
Dengan langkah yang tergesa gesa Arga menyusuri lorong rumah sakit di mana Ayu di rawat.
jarak tempuh yang seharus nya memakan waktu 1 hari di buat nya seakan menjadi dekat.
Beberapa orang nampak berdiri di depan ruang ICU menunggu pasien dari balik jendela kaca.
"bapak yang waktu itu...."
Pak Eko menatap ke arah Arga yang nampak tergesa gesa ke arah mereka.
"bapak kenal sama majikan saya bu Ayu?"
Belum mendapat jawaban dari yang di tanya, pak Eko kembali melontar kan pertanyaan.
"jadi, dia majikan bapak?"
"benar pak, bu Ayu majikan saya, lah bapak siapa nya bu Ayu?"
"saya.... Saya.... Sebenar nya..."
"bapak tahu nya dari mana kalau bu Ayu sakit, sedang kan kami saja tidak tahu harus menghubungi keluarga nya siapa?"
"mmm...itu... mmm"
"keluarga ibu Ayu"
Arga yang kebingungan mencari jawaban terselamat kan dengan panggilan dokter. Tak ragu intuk mengaku sebavai suami nya Ayu karena takut jika Ayu tahu dia akan pergi lagi.
"iya dok!"
"bapak keluarga dari pasien ibu Ayu, mari ikut saya ke ruangan saya"
Arga segera mengekor dokter menuju ruangan nya.
"maaf bapak siapa nya ibu Ayu?"
"saya suami nya dok"
"maaf sebelum nya pak, kami harus menyampaikan kabar yang tidak begitu baik."
Glek .....
Arga menelan saliva nya pahit, hati nya sudah tak karuan sebelum dokter menjelaskan kondisi Ayu.
"maksud nya dok?"
"untuk saat ini kondisi janin nya masih sehat, tapi kami tidak bisa menjamin kedepan nya, karena keterbatasan alat di rumah sakit ini."
"maksud nya dok?"
__ADS_1
"sebaik nya istri bapak di pindah kan ke rumah sakit yang lebih lengkap dan lebih canggih peralatan nya agar bisa mempercepat kesadaran nya"
"maksud dokter istri saya?"
"benar pak, istri bapak koma saat ini, untuk saat ini janin nya masih sehat dan berkembang, tapi kalau beliau tidak segera sadar, kami tidak bisa berbuat apa apa"
Mata Arga memerah, menahan tangis, tangan nya mengepal karena tak bisa membayang kan apa yang akan terjadi pada calon bayi nya jika Ayu tak juga sadar.
Tubuh Arga yang kokoh dan kekar bergetar jua kala melihat istri nya yang terbaring dengan berbagai alat medis di tubuh nya, sementara di dalam diri nya tumbuh calon bayi mereka.
Air mata yang sedari tadi di tahan nya, akhir nya lolos juga dari pelupuk mata nya.
Jika saja bisa, ingin rasa nya dia menggantikan posisi Ayu yang terbaring di sana.
"bapak, apakah bapak kenal dengan keluarga bu Ayu sejujur nya kami bingung mau menghubungi siapa?"
Suara pak Eko membuyar kan lamunan Arga, di seka nya air mata yang sempat mengalir.
"saya yang akan mengurus semua nya pak, bapak tak perlu khawatir"
"tapi bapak ini siapa nya bu Ayu."
"papa Arga"
Tiba tiba seorang anak berlari berhambur ke pelukan Arga.
"papa?"
"papa.... Naya takut, mama dari tadi tidur terus"
Naya mulai mengadu dengan air mata yang akhir nya jatuh berderai.
"Naya tenang sayang, mama nggak apa apa, mama akan baik baik saja."
"dedek bayi juga baik baik saja kan pa?"
Tanya nya polos.
"pasti sayang, papa akan pasti kan mama dan adek bayi sehat."
Arga semakin mengerat kan pelukan nya kepada gadis cilik itu, dia sendiri merasa takut hal buruk terjadi pada Ayu, tapi harus tetap meyakin kan Naya bahwa semua nya akan baik baik saja.
Setelah mendiskusi kan semua tentang kondisi Ayu kepada dokter, Arga memilih rumah sakit di Bali dengan peralatan yang akan di beli nya secara pribadi dari luar negeri untuk menunjang kesembuhan Ayu.
Dia tak bisa membiar kan Ayu di rumah sakit kecil dengan peralatan seadanya.
Hati nya akan terasa semakin sakit .
"jadi bapak suami bu Ayu?"
__ADS_1
"dan bapak akan memindah kan perawatan bu Ayu, juga membawa non Naya?"
Tanya pak Eko dan mbok Surti bergantian, ada raut kecewa dan sedih tergambar jelas di wajah kedua orang tua itu.
Karena selama ini mereka menganggap Ayu seperti putri mereka dan Naya seperti cucu mereka.
"iya pak, pihak rumah sakit tak punya peralatan lengkap."
Kedua orang tua itu saling pandang seperti hendak di tinggal pergi putri nya.
"ya sudah, kami tak bisa apa apa, kalau itu demi kesembuhan bu Ayu,"
Jawab pak Eko pasrah karena memang Arga, suami Ayu lebih berhak atas diri Ayu dan Naya.
"bapak dan ibu, ikut kami saja, karena saya butuh orang yang bisa merawat Naya selama Ayu belum sadar"
Ada binar bahagia terpancar dari mata kedua pasangan itu ketika mendengar Arga ingin membawa turut serta mereka berdua.
"tapi bagaimana dengan kebun di sini pak?"
"bapak tolong cari kan orang yang bisa di percaya untuk mengelola perkebunan itu"
"baik pak, saya akan carikan"
"segera pak, karena besok pagi kita sudah berangkat"
Malam itu pak Eko dan mbok Surti mempersiap kan segala nya.
Mereka sebenar nya enggan meninggal kan kampung halaman nya, namun karena mereka sendiri tak mempunyai anak dan sudah menganggap Ayu seperti anak mereka, mereka setuju untuk ikut bersama Arga. Dengan pertimbangan Naya tidak ada yang mengurus nya di sana.
Dengan pesawat jet pribadi Arga dengan di temani beberapa perawat menuju rumah sakit yang sudah di pilih nya, di Bali.
Peralatan yang di pesan nya dari luar negeri pun sudah tiba.
Tak lupa pula Arga membeli sebuah rumah yang dekat dengan rumah sakit untuk tempat tinggal Naya beserta mbok
Surti dan pak Eko.
"bapak sama mbok, tolong jaga Naya baik baik, semua keperluan rumah saya yang tanggung, kalau ada apa apa tolong hubungi saya"
"bapak mau kemana?"
"saya masih ada urusan pekerjaan yang harus saya selesai kan, titip Naya."
Setelah berpamitan dan menitip kan Naya, Arga segera melajukan mobil nya, menuju rumah.
Karena dari kemarin ada puluhan panggilan dari mama nya juga pak Slamet yang tak di angkat nya.
Sebenar nya dia ingin sekali menemani Ayu di rumah sakit. Tapi seperti nya ada hal lain yang juga penting karena tak mungkin mama nya menelfon nya sampai berpuluh puluh kali bila itu tidak mendesak dan penting.
__ADS_1
Tak lupa dia mengirim kan alamat rumah sakit juga rumah yang di tempati pak Eko pada Agus, agar Agus mengurus semua keperluan mereka, juga tentang pengawasan di rumah sakit.
Mobil nya berjalan pelan karena sebenar nya hati Arga masih tertinggal di sana, bersama Ayu yang terbaring koma dengan membawa serta calon bayi mereka.