
Di tengah perjalanan Arga menghentikan sejenak laju mobil nya tatkala melewati sederetan kolam dengan di penuhi bunga teratai, itu adalah bunga kesukaan istri nya.
Di petik nya satu tangkai bunga pink itu dan di bawa bersama nya, berharap Ayu bisa merasa kan bahwa Arga sedang mencari nya.
Berkali kali di hubungi nomor ponsel istri nya tapi sudah tidak aktif.
Ada rasa nyeri di hati nya yang paling dalam, mengingat kejadian kemaren di mana dia telah melukai wanita yang paling di cintai nya.
setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, Arga sudah kembali sampai di halaman rumah Mitha.
Dia benar benar terlihat sangat berantakan, tubuh nya tak terurus dan terlihat pucat karena kurang tidur juga kurang istirahat.
"kenapa sepi?...
Bukan kah seharus nya ada acara tujuh bulanan kehamilan Mitha"
Arga bergumam pada diri nya sendiri.
Kondisi rumah Mitha tertutup rapat pintu nya, seperti sedang di tinggal pergi penghuni nya.
Arga mengetuk pintu dan memanggil manggil si empu nya rumah, tapi tak ada jawaban.
Berjalan ke belakang, siapa tahu semua sedang mempersiap kan acara di belakang, jadi tidak dengar waktu Arga memanggil, tapi tetep nihil, kosong.
Segera di ambil ponsel nya mencoba menghubungi Mitha, tapi juga nihil, seperti nya ponsel Mitha mati karena di luar jangkauan.
Arga mengacak acak rambut nya sendiri.
'apa lagi ini ya Tuhan'
Gerutu Arga dalam hati, apakah dia sedang di permainkan takdir....
Sungguh mengenas kan nasib nya saat ini.
Arga menjatuh kan tubuh nya di sofa yang ada di teras rumah itu, rasa nya semua tulang nya remuk, benar benar seperti habis di pukuli.
'sebenar nya apa yang terjadi, kenapa tak ada orang di rumah Mitha'
Bisik hati nya bertanya tanya.
"eh mas Arga kok ada di sini?"
Seorang ibu tetangga dekat rumah Mitha yang mengetahui kedatangan Arga mendekat dan menyapa.
Arga tersenyum bingung dengan pertanyaan ibu itu, lalu kalau tidak di sini harus di mana?
"mas kok nggak ke rumah sakit?"
"rumah sakit?"
Arga mengulangi kata ibu tetangga.
Semakin bingung
"loh, mas Arga dari tadi belum di beri tahu toh, tadi kata nya sudah di telfon"
Arga semakin bingung.
"ada apa sebenar nya bu?"
__ADS_1
"tadi pas mas Arga pergi mbak Mitha jatuh, mengalami pendarahan, jadi di bawa ke rumah sakit"
Seperti mendapat sengatan listrik, sungguh membuat Arga terkejut bukan main.
Cobaan apa lagi ya Tuhan, kata hati nya
Setelah minta alamat rumah sakit yang merawat Mitha, Arga bergegas menyusul.
Kejadian ini menyadar kan nya bahwa selama ini dia telah egois, bagaimana pun Mitha hamil anak nya, dan sekarang Mitha telah menjadi istri nya meski pun hanya nikah sirih dan sudah seharus nya Arga juga memikir kan perasaan Mitha yang bahkan selama ini sudah menahan malu karena hamil sebelum menikah.
"aku benar benar egois..."
Di pukul pukul kemudi stir nya mengingat kebodohan nya yang sudah membuat masalah semakin bertambah.
Dengan tergesa Arga menuju ke ruang di mana Mitha di rawat.
Nampak di luar ruang sudah menunggu beberapa kerabat juga orang tua Mitha.
"maaf kan saya pak, buk....semua ini salah saya"
Sontak kedua orang tua Mitha menoleh pada nya. Nampak ibu Mitha yang berlinang air mata, menatap Arga datar.
"bagaimana dengan Mitha? Bagaimana dengan kandungan nya?"
"kandungan nya masih bisa di selamat kan"
Jawab sang Ayah seraya menghela nafas dalam. Ada gurat kecewa di wajah lelaki separuh baya itu.
