
saat ku buka mata kulihat jarum jam menunjukan pukul 7. Huahhhhh aku menguap, mengusap kedua mataku yang masih terasa berat dan memaksa tubuhku yang masih lelah untuk beranjak dari ranjang....
di meja makan ternyata semua sudah siap dan rapi, hanya aku yang terakhir dan masih berantakan
"ih joroknya....baru bangun ga mandi.."
Celetuk mas Raka sambil menutup hidungnya meledek ku
aku hanya nyengir, rasanya tubuhku masih lelah dan tak bertenaga
"iya ih, mama jolok...belum mandi.."
Si kecil Naya ikut ikutan meledek ku
Mereka sepertinya sudah akrab, Naya duduk di pangkuan mbak Gendhis.
Raka sudah menikah 7 tahun tapi sampai sekarang belum punya momongan, hasil tes dokter menunjukan kondisi mereka normal semua, mungkin Tuhan belum memberi kepercayaan pada mereka
"kamu ga kerja yu?"
tanya mbak Gendhis sembari menyuapi Naya
"ndak mbak, aku rencananya mau beli beberapa baju buat kerja....baju baju lamaku tak ada yang kubawa"
"sekalian aja kita jalan jalan yuk, mumpung lagi di Indonesia"
mbak Gendhis memberi penawaran yang menarik
"oke......"
yang menjawab malah mas Raka dengan mulut penuh makanan
"ye......emang siapa yang ajak mas....orang mau jalan jalan bertiga...khusus cewek ..."
Sahutku membuat Raka manyun
Naya dan mbak Gendhis tertawa geli melihat mas Raka yang manyun tapi masih tetep mengunyah makanannya
"kamu ke kantor aja Raka, sementara kamu handle tugas Ayu di kantor selagi kamu di Jogja"
Ayah ikut nimbrung memberi pembelaan pada kami membuat ku tersenyum kegirangan
Selesai makan kami segera siap siap rencana kami mau ke mall dulu belanja setelah itu mau ke beberapa tempat untuk bersenang senang
Dengan di antar Edo kami menuju salah satu mall terbesar J-Walk mall di jogja
"ma, nanti Naya boleh boleh beli boneka?"
"boleh dong sayang...Naya boleh beli apa aja yang Naya suka, budhe yang traktir."
Mbak Gendhis tak mau kalah, bahkan malah dia seperti ibu nya Naya, mungkin karena sudah lama menginginkan punya anak
"hole.....nanti Naya mau beli es klim yah budhe"
Seru Naya girang
"oke...."
Aku tersenyum melihat keakraban mereka, mbak Gendhis benar benar keibuan, buktinya Naya nempel terus selama ada budhe nya di rumah
Naya terlihat sangat gembira di ajak jalan jalan ke mall karena memang selama di rumah papanya dia belum pernah di ajak ke mall, jangankan ke mall ke minimarket aja tidak pernah
"wah ada game nya budhe...Naya mau main"
Naya menunjuk time zone yang ramai dengan anak anak kecil
"yuk, kamu pilih bajunya sendiri aja yah, biar aku ajak Naya main game"
Mbak gendhis selalu menuruti permintaan Naya, aku trenyuh juga sebenarnya, Naya loncat loncat girang melihat banyak arena game untuk anak anak kecil
"iya Mbak...nanti kalau sudah selesai aku susul kesana..."
Aku segera bergegas ke fashion outlet yang menyediakan baju baju kerja
Rasanya sudah lama sekali aku tidak belanja....tidak membeli baju mahal, karena selama di rumah mas Novan yang ku pakai setiap harinya hanya daster itupun hanya di beli dari pasar tradisional dekat rumah
Aku memilih beberapa stel baju dengan warna yang berbeda beda, beberapa tas kerja, dan beberapa sepatu kerja pula
mmmm...apa lagi yah, gumamku dalam hati, kuputari outlet sampai beberapa kali, melihat lihat dan memilih milih lagi
"ayu....kamu disini juga"
Seseorang menepuk pundak ku dari belakang
"tante anya..."
sapaku sembari mencium tangan ibu Arga, salam khas orang jawa
" kamu lagi belanja...sama siapa?
"iya tan, aku cari baju baju buat kerja sama mbak Gendhis juga Naya, mereka ke timezone"
jawabku menjelaskan, tante Anya memang orang yang sangat ramah, dia juga tidak mempermasalahkan aku yang sudah punya anak, benar benar calon mertua idaman
"tante sedang cari apa?...tante sendiri?
Tanyaku basa basi
" tante mau beli baju kerja juga buat Arga"
"buat Arga...."
Aku mengulang kata kata tante anya
" iya yuk, Arga itu orang nya malas kalau di suruh belanja, padahal buat keperluan dia sendiri"
"oooo"
Aku manggut manggut mengerti
"coba tolong pilihin yuk, kalau kamu yang pilih pasti Arga suka....."
__ADS_1
"aku tante.."
