teratai

teratai
negosiasi


__ADS_3

Hembusan angin di tepi danau semilir membelai lembut siapa pun yang berada di tepiqn nya, warna pink segar di antara hamparan hijau daun dan bunga teratai menambah ke elokan setiap jengkal pandangan mata.


Suasana tenang nan jauh dari hiruk pikuk keramaian membuat suasana terasa begitu damai.


Sesekali terdengar riak gemericik air oleh ikan ikan yang berenang berkejar kejaran seolah sedang menikmati hari.


Itulah suasana di danau hijau yang penuh dengan bunga teratai terletak di pinggiran kota.


Di bangku panjang kosong seorang perempuan cantik duduk sendiri menatap ke arah danau yang begitu memanjakan mata.


Nafas nya tenang, pandangan nya datar, dan sesekali senyum kecil tergambar di sudut bibir nya.


Tak ada seorang pun di samping nya dan dia terlihat begitu tenang.


Rambut yang di gerai tertiup semilir angin danau menambah pesona kecantikan bagi siapa saja yang melihat nya.


Ketenangan nya, pandangan datar nya, senyum kecil nya, sangat menawan bagi sepasang mata yang sedari tadi mengamati nya dari jauh.


Tap .... Tap... Tap....


hentak pelan suara sepatu terdengar mendekat, berjalan pelan tanpa bersuara.


Hingga akhir nya telah duduk di samping nya seseorang yang sedang di tunggu , kedua nya terdiam sama sama memandang ke tengah danau yang menyuguh kan kealamian nya.


"enak ya jadi kamu, lahir dari keluarga berada, keluarga yang begitu peduli, punya anak dan bahkan mendapat kan cinta yang tulus dari laki laki yang juga kamu cintai, meski cinta pertama mu dulu menyakiti mu"


Hening tak ada suara, hanya hembusan angin yang menyapa keduanya.


"sedang aku,.....apa yang ku punya, keluarga ku tak sekaya keluarga mu, anak ku bahkan .....dan cinta yang ku miliki pun bertepuk sebelah tangan, kehidupan ku juga buruk..... aku juga tak tahu apakah aku masih punya masa depan!"


Lanjut nya dengan pandangan nanar.


pikiran nya berkelana kembali ke masa lalu, tentang hubungan persahabatan dan cinta, semua begitu rumit.


"dulu, kita memiliki banyak kesamaan, makanan, hobi, kebiasaan dan.... Aku juga tidak menyangka kita akan mencintai laki laki yang sama."


Perempuan itu akhir nya membuka suara seraya menghela nafas panjang dan dalam.


Ada rasa sakit yang sulit di jelas kan di hati Ayu, yah hari ini Ayu memutus kan menemui Mitha untuk segera mengurai benang kusut sumber masalah mereka.


"bukan kah sudah wajar karena kita memang banyak kesamaan nya"


Jawab Mitha dengan senyum pias tergambar samar di sudut bibir nya.


"kita bahkan sudah seperti saudara, lucu sekali..."


Ayu tersenyum kecut mengingat kedekatan mereka dulu.


"tapi kali ini aku tak mau mengalah, aku sudah tidak punya apa apa untuk ku andal kan di masa depan, aku sudah benar benar hancur, aku tak peduli bila harus hancur lagi."


Tatapan mata mereka saling beradau seolah olah ingin saling memenangkan suatu perkara.


"kalau pun aku mengalah, apakah kamu akan bahagia? Bahkan dia tidak mencintai mu meski kalian sempat tinggal berdua waktu di Ausie"


"aku tidak peduli, aku sudah tak bisa membedakan lagi itu cinta, obsesi atau dendam.... Entah lah, yang ku mau, aku ingin memiliki nya, dengan atau tanpa cinta."

__ADS_1


"seperti nya aku sudah kehilangan sahabat ku yang dulu "


Ayu menatap Mitha dengan nanar, sahabat nya yang dulu telah hilang, dia benar benar berubah.


"Mitha yang dulu sudah mati bersama anak nya."


Kata kata Mitha terasa begitu menusuk hati terdengar di telinga Ayu.


"apakah belum cukup dengan semua yang kau miliki.... Harta, keluarga, anak.... Tak bisa kah kau melepas nya untuk ku?"


Lanjut Mitha dengan tatapan kosong, hening, kedua nya terdiam.


"kau bukan Mitha sahabat ku.... Jadi kenapa aku harus menuruti dan mengalah pada mu"


"apakah jika aku Mitha seperti yang dulu kau akan memberikan apa yang ku minta?"


Sepasang mata yang melihat dari jauh terlihat gelisah, karena dua perempuan itu berbicara dengan ekspresi sama sama datar dan tenang.


Rasa nya ingin sekali dia mendekat agar bisa tahu apa yang mereka bicarakan .


