
"pikirkan lagi keputusan mu, aku tak mau lagi melihat mu terluka"
Sebelum kembali Arga kembali menegas kan pada Ayu.
"aku sudah memikir kan semua nya, tak ada yang harus aku takut kan"
"aku tak mau kamu pergi dan sembunyi dari ku lagi, itu sama saja membunuh ku pelan pelan"
Arga menggenggam erat jemari Ayu ketika sudah berada di samping mobil yang di kendarai Agus.
Ayu menunduk menghindari tatapan mata Arga yang begitu dalam pada nya.
"jangan risau kan itu, aku yakin dia tak seburuk yang kita pikir kan"
Pandangan mata Arga masih belum teralihkan dari wanita di depan nya.
"sudahlah, cepat pergi, ini sudah siang, nanti kejebak macet."
"oke, aku pergi, jangan pernah sembunyikan masalah sekecil apa pun dari ku, aku tak suka itu."
Ayu hanya mengangguk pelan dan menarik tangan nya dari genggaman Arga.
sebuah kecupan hangat dan singkat mendarat di bibir pink nya, menyisakan sedikit saliva yang membasahi bibir bawah nya.
"jaga kesehatan, sementara kerja dari rumah dulu dan..... Jaga jarak dari laki laki itu."
Pesan Arga sebelum masuk ke dalam mobil nya yang segera membawa nya beserta Agus kembali ke kota.
"ish.... Dasar laki laki egois... Selalu marah bila aku dekat dengan cowok lain, padahal itu urusan pekerjaan, apa dia sendiri tak sadar, dia juga satu kantor dengan Mitha, itu artinya dia juga dekat dengan nya..."
Gerutu Ayu setelah mobil hitam mewah itu pergi.
🥀
🥀
🥀
🥀
"ayolah honey, temani aku di acara itu, kamu tahu sendiri tunangan ku lagi nggak ada di Indonesia, nggak lucu kan kalau aku cuma sendiri tak ada satu pun yang ku kenal"
cerocos Michell yang tiba tiba datang dengan seribu alasan untuk membawa Ayu ke sebuah pesta.
"kalau kamu tidak kenal, kenapa juga datang Chell, nggak usah datang aja, lagian aku males ke acara nikahan."
"ini salah satu kolega penting papi ku honey, dan aku harus datang demi menjaga nama papi, tolonglah honey."
"kamu ajak Chiko aja Chell, dia kan sahabat deket mu, pasti mau"
"no...no...no... Di sana ada beberapa sodara jauh tunangan ku, bisa bisa mereka salah paham kalau aku datang sama Chiko, atau gini aja, kita datang bertiga gimana?"
Ayu menghela nafas, sebenar nya dia sudah tahu tak ada guna nya menolak karena mau tak mau Michell pasti akan memaksa nya dengan seribu cara untuk bisa membawa Ayu ikut bersama.
"oke honey.... Kamu mau kan... Aku telfon Chiko sekarang"
Tanpa menunggu jawaban dari Ayu, Michell segera menghubungi Chiko untuk mengajak nya ikut ke pesta.
"lagi pula tempat nya nggak begitu jauh kok dari sini, kan outdoor di pesisir pantai, palingan 30 menit sampai, sekalian refresing honey."
Cerocos Michell setelah selesai menghubungi Chiko.
"seperti nya aku juga harus mencoba gaun yang kau belikan untuk ku"
"gown? Kapan aku membelikan nya untuk mu?"
"ayolah, jangan bercanda Chell, nggak lucu."
Michell memandangi Ayu dengan tatapan bingung nya karena merasa tidak pernah membelikan Ayu sebuah gaun, Ayu sendiri adalah desainer di Lotus jadi buat apa Michell membelikan nya gaun.
__ADS_1
"i'm seriously honey.... Kapan aku membelikan mu gown?"
"bukan kah kau menitipkan nya pada Chiko..."
Kedua nya saling pandang seolah baru menyadari sesuatu.
"ckkk.....brengsek, dia menipuku dengan menggunakan nama mu"
"oh.... Ternyata secret admirer.....ckk...ck.... Aku yang masih single kalah sama emak emak dua anak"
Kelakar Michell sambil menepuk jidat nya sendiri.
"tapi ini salah Chell, kamu tahu sendiri kan bagaimana posesif nya Arga."
"iya sih, tapi soal hati, kita bisa apa? Kita tak pernah bisa mengendalikan hati untuk jatuh cinta pada siapa"
"tapi setidak nya Chiko tak membuang buang waktu nya untuk hal yang mustahil"
"yah..... Nanti aku akan bicara pada nya"
kedua nya segera beranjak untuk bersiap siap ke acara pesta, sebelum berangkat Ayu tak lupa menyusui baby nya dan memompa Asi nya untuk di simpan kalau kalau baby nya haus sebelum dia pulang.
"tapi janji ya pulang nya jangan malam malam, kasihan Bryatta"
"iya honey, kita hanya sekedar memberi ucapan selamat saja, setelah itu kita pulang, seperti nya Chiko sudah datang"
Terdengar bunyi klakson dari luar gerbang, sebuah mobil mewah telah menunggu mereka.