Ulangku menunjuk diriku sendiri
"iya...kadang kalau tante yang pilih suka ndak cocok, katanya model jaman dululah, kaya bapak bapaklah, noraklah....kamu bantu tante pilihin buat Arga yah.."
Aku mengangguk pelan, meski sebenarnya aku ragu, aku tidak tahu selera Arga yang seperti apa, aku takut di bilang selera jelek atau seperti yang tante Anya sebut tadi
Kami memilih beberapa setelan jas yang menurutku terkesan elegan dan simple
"Arga!"
Tiba tiba tante Anya teriak memanggil Arga
" tante panggil..."
"iya yuk, tadi Arga disini di belakang tante...kemana yah, tante mau suruh dia coba dulu, ukurannya pas atau tidak"
Aku menelan ludah kasar...ternyata...ada Arga
"kemana anak itu, malah ngilang"
Tante Anya celingak celinguk mencari cari Arga, aku ikut celingukan mencarinya
"tante telfon dulu aja yuk, kemana anak ini"
Aku hanya diam melihat tante Anya yang sibuk menghubungi putranya lewat handpone
"ini dia...datang...kamu coba sana baju baju yang di pilihkan Ayu"
Perintah tante Anya pada Arga, ekspresi wajah Arga biasa saja, datar dan tenang, malah aku yang jadi gugup dan canggung
"kamu sendiri udah coba baju yang kamu beli yu?"
"oh, belum tante"
Kamu juga coba sana yuk, biar tante lihat
keluar dari kamar ganti Arga sudah di luar mengenakan setelan jas berwarna hitam yang tadi aku pilihkan, dia tampak begitu elegant dan ....tampan....
Yah Arga memang tampan, pistur tubuhnya juga bagus tak heran kalau banyak perempuan suka melongo saat memandang wajahnya
"sini yuk..sini.."
Tante Anya menarik tanganku menyuruhku berdiri di samping Arga dan melihat kami dari atas sampai bawah
"ndak cocok yah tan?"
Tanyaku melihat tatapan tante Anya yang seperti itu
Arga mengalihkan pandangan ke arahku mengamatiku dari atas ke bawah
"iya...benar benar selera yang buruk"
Seru Arga padaku melihatku memakai baju setelan yang terlihat kebesaran ku pakai
"mbak tolong ambilkan yang di manekin itu suruh coba"
"nah....itu pas banget yuk"
Seru tante Anya girang melihat baju yang di pilihkan Arga ku pakai, setelan rok hitam atas lutut dengan paduan blazer warna putih. Tante Anya memutar mutar tubuhku seperti boneka mainan, matanya berbinar senang
Setelah memilih beberapa baju dan yang lainnya kami keluar dari toko dengan bawaan belanjaan yang lumayan banyak...dan tentunya itu tugas laki laki untuk membawa barang belanjaan
"yuk tante haus, kelamaan milih baju tadi, kita makan dulu yuk"
Ajak tante Anya yang belum ku iyakan tapi sudah menarik tanganku masuk ke salah satu resto, sebenarnya aku ingin menolak karena aku mau makan siang sama mbak Gendhis dan Naya
Setelah menaruh belanjaan Arga keluar resto tanpa berpamitan pada kami, mungkin dia risih jalan sama aku, pikirku
"kamu mau pesen apa yuk?"
"eh....mmmm...anu...tante...aku...."
"kalau kamu bingung, tante aja yang pesenin yah"
Aku mengangguk pasrah, sebenarnya aku ingin menolak ajakan makan tante Anya karena aku mau makan sama Naya juga mbak Gendhis, tapi sulit sekali untuk mengutarakannya
Tiba tiba dari luar Arga datang dengan menggendong Naya dan di ikuti mbak Gendhis, aku kaget tapi juga senang
"kamu ndak bilang sih yuk, kalau mau makan disini, aku sama Naya nyari ke toko baju kamunya sudah ndak ada"
protes mbak Gendhis
"eh....iya, maaf mbak, tadi ndak sengaja ketemu sama tante Anya..."
mataku tertuju pada Arga yang menggendong Naya seperti sudah akrab
"mama, naya mau esklim..."
"iya sayang kita pesen es krim yah"
Aku merasa canggung sendiri, ada Arga dan tante Anya, untung ada mbak Gendhis yang ramah dan pandai membuat bahan obrolan
Mbak Gendhis dan tante Anya cepat sekali akrab, mereka sudah ketawa ketawa bareng dan Naya juga sangat nyaman di pangkuan mbak Gendhis, bagiku dia perempuan sempurna, cantik, pinter, ramah, mudah bergaul...
Sementara aku dan Arga hanya saling diam menikmati makanan kami masing masing
"wah, ternyata sudah sore yah tante..."
