teratai

teratai
ruang gerak terbatas


__ADS_3

"kenapa aku tidak bisa mengakses semua data perusahaan?"


"bisakah sedikit sopan, dengan mengetuk pintu sebelum masuk?"


"tak usah mengalih kah pembicaraan, aku sekretaris disini sekarang, tapi kenapa semua data tak bisa ku akses, terkunci"


"itu semua bukan wewenang saya, saya disini juga hanya di tunjuk sementara, bila ingin protes silah kan protes pada pemilik perusahaan"


"jangan berkilah kamu, aku tahu kamu yang sengaja mempersulit aku, kamu takut kan?"


"takut?..... Apa yang harus aku takut kan?....sudah lah , jangan buang buang waktu ku, aku sedang sibuk."


"aku tahu kamu sengaja karena nggak mau aku menemukan keberadaan Arga.


Aku tak akan menyerah"


Brakkkkk......


Suara pintu yang di tutup dengan kasar setelah perempuan itu keluar dari ruangan wakil direktur dengan kesal.


Agus membuang nafasnya kasar, mencoba mengumpulkan segala kesabaran nya lagi. Karena dia sadar, dia tak sesabar atasan nya dalam menghadapi wanita.


"halo"


Setelah Mitha keluar dengan membanting pintu Agus segera menghubungi seseorang.


"iya bu, semua sudah saya laksanakan, tapi ada beberapa dokumen yang harus ibu atau pak Arga tandatangani segera."


"kalau begitu kamu bisa kesini gus, tapi kamu harus hari hati, jangan sampai dia curiga dan mengikuti kamu, kamu buat alasan meeting sama klien atau apa, aku nggak mau dia tahu keberadaan Arga saat ini."


Jawaban dari seberang telepon.


"*baik bu saya paham"


"ingat Gus, kalau sampai dia tahu keberadaan Arga dari kamu, saya akan bikin perhitungan dengan mu."


"siap bu, saya akan menutup rapat semua akses Mitha untuk bisa menemukan pak Arga."


"baiklah, saya tunggu kamu di rumah."


pembicaraan singkat itu terhenti setelah si pembicara di ujung telepon mematikan telepon nya sepihak.


Rasanya seperti harus bermain petak umpet, sembunyi sembunyi takut kalau ketahuan.


'huftttt..... Semua gara gara obsesi Mitha yang tak masuk akal, coba dia mau menggunakan logika nya dan berfikir kedepan.'


Gerutu Agus kepada diri nya sendiri karena sekarang dia harus lebih berhati hati, karena dia tahu Mitha juga menyewa beberapa orang bayaran untuk mencari keberadaan Arga.


Dan tentunya itu akan sangat membatasi ruang gerak Agus.


🥀


🥀


🥀


🥀


"Dina, hari ini aku akan meeting dengan klien di luar kamu ikut dengan ku"


"wait.....


Buka kah disini aku yang jadi sekretaris mu, kenapa dia yang kamu ajak?"

__ADS_1


"kamu masih baru di sini dan proyek ini sudah tertunda cukup lama, Dina lebih tahu tentang proyek ini.


Dan satu lagi.....


Di kantor, aku adalah atasan kamu, dan ku harap kamu bisa menjaga sopan santun mu"


"aku bisa belajar dengan cepat kalau semua data bisa ku akses."


"maaf nona, mengenai data perusahaan bukan lah wewenang saya.


Dan saya harap anda berusaha mencari tahu data perusahaan bukan untuk membocorkan rahasia perusahaan kan?.


Karena kalau sampai itu terjadi, anda akan menyesal."


Ancam Agus dengan seringai dingin nya, membuat Mitha dan Dina yang menjadi sama sama bungkam.


'sial..... Dia mengancam ku.... Lihat saja, siapa yang akan menang."


Umpat Mitha dalam hati, merasa kesal dengan ancaman Agus yang terkesan mengintimidasi diri nya.


"Dan satu lagi....


Kamu tidak lupa dari mana uang dan fasilitas yang kamu dapat kan setiap hari nya.


Setidak nya balas lah budi kepada orang itu."


Setelah mengatakan kalimat yang begitu menohok Agus segera berlalu di ikuti dengan Dina yang berjalan di belakang nya, meninggal kan Mitha yang melotot dengan wajah memerah, antara marah, kesal dan malu.


"pak, apakah hari ini kita benar benar ada jadwal meeting dengan klien?"


Tanya Dina dengan hati hati setelah mereka sudah berada dalam mobil menuju suatu tempat.


Agus melirik Dina sekilas yang berada di samping nya.


