teratai

teratai
tuntutan


__ADS_3

"ibu istirahat saja, tak perlu ke kebun, biar di kebun saya yang urus."


"iya bu, kata dokter ibu tak boleh banyak gerak, harus .... Apa ya kemaren itu....si mbok lupa nama nya stres stres apa gitu"


"bed rest mbok bukan stres"


Ayu tersenyum pada pasangan suami istri pak Eko dan mbok Surti yang hidup sederhana dan apa adanya di kampung, tapi mereka benar benar bahagia, bahkan mereka tidak punya anak dari pernikahan nya tapi mereka tetap bahagia dan saling mengerti satu sama lain, tidak seperti pasangan zaman sekarang yang banyak tuntutan nya.


"maaf ya mbok jadi nyusahin mbok Surti sama pak Eko."


"jangan bilang begitu bu, kami nggak di repotkan, justru kami senang bisa bantu bantu bu Ayu, seperti keluarga sendiri."


Ayu memeluk mbok Surti erat, rasa nya seperti mendapat kehangatan keluarga.


Ayu membayang kan hari hari kedepan nya di mana dia harus terbaring di kasur demi menjaga kandungan nya.


Pasti aka sangat membosan kan dan pasti akan semakin mengacau kan pikiran nya.


"oh ya mbok, administrasi rumah sakit kemaren, pake uang siapa?


Biar saya ganti"


"oh itu anu bu..... Mmm waktu itu, .... Saya juga tak tahu "


Mbok Surti kebingungan mencari alasan tentang siapa yang sudah membayar biaya rumah sakit Ayu.


"mbok?"


Ayu mengernyit kan kening nya tidak paham dengan reaksi mbok Surti.


"sebenar nya, semua biaya di bayar sama laki laki itu bu"


"laki laki?"


"iya, yang nolongin bawa bu Ayu ke rumah sakit pake mobil nya itu"


"mbok minta nomor rekening nya kan?"


"nah itu buk masalah nya"


Mbok Surti kebingungan cara memberi tahu pada Ayu.


"waktu itu, tanpa memberitahu saya, laki laki itu sudah melunasi ke kasir bu, saya minta nomor rekening nya, kata nya iklas pengen bantu bu Ayu"


Ayu melongo tak percaya masih ada orang sebaik itu, apalagi biaya yang harus di bayar ke rumah sakit tidak lah sedikit.


Mana ada orang nggak kenal mau mengeluar kan uang dalam jumlah yang banyak dan cuma cuma.


"nama nya siapa mbok, trus alamat nya mana?"


"mmmm..... Itu juga masalah nya bu, saya tanya nama nya kata nya tidak penting trus katanya dia dari luar kota, bukan orang sini, jadi paling juga nggak kenal."


"coba ambil kan saya bukti pembayaran dari rumah sakit, mungkin tercantum nama nya."


Mbok Surti segera menyerah kan lembaran kertas dari rumah sakit.


Tak ada nama orang lain, yang tertera di sana hanya nama Atu sendiri.


Waktu di bawa kerumah sakit memang Ayu setengah sadar, belum pingsan sepenuh nya, tapi dia tak begitu memperhati kan pemilik mobil yang di tumpangi nya karena menahan sakit pada perut nya.


"masa sih, jaman sekarang ada orang yang nggak kenal mau mengeluar kan uang begitu saja dalam jumlah yang banyak"


Ayu menggumam sendiri, melihat lihat lembaran kertas dari rumah sakit.


"sudah lah buk, tak perlu di pikir kan, ibu kan tidak boleh stress, di doa kan saja semoga Alloh membalas kebaikan orang itu, nanti kalau suatu saat ketemu, saya masih ingat wajah nya, dia masih muda dan tampan."


"amin mbok.... Semoga suatu saat saya bisa ketemu dan membalas semua kebaikan nya"


Kedua nyasaling tersenyum mengingat kebaikan seseorang yang tak mereka kenal.

