
"iya, tak apa....."
Ayu menutup panggilan di ponsel nya seraya menarik nafas dalam dalam.
Ada rasa sesak, sakit, sedih, bingung....
Entah lah semua tercampur menjadi satu.
Pandangan nya melihat laut di luar jendela kamar yang terlihat biru dan luas....
Hening tak ada suara, hanya bunyi nit ...nit....
alat medis yang menempel pada tubuh Arga yang terdengar.
Jelas dan terasa menyakit kan di telinga nya.
Perlahan dia berjalan dan duduk di kursi sebelah ranjang Arga yang masih setia terbaring dengan mata terpejam.
Di amati nya wajah yang terlihat pucat namun tetap tampan, garis rahang yang tampak jelas, alis tebal, hidung mancung, kulit bersih....
Sesaat Ayu tersenyum penuh arti menatap wajah itu.
"kamu dengar tadi....?
Kamu dengar apa yang Agus katakan tadi?"
Tetap Diam, tak ada jawaban tak ada reaksi. Masih sama.
"rasanya aku ingin sekali marah padamu...
Andai saja kamu tidak seperti ini, sudah ku hajar mukamu yang tampan itu."
Gerutu Ayu seolah sedang berbicara dengan orang yang sadar.
Wajah nya terlihat sangat geram.
"hah.....
Apakah kamu pura pura tidur agar aku tidak menghajar mu....
Dasar laki laki...."
Ayu terus menggerutu meski tak ada balasan.
"gara gara kamu aku tak bisa hidup tenang sekarang...
Harus nya kamu selesaikan semua nya, bukan nya enak enakan tidur seperti itu.
Kamu yang buat masalah, aku sekarang yang nggak bisa tenang....
Dasar manusia menyebalkan....
Kalau bukan karena putra ku menyayangimu, sudah ku cekik kamu..."
Memang seperti itulah kenyataan nya, setiap kali Bryatta rewel, hanya tidur di samping Arga lah yang bisa membuat bayi itu tenang.
Hal itu lah yang semakin membuat Ayu geram, karena putra nya sendiri seperti lebih sayang papa nya dari pada diri nya.
Setelah Ayu puas mengumpat dan memaki maki Arga, dia keluar karena waktu nya memberi asi pada baby nya.
Dan lagi lagi kedua garis bibir pucat itu melengkung ke atas, seolah sedang tersenyum.
"permisi buk, di depan ada mas Chiko"
"oh, tolong jaga Bry sus"
"baik bu"
Setelah menyusui baby Bry dan menitipkan nya pada suster Ayu segera keluar menemui Chiko.
__ADS_1
"kamu rajin sekali Chiko, hari minggu kesini bawa tumpukan berkas."
Seloroh Ayu sedikit menyindir, setelah melihat Chiko di ruang tamu dengan tumpukan berkas di atas meja.
"ini berkas berkas yang harus ibu tandatangani langsung, saya antar kesini karena besok saya mau ke pabrik untuk acara peresmian jadi takut nya lupa"
Jawab Chiko dengan senyum manis tersungging di bibir nya, mata nya tampak berbinar kala menatap atasan nya yang hanya mengenakan daster rumahan ala emak emak.
semenjak kejadian insiden di pabrik tempo hari, Ayu memutus kan untuk bekerja dari rumah sementara waktu.
"oke, besok biar berkas berkas ini di antar Pak Eko ke kantor."
Chiko hanya mengangguk tanpa berniat berdiri atau pamit dari kediaman atasan nya.
Ayu mengerutkan dan menaik kan alis nya dengan tatapan Chiko yang aneh pada nya.
"Chiko...
Hey Chiko....kamu sehat?"
Ayu melambai lambai kan tangannya di depan wajah Chiko, membuat nya tersadar dari tindakan konyol nya.
"eh iya bu Ayu...ada yang bisa saya bantu"
krikkkkkkk......Suasana hening, Ayu menatap Chiko penuh tanya, sedang Chiko kebingungan merasa konyol dengan tindakan nya dan juga ucapan nya barusan.
"eh.... Kalau begitu saya permisi bu"
Karena bingung harus bangaimana, akhirnya Chiko pamit dengan menggaruk garuk leher bagian belakang nya meski sama sekali tak terasa gatal.
Sebenar nya dia masih betah di rumah itu, melihat Ayu dengan tampilan apa ada nya, cantik alami, meski tanpa make up dan hanya berdaster.
"ya sudah, hati hati di jalan."
Suasana canggung akhir nya berakhir setelah Chiko pergi dari kediaman Ayu.
"mama!!
Jaga jarak dari Chiko?
Ada apa dengan Chiko ma?"
Bu Anya muncul dari dalam dan duduk di samping Ayu membantu mengurusi berkas berkas yang seperti gunung.
