
Meskipun sudah pernah melahir kan ibu Anya tetap merasa panik ketika melihat menantu nya mengeluar kan cairan dari pangkal pahanya.
"jangan panik ibu, menantu anda baru pembukaan 3, tolong di bantu jalan jalan di sekitar ruangan saja, agar mempercepat pembukaan sampai ke 10"
Kata dokter memberi penjelasan kepada ibu Anya dan juga Michell yang terlihat sangat panik.
"ma, aku mau jalan jalan ke ruang rawat Arga."
Setelah dokter pergi, Ayu meminta untuk berjalan jalan seperti yang di saran kan dokter.
Tapi bukan nya di area kamar tapi ingin ke ruang rawat Arga.
"tapi sayang, kata dokter di dalam kamar saja jalan jalan nya."
"iya honey, kamu jangan jalan jauh jauh kasihan baby mu"
"aku belum merasakan apa apa, aku mau lihat Arga dulu, sebentar saja"
Akhir nya setelah melalui perdebatan panjang, bu Anya dan michell mengalah, dan mengantar kan Ayu berjalan pelan ke ruang rawat Arga.
"Arga, nak.... Kamu bisa denger mama kan, Istri mu di sini dan sebentar lagi putra mu akan lahir nak."
Bu Anya berbicara pada Arga dengan wajah sendu.
Meski Arga belum sadar tapi dia yakin bahwa Arga mendengar apa yang di katakan nya.
"iya Ga, kata dokter Ayu sudah pembukaan 3, sebentar lagi baby kalian mau lahir, apa kamu nggak mau lihat baby mu lahir ke dunia ini?"
Michell mengutara kan apa yang ada di kepala nya.
Sedang Ayu hanya diam menggenggam jemari Arga dan memandang lekat wajah pucat yang penuh dengan luka.
'kenapa kamu nggak buka mata mu, apa kamu tidak tahu, aku takut sekali dengan proses persalinan ini, harus nya kamu yang menemaniku melahir kan, apa kamu sudah sangat nyaman dengan tidur mu, sampai kamu tak mau melihat putra mu lahir, lalu kenapa kamu mencari ku bila tak bisa menemaniku"
Kata hati Ayu tanpa mampu mengucap kan nya secara langsung.
Tit...tit...tit...
Tiba tiba monitor yang menunjuk kan detak jantung Arga menunjuk kan tabel detak jantung naik turun cepat.
"Arga" ibu Anya/ Michell/ Ayu
serentak memanggil Arga ketika mendengar suara dari monitor.
"Michell panggil dokter"
Tanpa aba aba lagi Michell segera memencet tombol untuk memanggil dokter.
Seketika beberapa dokter dan perawat masuk ke ruangan Rawat Arga.
"dok tadi ada ...."
Ibu Anya tak mampu meneruskan kata kata nya, mata nya suda berkaca kaca seraya memeluk menantu nya.
karena dia sendiri tidak tahu, apakah itu perubahan yang baik atau buruk pada Arga.
"maaf ibu, bisa keluar dulu, kami mau melakukan tindakan"
Pinta seorang seorang perawat kepada ibu Anya, Michell dan Ayu.
"tapi putra saya kenapa sus? Itu pertanda baik kan?"
"kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan dulu, silah kan ibu dan yang lain nya keluar"
__ADS_1
"tapi sus.."
"mah...kita keluar dulu, biar dokter melakukan tugas nya"
Ayu mengajak mama mertua nya juga Michell keluar karena dia sendiri merasa mulas mulas pada perut nya.
"sayang kamu kenapa pucat sekali?"
"perut Ayu sakit ma"
"kita ke kamar sayang, seperti nya kamu akan segera melahir kan."
Bu Anya dan Michell memepah Ayu kembali ke kamar nya meskipun hati nya sangat tidak tenang ingin mengetahui keadaan Arga putra nya.
Tapi dia tak bisa mengabai kan Ayu yang sebentar lagi akan melahir kan cucu pertama nya.
Ayu menggenggam jemari mertua dan juga Michell ketika mendapat aba aba dari dokter untuk mengejan.
Rasa sakit bukan terletak pada tubuh nya, tapi pada hati nya, seharus nya Arga yang berada di sisi nya untuk memberi nya semangat tapi pada kenyataan nya dia dan Arga sama sama harus berjuang masing masing.
Lebih tepat nya memperjuang kan nyawa
Arga memperjuang kan nyawa nya sendiri sedang kan dia, memperjuang kan nyawa nya juga calon putra nya.