__ADS_1


🥀


🥀


🥀


🥀


Aroma alkohol yang menyengat memenuhi ruangan kerja Arga. Pria itu memilih untuk tidak pulang kerumah dengan alasan akan lembur, tapi kenyataan nya beberapa minuman alkohol sudah berada di meja ruang kerja nya.


Hati nya sangat hancur, di permain kan takdir. Dia yang selama ini kelimpungan mencari keberadaan Ayu dan calon bayi nya, namun sekarang, begitu dia tahu dimana Ayu dan kejadian malang yang menimpa Ayu, dia tak bisa datang dan membantu dengan kedua tangan nya sendiri sedang kan itu adalah anak nya, calon anak nya.


Dia tak bisa kemana mana, karena orang tua Mitha sudah bersikap tegas dan akan membawa Arga juga Ayu ke jalur hukum jika Arga kabur dan pergi tanpa sepengetahuan nya.


Mereka berfikir jika Ayu lah yang sudah merebut Arga dari Mitha dan mereka tidak akan segan membeber kan semua ke media meski pun itu akan berdamapak buruk bagi keluarga Ayu maupun keluarga Arga.


Kedua keluarga yang tergolong milyarder dan mempunyai banyak bisnis pasti akan sangat berpengaruh bila ada skandal besar yang tiba tiba muncul.


Dan itu pasti akan banyak di manfaat kan oleh pesaing bisnis mereka. Dan


Keluarga Ayu maupun keluarga Arga pasti akan mendapat reputasi yang buruk.


Arga tak bisa egois membiar kan dua keluarga hancur karena diri nya.


Tapi dia juga tak bisa membohongi diri nya bahwa dia sangat cinta dan rindu pada Ayu.


Di putar nya berkali kali video dari orang suruhan nya yang memantau kondisi Ayu yang sedang di rumah sakit sampai pulang ke rumah nya.


Mata nya mulai lembab, menatap nanar video di ponsel nya.


"maaf kan papa sayang.... Papa belum bisa ketemu kalian, papa janji akan datang menjemput kalian"


Gumam nya pada diri sendiri.


Entah sadar atau karena efek alkohol.


"sudah bos minum nya, bos kelihatan jelek kalau begitu."


"kenapa? Kamu sudah insaf? Nggak mau berteman sama barang haram ini"


Arga menunjuk botol yang di pegang nya dan menegak isi nya sampai habis.


"kalau bos begini, masalah nya tidak akan selesai bos!"


"kamu pikir aku suka seperti ini.... Aku benci hidup seperti ini."


Arga mulai teriak teriak mengumpat umpat tak jelas, pikiran yang sedang kacau dan juga efek alkohol membuat nya membual tak jelas.


baru kali ini dia merasa tak bisa berbuat apa apa, bahkan dengan kekuasaan dan harta nya yang sama sekali tak bisa membantu nya.


Dulu dia berfikir apa pun masalah nya, semua bisa di seleikan dengan uang dan kekuasaan.


Ternyata semua nya salah.


Ada prinsip dan tuntutan pertanggung jawab an yang tak bisa di bayar atau pun di selesai kan dengan kekuasaan.


"kamu mau uang Gus? Ambil sana, uang ku sudah nggak ada guna nya, uang ku tak bisa membantu ku lagi,"


Agus yang sebenar nya ingin pulang jadi tak tega melihat atasan nya yang sudah mabuk dan mulai mengoceh tak jelas, bahkan tubuh nya berkali kali ambruk ketika hendak berdiri.


"coba ngomong gitu pas sadar...."


Agus nyengir sendiri mendengar ocehan atasan nya.


Di papah nya tubuh kekar Arga ke kamar pribadi di balik ruang kerja nya.


Kamar tidur pribadi yang cukup luas biasa nya untuk istirahat Arga kala lelah mengerjakan pekerjaan nya di kantor.


