teratai

teratai
karena janji


__ADS_3

Pagi itu suasana di bandara ngurah rai tidak begitu ramai ketika Arga di temani asisten pribadi nya Agus telah bersiap menunggu kedatangan seseorang.


kedua nya menunggu dengan wajah datar, lebih cenderung ke murung, sampai akhir nya tiga orang datang dan melambai kan tangan nya.


"selamat datang di Bali."


Arga menunduk kan kepala hormat sementara Agus segera membawa koper dan memasuk kan nya ke dalam bagasi mobil.


"terima kasih sudah mau memikir kan permintaan bapak"


"saya akan berusaha selagi saya mampu."


Arga menggeretak kan gigi nya, mengatakan kalimat yang tidak sesuai dengan hati nya.


"mari ke rumah saya, kalian pasti lelah, butuh istirahat."


Tak ada senyuman atau apa pun dari ketiga orang itu. Raut wajah ketiga nya datar.


Di sebuah rumah yang besar, mobil mereka berhenti.


"ini rumah saya, semoga kalian suka."


dua orang asisten rumah tangga menyambut dan membawakan koper mereka ke dalam rumah.


"mari tuan tuan saya buat kan minuman."


Seorang asisten yang sudah separuh baya menyambut mereka ramah.


"nak Arga, kami tidak mengingin kan kemewahan apa pun dari nak Arga, kami hanya ingin putri kami mendapat kan yang terbaik."


Setelah duduk, laki laki paruh baya itu membuka pembicaraan.


"saya mengerti pak, saya akan berusaha semampu saya."


"boleh ibu tanya sesuatu."


perempuan tua yang sedari tadi diam seraya menggandeng putri nya kini ikut bicara.


"silah kan bu"


"apakah nak Arga sudah bercerai dengan nak Ayu."


Pertanyaan yang di lontar kan perempuan itu sangat menyesak kan di dada Arga.


"saya tidak bisa mencerai kan Ayu."


"nak Ayu sudah berjanji pada kami."


Susul nya seraya menatap Arga penuh harap.


Arga terdiam, bibir nya seperti terkunci.


"saya mohon, jangan paksa saya, saya akan tetap bertanggung jawab atas kesembuhan Mitha, tapi saya tidak bisa mencerai kan Ayu."


Arga tetap bersikukuh untuk tidak mencerai kan Ayu.


"lalu bagaimana dengan putri kami ?."


Terlihat raut kecewa dari wajah kedua orang tua itu mendengar jawaban dan keterus terangan Arga.


"saya akan mengusaha kan apa pun agar Mitha kembali seperti dulu."


"Putri ku sudah sembuh nak Arga, lantas apakah akan kau sia sia kan dia lagi setelah dia benar benar sembuh dari trauma nya?"

__ADS_1


Pertanyaan menohok dari bapak Mitha membuat Arga terdiam mematung.


Sedang kan Arga tak bisa membohongi diri nya bahwa hati nya akan tetap menjadi milik Ayu.


Dan dia takut bila rasa cinta nya kepada Ayu akan melukai Mitha untuk kesekian kali nya dan membuat nya tak bisa lepas dari trauma nya.


"saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri..... Maaf kan saya, saya tidak bisa berbuat apa apa mengenai perasaan saya."


Sementara Mitha hanya diam menunduk, ekspresi nya tak menunjuk kan reaksi apa pun.


"maaf kan saya, saya bicara terus terang karena saya takut akan melukai Mitha lagi untuk kesekian kali nya."


"menurut mu, apa yang akan kamu lakukan jika kamu di posisi bapak seperti ini ?"


Arga menatap laki laki tua itu datar, dia benar benar tertekan dengan kalimat orang tua itu yang membela putri nya, tapi itu tidak salah, sama sekali tidak salah, justru Arga sendiri yang merasa tidak pantas, karena semua kejadian itu dia lah penyebab nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


"sayang!!! Kenapa muka nya di tekuk gitu?"


"aku nggak suka sama teman teman di desa, mereka nggak asik?"


"nggak asik? Memang nya kenapa?"


"mereka bilang aku nggak punya papa, papa aku nggak pernah kelihatan, padahal aku punya papa"


Tutur gadis kecil berwajah bule itu dengan kesal dan manyun.


"trus kamu marah?"


