
"pagi pak!"
"pagi"
Sapa para karyawan yang berpapasan dengan nya pagi itu di jawab dengan ramah, meski mereka melihat nya dengan penuh tanda tanya.
"pagi pak Agus!"
Sapa Dina ketika mereka berada di lift yang sama.
"pagi juga Dina."
Jawab Agus dengan lesu tanpa senyum seperti biasa nya, pria yang biasanya ramah dan begitu perhatian apalagi kepada karyawan perempuan, pagi ini terlihat diam dan sedikit berantakan.
"bapak baik baik saja?"
Tanya Dina yang menyadari atasan nya tidak seperti biasa nya.
"memang nya kenapa dengan ku Din?"
Tanya Agus yang sebenar nya sudah paham arti tatapan para karyawan pada nya.
"bapak terlihat... Berantakan..."
Jawab Dina pelan merasa tak enak hati pada Agus, meskipun itu lah yang terlihat sekarang.
Penampakan Agus yang kusut dan berantakan....
"menurutmu separah itu?"
Tanya Agus yang semakin terlihat memelas.
"iy...iya."
Jawab jujur Dina dengan sedikir senyum yang terlihat canggung, sampai akhir nya pintu lift terbuka dan percakapan mereka pun terhenti dengan sendiri nya.
"sial..."
Gerutu Agus ketika sudah memasuki ruang kerja nya yang hanya ada diri nya sendiri.
"image ku sebagai pria tampan ternoda gara gara putriku..."
Gerutu Agus yang merutuki diri nya sendiri.
Hampir semalaman Agus tak bisa tidur karena bayi perempuan nya tak henti menangis, bahkan dia yang juga di bantu baby sitter nya kewalahan menangani satu bayi.
Tapi mau bagaimana lagi, Sefia tetap lah putri nya darah daging nya.
Meski semalam tak tidur kelelahan, begitu memandang wajah putri nya yang cantik dan polos, rasa lelah nya akan memudar seketika.
"ini tidak bisa di biar kan, kalau tiap malam seperti ini, reputasi ku sebagai pria charming bisa luntur....
Aku harus tanya Shella, bagaimana cara nya membuat Sefia berhenti menangis."
__ADS_1
Agus segera merogoh ponsel dalam saku celana nya, mencari nomor Shella dan melakukan panggilan.
Melupakan tumpukan berkas yang menggunung di meja kerja nya.
"sial.... Kenapa ponsel nya mati, sebenar nya keman wanita itu.... Apa dia sengaja mengerjai ku dengan putri nya."
Agus menyender kan tubuh nya di kursi kerja nya dengan lemas, meski tak akan melalaikan tanggung jawab nya sebagai ayah, tapi dia juga kewalahan menghadapi putri nya.
Tok tok tok....
Suara pintu di ketuk dari luar.
"masuk!"
"bapak panggil saya?"
Dina yang muncul dari pintu dengan membawa beberapa berkas di tangan nya, langsung mendapat sambutan senyuman dari Agus.
"Din, tolong buat kan saya kopi!"
"baik pak, ada lagi?"
"tidak, saya hanya butuh kopi biar bisa melek"
Jawab Agus sedikit bercanda, karena merasakan kantuk yang tak bisa di ajak kompromi.
"baik pak, dan ini berkas yang kemarin sudah selesai saya revisi, dan nanti siang ada jadwal meeting dengan PT KL di restoran tempat biasa kita meeting."
Terang Dina panjang lebar menjelas kan jadwal padat Agus hari ini.
"oke"
Setelah menyerah kan berkas di tangan nya Dina kembali keluar untuk menuju pantry guna membuat kan kopi atasan nya, yang terlihat mengantuk dan berantakan.
"seperti nya kamu belum tahu sisi gelap ku!"
"aku??..... Mungkin!!!!....Tapi aku tahu hitam dan kelam nya masa lalu mu"
Jawab Mitha dengan senyum smirk tergambar jelas di bibir nya.
"dengan tindakan mu kemarin, itu arti nya kamu sudah mengibar kan bendera perang antara kita?"
