
"Chiko, apa jadwal hari ini?"
"hanya satu bu Ayu, meninjau pabrik kosmetik kita sebelum peresmian"
"ok, kita kesana, saya mau tahu langsung sebelum pabrik mulai beroperasi, oh iya sebaik nya kamu panggil nama saya saja, jangan terlalu formal, kamu teman Michell, berarti teman ku juga. Lagi pula di media kamu atasan nya, aku hanya di balik layar."
Ayu tersenyum manis pada Chiko, sebenar nya senyuman biasa, tapi nampak berbeda di mata Chiko, senyum itu terlihat begitu manis di wajah yang anggun.
"oh, oke kalau begitu....kita berangkat sekarang...Ayu..."
Chiko membalas senyuman Ayu dengan tak kalah manis nya.
Sejak pertama Chiko di kenalkan Michell pada Ayu, ada sesuatu yang membuat nya kagum pada wanita itu....
Cantik, jelas Ayu cantik, tapi bukan dari segi kecantikan yang membuat Chiko mengagumi nya, aura dan kharisma yang terpancar dari wajah Ayu begitu menghipnotis nya.
"ok, lebih cepat lebih baik, karena aku ingin pulang cepat hari ini. Lagian ini juga kan malam minggu, kamu pasti juga akan ada acara bersama pacar mu"
Goda Ayu pada Chiko
"pacar!
Emmmm aku tak punya pacar, aku baru tinggal beberapa bulan di sini, jangan kan pacar, teman pun masih sedikit"
Balas Chiko dengan sedikit senyum canggung, meski dia sudah tidak merasa canggung mengobrol dengan menyebut nama pada Ayu.
"loh, emang kamu asli mana?"
"aku lahir di jakarta, tinggal dan besar di jakarta, hanya kuliah ku saja yang di luar negeri sampai akhir nya aku kenal Michell"
"kupikir kamu asli orang Bali"
Sudah tak ada kecanggungan lagi di obrolan mereka dalam perjalanan menuju lokasi pabrik yang sudah 99 % selesai, tinggal pengoperasian nya saja.
Dari bahan baku sampai perekrutan karyawan untuk pabrik, semua sudah selesai, ijin operasi pun sudah turun, tinggal peresmian nya.
Dengan diantar manager pabrik mereka berkeliling pabrik, mengecek semua nya dengan teliti, karena Ayu memang seorang yang perfectionis dalam hal pekerjaan.
"sudah jam makan siang, kita makan siang dulu Yu"
Ajak Chiko melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"sebentar, nanggung, sekalian nanti kita pulang"
Ayu yang masih fokus pada pekerjaan nya tak bergeming sama sekali.
'sungguh perempuan yang hebat ,disiplin, mandiri, perfect, kenapa juga baru sekarang Michell mengenalkan kamu padaku...
Ah, seandai nya.....'
Kata hati Chiko melihat Ayu yang begitu fokus pada pekerjaan nya dengan tatapan terkagum kagum.
Di tengah kekaguman nya, pandangan Chiko beralih ke mesin pabrik yNg menjulang tinggi dan
"awassss...."
Dengan sigap Chiko menarik lengan Ayu yang masih fokus ada lembaran berkas di tangan nya, menarik sekuat tenaga membawa dalam dekapan nya ketika sebuah besi panjang meluncur dari atas mesin tepat di atas Ayu berdiri.
Prankkkk......
__ADS_1
Terdengar keras bunyi besi yang terjatuh di lantai, membuat beberapa karyawan yang ada di sekitar segera berlari ke arah sumber suara.
yang terlihat adalah beberapa lantai yang pecah karena tertimpa besi yang cukup besar dan atasan mereka yang tersungkur bersama dalam posisi berpelukan.
"maaf kan kelalaian kami pak, buk!
Apakah ada yang terluka?"
Seru manager pabrik merasa bersalah atas insiden yang hampir mencelakai pemilik pabrik itu, seraya membungkuk kan badan berkali kali, sementara beberapa karyawan yang lain membantu Ayu dan Chiko berdiri.
"kamu nggak papa Yu?"
tanya Chiko cemas, melihat tubuh kecil Ayu sedikit bergetar karena syok, hampir saja celaka kalau saja Chiko tidak menarik nya.
"i...iya... Aku baik baik saja."
Jawab Ayu sedikit bergetar lantaran masih mode syok.
"sekali lagi maaf kan kami pak, bu
Semua kelalaian kami, kami akan segera mengurus nya."
Lagi lagi sang manager meminta maaf seraya membungkuk kan badan nya berkali kali.