"tarik nafas dulu ibu Ayu.... Pelan pelan, tarik nafas"
"semangat sayang, mama disini, kamu pasti bisa"
Ibu Anya memberi semangat pada menantu nya meski pun air mata nya d
Sudah berlinangan dari tadi.
Sementara Michell menutup kedua mata nya sambil berlinangan air mata, Michell belum menikah jadi dia sangat ketakutan melihat Ayu berjuang antara hidup dan mati.
Tubuh nya kaku, tangan nya dingin, dan keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh nya.
Sementara di tempat lain Agus telah datang untuk mengunjungi atasan nya, dan dia sangat terkejut melihat ruang rawat Arga banyak dokter dan suster di sana.
bahkan ada seorang dokter yang melakukan pacu jantung dengan listrik.
"ada apa dengan atasan saya?"
"Maaf pak, bapak tidak bisa masuk, dokter sedang melakukan tindakan"
Seorang perawat menghalangi langkah Agus ketika hendak memasuki ruangan di mana Arga mendapat kan pacu jantung.
"tapi sus?"
"ini sudah prosedur pak, jangan menyulit kan pekerjaan para dokter."
Agus benar benar panik melihat atasan nya, pikiran nya sudah membayang kan hal hal buruk.
Agus hanya bisa mondar mandir dan sesekali melihat dokter yang bekerja dari balik jendela kaca.
Wajah nya pucat seketika, tangan nya dingin dan tubuh nya sedikit gemetar.
Hal hal yang buruk sudah memenuhi otak nya.
"kenapa mereka lama sekali"
Gerutu Agus pada diri nya sendiri.
Padahal dia berdiri hanya beberapa menit tapi terasa sangat lama.
__ADS_1
oekkkk.......
Dari kejauhan terdengar samar samar tangisan bayi yang nyaring.
Seorang perempuan paruh baya menggendong bayi kecil yang sudah di bedong berjalan mendekat.
"ibu Anya!!!"
"bagaimana keadaa Arga"
Agus menelan saliva nya yang terasa berat di tenggorokan nya.
"ini...bayi..."
"ini cucu ku, putra nya Arga.... Bagaimana"
Air mata wanita itu turun dengan deras melihat dokter yang melakukan pacu jantung pada Arga, mulut nya menganga seakan tak percaya, tubuh nya bergetar memeluk bayi mungil di tangan nya.
"Arga...kamu nggak boleh pergi... Lihat anak kamu sudah lahir, dia sangat tampan, dia mirip sama kamu"
Dengan terbata ibu Ayu mengucapa kan kata kata nya di antara isak tangis nya.
"Arga..... Apa kamu tega membiar kan putra mu tumbuh tanpa papa nya, bangun nak.... Lihat lah putra mu"
Kata kat bu Anya sungguh terasa menusuk di dada Agus.
Rasa nya dia tak tega melihat bayi mungil itu, dia baru lahir tapi....
Ah....
Bayangan buruk Agus terhenti saat seorang dokter keluar dari ruangan.
"dokter bagaimana putra saya?"
"alhamdulillah ibu, pak Arga sudah bisa melalui masa kritis nya, sekarang beliau bisa di pindah kan ke ruang rawat inap"
"alhamdulillah "
Seru Bu Anya dan Agus serentak.
Di ciumi nya bayi mungil dalam pelukan nya itu.
"kamu dengar sayang, papa mu berjuang demi kamu.... Papa sayang kamu"
Air mata nya semakin deras berjatuhan.
"baik lah kalau begitu silah kan urus administrasi agar bapak Arga segera di pindah kan, saya permisi dulu."
"terima kasih dok"
"tante saya urus semua nya dulu"
"iya Gus, kamu beri yang terbaik untuk putraku, juga untuk Ayu dan cucuku."
Segera bu Anya berlalu kembali ke kamar rawat Ayu, setelah dokter selesai membersihkan Ayu dan memindah kan ke ruang rawat nya.
Hati nya terasa sangat bahagia, mendapat kan cucu yang tampan dan putra nya sudah melalui masa kritis nya.
Sungguh mukjizat yang luar biasa.
Dia berharap ini kebahagiaan ini untuk selamanya.
Meskipu semua yang terjadi sudah menjadi jalan takdir.
__ADS_1
Semoga kedepan nya menjadi lebih baik.
Itulah harapan yang ada di hati nya, meski dia tahu tak semudah yang di pikir kan nya.