
"boleh aku masuk ke sini?"
pinta nya dengan wajah memelas.
"boleh .... Ayo tante temani"
Dengan senyum ramah yang sedikit di paksa kan ibu Anya menemani Mitha masuk ke kamar Arga.
Dia sendiri di buat bingung dengan keadaan dimana dia harus menenangkan perasaan Mitha yang masih sering histeris, tapi di sisi lain dia tak bisa memaksa Arga untuk pulang karena Arga memiliki sifat yang keras dan tak mau di atur.
Kamar yang luas itu terlihat rapi dan bersih, semua tertata dengan sangat sempurna, mulai dari penataan barang barang, cat tembok, hiasan, semua di desain dengan cantik.
Mitha yang sedari tadi mengembang kan senyum nya mendadak terdiam kala melihat sebuah bingkai besar di dinding dekat televisi, terpampang foto pernikahan Arga dan Ayu yang terlihat sangat mesra. Bahkan di meja samping tempat tidur pun terdapat beberapa foto Ayu yang tersusun sangat rapi.
Senyum nya pun menghilang menyadari banyak terdapat foto foto Ayu di kamar Arga, di ambil nya foto foto yang tertata rapi di meja dan di masuk kan nya ke dalam laci, dia menolak mengingat kenyataan bahwa Arga mencintai Ayu bukan diri nya.
Ibu Anya hanya diam, tak berucap apa pun, dia takut Mitha akan histeris jika tak bisa mengendalikan emosi nya lagi.
"apa kamu suka kamar ini? Kalau kamu mau kamar ini ambil saja"
"tidak!"
Jawab nya segera berlalu keluar meninggal kan bu Anya yang masih berdiri di kamar putra nya memandang foto pernikahan Arga dan Ayu.
'kalian tak boleh berpisah, ada nyawa anak kecil yang akan menyatukan kalian'
Gumam bu Anya dalam hati seolah yakin bahwa Arga dan Ayu tak akan berpisah demi buah hati mereka.
Semenjak keluar dari kamar itu Mitha terlihat sedikit murung. Hanya duduk sendiri di tepi kolam renang memandang rangkai an bunga teratai yang sedang mengembang. Ya.... Bunga teratai, bunga kesukaan Ayu sahabat nya.
Entah apa yang ada di pikiran Mitha saat itu, mata nya menatap kosong ke depan.
Dan itu dia lakukan seharian.
"nak, ayo kita makan, sudah hampir sore, kamu belum makan"
Bujuk bu Marni lembut pada putri nya yang sedari tadi hanya diam.
Terlihat jelas kekhawatiran di mata tua itu, kalau kalau anak nya kembali histeris karena terlalu memikir kan sesuatu.
Mitha hanya menggeleng pelan.
"aku belum lapar buk"
Jawab nya singkat tetap dengan pandangan mata kosong.
"nanti kamu sakit kalau nggak makan nak, ibu sudah masak makanan kesukaan kamu"
Tak ada jawaban.
"bu,.... Arga kapan pulang?"
Wajah tua itu berubah sedih kala anak nya kembali menanyakan perihal Arga.
Dia tak bisa menjawab jika menyangkut masalah Arga, karena tak mungkin juga dia memaksa Arga untuk pulang.
"nanti kita bilang sama bapak, supaya Arga makan malam di sini, tapi sekarang kamu makan dulu nduk"
Akhir nya bu Surti bisa membujuk putri nya untuk mau makan.
Hati tua itu merasakan sakit melihat putri nya yang seperti itu.
🥀
🥀
🥀
__ADS_1
🥀
"buk, saya mengantar non Naya ke sekolah dulu, sarapan sudah saya siap kan, apa ibu mau saya antar kan ke sini saja sarapan nya?"
"nggak usah mbok, saya bisa jalan pelan pelan, lagian saya nggak betah harus tidur terus"
"di betah betahin buk, demi bayi yang ada di kandungan ibu, turuti semua kata dokter, biar semua nya sehat, ibu juga bayi nya"
"iya mbok, tapi kalau ke meja makan saja saya bisa"
"saya berangkat dulu bu"
"hati hati mbok."
Mereka lebih terlihat seperti satu keluarga, sama sekali tak terlihat bahwa mereka adalah majikan dan bawahan karena keakraban dan kehangatan keluarga yang di berikan mbok Surti.
Drttt.....drt.....drt....
Di sela sela menikmati sarapan nya ponsel Ayu bergetar menampilkan notifikasi sebuah email yang masuk, dari Michell.
Meski Ayu tak pernah membalas satu pun email nya, Michell tak pernah berhenti mengirim kabar dan berita tentang Arga.
Bahkan berita mengenai Arga yang tak bisa mengganti posisi nya dengan Mitha.