"lain kali, tolong lebih teliti pak, untung tadi saya segera tahu, kalau tidak, ini akan berakibat fatal"
Jawab Chiko tegas pada sang manager yang tampak ketskutan.
"sudah lah, tak ada yang terluka, tak apa, yang penting kedepan nya untuk lebih hati hati."
"terima kasih bu Ayu, saya akan lebih teliti dan hati hati untuk kedepan nya."
Ayu hanya mengangguk menanggapi manager pabrik yang terlihat ketakutan.
Tanpa menunggu jawaban Ayu segera berjalan keluar pabrik di ikuti Chiko yang berjalan di belakang nya dengan kondisi jantung yang berdebar tak beraturan setelah momen dia menarik Ayu dalam pelukan nya meskipun akhir nya jatuh terjungkal bersama.
Tanpa di sadari nya kedua sudut bibir nya melengkung ke atas.
🥀
🥀
🥀
"oke, apa ada yang lain?"
"sementara hanya itu nona"
Perempuan itu diam, berfikir sejenak sebelum akhirnya tersungging sebuah senyuman yang sulit di arti kan dari kedua sudut bibir nya.
"baik lah ! Pergilah!
jangan sampai lengah, aku akan transfer nanti."
"siap nona, kami permisi."
Setelah pertemuan singkat di cafe, perempuan itu segera menuju parkiran dan melajukan mobil yang di kendarai ke salah satu perusahaan besar di sana.
Dengan perlahan berjalan memasuki perusahaan besar itu dan senyum aneh masih tersungging di wajah cantik nya.
__ADS_1
"pagi mbak!"
Sapa Dina ramah kepada wanita yang tampak tenang dengan senyum tak pernah lepas dari sudut bibir nya.
"pagi Dina, apa kah atasan mu sudah datang?"
"sepertinya sudah mbak "
Tanpa menjawab, tanpa basa basi, wanita itu berlalu begitu saja menuju ruang wakil direktur .
Brakkkkkk.....
suara pintu yang di buka paksa membuat pemilik ruangan seketika menoleh ke arah pintu, melihat dengan tidak suka pada wanita yang telah berjalan masuk dengan senyuman aneh.
"I got you!"
Bisik nya pelan dengan sedikit mencondong kan tubuh nya dan mendekat kan wajah nya pada Agus, membuat hawa dalam ruangan itu terasa mencekam.
"bisa kah ketuk pintu sebelum masuk, apa pun masalah mu, aku tetap atasan mu di sini."
Jawab Agus setelah sedikit tercengang dan berusaha mencerna ucapan wanita yang masih berdiri di hadapan nya dengam senyuman aneh yang tak pernah hilang.
"aku pastikan aku yang akan menang, bapak Agus!"
jawab nya lagi tanpa mempedulikan apa yang di katakan Agus.
"apakah kita sedang bersaing?
" ya"
Jawab nya santai.
"kita memang bersaing, kamu bekerja untuk menyembunyikan sesuatu, sedang kan aku.....
Aku bekerja untuk menemukan sesuatu..."
Seketika atsmosfir di ruangan itu seperti menipis, kedua nya saling bertatapan dengan tajam sebelum wanita itu kembali menunjuk kan senyuman aneh dan mengerikan dari kedua sudut bibir nya.
"aku tidak pernah menyembunyikan apa pun, jadi aku tak perlu bersaing dengan mu."
"yakin sekali kamu?"
"aku selalu yakin dengan apa yang ku lakukan, jadi sebaik nya, segera keluar dari ruangan ku dan jangan pernah bikin ulah"
"ohho....."
Gadis itu bertepuk tangan seolah telah mendapat kan jackpot.
"jadi kamu merasa sedang tidak bersaing atau pun menyembunyikan sesuatu dari ku.....
Baiklah.... berarti kamu belum tahu... Akan aku beritahu....
kalau nama Arga Soedjiwa pernah di rawat di rumah sakit swasta di pinggiran kota....
Dan itu artinya dia belum mati juga tidak hilang....
Oh iya.... Segera cari tahu keberadaan nya, agar kamu bisa menyembunyikan nya lagi dari ku.!
Ooopsss.... Aku lupa, kamu kan belum tahu."
__ADS_1
Hal yang di takut kan Agus terjadi juga, wanita penuh obsesi itu pasti tak akan tinggal diam.
Bukan nya takut, tapi semua terlalu rumit kalau mereka di pertemukan saat ini, apalagi Arga sudah memiliki putra dengan Ayu.