"setau saya, hari ini tidak ada jadwal meeting pagi, ada nya nanti sore itupun bukan klien penting."


"kalau sudah tahu kenapa tanya."


Jawab Agus ketus karena masih kesal dengan perdebatan nya dengan Mitha tadi.


"tapi tadi... Bapak bilang.... Kita mau meeting.... Saya jadi bingung, berkas mana yang harus saya bawa."


"jadi karena itu kamu bawa semua berkas di meja kamu."


Tanya Agus melirik tumpukan berkas di pangkuan Dina.


Sementara Dina hanya tersenyum kikuk karena takut suasana hati atasan nya akan lebih buruk lagi karena pertanyaan konyol nya.


"kita bukan mau meeting, kita mau ketemu ibu Anya.


Dan aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini dari Mitha.


Apa pun yang kamu lihat nanti tentang keluarga bu Anya, kamu harus tutup mulut mu, atau.....


Kamu akan ku buat menjadi gelandangan dan di blacklist seumur hidup mu."


Agus menatap Dina tajam, seolah olah ingin menerkam nya hidup hidup, membuat Dina menelan saliva nya kasar dan hanya mampu mengangguk pelan, meski masih bingung dengan apa yang di ucap kan Agus.


"lampu nya sudah hijau pak, bisa jalan"


Dina berusaha mengalih kan perhatian Agus, karena tatapan mata Agus seperti sebuah pisau yang siap menghujam lehernya, membuat nya merinding.


"kamu paham Dina"

__ADS_1


Tanya Agus lagi dengan penuh penekanan, tanpa menoleh ke arah lawan bicara nya.


"i...iya....pak...sa....saya paham."


Karena takut, Dina yang sedikit gemetar suara nya pun terbata bata.


Di sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota namun berada tidak jauh dari pusat bisnis di wilayah itu mobil yang di tumpangi Agus dan Dina berhenti.


"ini rumah siapa pak?"


Tanya Dina yang gugup mengira Agus membawa nya ke villa, karena memang rumah mewah itu sisi belakang nya menghadap ke laut lepas, lebih tepat nya berada di atas tebing yang tinggi, sangat mirip dengan villa pribadi meskipun dekat dengan pusat bisnis dan bukan di tempat terpencil .


"jangan berfikiran kotor kamu"


Hardik Agus seraya menyentil kening Dina melihat wajah gugup dan ketakutan yang Dina tunjuk kan.


"bukan begitu pak.... Saya kan.... Hanya tanya...."


Elak Dina mencoba menutupi kegugupan nya.


"apa jangan jangan kamu ngarep aku....."


"eh.... Nggak pak.... Saya nggak jadi tanya"


Potong Dina cepat, sebelum Agus menyelesaikan ucapan nya, karena dia tahu akan semakin terpojok bila terus bertanya.


"bagus...ayo turun...dan jangan banyak tanya..."


Tanpa protes lagi Dina turun dari mobil dan mengikuti langkah cepat Agus menuju pintu utama rumah yang tertutup rapat.


Sekilas melihat kiri kanan, terdapat taman dengan beberapa arena permainan anak, pasti penghuni rumah itu mempunyai anak kecil.


Setelah memencet bel berulang kali, pintu utama pun terbuka dengan ibu paruh baya berada di balik pintu.


"eh, mas Agus.... Sudah datang.... Silah kan masuk mas, sudah di tunggu nyonya di dalam."


"makasih mbok Surti...loh, mbok mau kemana?"


Tanya Agus yang melihat permpuan paruh baya itu justru buru buru keluar.


"saya mau jemput non Naya ke sekolah nya mas, sudah waktunya pulang,... Masuk saja.... Saya permisi..."


"oh, iya mbok, hati hati...."


"iya mas..."


Mbok Surti segera berlalu di mana pak Eko sudah menunggu nya di garasi untuk menjemput Naya.


"ayo masuk Din!"


"eh... Iya pak..."


Dina yang sedari tadi mengamati percakapan Agus dengan perempuan bernama mbok Surti itu sedikit terdiam.


Karena seperti nya Atasan nya sudah sangat akrab dengan perempuan itu jadi bisa di pastikan atasan nya sering ke rumah ini.


Dan rumah siapakah ini, tadi bukan nya mau bertemu ibu Anya?


Dengan langkah pelan Dina mengikuti langkah Agus melewati ruang tamu menuju lantai atas dan berhenti di depan sebuah kamar


"aku harap kamu bisa menepati kata kata mu tadi."


Kata Agus sebelum membuka pintu kamar itu

__ADS_1


"eh...iy...iya pak...saya akan pegang omongan saya.."


__ADS_2