teratai

teratai
pergi


__ADS_3

"Yuk..... boleh aku tanya sesuatu?"


Michell duduk di samping sahabat nya, mata nya sudah berkaca kaca.


Ayu hanya mengangguk pelan.


"mmm....aku nemuin ini di kamar mandi, ini punya kamu"


Dengan pelan Michel menyodor kan hasil tespack yang di temukan nya di kamar mandi.


Ayu yang sedikit terkejut hanya diam tak menjawab, raut wajah nya tetap datar.


"apa kah Arga tahu tentang ini?"


Bukan nya menjawab Ayu malah menangis sejadi nya.


Benar benar pilihan yang sangat sulit bagi nya.


Melihat reaksi Ayu, Michel yakin bila Arga belum tahu mengenai hal itu, Arga belum tahu perihal kehamilan Ayu.


"kamu harus beritahu Arga Yuk, bagaimana pun Arga ayah kandung dari anak kamu."


"nggak Chell, Arga nggak boleh tahu....


Ini kesalahan ku, harus nya aku tidak terlena dengan semua perhatian Arga."


"itu tidak salah Yuk, bagaimana pun kalian suami istri yang sah secara hukum maupun agama"


"nggak bisa Chell, aku sudah berjanji pada orang tua Mitha kalau akan meninggal kan Arga demi Mitha."


Karena kemaren sebelum bertemu Mitha , Ayu lebih dulu bertemu keluarga Mitha, dan dia sudah berjanji untuk menjauh dari Arga demi kesembuhan Mitha.


Tangis Ayu semakin menjadi, tubuh nya bergetar hebat.


"lalu bagaimana dengan calon anak kamu dan Arga? Apa kamu akan setega itu pada nya?"


Michell ikut menangis dengan kondisi sahabat nya yang begitu menyedih kan.


Dia punya segala nya, tapi dia selalu menderita dan terluka.


"aku mohon, jangan beritahu Arga, aku harus menepati janji ku, setidak nya sampai Mitha sembuh."


Ayu berkata dengan terbata.


"nggak.... Kamu sudah terlalu banyak menderita, aku nggak bisa membiar kan kamu menderita lagi."


Michel segara mengambil ponsel nya dan memencet nomor Arga. Tapi ponsel nya di ambil paksa Ayu dan segera memati kan panggilan itu.


"jangan beritahu Arga Chell, dia tak boleh tahu."


"nggak Yuk, bagaimana pun Arga berhak tahu, dia Ayah kandung dari calon anak mu, kembalikan ponsel ku"


"nggak,... Sebelum kamu janji tak akan memberi tahu Arga."


"nggak bisa Yuk, sudah cukup kamu menderita, saat nya kamu bahagia bersama Arga"


"nggak.... Aku nggak akan memberikan ponsel mu,"


"Ayu..."


Michel mencoba merebut ponsel nya dari tangan Ayu, namun dengan segera Ayu melempar ponsel sahabat nya ke dalam kolam teratai.


"sorry Chell, aku akan ganti semua nya."


"kamu benar benar bodoh."


Michell yang kesal dan kecewa kepada sahabat nya segera meraih kunci mobil nya dan hendak keluar, seketika Ayu mencekal lengan nya.


"kamu mau kemana Chell"


"aku tak akan tinggal diam Yuk"


"aku tak akan membiar kan mu pergi."


Ayu memegang kuat lengan Michell, menghenti kan langkah nya untuk pergi.


"lepas kan aku Yuk!"


"tidak akan"


"lepas"


"nggak Chell, aku tak akan membiar kan kamu pergi."


" LEPAS"


Michel menepis cengkraman tangan Ayu kasar membuat Ayu terhuyung ke belakang hampir jatuh.


"Michell.... Jangan pergi...aku mohon, jangan beritahu Arga...Michel.... Michell..."


Michell tak menggubris permohonan Ayu yang mencoba menghentikan langkah nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


"sebaik nya kamu libur hari ini Ga, kamu tenangin pikiran kamu dulu, tubuh mu juga lemas."


"nggak ma, pekerjaan ku sangat banyak hari ini."


