teratai

teratai
tahu


__ADS_3

Brakkkk....


"maaf pak saya sudah mencoba menghentikan bu Anya, tapi beliau memaksa."


"saya rasa rapat hari ini sampai di sini, saya tunggu laporan nya di ruangan saya."


Setelah membubar kan rapat dengan para pengurus anak cabang perusahaan nya Arga segera berlalu dengan membawa mama nya yang sudah bermuka masam.


Terlihat kemarahan dari sorot mata nya yang tajam meski tak mengucap sepatah kata pun.


Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik iti hanya berjalan tergesa menuju ruangan kerja putra nya.


Mata nya memerah menahan marah dan tangis.


"mama ka.."


plakkk.....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arga, menyisakan rasa panas.


dari raut wajah nya terlihat jelas kemarahan yang sedang tertahan.


"ma?"


Si Ibu masih tidak menjawab, nafas nya naik turun menahan emosi, mata nya memerah dan mengeluar kan bulir bening.


"mama tenang dulu ma, mama duduk dulu!"


"bagaimana mama bisa tenang setelah mengetahui kejadian yang sebenar nya"


Arga membisu terdiam mendengar kata kata mama nya, entah kejadian mana yang di maksud nya.


"kenapa kamu jadi se brengsek itu ga, mama nggak pernah ngajarin kamu jadi laki laki brengsek....mama nggak pernah mendidik anak mama jadi pengecut."


Ibu Anya mulai terisak di antara kata kata nya. Arga tak mampu menjawab, karena belum tahu masalah apa yang di maksud mama nya.


"tadi nya mama ke sini untuk membantu kamu mencari Ayu, karena dia sedang hamil anak kamu, tapi...."


Ibu Anya semakin menangis dengan menunjuk ke luar. Bagaimana tidak terkejut begitu dia sampai di rumah putra nya ada tiga orang yang menghuni rumah itu selain asisten rumah tangga, dan lebih terkejut lagi setelah mereka menceritakan kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


Dan ternyata itu lah penyebab kepergian Ayu meninggal kan Arga meski sedang dalam keadaan mengandung.


"Maaf kan Arga ma!"


Arga menangis seraya memeluk tubuh mama nya yang bergetar karena isakan.


Betapa hancur nya hati seorang ibu setelah tahu kejadian yang sebenar nya antara putra nya, Ayu dan Mitha.


Dan sekarang harus bagaimana, sementara Ayu sedang mengandung keturunan keluarga Soedjiwa, sedang Mitha, tak mungkin Arga lepas dari tanggung jawab.


"kenapa kamu nggak bilang pada mama Ga?"


"maaf kan Arga ma, semua salah Arga"


Kedua nya saling memeluk dengan isakan.


"lalu bagaimana sekarang? Apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana dengan calon cucu mama?"


"Arga belum menemukan Ayu ma"


"lantas bagaimana dengan Mitha, mama bukan nya tidak suka dengan nya, tapi saat ini Ayu sedang mengandung cucu mama"


"Arga tahu ma, tapi semua salah Arga, Arga tak mungkin lepas dari tanggung jawab."


Sesaat suasana di ruang kerja yang tadi nya penuh dengan tangisan menjadi hening, sama sama larut dalam pemikiran masing masing.


"tadi bapak nya Mitha ngomong sama mama, dia minta kejelasan tentang hubungan anak nya dengan kamu"


Arga hanya diam, wajah nya sendu.


"mama tahu, sebagai orang tua, dia pasti tak rela, anak nya menjadi seperti itu.


Tapi.... Mama tak mau kehilangan calon cucu mama"


"Arga juga ma, Arga tak mau kehilangan anak Arga,...... Juga Ayu."


Terdengar lirih kalimat Arga namun tetap terdengar di telingan ibu Anya.


"jika keluarga Ayu tahu, mama tak bisa bayangkan.... Mama tak mau di jauh kan dari cucu mama."


Arga menelan saliva nya kasar, membayang kan kalau keluarga besar Ayu tahu dan mereka tidak mengijinkan Arga bertemu Ayu maupun calon bayi mereka.


