teratai

teratai
manjalah padaku


__ADS_3

Brakkk....


Suara pintu yang di buka dengan kasar.


berdiri di depan pintu dengan nafas masih ngos ngosan.


"papa Arga..."


Teriak gadis kecil yang sedari tadi duduk di samping ranjang dimana mama nya sedang terbaring tak sadar kan diri.


"Sayang, mama kenapa?"


Tanya nya seraya mengangkat Naya ke gendongan nya.


"Naya minta maaf pa, Naya yang salah"


Tak menunggu lama, gadis cilik itu sudah berlinangan air mata dengan isakan isakan kecil nya.


"Naya sama mbok Surti dulu nak"


Mbok Surti mengambil Naya dari gendongan papa nya dan mengajak nya keluar kamar.


"bagaimana istri saya dok?"


"bagaimana bu Ayu dok?"


Tanya Arga dan Chiko bersamaan, kedua nya saling menatap tajam membuat sang dokter mengerut kan kening nya.


"begini pak, ibu Ayu hanya kecapek an juga karena efek menyusui, seperti biasa ibu menyusui akan merasa sakit bahkan bisa sampai demam jika air susu nya tak di pompa atau tak di susukan pada bayi nya, saya akan resepkan obat demam serta pereda nyeri nya."


"terima kasih dok"


Hening tak ada suara, tiba tiba terasa canggung di dalam kamar itu ketika dokter selesai menuliskan resep dan bergegas pulang.


"bagaimanapun saya berterima kasih karena kamu sudah membantu istri ku"


Kata Arga menekan kan kata Istri pada kalimat nya, memecah keheningan.


"sama sama pak, sudah kewajiban saya membantu bu Ayu"


Jawab Chiko memperlihat kan sedikit senyum simpul di bibir nya.


"kalau begitu saya permisi"


Lanjut Chiko menyadari tatapan mata Arga yang tidak bersahabat sama sekali.


dan segera pergi meninggal kan Arga bersama Agus di kamar itu.


"apa perlu kita bawa mbak Ayu ke rumah sakit bos?"


tanya Agus setelah Chiko meninggalkan mereka.


"nggak usah Gus, kata dokter nggak apa apa"


Jawab Arga seraya mengusap lembut pipi Ayu yang masih belum sadar?


"bos, saya mau pergi ke suatu tempat dulu, kalau ada perintah telfon ya"


Pamit Agus melihat Arga sepertinya butuh waktu berdua bersama istri nya.


"kenapa kamu nggak hubungi aku sayang.... Kenapa kamu nggak minta bantuan ku....ckkkk"


Arga setengah bergumam pada diri nya sendiri melihat wanita yang di cintai nya jatuh sakit.


"kenapa kamu masih saja keras kepala, apa aku harus menempatkan beberapa pengawal pribadi untukmu."


Di usap nya lembut wajah pucat yang terlihat tenang itu dan di kecup nya kening Ayu dengan begitu dalam, seolah ingin menyalurkan perasaan yang di miliki nya.


"ku mohon jangan seperti ini lagi. Bergantunglah pada ku, tak usah menjadi wanita mandiri, buat lah aku kesusahan karena menuruti keinginan mu."


Bisik nya lembut, meski tahu bahwa Ayu tak akan mendengar apa yang di ucap kan nya.


"maaf pak Arga, saya mengganggu"

__ADS_1


Pak Eko masuk setelah mengetuk pintu.


"nggak papa pak Eko, ada apa?"


"itu pak, Bryatta rewel dari siang nangis nggak mau diem, mbok Surti sama suster sudah kewalahan "


Jawab pak Eko hati hati, karena dia belum mengenal dengan baik sosok Arga, meski dia yakin Arga adalah orang yang baik.


"iya, saya akan tenangkan Baby Bry."


Arga segera keluar kamar setelah memberikan kecupan singkat di pipi Ayu.


"Bry kenapa mbok?"


"nggak tahu pak Arga, dari tadi siang nggak berhenti nangis nya, di kasih susu juga nggak mau, mungkin pengen sama mama nya"


Terlihat wajah panik mbok Surti yang gagal menenang kan bayi itu.


"biar sama saya mbok, mbok Surti tolong jaga Ayu saja"


"iya pak, saya akan ke kamar bu Ayu."


Jawab mbok Surti setelah memberikan Bryatta yang belum berhenti menangis kepada papa nya.


"kamu kenapa sayang? Kangen ya sama papa? Papa sudah pulang, jangan nangis lagi, kasihan nanti mama keganggu Bryatta, nggak bisa istirahat mama nya"


Entah mengerti atau tidak dengan ucapan Arga, ajaib nya bayi itu langsung berhenti menangis dan tenang dalam gendongan papa nya.


Ikatan batin ayah dan anak itu memang sangat kuat.


"saya mau mendengar semua nya dengan jelas dan terperinci pak Eko."


Kata Arga, kedua nya sudah duduk di teras halaman belakang rumah yang menghadap ke laut lepas, bersama Agus.


"sebenar nya saya tidak tahu pasti pak Arga, soal nya waktu itu, kita mencari non Naya nya mencar. Saya sama mbok Surti, bu Ayu sama mas Chiko."


Jawab pak Eko setelah menyruput cangkir kopi nya.


"Ghiko sama Ayu!"