Dengan langkah gontai Arga berjalan ke meja makan yang sudah ada aneka masakan dari mama nya.


"ke kantor agak siang saja, sarapan dulu, mama mau temenin kamu kerja"

__ADS_1


Arga hanya mengangguk pelan.


"tentang berkas kemaren..."


"aku akan tanda tangani ma, aku tak bisa memaksa Ayu. Dia berhak bahagia..."


Meski bibir nya berkata seperti itu, namun di dalam hati nya terasa sakit sampai ke ulu hati.


"kamu pikir kan dulu matang matang"


"aku sudah berfikir ma, semua memang salah ku, mungkin ini adalah cara terbaik untuk menebus semua kesalahan ku."


"apa tidak sebaik nya kalian mediasi dulu, atau... Mama yang bicara sama Ayu."


Arga menghela nafas dalam.


"tidak perlu ma,"


"siapa tahu Ayu bisa luluh dengan mama,"


Arga hanya diam, karena sebenar nya dia tidak tega jika orang tua nya tahu alasan kenapa dia dan Ayu sampai bercerai.


Pasti akan membuat mama nya sangat terpukul.


🥀


🥀


🥀


"pagi mbak..., apa bapak Arga ada?


Tanya Michel terbata bata karena nafas nya yang masih ngos ngos an berlari dari parkiran.


" pagi ibu Michell, bapak Arga belum datang, beliau bilang akan datang agak siang, karena sedang tidak enak badan"


"brengsek kamu Arga..."


Umpat Michel lirih namun tetap terdengar di telinga resepsionis


"maaf ibu... Apa?"


Resepsionis bertanya tanya mendengar umpatan Michel dengan wajah yang geram dan terlihat panik.


"ibu...apa ada yang..."


Tanpa menjawab resepsionis, Michel kembali berlari menuju ke mobil nya, susah susah melewati macet demi pergi ke kantor nya malah dia masih di rumah.


Michell segera menginjak gas melajukan mobil nya pelan karena memang pagi hari jalanan macet.


Sering kali dia mengumpat sendiri karena kesal, kenapa jalanan macet membuat nya kesulitan untuk segera ketemu Arga.


ting....


Ting....


Ting...


Michel memencet bel seperti orang yang tidak sabar.


"iya iya, tunggu sebentar, siapa sih yang pencet bel nggak sabaran gitu"


Ibu Anya mengomel dari dalam mendengar bel tamu di pencet asal asalan.


"Ar.... Pagi ibu....ibu siapa?"


Tanya Michel keheranan, karena setau nya Arga tinggal sendirian.


"pagi, kamu siapa ya, mau cari siapa"


"Arga ada tante, saya mau ketemu Arga penting"


"ada, kamu siapa?"


Selidik ibu Anya penasaran ada perempuan cantik datang pagi pagi mencari putra nya.


"saya Michel tan, bisa ketemu Arga"


"kalau boleh tante tahu kamu siapa nya Arga?"


"maaf tan ini penting banget, urgent, bisa nggak introgasi nya nanti, setelah saya ketemu Arga, darurat banget"


ibu Anya memberi jalan kepada Michel untuk lewat, tanpa basa basi Michel segera masuk ke ruang tengah di mana Arga sedang memegang bolpoin, hendak tanda tangan


"tunggu...jangan tanda tangan..."


Teriakan Michell mengaget kan Arga.


"Michel!"


"jangan tanda tangani surat cerai itu"


Michell berkata dengan terbata bata, nafas nya ngos ngos an karena berlarian.


"maksud nya"


"kamu tidak boleh tanda tangan."


"minum dulu, biar bisa jelas ngomong nya."


Ibu Anya menyodor kan segelas air putih pada Michell yang langsung di teguk nya sampai habis.


"makasih tan"


"duduk dulu, biar tenang"


"Arga kamu tidak boleh tanda tangani surat cerai itu"

__ADS_1


Arga mengangkat kedua bahu nya tak paham.


"kalian tidak bisa bercerai sekarang"


"ini sudah keputusan Ayu Chell, aku tak bisa menghenti kan niat nya."