Jawab Arga dengan tangan menggebrak meja di depan nya meski tak begitu keras.
"perang??? Aku tak pernah bermaksud untuk perang.... Aku hanya memperjuang kan sesuatu yang seharus nya jadi hak ku."
"aku sudah menalak mu dari dulu, itu arti nya kau tidak punya hak apa pun atas diri ku."
"jika aku tidak punya hak atas diri mu, apa kah itu artinya kau bebas lepas dari penderitaan yang telah kau berikan pada ku?"
Jawab Mitha lantang, seolah olah menantang pria yang duduk di depan nya.
"aku memenuhi semua kebutuhan mu, bahkan keluarga mu juga memberimu beberapa saham yang ku miliki"
"apakah harta mu bisa mengembalikan anak ku yang mati karena mu?"
__ADS_1
Perkataan Mitha sukses membungkam Arga, menatap nya tajam dengan penuh amarah.
"katakan!!!!! Bisakah kau kembalikan anak ku?"
"apa yang kau mau untuk bisa membuat mu memaafkan semua itu?"
Tanya Arga mulai melunak, menyadari kesalahan nya di masa lalu.
"tak ada.... Aku mau anak ku!!! Bisa kau berikan?"
Arga terdiam, mengerti arah pembicaraan wanita di depan nya.
Dulu, perempuan itu tak segila sekarang, dia adalah teman bicara yang selalu bisa membuat nya tenang dan nyaman.
Bahkan dulu perempuan iti sangat lembut dan pengertian.
Tidak seperti sekarang, begitu keras dan berambisi.
Mungkin semua adalah salah nya, hingga membuat Mitha menjadi seperti sekarang ini, tapi masa lalu tetap lah masa lalu, tak bisa di kembalikan ke masa lalu.
Dulu Arga sempat berfikir mungkin jatuh hati pada wanita itu, sebelum diri nya di tunang kan dengan Ayu yang sekarang menjadi istri nya.
Dan berfikir dia dan Ayu tidak akan terlibat cinta yang sesungguh nya, meskipun sebenar nya, sejak awal dia sudah jatuh cinta dengan Ayu, hingga akhir nya kesalahan itu terjadi dan berbuntut sampai saat ini.
I, memberi nya penyesalan yang teramat dalam..
" aku tahu kau tak akan melepas kan Ayu, karena memang dia yang kau cintai sejak awal, tapi.... Akan berbeda bila dia yang melepas mu!"
Lanjut Mitha, membuat Arga mengepal kan tangan nya kuat kuat, melihat sorot mata Mitha yang penuh dengan keseriusan.
"rasa nya aku ingin menghabisi mu saat ini juga!"
Arga berkata seraya menggeretak kan gigi nya, menahan gejolak amarah yang sudah memuncak.
"tapi kau tak bisa kan?"
Tanya Mitha dengan nada sedikit bercanda, sama sekali tak takut dengan wajah yang sudah menjadi garang di depan nya.
"masalah ini antara kita berdua, jangan pernah sentuh dia atau aku akan berubah menjadi iblis yang tak punya rasa belas kasihan padamu."
Ancam Arga, Mitha tersenyum simpul menatap mata Arga yang memerah menahan emosi.
"memang masalah ini antar kita, .... Tapi kau melakukan semua demi dia...."
Jawab Mitha sedikit mencondongkan badan nya ke depan, seolah olah benar benar menantang laki laki di depan nya.
"kenapa?.... Kau mau menculik ku... Kemudian membunuh ku.... Atau membuang ku ke pulau terpencil..."
Lanjut Mitha, Perempuan di depan Arga ini benar benar tak takut apa pun.
"jika itu yang kau minta!
Jawab Arga dengan seringai yang terlihat mengerikan tapi hanya di balas dengan senyuman smirk oleh Mitha.
" baik lah.... Kita lihat... Siapa yang bergerak lebih cepat."
__ADS_1
Jawab Mitha seolah dia sudah mempunyai sebuah rencana besar.
Di ambil nya tas kecil di meja lalu beranjak, meninggal kan Arga yang berusaha menahan emosi dengan mengepal kan kedua tangan nya di bawah meja.