"tadi mama nggak sengaja lihat cara Chiko menatap kamu, tatapan nya seperti seorang laki laki yang menatap seorang perempuan.
Bukan bawahan menatap atasan nya.
Kamu tahu kan maksud mama ?"
Ayu mengerutkan kening nya sejenak sebelum akhir nya mengangguk.
"Ayu bisa jaga diri ma"
"mama tahu itu, dan mama juga percaya sama kamu."
Bu Anya tersenyum tulus pada menantu nya.
Sebenarnya dia sangat risih dengan tatapan Chiko pada menantu nya.
Karena dia paham benar sifat posesif putra nya, kalau saja dia sadar, pasti dia akan menenggelam kan Chiko ke laut.
Tapi sayang nya putra nya saat ini sedang tak berdaya dalam koma nya.
"lagi pula fokus Ayu saat ini hanya pada Bryatta dan Naya ma, mereka sangat butuh Ayu saat ini."
"iya sayang, tapi jangan lupa, disini juga ada mama, oma mereka ....
Mama akan selalu di samping kalian."
__ADS_1
Saat menatap mata bening mertua nya Ayu merasa sedih, mengingat ibu kandung nya yang telah lama tak dia temui.
Bukan karena tidak sayang, namun dia belum siap jika keluarga nya tahu tentang semua hal ini, kecuali sang kakak laki laki satu satu nya.
Yah... Raka, kakanya pasti sudah tahu karena tak mungkin dia tak mencari informasi tentang adik satu satu nya.
Meski dengan susah payah dan berbagai bujuk rayu, akhir nya Raka mau menutupi semua kejadian yang selama ini terjadi antara Ayu, Arga dan Mitha.
Atas permintaan Ayu tentunya dan dengan alasan kondisi ayah mereka yang mengalamai masalah kesehatan pada jantung nya.
"sudah lah, jangan sedih, mama tahu apa yang kamu pikir kan, jangan menganggap mama itu orang lain, mama ke Jogja juga cuma beberapa hari, karena saudara papa mu ada yang mau menikah kan putra nya."
Sebelum nya bu Anya memang sudah berpamitan pada Ayu kan ke jogja mungkin selama 1 minggu.
Dan itu pasti akan membuat Ayu kerja ekstra, mengurus semua nya, meskipun ada yang membantu nya, tapi tetap saja Ayu merasa akan mengurus semua nya sendirian.
"iya ma, titip salam buat papa, mama jam berapa berangkat?"
"sore nanti, pesen mama, kamu jaga sedikit jarak dengan Chiko.
Seperti nya dia berharap sama kamu.
Mama tahu kamu pasti akan bersikap bijaksana."
"iya ma, Ayu tahu bagaimana harus bersikap."
Kedua nya saling berpelukan, sama sama menguat kan.
Seperti biasa, setiap mau tidur malam, Bryatta akan terus menangis tanpa henti dan hanya akan diam bila di tidurkan di lengan papa nya.
"kamu tahu, tadi mama bilang apa ke aku?"
Setelah meletak kan putra nya di lengan sang papa, Ayu kembali mengajak bicara Arga, meski tak pernah ada jawaban ataupun reaksi sama sekali.
"tadi mama bilang kalau Chiko .....
Emmmm...kata mama, Chiko sepertinya menyukai ku."
Ayu menghela nafas panjang, tak ada reaksi.
Berbeda kalau Arga sedang baik baik saja, mendengar ada yang mendekati Ayu, pasti dia akan posesif dan tak segan menghajar siapa pun itu.
Tapi sekarang....
Arga hanya diam dan diam.
"apa kamu tidak takut aku akan berpaling dari mu....
Chiko lumayan tampan, dan dia tidak menyebalkan seperti mu...."
Seloroh Ayu panjang lebar, dengan wajah yang sedikit geram.
"dasar menyebalkan.....
Tidur saja terus dan aku akan mencari laki laki tampan di luar sana yang tentunya tidak keras kepala sepertimu."
Ayu selalu berujung marah, ketika mengajak bicara Arga.
Bukan benar benar marah, lebih tepat nya marah karena Arga tidak kunjung bangun.
"lihat saja.... Kau akan menyesal, kepala batu."
Setelah meluapkan emosi nya Ayu segera keluar dari kamar Arga, bukan ingin pergi, tapi karena memang ada yang memencet bel, pertanda ada tamu di depan sana.
tangan yang tadi nya diam kini mengepal, meskipun mata nya belum bisa terbuka, tapi bisa mendengar apa pun yang di ucap kan pada nya.
Rahang nya mengeras layak nya menahan amarah, keringat keluar di wajah pucat nya.
Reaksi atas apa yang di dengar nya barusan.
__ADS_1