
Sementara di lain tempat, Hujan deras di sertai petir yang menyambar ketika Ayu turun dari taxy di depan gedung apartemen, tepat pukul 11 malam.
Tubuh nya gemetar, basah kuyup, mata nya merah karena menangis selama perjalanan.
Begitu sampai segera berendam di bak mandi nya dengan air hangat, tetap dengan tangis yang tak jua reda.
Tak tahu harus menyalah kan siapa, Arga, Mitha, atau kah diri nya sendiri.
Satu jam berendam dan menumpahkan segala tangis, membuat nya sedikit tenang.
"hallo Edo!"
Ayu menghubungi orang kepercayaan nya
"kamu ke apartemen sekarang,....saya butuh bantuan".
" baik non,"
Ayu menutup telefon setelah mendengar jawaban dari seberang.
Tidak butuh waktu lama, bel pintu sudah berbunyi.
"masuk lah, banyak tugas untuk mu"
Laki laki itu mengekor masuk tanpa banyak tanya
"saya berencana liburan ke luar negeri, mungkin beberapa bulan, aku sudah buat surat kuasa sementara padamu, aku harap kamu tidak mengecewakan ku"
"Tapi non, apa bapak Rahardjo tahu?"
"perusahaan itu sudah atas nama ku, aku tak perlu persetujuan ayah"
Edo tampak clingak clinguk melihat sekeliling rumah.
"apakah Arga ..."
"dia sedang mengurus semua di bandara karena kita berangkat lebih awal dari rencana"
Ayu menyerahkan berkas berkas penting pada Edo, terlihat buru buru sekali.
"oh iya satu lagi, tolong kamu segera antar Naya kesini, malam ini. karena besok jadwal kita penerbangan yang pertama jadi biar nggak ribet."
"apa saya ambil Naya dulu non?"
Ayu hanya mengangguk di iringi dengan pergi nya Edo kembali ke rumah ayah nya untuk menjemput Naya.
Malam itu Ayu membuat diri nya sesibuk munggkin hingga rasa sakit dan kecewa di hati nya tak begitu terasa menusuk.
Dia tak lagi menghirau kan rasa sakit di hati dan di kepala nya, sesekali di pijit pijit pelipis nya yang terasa sakit.
Bahkan tak lagi di pikir kan nya bagaimana nanti kalau keluarga tahu Ayu pergi tanpa Arga.
__ADS_1
Dan bagaimana nanti dengan Mitha
Ahhhh.....
Rasa nya kepala nya sakit bila harus memikirkan hal hal yang ayu sendiri tak bisa menjawab nya.
Biar lah semua nanti berjalan seperti apa yang sudah Tuhan tentukan.
Karena rasa nya Ayu tak kan sanggup bila menanggung semua nya.
Fokus saja pada diri nya sendiri karena Naya butuh dia, butuh ibu nya.
Tak butuh waktu lama bel apartemen ber bunyi lagi.
Edo sudah datang dengan membawa Naya yang tertidur dalam gendongan nya.
"ini kamu tinggal tanda tangani Do"
"nona yakin?"
Edo memandang Ayu ragu
"kenapa? Kamu tak percaya diri?"
"bukan begitu non"
"kalau ada hal hal penting yang butuh persetujuan ku kamu bisa kirim surat lewat email, karena aku nanti harus ganti nomor disana"
Tanda tangan di atas materai menyatakan Edo sebagai pengganti Ayu untuk sementara waktu, namun jika berkaitan dengan hal hal penting Edo tetap harus meminta persetujuan Ayu sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan itu.
Waktu menunjuk kan pukul 2 dini hari ketika Edo pergi dari apartemen, meninggal kan Ayu yang masih sibuk dengan beberes barang barang yang akan di bawa nya.
Ayu memilih penerbangan jam 5 pagi jadi tidak terjebak macet dalam perjalanan.
