
"aku ingin melihat Mitha sebelum pulang"
Ayu menghiba pada Arga agar mengizin kan nya untuk bertemu dengan Mitha sebelum mereka kembali ke Bali.
"aku mohon, aku mau berpamitan dengan nya."
"Mith...."
Lirih Ayu memanggil nama yang hanya duduk dengan mata kosong, di usap nya pelan wajah sahabat nya yang nasib nya sangat mengenas kan.
"cepet sembuh.... Aku kangen sama kamu, kangen saat kita bersama dulu."
Perlahan bulir bening jatuh di pipi halus Ayu.
"sampai kapan pun kamu tetap sahabat bagi ku....."
Sebelum pergi Ayu mengecup lembut pucuk kepala sahabat nya.
Hati nya teramat sangat sakit, entah kenapa, dia juga tak tahu.
sepanjang perjalanan tak ada perbincangan, semua hanya diam, sesekali Agus melirik kedua bos nya dari spion, tak ada pergerakan.
Wajah Ayu terlihat pucat, sedang Arga wajah nya terlihat sangat kelelahan, kurang tidur juga karena pekerjaan nya yang memang menumpuk sebelum mereka pergi ke sini.
"aku minta maaf.."
Arga berkata lirih setelah mereka berada di atas lapal.
Ayu hanya menoleh tanpa menjawab dan tanpa ekspresi.
"aku sudah memaaf kan mu"
Setelah beberapa waktu hanya diam, akhir nya Ayu menjawab dengan tatapan yang masih fokus ke biru nya laut.
"aku bersedia menerima hukuman"
"aku tak berhak menghukum mu"
Lirih Ayu menjawab.
"dengan sikap mu yang ingin pergi dari ku saja, bagiku sudah suatu siksaan, tapi aku akan tetap siap terima hukuman apa pun yang akan kamu lakukan"
"aku tak akan menghukum mu."
"kau memaaf kan ku?"
"bukan kah tadi sudah ku bilang, aku sudah memaaf kan mu, seperti janji ku kemarin, tapi...."
Ayu menggantung kalimat nya
"tapi kenapa?"
"aku mohon.... Jangan berharap lebih dari ku"
Ayu menatap Arga nanar, pandangan nya mengisyarat kan sesuatu yang sangat Arga takut kan.
"apa maksud nya?"
Ayu menunduk dalam, diri nya merasa bersalah karena telah terlena dengan Arga akhir akhir ini.
"hukum saja aku dari pada kamu menyuruh ku menjauhi mu"
Arga meraih tangan mungil Ayu dalam genggaman nya.
__ADS_1
Bulir bening sudah tak bisa di tahan Ayu.
"tapi..."
Arga menempel kan telunjuk di bibir Ayu.
"aku tahu, aku adalah orang yang bejat, aku tak tahu malu, aku berlumur dosa, aku orang paling buruk di dunia ini, tapi...apa kah aku tidak bisa mendapat kan kesempatan ke dua"
Suara Arga terdengar parau dan bergetar.
Ayu hanya menggeleng lemah tanpa arti.
"aku tak bisa ..... Aku tak bisa se egois itu..."
"aku tahu.... aku tak termaaf kan, kata kan apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak membenci ku."
"aku sudah memaaf kan mu, aku juga tak membenci mu."
Suara Ayu terbata menahan isak tangis.
Arga menatap Ayu sendu, tatapan nya seperti sedang berbicara tentang semua penyesalan nya.
"lalu di mana keluarga Mitha?"
Kata Ayu seraya mengusap air mata yang sedari tadi sudah meleleh.
"aku membelikan mereka tempat tinggal dekat dengan rumah sakit, agar mereka mudah untuk bertemu Mitha."
"biaya rumah sakit?"
"aku yang tanggung, kebutuhan harian mereka aku juga yang tanggung, bagaimana pun aku penyebab semua ini, jadi memang sudah seharus nya aku mempertanggung jawab kan semua nya."
Jelas Arga panjang lebar.
"kamu jangan khawatir, aku selalu mendahulu kan kepentingan mereka.
Aku tak pernah sekalipun melalai kan kewajiban ku."
Ayu hanya mengangguk angguk pelan.
"aku harap, setelah ini kamu bersedia untuk..... Kita.... Mengurus percerai an."
Seperti suara petir yang menyambar di telinga Arga, mendengar Ayu mengucap kata cerai lagi.