Chiko dengan setelan jas mewah nya tampak elegant dan sangat tampan duduk di belakang kemudi.
"kenapa aku jadi seperti sopir!'
Gerutu Chiko saat menyadari dua wanita itu masuk di jok belakang.
" sudah jangan bawel, ayu berangkat"
"aku sudah tampan seperti ini dengan tega nya kau buat seperti sopir, teman macam apa kau ini"
Sungut Chiko dengan pandangan tetap fokus ke depan karena mobil sudah berjalan pelan meninggalkan rumah Ayu.
"ishh... Tampan dari mana? Kalau tampan itu nggak bakalan jomblo Chiko..."
"aku jomblo bukan karena aku nggak laku Chell.... Cuma belum ada yang cocok aja."
"emang siapa saja, seingat ku yang ngejar kamu banyakan cewek nggak bener"
Jaeab Michell dengan wajah seolah sedang mengingat ingat sesuatu.
"Michellll....."
panggil Chiko dengan mengeratkan gigi nya, karena Michell memang benar benar tahu tentang kehidupan Chiko.
Dan tentunya Chiko tak ingin di buat malu di hadapan Ayu.
sementara Ayu hanya mengulum senyum menahan tawa mendengar perdebatan kedua sahabat nya.
Sesekali Chiko melirik nya dari spion, Ayu yang begitu anggun dengan gaun berwarna mocca dengan bunga di pundak kanan, terkesan simpel namun elegan dan mewah.
Ya.. Itulah gaun yang di belikan Chiko untuk nya dengan mengatas namakan Michell dulu.
🥀
🥀
🥀
🥀
"kenapa? Apa tak ada sedikit saja rasa kasihan mu padaku? Meskipun kau tak mencintai ku setidak nya gunakan lah rasa kasihan mu"
__ADS_1
"jangan bodoh, jangan buang buang waktu mu untuk sesuatu yang akhir nya akan menyakiti mu"
"aku tak peduli bagaimana akhir nya, bagi ku yang terpenting adalah saat ini kau dengan ku, itu sudah cukup."
Kedua nya saling menatap dengan tajam. Dengan pembatas meja dan dua cangkir kopi di atas nya.
"jangan menguji kesabaran ku, aku bisa berubah menjadi iblis saat semua sudah di luar batas ku."
Arga menatap tajam Mitha, tapi wanita itu tak merasa takut sama sekali.
Sebuah senyum smirk terlihat dari sudut bibir nya yang tertarik ke atas.
"aku sudah menjadi iblis sejak kau memulai semua ini"
Senyum mengerikan tergambar jelas di bibir wanita itu.
"aku bisa berubah menjadi wanita seperti apa pun yang kau minta"
"bagaimana jika aku memintamu menjadi wanita yang mahal, yang tidak menjatuh kan harga diri nya untuk seorang laki laki."
"akan aku lakukan.... Tapi.... Setelah aku melakukan sesuatu dan mengambil yang menjadi hak ku"
Arga memicingkan mata nya.
"hak??"
"hak ku sebagai seorang istri..... Aku masih istri mu meski hanya istri sirih"
"aku menalak mu"
"tak semudah itu"
Terlihat wajah tegang dari kedua nya, seolah olah seperti akan perang.
Agus yang duduk di meja lain, mengamati dengan sedikit was was, melihat kedua nya berwajah sama sama tegang.
"aku meminta mu kesini agar kita bisa bicara baik baik. Masalah ini antara aku dan kamu, tak ada hubungan nya dengan istri dan anak ku."
"oh istri ya..... Istri mu.... Kau menyebut nya istri mu, tapi kamu tidak lupa kan bahwa aku juga istrimu..."
"jangan memperpanjang masalah, apa yang kau ingin kan agar semua ini selesai"
"kamu tahu pasti apa yang aku ingin kan"
Mitha menatap tajam wajah tampan di depan nya yang nampak menghela nafas panjang.
"apa aku harus bersujud agar kau memaafkan ku, dan semua ini selesai?"
Tanya Arga dengan wajah pias nya.
"semua tak akan bisa berakhir karena kau sendiri yang memulai nya"
"bisakah kau maafkan aku dan..... Memulai hidup mu dengan baik."
"memulai hidup dengan baik! .... hidup baru!.... Dengan apa?.... Apa yang ku miliki? Semua telah kau ambil dariku, dan dengan se enak nya kau memintaku hidup dengan baik."
Nada bicara Mitha sedikit meninggi, dada nya naik turun menahan emosi, matanya menatap nyalang pada Arga.
"enak sekali kau berkata seperti itu, seolah akulah penjahat nya di sini"
Mitha melengoskan muka nya ke samping mata nya memerah dengan kilatan emosi di dalam nya.
"maaf kan aku... Andai ada yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan ku."
Arga menunduk seolah tersentil dengan kata kata Mitha.
"nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu, jika kau ingin meminta maaf padaku, jangan halangi aku untuk meraih kebahagiaanku."
Kata Mitha tegas dan jelas seraya mengambil tas nya di atas meja dan berlalu meninggal kan Arga yang masih duduk mematung.
__ADS_1