
Prank.....
Seluruh benda yang berada di atas meja kerja berantakan berhamburan di lantai dan berserakan.
Dada nya naik turun menahan amarah, nafas nya tersengal tak beraturan, dunia telah menghukum nya, itulah yang terlintas di benak nya.
"tak ada guna nya menghancur kan semua ini bos"
"diam"
"apa bos hanya akan seperti ini terus?"
"diam kamu, sialan"
"merusak semua ini tak akan bisa merubah keadaan bos"
"jangan banyak bicara"
Bugh....
Sebuah pukulan mendarat di pipi Agus, membuat nya terhuyung ke belakang.
"kamu tak tahu apa yang aku rasakan"
"apakah dengan begini bisa memperbaiki keadaan"
Arga mengepal kan kedua tangan nya geram, mata nya memerah menahan amarah yang benar benar memuncak.
"seharus nya bos fokus memikir kan jalan keluar nya, bukan seperti ini"
"apa kamu tahu caranya?..... Apa kamu tahu bagaimana caranya?"
Arga meninggikan suaranya seraya mencengkeram krah kemeja Agus, pikiran nya seakan sudah buntu.
"lalu apa semua bisa selesai dengan emosi."
Agus tak kalah emosi dan menjawab dengan suara tak kalah lantang dari atasan nya.
"aarggghhhhh."
Arga melepas kan cengkraman tangan nya dan menggebrak meja kerja.
"aku sudah sepakat sama mbak Michell buat bantu bos, juga untuk menutupi semua ini dari keluarga mba Ayu, harus nya bos lebih semangat dari kami"
Arga menunduk kan kepala gusar, pikiran nya kacau balau, tak bisa mengambil keputusan sama sekali.
"ada apa ini kenapa berantakan begini?"
tiba tiba Michell sudah berada di ruang kerja Arga yang seperti kapal pecah.
"seperti yang kita khawatir kan kemaren mbak"
Jawab Agus sekena nya, seraya memunguti beberapa barang yang masih utuh.
"jangan seperti anak kecil begini Ga, kamu harus berjuang, ingat..... Nyawa Ayu dan anak kamu ada di tangan mu"
Kata kata singkat Michell seolah menyadar kan Arga, bahwa dia tak bisa berputus asa atas semua ini.
Apalagi saat ini kondisi Ayu sedang koma dan sangat membutuh kan dia sebagai suami atau pun ayah dari calon bayi yang di kandung nya.
"sory Chell, aku benar benar frustasi karena masalah ini"
"it's ok, kami selalu mendukung mu, jangan sungkan, apa rencana mu selanjut nya?"
"rencana nya aku akan membawa Mitha berobat ke luar negeri"
"tidak buruk"
"tapi bapak nya Mitha tak mengijin kan aku membawa nya sebelum ada hubungan yang jelas di antara kami"
"what???? Maksud nya kamu harus menikahi nya?"
__ADS_1
"iya, dia meminta aku poligami"
"apa? ....poligami"
Agus dan Michel serentak mengulang kata poligami.
"trus, bos mau?"
"kamu jawab apa Ga?"
Michell dan Agus menatap Arga dengan penuh tanda tanya.
"bukan kah itu nama nya aku cari mati, jika aku menikahi Mitha, pasti data di kantor cacatan sipil akan cepat sampai ke tangan mbak Gendhis, kalian tahu kan keluarga Gendhis istri dari Raka?"
Kedua nya mengangguk paham, karena memang ayah dari Gendhis adalah seorang ASN yang bekerja di kantor pemerintah.
"lalu, bagaimana?"
"aku akan tetap bawa Mitha berobat, mungkin butuh waktu agak lama, tolong bantu aku jaga Ayu"
"kalau soal itu jangan khawatir, bagaimana pun Ayu sahabat ku."
"urusan kantor gimana bos?"
"ya kamu lah"
Jawab Arga kesal seraya menyentil kening asisten nya.
"kantor aku serah kan pada mu, bukan hanya kantor, juga tenteng Ayu dan Naya kamu juga harus perhati kan, aku tak mau ada hal sekecil apa pun yang bisa berakibat fatal"
Tegas Arga penuh penekanan, sang asisten hanya bisa menelan saliva yang seperti tersangkut di tenggorokan nya.
Seperti nya tugas nya akan lebih berat dari sebelum nya.