"yang saya tahu dari mas Chiko begini pak Arga."


Pak Eko segera menceritakan kejadian awal mula nya sampai kejadian terakhir yang hanya dia tahu dari Chiko karena memang dia dan mbok Surti tidak berada di lokasi yang sama.


"begitu cerita nya pak Arga. Waktu kami sampai bu Ayu sudah pingsan, di bopong sama mas Chiko."


Arga menggigit bibir bawah nya mendengar penjelasan pak Eko.


'sialan, berani berani nya dia pegang pegang istri ku'


Batin Arga, tak terima Chiko yang menggendong Ayu waktu dia pingsan.


"terima kasih info nya pak Eko"


Meski di bibir nya tersungging senyum tipis, namun bergemuruh di dalam dada nya, rasa sesak menahan cemburu, membayangkan Chiko yang menggendong instri nya.


"agus, kamu cari tahu, siapa perempuan yang mengaku teman ku itu, hack semua cctv di dekat lokasi itu, malam ini harus sudah dapat informasi."


Perintah Arga sekenanya, Agus segera membuka laptop nya untuk menjalan kan perintah atasan nya yang kadang memang sesuka hati nya.


"oh ya pak Eko, apa saat saya tidak di rumah Chiko sering datang kesini?"


Tanya Arga lagi mencoba mengorek informasi tentang Chiko.


"nggak pak Arga, mas Chiko kesini nya cuma kalau ada urusan pekerjaan."


Jawab pak Eko jujur, Arga mengangguk pelan dan tersenyum simpul.


Ternyata Chiko masih tahu batasan nya.


"ya sudah kalian lanjut ngopi nya, aku mau melihat kondisi istri ku."


Jawab Arga segera berdiri dan meninggal kan teras belakang menuju kamar Ayu.

__ADS_1


"sudah sadar mbok?"


"eh.... Sudah pak Arga, sudah saya kasih obat nya juga seperti kata pak Arga tadi."


Setelah membantu Ayu duduk, mbok Surti segera pergi ke dapur untuk menyiap kan makan malam.


Arga menatap dalam kedua mata Ayu seraya menggenggam jemari nya lembut.


"kamu masih keras kepala seperti dulu."


Kata Arga membuka percakapan langsung mendapat tatapan tajam dari Ayu yang masih terlihat pucat.


"ckkkk... Siapa yang memberitahu mu?"


"kenapa? Kau mau memarahi orang itu?"


Ayu mengerjap ngerjap kan mata nya menatap Arga. Entah kenapa dia selalu begitu menyebal kan saat bersama, namun membuat nya rindu bila jauh.


"harus nya aku memarahimu, karena tidak memberitahuku kalau ada masalah seperti ini, apa kamu tidak memikir kan bagaimana Bryatta kalau kamu sampai sakit."


"ckkkk.... Yang ada di pikiran mu hanya anak itu."


Gumam Ayu yang masih terdengar jelas di telinga Arga.


Cup.... Kebuah kecupan singkat mendarat di bibir mungil Ayu, membuat nya sedikit melotot, karena Arga mencium nya dengan tiba tiba.


"siapa bilang aku hanya memikir kan Bryatta! Apa kamu pikir aku tidak khawatir padamu? Apalagi mengingat kalau Chiko yang menggendong mu, rasanya mau ku patah kan saja tangan nya itu."


"harus nya kamu berterima kasih padanya karena dia yang menolongku, bukan nya mencemburui nya, dasar..."


"kalau saja kamu minta bantuan ku, pasti aku yang menggendong mu, bukan nya Chiko, apa susah nya sih memberitahu ku kalau terjadi sesuatu."


"ish.... Aku ini sedang sakit, malah kau marahi. "


"aku tidak memarahi mu, cuma mau bilang, lain kali ada masalah sekecil apa pun katakan padaku, aku tidak suka kamu dekat dekat dengan Chiko."


Ayu menyebik kan bibir nya, mendengar Arga mengatakan dengan gamblang tentang kecemburuan nya pada Chiko.


"aku bukan tipe perempuan manja."


"kepadaku kau bisa bersikap manja, aku tak marah."


kedua saling menghela nafas setelah perdebatan itu.


"aku mau menyusui Bryatta."


"iya"


"aku mau menyusui Bryatta"


"ya sudah kamu susui saja"


"ckk.... Kamu keluarlah dulu"


"kenapa harus keluar, aku papa nya Bryatta, lagipula aku sudah pernah melihat semua nya."


Blushhhhh


Seketika wajah Ayu memerah mendengar jawaban Arga yang sekenanya, meskipun itu benar adanya.


tetap saja itu membuat Ayu merasa malu.


"terserah kamu saja"


Tanpa menunggu jawaban, Ayu segera menyusui putra nya di depan Arga.


membuat jakun nya naik turun, melihat pemandangan yang selama ini di rindukan nya.


Awal nya dia sendiri yang ngotot tetap di kamar melihat istri nya menyusui putra nya, kini dia sendiri yang seperti kebakaran jenggot ketika Ayu mengeluar kan salah satu bagian tubuh nya yang membuat tubuh Arga merasa panas dingin.


#kasih like nya kaka kaka cantik


Biar tambah semangat

__ADS_1


Maaf kata kata nya masih belepotan


Maklum .... Baru...


__ADS_2