"sayang, nggak boleh pukul temen, mama nggak suka"


"biarin, mereka nyebelin, padahal aku kan punya papa"


"tapi kamu nggak boleh kasar sama temen"


"biar aja ma, kenapa papa Arga nggak jemput kita sih ma, biar aku bisa bawa papa ke sekolah, biar aku nggak di ledekin temen temen lagi."


"sayang.... Dengerin mama yah, apa pun yang temen temen kamu bilang, kamu nggak usah di ambil hati, karena itu akan membuat semua temen kamu menjauh, lagi pula apa kamu juga pernah melihat papa dari semua temen temen kamu?"


"nggak sih ma, ada juga yang papa nya pergi kerja ke kota, tapi papa Arga kenapa lama nggak jenguk kita ma, Naya kangen sama papa Arga"


Ayu menghela nafas panjang, itu lah yang selama ini di takuti nya.


Karena sering kali Naya demam tinggi karena memendam rindu pada papa sambung nya.


"Naya sini dengerin mama"


Ayu membimbing putri nya dan menduduk kan nya di sofa kecil teras rumah nya.


"Naya kan sebentar lagi mau punya adek, jadi Naya harus bisa jadi kakak yang kuat, yang tidak cengeng, yang tidak perlu menghawatir kan kata temen temen Naya yang buruk buruk, Naya harus menjadi kakak yang kuat yang bisa menjaga adek Naya nanti nya"


Gadis kecil itu mengangguk paham kata kata sang ibu.


"iya, Naya akan jadi kakak yang kuat, tapi Naya kangen sama papa Arga ma!"


Sorot mata gadis cilik itu terlihat sendu dan polos.

__ADS_1


"papa Arga juga kangen Naya, cuma papa Arga lagi sibuk sayang, jadi belum bisa datang"


Di usap nya pucuk kepala gadis cilik itu, hati nya terasa amat nyeri setiap kali mendengar putri nya sedang merindu kan papa nya.


karena sebenar nya dia juga merasakan hal yang sama tapi terhalang janji nya pada orang tua Mitha.


🥀


🥀


🥀


🥀


"apa kamu mau keluar jalan jalan?"


Gadis itu hanya menganguk dengan tetap menunduk.


"baik lah, kita keluar sekarang"


tanpa menunggu jawaban Arga segera berjalan di ikuti gadis yang masih menunduk entah takut atau kenapa, dia tak bicara sedari tadi.


"kita ke danau saja, di sana pemandangan nya indah, udara nya juga segar, kamu pasti suka."


Lagi lagi gadis itu hanya mengangguk, tak mengeluar kan sepatah kata pun.


danau yang terletak di pinggiran kota itu tak begitu ramai, suasana nya juga sangat tenang dan pemandangan nya pun cukup memanjakan mata yang memandang, asri dan indah.


"kamu mau makan sesuatu?"


Tanya Arga setelah mereka duduk di bangku yang berada di tepi danau dan lagi lagi hanya di jawab dengan gelengan kepala.


"kamu mau sesuatu?"


hanya gelengan kepala yang menjawab.


"kamu tidak mau ngomong sama aku?"


Kali ini tak ada angguk an atau pun gelengan kepala, gadis itu hanya diam.


"bicaralah sesuatu.... Minta sesuatu, atau..... Maki aku, aku tak akan marah."


Gadis itu tetap diam, kepala nya yang sedari tadi menunduk sama sekali tak berubah ekspresi.


"kumohon... Kata kan sesuatu.... Jangan menyiksa ku.."


Arga seperti putus asa karena Mitha sedari sampai di Bali sampai mereka tiba di rumah, dan sekarang mereka jalan keluar pun tak mengeluar kan sepatah kata pun.


Bahkan pandangan nya tertunduk, sama sekali tak melihat lawan bicara nya.


"aku bisa gila jika seperti ini."


Arga menggerutu sendiri, entah karena Mitha atau karena masalah pelik yang di hadapi nya.


"aku minta maaf, telah melukai mu dan menghancur kan masa depan mu..... kata kan sesuatu, maki aku atau...."


Arga mengacak rambut nya kasar, sedari tadi dia terus bicara tapi lawan bicara nya hanya diam, bahkan menoleh pun tidak.


"aku masih cinta kamu...."


Satu kata yang terlontar dari bibir Mitha membuat Arga tersentak.


Hati nya terasa sakit mendengar pernyataan itu.....

__ADS_1


Dia tak bisa melukai nya lagi karena sampai saat ini Ayu masih memenuhi hati nya.


Tapi bagaimana efek nya jika dia menolak....


__ADS_2