"rencana nya kapan berangkat bos?"
"kamu urus secepat nya, minggu ini, aku tak mau menunda nunda lagi, biar semua cepat selesai"
Michell tak melanjut kan kalimat nya, menatap Arga ragu.
Arga paham dengan keraguan yang terpancar dari sinar mata Michell.
"setidak nya aku coba dulu"
"Ga"
Michell menelan ludah nya dulu sebelum melanjut kan kalimat nya
"bagaimana kalau kamu jatuh cinta pada nya?"
Sangat pelan dan hati hati Michell mengutara kan isi hati nya tentang sebuah kekhawatiran.
"tidak akan Chell, aku pernah melakukan kesalahan hingga sekarang alam pun masih menghukum ku.
Aku tak mau calon anak ku menderita lagi karena kesalahan ku lagi.
Aku bersumpah untuk itu"
Arga menatap Michell tajam dan penuh keyakinan.
Meskipun kata kata itu bukan kan tertuju untuk Michell, dia ingin meyakin kan nya bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan kedua kali nya.
🥀
🥀
🥀
🥀
suasana malam itu terasa panas antara Arga dan pak Slamet yang masih bersikukuh tidak mengijin kan Arga membawa Mitha berobat.
__ADS_1
"demi apa pun bapak tidak mengijin kan"
"saya tidak pernah berniat buruk pada Mitha, saya mohon pengertian dari bapak"
"seandai nya kamu punya anak pasti kamu akan tahu bahaimana perasaan bapak"
"saya sangat menyesal dengan semua ini, tapi dengan sikap keras bapak, itu tak akan merubah keadaan menjadi lebih baik , tolong pikir kan lagi"
"kamu yang harus nya berpikir untuk tidak egois, setelah semua kejadian ini, apa kamu tahu bagaimana rasa nya, kalsu ada orang bilang anak mu gila"
Suara pak Slamet dengan nada tinggi, membuat bu Anya dan bu Marni menitik kan air mata.
Kedua nya hanya bisa diam mendengar kan pertikaian antara Arga dan pak Slamet
"seandai nya bisa, saya memilih mengganti kan posisi Mitha untuk menebus semua kesalahan saya"
Lirih Arga berucap namun masih terdengar jelas di telinga pak Slamet.
Laki laki yang berpenampilan sederhana itu cukup kekeh dengan pendirian nya.
"semua sudah saya persiap kan, maaf kan saya, saya kesini bukan nya minta ijin, tapi saya hanya memberi tahu kan bahwa saya akan tetap membawa Mitha untuk berobat"
"jangan lancang kamu Arga"
"maaf kan saya pak, itu harus saya lakukan demi Mitha"
"jangan se enak nya, mentang mentang kamu punya harta"
Pak Slamet menunjuk nunjuk muka Arga karena tak kuasa menahan emosi.
"Arga"
"mama jangan khawatir ma, semua sudah Arga atur, tolong mama jaga pak Slamet dan bu Marni di sini, dan juga bantu Agus mengurus perusahaan"
"apa kamu yakin"
Arga menatap Bu Anya penuh dengan keyakinan, menggenggam erat tangan perempuan paruh baya itu.
seraya mengangguk kan kepala pelan.
🥀
🥀
🥀
🥀
Mitha yang mengira berlibur berdua dengan Arga nampak tersenyum ketika sudah sampai di tempat dimana pesawat jet pribadi milik keluarga Arga sudah di persiap kan.
Senyuman tak pernah berhenti terlihat di bibir nya, mata nya pun berbinar.
Lain hal nya dengan orang orang yang mengantar kepergian mereka.
Ibu Anya, pak Slamet, bu Marni, Michell dan Agus, tak ada senyuman yang tergambar di wajah mereka sama sekali.
Hanya tatapan datar.
"aku harap kamu ingat dengan sumpah mu"
Bisik Michell pada Arga ketika melihat wajah Mitha yang nampak begitu bahagia.
"pasti"
dari perpisahan itu hanya Mitha yang terlihat sangat bahagia.
"mbak Michell, kenapa aku merasa sesuatu nggak enak"
"iya Gus, aku juga sama"
"semoga hanya perasaan kita saja Gus, dan semoga Arga bisa memegang sumpah nya"
__ADS_1
Kedua nya masih memandang pesawat yang sudah mulai tak terlihat dan menghilang di angkasa.