya, aku harus bisa."
"ckkk.... Sudah bodoh, keras kepala"
Gumam Arga tanpa mengecilkan volume suara nya.
"aku kan begini karena didikan mu, apa kamu lupa?"
"apa????
Kau mengatai ku?"
Balas Arga mulai sewot.
"aku tidak mengatai mu, tak ada kata kata ku yang mengatai mu"
"tapi secara langsung kau mengatakan itu.... Minggu besok lembur, tak ada libir selama 2 minggu.
Itu hukuman mu berani mengatai atasan."
"ckkkk..... Bos lacknat"
Gerutu Agus pelan merasa kesal kepada sahabat sekaligus atasan nya itu.
"aku mendengar mu Agus, diam atau ku tambah hukuman mu."
🥀
🥀
__ADS_1
🥀
🥀
"informasi apa yang pak Eko dapat?"
Dengan nafas sedikit ngos ngos an karena berlari dari tempat parkir ke tengah area taman kota mencari keberadaan pak Eko dan mbok Surti.
"ini buk, kata mbak penjual es krim ini tadi ada anak kecil yang beli es krim disini"
Mendengar jawaban pak Eko, meski belum selesai, Ayu segera bergegas menuju kedai es krim mini yang kebetulan tidak begitu ramai itu.
"maaf mbak, saya mau tanya apa benar tadi anak kecil ini beli es krim di sini"
Tanya Ayu dengan wajah panik nya seraya menunjuk kan foto Naya dari ponsel nya.
gadis muda iti melihat dengan seksama foto anak kecil cantik berwajah bule yang ada di ponsel itu.
"oh iya mbak, tadi anak kecil bule ini beli es krim ke sini"
"bagaimana mungkin, Naya tidak membawa uang sama sekali"
"tadi dia datang bersama perempuan mbak, sepertinya mereka sangat akrab, saya kira perempuan tadi ibu nya"
Wajah Ayu berubah pucat mendengar Naya bersama perempuan, pikiran nya sudah menjurus ke hal hal buruk.
mata nya sudah memanas, meski tak sampai ada yang mengallir keluar.
"perempuan?
Ulang Ayu karena setau nya selain Michell tak ada yang akrab dengan Naya di kota ini.
" iya mbak, perempuan cantik seumuran mbak"
"trus mereka kemana mbak?"
Tanya Chiko melanjut kan bertanya, melihat Ayu yang mematung dengan wajah pucat.
"tadi saya lihat mereka ke arah sana"
"bu Ayu kita segera susul kesana !"
Ajak pak Eko, tak tega melihat wajah dan kondisi Ayu yang seperti itu.
Setengah berlari mereka mengikuti arah yang di tunjuk penjual es krim itu seraya memanggil manggil nama Naya, dan sesekali bertanya kepada pengunjung taman memperlihat kan foto Naya yang ada pada ponsel.
"bu Ayu lebih baik kita mencar lagi, biar cepet, sebelum Naya jauh.".
Usul mbok Surti setelah sampai perempatan di taman itu.
"iya mbok biar saya dan Ayu ke arah sana"
Chiko yang menjawab, karena melihat sepertinya Ayu sudah terlalu panik dan tak bisa berfikir, segera menarik tangan Ayu ke arah kanan, menyusuri taman itu tanpa melepas kan genggaman tangannya.
"Yu, biar aku yang mencari ke sana, kamu istirahat duduk di sini"
Chiko yang merasa tarikan tangan nya pada Ayu semakin terasa berat, menyadari bahwa Ayu memang sudah kelelahan, wajah nya pun pucat, bahkan jemari nya terasa dingin meski berada dalam genggaman tangan Chiko.
"nggak... Naya putri ku, aku nggak akan berhenti sebelum dia ketemu"
"wajah mu pucat sekali Yu, jangan di paksakan, aku janji akan membawa nya kembali padamu"
" nggak, meski harus bertaruh dengan nyawaku, akan ku lakukan , aku tetap akan mencari nya"
Tanpa menunggu jawaban Ayu segera berjalan mendului Chiko, keringat sudah mengucur di seluruh tubuh nya.