Malam itu terpaksa Agus menemani bos nya tidur di kantor karena tak mungkin meninggal kan dia dalam keadaan seprti itu.

__ADS_1


Takut gantung diri🤭


Pikir Agus, memikirkan hal bodoh.


🥀


🥀


🥀


🥀


"kenapa nak Arga belum pulang?"


" tadi Arga menghubungi saya, kata nya dia akan tidur di kantor karena pekerjaan nya sedang banyak dan harus selesai akhir bulan ini"


Bu Anya menjelas kan perihal tidak pulang nya putra nya.


"tapi tidak berniat melarikan diri kan?"


Bu Anya sedikit terkejut dengan pertanyaan pak Slamet yang langsung ke pokok masalah tanpa basa basi.


Sementara istri nya, ibu Marni, sibuk menenang kan putri nya yang mencari cari Arga dan hampir histeris.


"maaf pak, saya tahu betul posisi bapak, tapi jangan khawatir putra saya bukan orang seperti itu."


"bukan nya saya tidak percaya pada putra ibu, tapi dari yang selama ini saya tahu, dia bahkan tak pernah menjenguk putri kami, hanya mencukupi kebutuhan secara materi saja, sedang kan putri kami, membutuh kan dukungan bagi mental nya."


"i_iya pak, saya paham, sebagai ibu nya saya mewakili putra saya, minta maaf pada bapak dan semua nya"


Bu Anya gugup dan terbata mendengar perkataan pak Slamet yang memang benar adanya. Tapi dia sendiri tak bisa memaksa Arga, karena tahu bahwa cinta Arga hanya untuk Ayu.


"kita tidur saja nduk, nanti suami kamu pulang nya malam"


"nggak buk, Mitha mau nya sama Arga"


"iya, nanti kalau Arga sudah pulang, pasti temui kamu"


"NGGAAAAAKKKK, aku takut di tinggal pergi lagi."


Mitha merengek dengan nada setengah teriak.


Entah kenapa hati Bu Anya terasa sakit mendengar bu Marni mengucap kata suami pada Mitha.


Apalagi Arga yang hati nya sudah menjadi milik Ayu, pasti sangat tersiksa.


"maaf bu, saya sebagai bapak Mitha mau minta kejelasan kepada ibu selaku mama nya nak Arga, mumpung kita ketemu di sini."


"maksud nya pak?"


hati bu Anya sudah merasa tak enak.


"kejelasan tentang hubungan Mitha dan Arga..... Bagaimana pun putri kami sudah kelingan masa depan nya, dan bukan hanya soal materi yang kami mau, lebih tepat nya pada tanggung jawab putra ibu."


Raut wajah cantik bu Anya berubah bingung, tak tahu harus bagaimana.


"saya tidak bisa mengambil keputusan apa pun tanpa persetujuan Arga pak, kita sebaik nya bicara setelah Arga pulang ke rumah nanti."


"tapi selama kami di sini, nak Arga juga tak pernah pulang dengan alasan lembur, saya tahu itu hanya alasan nya saja."


laki laki tua itu kekeh dengan keinginan nya untuk meminta pertanggung jawaban Arga.


"tapi, saya tak bisa mengambil keputusan sendiri."


"sebaik nya ibu segera diskusi kan soal ini kepada Arga, karena saya sudah cukup bersabar selama ini. saya tidak menuntut apa apa selain kesembuhan putri saya, dan seperti yang ibu lihat sendiri, putri saya membutuh kan Arga, hanya Arga yang bisa membuat putri saya tenang."


Ibu Anya terdiam membayang kan bagaimana perasaan putra nya saat ini.


Pasti dia sangat tertekan dan sedih.

__ADS_1


Meskipun itu semua terjadi juga karena kesalahan nya.


Matanya mulai berkaca kaca membayang kan wajah putra nya.


__ADS_2