Berjalan mondar mandir sendiri dengan arah mata tertuju pada dua perempuan yang bahkan tak terlihat sedang bersitegang.


"aku mau jadi yang ke dua, dengan perlakuan yang adil, dan semua transparan"


Ayu tersenyum miring mendengar pernyataan Mitha.


"dari mana kamu yakin bahwa aku akan setuju dengan permintaan mu?"


"kamu pasti tahu Mitha pernah gila.... Dan orang gila bisa berbuat hal di luar nalar."


"tapi aku tidak punya resiko dengan keluargaku... Maksud ku.... Anak mungkin"


Jawab Mitha santai dengan mengibas kan rambut nya ke belakang.


"dan aku juga bersumpah akan menjadi iblis betina jika ada yang berani mengancam keluarga ku."


Ayu mengerat kan gigi nya dengan kalimat yang penuh penekanan.


"yah.... Aku tahu... Dan aku sudah lebih dulu menjadi iblis ketika anak ku mati karena orang orang yang menrasa bahwa mereka adalah orang yang tersakiti dan juga korban."


Kedua nya saling pandang seolah akan saling menerkam.


"apakah salah bila aku ingin mendapat kan keadilan atas masa depan dan anak ku yang mati?


aku tahu dari sudut pandang mu, akulah penjahat nya....


Tapi apa kah kamu tidak pernah melihat dari sudut pandang ku, dimana dalam hal ini, aku adalah korban nya...


Aku kehilangan masa depan ku...


Bahkan reputasi ku menjadi buruk apalagi dengan status pernah menjadi pasien di rumah sakit jiwa.


Lalu ..... Apakah aku salah bila aku tak suka melihat orang yang membuat ku seperti ini bahagia sedang kan aku sendiri tidak bahagia.


Pernah kah kau berfikir bagaimana perasaan orang tua ku....?

__ADS_1


Bagaimana malu nya mereka kepada para saudara?


Bahkan berfikir untuk kembali ke kampung halaman ku saja sudah membuat ku takut, apalagi dengan pandangan mata orang orang yang menatap jijik padaku, bahkan seorang teman pun aku sudah tak punya.


Ah.... Sudah lah....


Hidup mu terlalu sempurna untuk bisa membayangkan hal picik dan mendrama seperti itu."


Mitha mengusap lelehan bening di sudut mata nya seraya tersenyum miris.


Sementara Ayu terdiam mendengar apa yang Mitha katakan, perasaan nya kini campur aduk, tak menentu, pilu, sedih, sesak.


Entah lah....


"aku....."


"sudah lah....jika kau tak mau dengan permintaanku pun aku tetap tak akan mundur.... Sudah terlanjur basah.. Sekalian aku mandi kan..."


"Mitha, masa depan mu masih panjang, kamu masih bisa bahagia dengan orang yang juga mencintai mu, suatu saat pasti akan datang seseorang yang tulus mencintai mu"


"jangan mengasihani ku, ini bukan drama televisi yang selalu pemain utama nya menang"


"jika kau terus begini itu sama saja kau menggali lubang luka mu sendiri, kau tau itu tak mungkin tapi tetap bertahan"


"kau mau menghentikan aku?


Aku akan berhenti.... Kalau aku mati."


Tak terlihat main main Mitha dengan ucapan nya, bahkan penuh dengan penekanan.


"baik lah... Terima kasih waktu nya.... Negosiasi kita tak membuah kan hasil, itu arti nya aku harus ..... Harus melanjutkan apa yang sudah di mulai dari dulu kan?


Oh iya.... Aku mau memberi mu sedikit...saran....


Hati hati untuk mu dan keluarga mu, karena Mitha yang sekarang adalah perempuan gila yang sedikit kejam"


Setelah berkata Mitha melangkah pergi meninggal kan Ayu yang terdiam menatapa nanar kepergian sahabat nya yang telah benar benar berubah.


Dan mungkin dia juga ikut andil membuat Mitha menjadi seperti sekarang ini.


"maaf kan aku"


Tiba tiba sebuah tangan kekar menarik lengan Ayu, membawa nya ke dalam pelukan.


"semua salah ku,.... Aku yang akan selesai kan semua ini"


Di cium nya pucuk kepala Ayu yang masih terdiam termangu tak bersuara.


"Arga.... Aku.."


"jangan khawatir.... kamu dan anak anak tanggung jawab ku, aku tak akan diam bila ada yang membahayakan kalian.


Jangan berfikir yang macam macam, aku akan selesai kan, karena aku lah yang memulai semua."


Di rengkuh nya tubuh mungil yang masih termangu itu.

__ADS_1


"aku janji... Akan menebus semua kesalahan ku, tolong percaya padaku.."


__ADS_2