Entah lah harus bagaimana Ayu menanggapi hal ini, apakah harus senang, sedih atau apa yang jelas, saat mendengar itu ada setitik rasa bahagia menyeruak di hati nya.
Namun segera di tepis nya karena janji nya pada kedua orang tua Mitha.
Di usap nya pelan perut nya yang sedikit membuncit karena usia kehamilan nya baru 5 bulan.
Sebenar nya dia tak tega bila anak nya lahir tanpa papa nya, tapi dia tak bisa egois mementing kan kepentingan nya sendiri, karena dulu Mitha juga sudah mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan sampai membuat jiwa nya terguncang.
Ayu yang berjalan menuju kamar mandi dengan melihat ponsel nya, tak fokus pada lantai yang di injak nya, hingga membuat nya kehilangan keseimbangan.
Brukkkk....
terjatuh membentur pada dinding membuat Ayu mengeluar kan darah dari selakangan nya.
"tolong pak Eko"
Teriak Ayu yang mencoba bangun tapi tak bisa.
"ibu.... Kenapa ini?"
Pak Eko yang mendengar teriakan Ayu segera berlari masuk.
Di ikuti beberapa pekerja yang lain.
Panik melihat kondisi Ayu yang mengeluar kan darah cukup banyak
"tolong saya pak Eko"
Suara Ayu mulai parau, dengan air mata yang sudah bercucuran dan keringat yang tak kalah bercucuran.
Dan mencoba tetap mempertahan kan kesadaran nya.
"ibu kenapa, ya Tuhan darah nya banyak banget, kita bawa ke rumah sakit, ayo bantu angkat"
"halo...halo.... Ayu, what happen? Halo... Halo...."
Tanpa di sadari, terpencet nomor ponsel Michell sewaktu Ayu jatuh tadi.
Mendengar lewat ponsel Ayu yang menjerit dan suara benturan membuat Michell panik.
Apalagi Ayu sempat teriak minta tolong dan percakapan singkat yang mengatakan banyak darah membuat Michel semakin kebingungan.
Mondar mandir seperti linglung tak tahu harus bagaimana
__ADS_1
"ah.. Arga..."
Michel segera memencet nomor Arga.
Arga yang semalam mabuk berat tak bisa memenuhi permintaan orang tua Mitha untuk makan malam di rumah, karena tak mungkin pulang dengan kondisi di bawah pengaruh alkohol, akhir nya memutus kan untuk sarapan ke rumah bersama mama nya dan keluarga Mitha, meski sebenar nya dia sangat enggan untuk pulang.
"kamu sudah datang Arga, ayo duduk, mama tadi minta si mbok masak makanan kesukaan kamu."
Arga tidak begitu canggung karena ada mama nya juga di rumah itu.
Mitha yang menyadari kehadiran Arga nampak tersenyum dan menghampiri mereka ke maja makan.
"pagi Mitha, kita sarapan sama sama"
Bu Anya mencoba seramah mungkin agar suasana tidak terlalu formal, mengingat Arga yang sedari datang hanya diam.
"iya ma, tunggu ibu dan bapak dulu."
Wajah Mitha nampak sumringah mengetahui kedatangan Arga pagi ini, meski Arga tak menunjuk kan senyum sama sekali.
Drt....drt....drt....
"halo Chel...."
Raut wajah Arga berubah tatkala menerima panggilan dari ponsel nya.
Seketika wajah nya pucat.
"kenapa Ga? Apa yang terjadi?"
Bu Anya menjadi khawatir melihat perubahan raut wajah Arga.
"maaf ma Arga harus pergi"
Arga menyambar kunci mobil di meja makan kala tangan Mitha mencekal nya.
"jangan pergi.... Aku mohon"
Mitha nampak memelas menggenggam jemari Arga, tatapan nya sangat dalam.
"kenapa mau pergi, bukan nya sarapan dulu"
Sepasang suami istri keluar dari dalam menghampiri mereka.
"maaf kan aku, ini sangat penting"
"Arga makan lah dulu sebentar nak, soal pekerjaan kan ada Agus"
"ini bukan masalah pekerjaan ma, lebih penting dari itu."
Arga menatap tajam mama nya seolah meminta izin dan meminta bantuan untuk membiar kan nya pergi.
"tidak ada kah sedikit waktu mu untuk ku?"
Arga menatap Mitha datar, dan selembut mungkin melepaskan genggaman tangan Mitha.
"aku akan kembeli."
"Arga"
"Arga"
"Arga"
Tanpa menghirau kan panggilan dari penghuni rumah itu Arga segera berlalu.
Pikiran nya tertuju pada kondisi Ayu dan calon anak mereka.
__ADS_1
Melaju dengan kecepatan tinggi seolah olah sudah siap mati, membuat Arga banyak mendapat umpatan dan makian dari pengendara lain.