Agus yang hendak masuk mengurungkan niat nya mendengar percakapan ibu dan anak itu.


Dia tak mau mengganggu suasana yang memang sudah tidak baik baik saja.


Sebenar nya Agus ingin mengabar kan tentang keberadaan Ayu yang sudah di dapat nya dengan pasti dan tentang kejadian yang di alami Ayu.


Tapi menurut nya saat ini bukan waktu yang tepat.


🥀


🥀


🥀


🥀


"indah sekali"

__ADS_1


Bisik Ayu melihat bunga bunga di kebun milik nya yang akan di panen.


Terlihat beberapa pekerja sedang memanen beraneka macam bunga.


Termasuk bunga teratai yang di panen sampai ke umbi nya, umbi lotus itu di eksport ke beberapa wilayah di asia yang memproduksi makanan dari lotus.


"ibu hati hati bu, tanah nya agak licin"


"iya pak, saya mau lihat lihat saja."


Pak Eko yang menjadi mandor di perkebunan itu sangat lah rajin dan jujur.


Ayu yang membawa makanan untuk para pemanen di temani ibu Surti, istri dari pak Eko menuju ke gazebo mini yang terletak di tengah tengah kebun.


hawa yang segar dan pemandangan yang begitu indah membuat senyuman tak pernah lepas dari wajah cantik Ayu.


"mbok saya minta minum nya, haus!


" ini buk!"


"Naya mana mbok?


" tadi ikut sama bapak, metik bunga"


Ayu tersenyum kecil tatkala melihat Naya yang mengekor pada pak Eko seraya memegang beberapa tangkai bunga yang berwarna warni.


"ibu mau makan?"


"nggak usah mbok, saya nanti saja di rumah, buat mereka saja."


Ayu menunjuk pada para pemanen bunga, memang hanya beberapa orang karena bunga bunga itu mereka panen dua hari sekali untuk di setor ke toko bunga.


"kok pegang punggung terus kenapa bu?"


Tanya mbok Surti yang melihat majikan nya dari tadi mengelus punggung bagian bawah nya.


"pegel mbok, nggak papa, nanti istirahat juga sembuh"


"perut nya nggak sakit bu?"


"nggak mbok, punggung saja, kecapek an, nggak papa"


Ayu berusaha meyakin kan mbok Surti bahwa diri nya baik baik saja.


Setelah para pekerja selesai makan siang, Ayu dan mbok Surti pulang dengan membawa tempat nasi yang sudah kosong, udara pegunungan yang dingin membuat Ayu berkali kali menghela nafas panjang, menikmati udara yang begitu segar dan bersih.


"Naya hati hati sayang, jangan lari lari."


Anak kecil memang suka berlarian apa lagi di jalanan desa yang tidak begitu ramai, mereka akan merasa leluasa memakai jalan sesuka nya, karena memang jarang kendaraan yang melintas.


"Naya!"


"aw....."


"ibu..."


"mama"


Ayu yang tidak fokus pada jalan menginjak daun basah yang cukup licin membuat nya terpeleset dan terjatuh dengan posisi duduk.


"ibu tidak apa apa buk"


Mbok Surti panik melihat Ayu yang terdiam setelah terjatuh.


"mama... Mama..."


Gadis cilik itu ikut panik melihat mama nya yang terjatuh.


Ternyata darah keluar dari selakangan Ayu membuat mbok Surti benar benar panik.


"ibu.... Saya cari pertolongan dulu."


"iya mbok"


"mbok mama berdarah, jangan tinggalin mama"


Naya mencekal tangan mbok Surti yang hendak pergi mencari pertolongan.


Sementara Ayu hanya terdiam menahan rasa sakit di perut nya.


Tanpa mereka sadari sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka.


"pak... Tolong majikan saya, dia jatuh dan mengalami pendarahan."


Pinta mbok Surti setelah pemilik mobil turun dan menghampiri mereka.


Mbok Surti dengan di bantu pemilik mobil mewah memapah Ayu masuk ke mobil itu dan segera melaju ke arah rumah sakit yang jarak nya lumayan jauh, butuh waktu 30 menit.


"pak, bisa cepat sedikit, kasihan ibu kesakitan."