Entah karena lelah atau keringat dingin.
"Ayu, lihat itu!"
Seru Chiko memanggil Ayu yang sudah berjalan lebih dulu dengan menunjuk ke arah halte umum dimana seorang anak kecil sedang duduk sendirian.
"Naya..."
__ADS_1
Ayu berteriak seraya berlari ke arah yang di tunjuk Chiko, tak menghiraukan tubuh nya yang sudah kepayahan.
menghambur dan memeluk gadis cilik yang terlihat sedang kebingungan itu.
"mama"
"Naya kamu kenapa di sini, kamu dari mana, mama kebingungan mencari kamu, mama khawatir kamu kenapa kenapa, mama sudah pernah bilang kan, jangan kemana mana sebelum di jemput."
Berondong Ayu begitu mendapat kan putri nya duduk sendiri dan kebingungan.
"Naya nggak kenapa napa sayang, kamu baik baik saja, nggak ada yang jahatin kamu kan?"
Tanya Chiko ikut memberondong dengan pertanyaan tanda kekhawatiran.
Gadis itu menggeleng melihat dua orang dewasa di depan nya bergantian.
"maaf ma, tadi Naya nggak inget pesen mama"
Jawab nya polos dengan menunduk, tak tahu bahaya yang mungkin mengincar nya.
"tadi kamu sama siapa?"
"oh tadi ada tante cantik yang katanya temen nya papa Arga, trus Naya di beliin es krim, tante nya baik banget."
Adu nya dengan tatapan polos nya.
Ayu segera mengeluar kan ponsel nya.
"apakah tante itu, tante Mitha?"
Tanya Ayu hati hati.
gadis kecil itu menggeleng.
"bukan ma"
Ayu mengeryit kan kening nya, lantas siapa perempuan yang sudah membawa Naya, yang kata nya adalah teman Arga, apakah ada perempuan lain yang mengincar Arga selain Mitha.
Batin Ayu.
"kamu yakin?"
"bukan ma, Naya masih inget wajah tante Mitha."
"sudah lah Yu, kasian Naya pasti capek, kamu juga sangat pucat, kita bawa dia pulang"
Kedua nya mengangguk, dengan sedikit gemetar Ayu berdiri, dia memang kelelahan mencari putri nya, dan beberapa peristiwa yang membuatnya syok membuat fisik nya semakin drop, belum lagi karena fase menyisui, seharian tak memompa asi membuat nya merasa sakit dan nyeri pada bagian tubuh nya.
"lain kali jangan di ulangi sayang"
"iya ma, Naya minta maaf"
Jawab nya polos dengan nada penuh penyesalan, melihat ibu nya yang terlihat pucat dengan tubuh sedikit gemetar.
"om, mama kenapa?"
Tanya Naya melihat Ayu yang berjalan dengan sedikit sempoyongan.
"Ayu, are you oke?"
Tanya Chiko yang khawatir melihat kondisi Ayu terlihat mengenas kan, tangan nya bergerak cepat menopang tubuh kecil yang sempoyongan hampir tersungkur itu.
"nggak papa, aku nggak apa apa"
Jawab nya masih mengelak, mencoba terus berjalan menggandeng putri nya.
"biar aku, hubungi pak Eko sama mbok Surti, mereka pasti masih mencari, kasihan,"
Belum mendapat jawaban dari panggilan nya tiba tiba..
happ.....
tangan kokoh nya menarik tubuh kecil yang akhir nya tumbang itu.
__ADS_1
Merengkuh nya ke dalam pelukan nya, sebelum jatuh tersungkur ke tanah, di iringi dengan jeritan gadis kecil memanggil manggil mama nya yang jatuh pingsan.
Tak jauh dari tempat itu sepasang mata tengah mengamati mereka dengan tatapan tajam nya.