"nak Arga sebaik nya kita bicara di luar dulu"
Ayah Mitha mengajak Arga keluar ke tempat yang tidak begitu ramai, langkah nya sedikit lemas dan raut wajah nya terlihat sangat sedih.
"tadi Mitha terjatuh waktu mengejar nak Arga"
Lelaki tua itu menghentikan kalimat nya.
Arga terperanjat tak percaya, ternyata dia lah penyebab nya, ternyata dia melakukan kesalahan lagi bahkan lebih fatal, karena bisa kehilangan anak dalam kandungan Mitha yang juga darah daging nya.
"ma...maafkan saya pak, saya benar benar tidak tahu"
Arga menunduk lemas, dia merasa benar benar seperti seorang yang paling kejam di dunia.
"Mitha...sudah mencerita kan semua nya pada kami"
"menceritakan apa pak?"
"tentang nak Ayu"
Laki laki tua itu menatap Arga dengan tatapan sedih dan kecewa
"saya.....saya...."
"bapak tidak tahu, harus marah, kecewa, sedih atau apa"
Pandangan laki laki itu beralih ke arah langit yang sudah mulai menggelap.
"karena bagi keluarga bapak nak Ayu itu sudah kami anggap seperti keluarga,.... Sudah bapak anggap seperti anak bapak sendiri"
" maaf kan saya, semua salah saya..."
__ADS_1
Arga semakin menunduk.
"jujur....bapak benar benar merasa tak enak pada nak Ayu, tapi... Bapak juga malu kalau sampai anak bapak tidak ada yang bertanggung jawab."
Hati Arga terasa semakin perih menyadari bahwa dia telah menyakiti banyak hati, istri nya, Mitha, keluarga Mitha, dan pasti nya keluarga nya juga keluarga Ayu jika sampai mereka tahu.
"maaf kan saya pak...maaf kan saya.... Semua salah saya, saya bersedia bila harus di hukum, maaf kan saya...."
Laki laki tua itu hanya diam mendengar kata kata maaf dari Arga.
"bapak Arga"
Seorang suster mengejutkan Arga.
"iya sus"
"bapak suami nya ibu Mitha, dokter ingin bicara dengan anda"
"oh iya saya kesana"
Arga meninggalkan mertua nya mengikuti suster menuju ke ruangan dokter.
"sore bapak ada beberapa hal yang harus saya jelaskan"
Dokter spesialis kandungan yang menangani Mitha menjelas kan beberapa kemungkinan.
"jadi kami butuh tanda tangan bapak untuk bisa melakukan tindakan bila sewaktu waktu terjadi keadaan darurat."
"apakah tidak ada pilihan yang lain dok?"
"hanya itu satu satu nya, karena benturan yang terjadi cukup keras dan mengingat pendarahan yang terjadi belum juga berhenti"
"tapi itu arti nya..."
"benar pak, untuk saat ini masih bisa kami tangani, tapi bila pendarahan tak juga berhenti itu akan membahayakan nyawa ibu Mitha"
"tapi bukan kah anak saya masih sehat dok?"
"benar pak, janin dalam kandungan ibu Mitha memang masih sehat, tapi kalau pendarahan tidak juga berhenti itu bisa berakibat fatal bagi kedua nya"
Arga menghela nafas panjang, rasa nya dunia sedang menghukum nya, dia benar benar terpuruk, benar benar seperti sedang jatuh terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"baik saya akan tanda tangani dok."
Baru saja Arga tanda tangan seorang suster masuk dengan tergesa.
"dok pasien bogenvil no 2 nge drop lagi"
Jantung Arga seperti berhenti, itu kamar Mitha di rawat.
Tindakan darurat pun di lakukan....
Arga terduduk lemas di pojok koridor, tepat di depan ruang operasi di mana Mitha harus melakukan operasi pengangkatan janin, karena tubuh nya lemah dan tidak bisa mempertahan kan janin untuk tetap berada di rahim nya.
Arga terisak sendiri meratapi kesalahan yang membuat dia kehilangan segala nya.
Semua hancur dalam sekejap
Benar benar hancur
__ADS_1
Bagaimana lagi dia bisa menghadapi dunia....