"aku mau memberi kan ini pada mu."


Michell menyerah kan sebuah benda kecil pipih kepada Arga.


Arga yang tidak tahu maksud nya hanya mengerut kan kening nya.


"ini?"


"itu milik Ayu"


Arga masih belum paham maksud Michell.


ibu Anya segera mengambil testpack dari tangan Arga.


"hahh..... Ini arti nya.... Benar kah ini milik Ayu?"


Bu Anya mulai berkaca kaca, namun Arga hanya diam tak mengerti arah pembicaraan mereka.


"iya tan.... Tante ini?"


"aku ibu nya Arga.... Benar kah ini.... Berarti mama akan punya cucu!"


Glek....


Arga menelan ludah nya kasar, tangan nya bergetar memegang bolpoin yang hampir saja dia pakai untuk tanda tangan surat cerai nya dengan Ayu.


"bener Ga, Ayu sedang hamil.... Jadi kalian tidak bisa bercerai."


Arga masih mematung, ada rasa senang menyelinap di dalam hati nya.


"Ga, jemput Ayu sekarang, mama nggak mau cucu mama kekurangan kasih sayang dari ayah nya."


Ibu Anya mulai menitik kan air mata bahagia.


Dengan sigap Arga berdiri, menyambar kunci mobil nya, sebelum pergi, di robek nya berkas surat cerai yang di berikan Ayu.


Tin....


Tin....


Tin..


Arga menginjak gas mobil nya dengan kencang, saking tak sabar nya untuk bertemu Ayu, Ayu yang sedang hamil anak nya. Dan itu arti nya, dia tak akan bercerai dengan Ayu, demi janin yang di kandung Ayu.


"Arga, hati hati nak"


Ibu Anya berpegangan kencang, sedikit gemetar ketakutan dengan cara mengemudi putra nya yang seperti seorang pembalap.


Ting...


Ting...


Ting...


Ting...


Berkali kali di pencet bel rumah, pintu tetap tak terbuka.


Dengan perasaan cemas Arga mondar mandir di depan pintu rumah besar bergaya klasik Bali.


Di ambil nya ponsel dan di pencet nya nomor Ayu, nomor nya tidak aktif.


"Chell, telfon Ayu, dia dimana sekaramg, dengan siapa, bagaimana keadaan nya, buruan Chell"


Arga yang panik karena pintu rumah tak kunjung di buka meminta Michel untuk menghubungi sahabat nya.


"nggak bisa Ga, semalam hp ku di lempar Ayu ke kolam, ketika aku mau memberitahu mu tentang kehamilan nya."


"jadi dia tahu kalau kamu akan memberitahu ku"


Hati Arga menjadi tidak tenang.


Tiba tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah Ayu, suster yang mengasuh Naya, turun.


"suster, Ayu mana?"


Arga dan Michell bertanya serempak.


"miss Michell, pak Arga, mencari ibu Ayu ya, ibu Ayu ke Solo?"


"ke Solo?"


"tapi tak ada pekerjaan yang harus di handle di sana"


Michell tak ingat kalau hari ini ada pekerjaan yang harus Ayu urus di Solo.


"bukan miss, Kata bu Ayu beliau mau liburan ke Solo, baru saja saya antar ke bandara."


Tanpa bertanya lagi, Arga segera melajukan mobil nya menuju ke bandara.


Perasaan nya begitu tak tenang. Hati nya cemas dan gelisah, kalau kalau Ayu sembunyi lagi dari nya.


"maaf, penerbangan ke Solo, landing jam berapa?"


Tanya Arga setelah berlarian di bandara.


"maaf bapak, untuk jadwal penerbangan ke Solo bapak bisa ambil nanti siang jam satu atau sore jam 3, karena yang sekarang baru saja pesawat nya landing"


Arga terduduk lemas, hati nya seperti di permain kan takdir.


"AYUUUUUU"

__ADS_1


Teriak nya seperti orang kesetanan.


setelah ada setitik cahaya harapan untuk bisa bersama Ayu lagi, tapi kini Ayu menghindar diri nya, entah kemana.


__ADS_2