"kamu bilang sudah memaaf kan aku, aku mohon, apa perlu aku berlutut padamu..."
Ayu mencekal tangan Arga yang hampir berlutut pada nya.
"aku sudah memaafkan mu, jangan seperti itu.... aku benar benar memaaf kan mu, tapi...."
"tapi apa Yuk"
Wajah Arga terlihat merah padam, entah menahan emosi, marah atau sedih.
"aku tak bisa"
Arga berusaha memeluk tubuh ramping Ayu, yang tetap menepis tangan nya.
"Aku tahu aku kotor, aku bajingan, aku laki laki tak punya malu...... Tapi apakah aku sudah tak punya kesempatan ke dua?"
Arga menatap Ayu nanar, pandangan nya menunjuk kan keputus asa an.
"aku tak bisa Ga.....
__ADS_1
Aku mohon, jangan memaksa....
Apakah mungkin aku bisa berbahagia sementara di sana Mitha..."
Ayu menghentikan kata kata nya pilu, hati nya terasa tercabik mendapati kenyataan.
Apa kah Ayu harus egois pada sahabat nya sendiri?
arrghhhhhh....
Arga mengusap wajah nya kasar.
Dia seperti telah di skak mat oleh kata kata Ayu.
"aku benar benar nggak tega dengan kondisi Mitha Ga, apakah kamu bisa bayang kan bagaimana perasaan orang tua nya, keluarga nya...."
Tangis Ayu makin kejer, mengingat kondisi sahabat nya yang baru dia tengok.
"apa kah kamu bisa menjalani nya ?, kamu bahagia.... Enak enak kan ...sedang kan di sana Mitha...."
Ayu menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, bahu nya bergetar saking kejer nya nangus.
"setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan di masa lalu nya, bahkan ada yang kesalahan nya pun fatal, lantas... Apa kah orang seperti itu tak bisa mendapat kan kesempatan ke dua untuk menjadi orang baik, untuk bisa memperbaiki kesalahan nya. Apa kah orang seperti itu harus menanggung kesalahan nya seumur hidup, tanpa ada kesempatan untuk menjadi orang baik."
Arga berkata seraya menatap ke laut, wajah nya masih nampak basah.
"mungkin bisa ... Tapi bukan kah kesempatan ke dua itu tak harus datang dari orang yang sama"
Argamulai menatap Ayu sendu.
"apakah..... Kamu benar benar serius dengan ucapan mu Yuk?"
Arga membalas tatapan Ayu dengan nanar.
Ayu hanya mengangguk pelan, dan kembali bulir bening yang telah di hapus nya jatuh ke pipi nya.
Arga mengangguk pelan seperti putus asa.
"baik.... Aku akan lakukan apa pun yang kamu minta"
Sambung nya getir.
"aku tahu, aku tak pantas untuk mu, aku laki laki kotor dan aku bejat sampai terjadi hal seperti ini."
Arga menggenggam tangan Ayu erat.
"aku akan turuti, jika itu bisa membuat mu bahagia."
kalimat kalimat Arga justru terasa sangat sakit di hati Ayu.
"tapi ingat lah, aku laki laki yang akan selalu mencintai mu, aku laki laki yang akan selalu ada saat kamu butuh dan aku.... Adalah laki laki yang tak akan pernah berhenti merindu kan mu."
Rasa nya leher Arga seperti tercekat saat mengata kan kata kata yang bagi nya seperti sebuah sembilu yang mengoyak koyak hati nya.
"aku ..... Akan menanda tangani surat percerai an kita."
Tak mampu menahan rasa hati nya yang hancur, Arga segera berlalu ke dalam kapal, meninggal kan Ayu yang sama hancur nya seperti diri nya. Ini adalah hari di mana dia merasakan hancur sehancur hancur nya.
Dunia nya seperti telah runtuh, tak ada lagi rasa yang tertinggal di hati nya, selain hati yang telah lebur seperti debu.
Sedang Ayu hanya bisa nangis kejer terduduk di tempat nya.
dia sudah berkali kali meyakin kan hati nya bahwa itu adalah pilihan yang terbaik buat mereka, tapi justru hati nya seperti di patah kan dan benar benar berdarah.
__ADS_1
Agus yang melihat kejadian itu bingung sendiri harus bagaimana, karena kedua nya nangis kejer di tempat berbeda.