"iya ndhis, padahal rasanya baru sebentar, tante masih pengen ngobrol ngobrol sama kamu"
Mereka benar benar asik dengan obrolan mereka
"ya udah ayo kita pulang, Arga tolong ambilin pesenan mama, kue pia yang biasa mama beli"
" sekalian pulang saja ma"
Jawab Arga tetap datar
"kan beda arah, mama pesennya yang deket mallioboro itu, yang tempat biasa sudah full keep"
__ADS_1
"la trus"
"kamu ambil sama ayu saja, soalnya lumayan banyak pesenan mama, biar mama di anterin sama Gendhis"
Tanpa meminta persetujuan kami, mereka berdua beranjak keluar menggendong Naya...
Hmmmm sepertinya ada konspirasi di sini
"kenapa jalannya di tutup"
Gerutu Arga saat kendaraan kami hendak melewati jalan area mallioboro
"mas...mas..ada apa yah, kok jalannya di tutup?"
tanyaku pada tukang parkir yang berdiri di pinggir jalan
"oh, ini sudah biasa mbak, kalau malam minggu, hanya di buka khusus pejalan kaki saja.."
Aduh....aku lupa kalau ternyata hari ini adalah hari sabtu, dan sekarang memang sudah jam 5 sore, pantesan aja kalau di tutup
"tokonya di mana?"
Tanyaku pada Arga
"di ujung jalan masuk gang dikit"
"hahhh...ujung jalan..."
Itu kan jauh.....dalam hatiku....sekitaran 5 km
"ya udah ayo jalan"
Akhirnya kami parkir depan hotel kecil dan memutuskan untuk jalan kaki
Lumayan jauh sih tapi gapapa itung itung jalan jalan sore cari angin....
Suasana khas mallioboro sudah mulai terasa, muda mudi yang wira wiri, para penjual jajanan khas jogja, banyak juga wisatawan asing, udaranya juga segar karena area di tutup untuk kendaraan dan hanya bagi pejalan kaki
kami berjalan pelan pelan sembari menikmati suasana yang semakin lama semakin rame, hiruk pikuk musisi jalanan mulai memenuhi sepanjang jalan menjelang malam
Dan para pengunjungpun semakin banyak, kebanyakan pasangan pasangan yang ingin menghabiskan waktu malam minggu bersama
Jalanan semakin ramai berjalan pun menjadi semakin pelan karena banyaknya orang. Arga menggandeng tanganku karena semakin berjubel, aku sendiri juga sedikit kesulitan karena harus berhimpitan dengan pengunjung lain
Aku berhenti sebentar melihat penari yang di iringi musik tradisional angklung, unik dan cukup menghibur
Aku suka dengan hal hal yang tradisional
Tiba tiba Arga menarik tanganku
"tujuan kita masih jauh"
Arga menariku untuk kembali ke tujuan langkahnya lebar dan cepat membuatku setengah berlari mengikutinya
"arga..stop...stop..."
Kataku dengan nafas ngos ngos an, karena mengikuti langkahnya yang terlalu cepat
"tempat yang kita tuju masih jauh"
"aku tunggu di sini saja...."
Kataku sambil membungkuk menata nafas
"enak saja...jangan manja"
Arga kembali menarik tanganku memaksa ku berjalan yang bagiku itu bukanlah berjalan, tapi berlari kecil karena langkahnya sangat lebar dan cepat
"STOOOOOP...."
Teriak ku melepaskan tangan Arga, aku benar benar ngos ngos an.
aku duduk meluruskan kaki di trotoar yang tidak begitu rame....kakiku pegal
"jangan keterlaluan kamu..."
Seruku masih dengan nafas tersengal
"baiklah, aku tinggal disini, silahkan pulang sendiri."
Seru Arga kesal beranjak meninggalkanku yang kelelahan duduk di pinggir jalan
"dasar sialan...."
Mau tak mau aku mengikuti langkahnya, ku lepas sepatu heels ku yang membuat kaki ku sakit untuk berjalan. Langkah Arga semakin cepat, aku ketinvgalan jauh di belakang. Aku benar benar kesal
"ARGAA......"
Teriak ku berlari dan melompat ke punggungnya seperti anak kecil yang minta di gendong ayah nya
"apa apa an sih yuk, malu tau.."
"masa bodo...aku capek..."
Teriak ku memegang kuat bahu dan lehernya
"semua orang liatin kita"
" gak peduli...pokoknya aku capek"
Teriak ku seperti orang kesurupan
Kulihat muka Arga memerah malu karena banyak yang melihat dan menertawakan kami
"dasar gila"
Akhirnya Arga pasrah menggendonku sampai ke tujuan, tubuhnya yang kekar tak akan terasa bila menggendongku yang tak seberapa...
Sampai di tujuan kami di buat sangat terkejut dan kesal karena ternyata tante Anya tidak memesan apa pun....itu hanya alasannya untuk membuat kami menghabiskan waktu malam minggu bersama😓😓
Ternyata kita di kerjai .....
__ADS_1
Mau marah tapi orang tua 🤦♀️🤦♀️🤦♀️