teratai

teratai
Hari libur.


__ADS_3

Bau harum masakan yang menggugah selera membuat Agus yang masih memejam tersenyum dalam tidur nya, meregang kan otot tangan, pinggang dan leher nya yang terasa amat sakit.


Bagaimana tak sakit bila semalaman dia tidur di sofa dengan posisi duduk dan dengan masih menggunakan baju kantor lengkap dengan sepatu, bahkan seperti nya dia lupa belum makan dan mandi pulang dari kantor kemaren😅.


Jarang dan hampir tak pernah ada aroma masakan di dalam apartement nya, karena dia tak pernah memasak dan lebih memilih memesan makanan atau makan keluar.


Dan pagi ini, aroma nya begitu harum membuat cacing cacing dalam perut nya loncat loncat minta di beri makan.


"auhhhhh"


Rintih nya memegang leher dan pinggang nya yang terasa sakit dan pegal apalagi dengan pakaian yang tak nyaman di pakai tidur.


Wajah berantakan bangun tidur nya terlihat sangat lucu di mata Dina yang sempat menoleh melihat Agus merintih sakit.


Seperti pagi pagi biasa nya Dina selalu masak sendiri untuk sarapan nya, beda nya kali ini dia masak bukan di rumah nya, tapi di rumah atasan nya. Dan itu pun dengan bahan bahan seada nya yang di temukan nya di kulkas.


"pagi Din! Masih pagi sekali kenapa kamu sudah masak?"


Tanya Agus dengan wajah bantal nya setelah melihat jendela luar apartement nya yang terlihat matahari masih mau malu menampak kan sinar nya.


"saya sudah biasa masak jam segini pak, buat sarapan"


Jawab Dina santai karena itu sudah menjadi rutinitas nya setiap hari.


"tapi ini kan hari minggu, jadi kamu tak harus buru buru bangun pagi untuk kerja."


Balas Agus sedikit mengintip masakan Dina yang aroma nya sungguh membuat air liur nya mengucur deras, apalagi memang dari kemaren dia tak makan.


"memang nya kalau hari libur bapak tidak lapar? Tidak butuh makan"


"he.. He.... Iya.... Apalagi sekarang, perut ku sudah sangat keroncongan."


jawab Agus dengan cengengesan mau mencomot makanan yang Dina masak tapi langsung mendapat tepisan dari Dina.


"ih.... Mandi dulu pak, jorok.... Mana pakaian dari kemarin belum ganti... Bau..."


Balas Dina tersenyum kikuk melihat wajah Agus yang berubah merah menahan malu.


agus melihat dirinya dari bawah sampai atas lalu menepuk jidad nya sendiri.


"astaga... Dari kemaren aku belum mandi.... Juga belum makan.... pantesan rasa nya gerah"


Dina tersenyum geli mendengar gumaman Agus pada diri nya sendiri lalu berjalan ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


"tapi jangan salah, biar pun tidak mandi aku tetap tampan"


Sambil berjalan Agus masih membanggakan wajah nya yang memang tampan, untuk menutupi sedikit malu nya pada Dina.


Selesai mandi dan berganti pakaian santai, Agus segera menyusul Dina yang sudah duduk manis di meja makan dengan beberapa makanan yang tersaji di meja.


Sebelum makan Agus celingukan ke kanan dan kiri seolah sedang mencari sesuatu.


"kenapa pak?"


Tanya Dina yang melihat Agus seperti sedang mencari sesuatu.


"baby Sefia mana? aku belum mendengar suara nya?"


Tanya Agus yang tak menemukan anak nya waktu di kamar tadi.


"oh, suster ngajak Sefia berjemur di taman bawah ."

__ADS_1


"oo... Kamu kalau di luar kantor jangan panggil bapak, aku juga belum setua itu, panggil nama ku saja"


"iya pak... Eehh... Gus"


Jawab Dina canggung seraya memasuk kan masakan ke dalam mulut nya.


"hmmm... Enak!!! Kamu biasa masak Din?"


"sebenar nya jarang sih Gus, cuma kadang kadang, itu juga masakan yang ringan dan cepat saja."


Jawab Dina merendah karena merasa dia tak sebaik perempuan perempuan yang pintar memasak dan mengurus semua masalah rumah.


"tapi ini enak, baru kali ini dapat sarapan se enak ini... Biasanya aku cuma makanan cepat saji karena tak ada yang memasak dan biar nggak telat ke kantor."


balas Agus panjang lebar seolah sedang menceritakan kehidupan nya.