Mohon mbok Surti dengan air mata yang sudah bercucuran.


"baik bu, saya berusaha."


Terlihat wajah cemas pengemudi mobil itu dengan suara yang sedikit gugup.


Sementara baju bawah Ayu sudsh penuh dengan darah segar.


"tahan bu, sebentar lagi sampai di rumah sakit."

__ADS_1


nampak 3 orang menunggu di luar ruang IGD dengan cemas.


Berjalan mondar mandir menunggu kabar dari dalam.


"keluarga ibu Ayu."


Seorang dokter memanggil keluarga Ayu setelah keluar dari dalam ruang IGD.


"iya Dok, bu Ayu majikan saya".


" keluarga nya di mana bu,?"


"ibu Ayu sendiri dok, hanya bersama saya dan putri kecil nya ini"


"kalau begitu silah kan ibu selesai kan administrasi nya karena ibu Ayu akan di pindah kan ke ruang perawatan"


"bagaimana keadaan ibu Ayu dok?"


"ibu Ayu dan kandungan nya baik baik saja, untung segera di bawa kesini, benturan nya cukup keras tapi janin ibu Ayu cukup kuat hingga bisa bertahan, hanya saat ini bu Ayu harus istirahat total"


"alhamdulillah, terima kasih dok"


Setelah dokter berlalu, mbok Surti menjadi bingung, bagaimana dia harus membayar administrasi sementara dia dan sang majikan tadi hanya pergi ke kebun, jadi tidak membawa uang.


mau telfon juga tak ada ponsel.


"ini sudah selesai bu"


Tiba tiba laki laki yang tadi mengantar mereka ke rumah sakit sudah menyodor kan bukti pembayaran ke mbok Surti.


"oh, bapak, maaf saya tadi lupa berterima kasih pada bapak, sudah mau membantu majikan saya."


"sudah kewajiban saya bu"


"oh iya, tolong bapak tulis kan nama dan nomor rekening bapak, nanti pasti ibu nanyain kalau sudah sadar."


"tidak perlu bu, saya iklas membantu"


"bukan nya saya menolak pak, tapi majikan saya orang nya tegas, dia tak mau mendapat sesuatu cuma cuma, saya takut di marahin"


"kalau begitu ibu bilang nggak tahu saja"


"tapi pak..."


Belum selesai mbok Surti bicara, Agus sudah berlalu, dia tahu Ayu pasti akan mengenali nya saat sudah sadar nanti nya.


Dan seperti pesan Arga, Agus tak mau, Ayu mengambil langkah seribu lagi jika tahu Agus sudah menemukan nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


🥀


Malam ini Arga memutus kan lembur untuk menghindari pertanyaan pertanyaan dari mama nya maupun dari orang tua Mitha.


Dia sendiri tak tahu harus bagaimana dengan keadaan yang sudah terlanjur rumit ini.


"malam bos, ini kopi nya."


"tumben"


Agus mengernyit kan kening nya mendengar atasan nya berkata tumben.


"kalau tak mau ku minum sendiri."


"hish..... Mau bisulan, udah di kasih di minta lagi"


"yeee.... Maka nya nggak usah sok sok jual mahal."


Arga mendengus kesal, rasa nya malam ini Agus benar benar menyebal kan.


"bos, aku mau ngasih tau sesuatu"


"hmmm"


Arga hanya menggumam, berfikir hal yang akan di sampai kan Agus tidak lah penting.


"ini tentang mba Ayu."


Arga segera mengalih kan pandangan nya dari layar laptop menatap Agus penuh tanya.


"kenapa kamu nggak bilang dari pagi Agus?".


Arga mengacak rambut nya kasar mendengar penjelasan Agus tentang Ayu yang terjatuh dan hampir mengalami keguguran.


" aku harus segera kesana Gus, itu anak ku"


Kata Arga seraya menyambar kunci mobil nya, hendak berlalu.


"tapi bagaimana dengan bu Anya juga mbak Mitha?"


Glek.....


Arga kembali menelan ludah nya yang seperti tersangkut di tenggorokan nya.

__ADS_1


__ADS_2