"Naya bangun sayang"
Ayu membangunkan bocah cilik lucu dan cantik itu dengan mencium pipi nya yang cubbi, membuat nya kegelian dan mengerjab ter bangun.
"mamah"
"sayang kita mau liburan lagi, Naya mandi dulu yah"
Naya memandang ke arah luar jendela yang masih gelap
"kok mandi mah, kan masih gelap"
"ini sudah jam setengah empat pagi sayang, kita mau berangkat pagi, biar cepet sampai"
Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum dan segera beranjak ke kamar mandi.
Ayu memijit mijit kepala nya yang teramat sangat sakit, dan di ambil nya beberapa butir pil untuk di telan agar sedikit mengurangi rasa sakit nya.
__ADS_1
Mengambil nafas panjang dan menghembus kan perlahan, hanya itu yang bisa di lakukan nya.
Hati nya terasa sakit tapi dia tidak bisa menyalah kan siapa siapa atas kejadian ini, dan dia juga tak bisa apa apa, selain pasrah, meskipun rasa nya akan sulit bagi nya membuka hati lagi.
Baru saja dia bisa menutup luka nya atas perbuatan Novan dengan kehadiran sosok Arga yang bisa sedikit mengobati luka nya, nyata nya sekarang dia malah lebih terluka lagi, dan kali ini yang di rasakan nya lebih sakit dari yang sebelum nya.
Rasa nya Ayu malu dengan diri nya sendiri, bukan nya Mitha orang ketiga dalam hubungan ini, kenyataan nya justru Ayu lah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Arga dan Mitha.
Rasa nya dunia Ayu seperti sedang jungkir balik dan tidak baik baik saja.
Waktu menunjuk kan pukul setengah 5 ketika Ayu dan Naya sudah sampai di bandara.
Ayu sama sekali tak memberi tahu perihal kepergian nya dengan Naya kepada Arga, karena memang sebelum nya belum ada pembahasan perihal itu.
Di pandangi nya buku nikah yang terpampang foto nya dan Arga.
Rasa nya seperti sebuah karma, di mana dulu dia yang kabur dari perjodohan pergi meninggal kan Arga, dan setelah Arga bisa membuat nya jatuh cinta, justru ada hati wanita lain yang tersakiti, dan itu adalah sahabat karib nya sendiri.
Jika dia bercerai dengan Arga bagaimana dengan keluarga nya juga keluarga Arga, tentu mereka akan mempertanya kan alasan nya, dan mereka pasti nya akan menyalah kan Mitha juga tidak menerima mitha, namun jika tetap bersama bagaimana dengan Mitha?
Bagaimana dengan anak yang di kandung Mitha?
"mamah kita mau kemana?"
"kita mau jalan jalan jauh sayang, ke luar negeri"
Mata jernih bocah cilik itu membuat Ayu tersenyum
"tempat nya bagus nggak mah?"
"bagus dong sayang, semua nya ada"
"tapi kan bahasa inggris Naya jelek mah"
"nggak apa apa, kan ada mamah, disana juga ada tante Michel teman mamah."
Gadis kecil itu mengangguk angguk pelan
"tapi kenapa papa Arga nggak ikut mah?"
Dek....hati Ayu seperti tertimpa reruntuhan bangunan, mendengar putri kecil nya mempertanya kan papah sambung nya.
"papa Arga masih sibuk di kantor sayang, nanti kalau kerjaan papah sudah selesai pasti menjemput kita".
Gadis kecil itu mengangguk tanda mengerti, mata nya nempak berbinar ketika mereka masuk ke pesawat yang akan membawa mereka berlibur.
Namun bagi Ayu pesawat itu yang akan membawa ke tempat di mana Ayu harus berjuang, untuk kesembuhan nya.
Dari sakit nya dan dari luka hati nya...
Semoga kelak saat aku sembuh dan kembali semua sudah baik baik saja
__ADS_1
Doa nya dalam hati mengiringi landing pesawat yang membawa mereka ke negeri yang jauh...