"kenapa nggak sewa asisten rumah tangga Gus, yang bisa mengurus semua keperluan mu, juga memasak."


"ah ... Aku tak suka ada perempuan yang tinggal satu atap dengan ku."


Jawab Agus spontan membuat Dina seketika mengerut kan kening nya.


Bagaimana kelak kalau Agus menikah, bila dia tak suka tinggal satu atap dengan perempuan.... Apakah itu artinya dia tak mau menikah.


Lalu bagaimana dengan anak nya yang juga perempuan.


"oh ya Din, seminggu ini kamu tinggal di sini dulu, karena Sefia hanya bisa tenang dengan mu, soal keperluan mu kita belanja setelah sarapan, sekalian belanja kebutuhan Sefia, aku tak paham tentang itu."


Lanjut Agus tak meminta persetujuan Dina, asal menyuruh saja.


Seperti nya, sikap otoriter Arga menurun pada nya.


"kenapa? kamu keberatan?"


Tanya Agus pelan tapi penuh penekanan.


"ngg.... Nggak.... Oke.."


Jawab Dina karena gugup, tatapan mata elang Agus cukup membuat nya sedikit bergidik ngeri.


Meskis sikap nya tetap ramah dan supel.


selesai sarapan Dina membereskan piring kotor sedang Agus sibuk mencharger ponsel nya yang mati kehabisan daya.


begitu ponsel hidup, sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari bos otoriter nya.


"sial... Bisa di amuk aku."


Gerutu Agus setelah membaca pesan yang di kirim Arga.


Pesan terlihat di kirim pukul 10 malam, pasti saat ini si bos sedang marah dan akan memberi nya sebuah bogem saat bertemu nanti.


🥀


🥀


🥀


🥀


Pagi itu suasana ceria di meja makan sebuah rumah mewah dengan kehadiran mama Anya yang baru kembali dari Jogja.

__ADS_1


Semua tampak berwajah ceria dengan menu sarapan yang sederhana.


"sayang Arga kemana?"


tanya mama Anya yang tak melihat kehadiran putra nya di meja makan.


"papa Arga masih tidur oma!"


Jawab Naya gadis kecil berwajah bule yang mirip kakek nya.


Karena memang tadi sempat masuk ke kamar Arga untuk mengajak nya sarapan, tapi mengurungkan niat nya karena melihat sang papa yang masih terlelap dan terlihat sangat lelah.



"ah iya mah, semalam Arga begadang karena Bryatta, aku tak tega membangun kan nya."


Jawab Ayu yang membenar kan ucapan putri nya.


"ya sudah nanti saja kau bawa kan sarapan ke kamar nya."


"iya"


Ayu meng iya kan mamah mertua nya.


Dan setelah selesai sarapan Ayu membawa nampan ke kamar Arga , menaruh nya di nakas tanpa membangun kan nya, melihat wajah tampan suami nya yang masih terlihat lelah.


Setelah meletak kan nampan Ayu berjalan ke arah teras belakang, tempat yang nyaman untuk duduk dan melihat pemandangan laut lepas.


Dengan tank top hitam dan celan jeans panjang, Ayu duduk sendiri dengan membaca tabloid pagi nya tentu saja setelah menyusui Bryatta.


Menyruput orange juice yang di buat kan oleh mamah mertua nya.


Setelah lama berkutat dengan tabloid pagi nya Ayu baru menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamati gerak gerik nya dari lantai atas.


Menatap nya tajam dengan sorot yang hangat meski terlihat muka bantal nya yang baru bangun tidur.



Seketika Ayu jadi salah tingkah di lihat begitu intens meski itu adalah suami nya sendiri.


Tetap saja itu membuat nya malu.


Sementara Arga sama sekali tak bergeming melihat wanita yang di cintai nya dengan tatapan hangat nya.



"sayang.... Bagaimana kalau hari ini kita jalan jalan sekeluarga, mumpung libur dan Arga juga ada di sini"


Mama Anya datang dari dalam rumah, membuat Ayu sedikit gelagapan salah tingkah.


"ah... Boleh ma... Kemana?"


Tanya Ayu mencoba menutupi kegugupan nya.


"bagaiman kalau ke pantai? Kita ajak sekalian mbok Surti, pak Eko.... Semua nya"


jawab mamah Anya dengan antusias yang mendapat anggukan dari Ayu.


Meski Ayu merasa ada perasaan yang tidak enak mendengar kata pantai.


Entah lah hati nya merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2