teratai

teratai
aku saja yang menghukum


__ADS_3

"bagaimana keadaan pak bos mbak Ayu"


"dokter sedang memeriksa lebih lanjut Gus"


"apakah bu Anya sudah di beritahu"


"tidak Gus, aku ingin memberi kejutan saat mama datang kesini nanti"


Setelah kehebohan yang di buat mbok Surti dan pak Eko karena Arga sudah bangun dari koma nya tadi pagi, Ayu segera menghubungi dokter pribadi keluarga Arga dan melarang untuk menghubungi ibu Anya.


"rahasiakan hal ini dari...."


Ayu menggantung kalimat nya.


"pasti mbak, saya tak akan memberitahukan apa pun perihal pak bos kepada nya"


Seolah tahu maksud perkataan Ayu, Agus segera menjawab sebelum Ayu melanjut kan kata kata nya.


"terima kasih Gus"


"itu sudah tugas saya mbak, lagi pula, saya sendiri juga tak begitu suka dengan sikap nya, membuat saya pusing di kantor."


"jangan terlalu nggak suka, nanti kualat jadi suka"


"hah....."


Agus melotot seketika mendengar jawaban sekenanya dari Ayu.


"amit amit jabang bayi..."


Jawab Agus bergidik ngeri seraya mengusap usap perut nya.


"tapi ngomong ngomong kenapa sekretaris kamu yang cantik itu nggak ikut"


"oh si Dina, dia saya beri tugas buat mengalih kan perhatian mbak, biar nggak ada yang curiga kalau saya kesini."


"dia ...lumayan cantik ya Gus."


"ya....begitulah.....


Eh....apa tadi mbak....nggak dia biasa aja..."


Seperti termakan jebakan, Agus gelagapan sendiri menjawab pertanyaan dari Ayu, memasang tampang setengah blo on membuat Ayu menahan tawa.


'kenapa mbak Ayu jadi ketularan seperti si bos....


Ngomong nya suka asal, jahil dan suka bener...'


Gerutu Agus dalam hati, setelah merasa konyol dengan pertanyaan yang Ayu berikan.


"seperti nya dokter sudah selesai, kita masuk Gus."


Kedua nya segera masuk ke kamar Arga, setelah seorang perawat keluar dari kamar itu.


"bagaimana keadaan nya dok?"


" keadaan bapak Arga sangat sangat baik....sungguh satu hal yang luar biasa pak Arga bisa sadar kembali, tinggal melakukan beberapa terapi untuk pemulihan fisik nya."


"terima kasih banyak dok"


"sama sama bu Ayu, kalau begitu saya permisi"


tinggal lah mereka bertiga setelah sang dokter undur diri.


"kenapa tatapan mu tak enak seperti itu Gus?"


Melihat dua orang yang berdiri menatap nya dengan aneh, Arga memilih tak cari masalah dengan bertanya pada Asisten pribadi nya dari pada pada Ayu.


"kalau boleh jujur, sebenar nya..... Aku pengen marah sama pak bos."


Jawab jujur Agus yang merasa sangat kerepotan menghadapi masalah kantor belum lagi masalah Mitha sendirian yang membuat nya terkadang kehilangan kesabaran.


"marahin aja Gus.... Aku mendukung mu."

__ADS_1


Sela Ayu seolah memberi dukungan pada sang asisten sambil melipat kedua tangan nya di depan dada.


"hmmm.... Mbak Ayu mendukung saya?"


Tanya Agus yang sempat terkejut dengan jawaban Ayu.


"ck.... Kalian ini benar benar...."


Gerutu Arga pelan, namun masih terdengar di telinga Agus dan Ayu.


"marahin saja Gus, aku serah kan saja pada mu....


Karena kalau aku yang marah,.....


pasti ku hancurkan wajah nya itu biar tak ada yang mengenalinya dan tak ada lagi perempuan yang suka.....


Juga ku patah kan kaki dan tangan nya biar nggak bikin masalah lagi....


Juga...."


"biar aku saja mbak...."


Potong Agus sebelum Ayu menyelesaikan kata kata nya yang terdengar datar tapi mengerikan di telinga Agus.


Agus dan Arga sama sama menelan saliva nya kasar mendengar kata kata Ayu yang tak terlihat sedang bercanda.


"serah kan pada saya saja mbak"


Lanjut Agus dengan tersenyum paksa dan canggung yang terlihat sangat aneh.


"ah sudah lah....aku serah kan pada mu, aku mau menyusui baby ku dulu"


Arga dan Agus melihat Ayu yang berjalan keluar dari kamar dengan sama sama tegang, menghela nafas lega dan mengusap dada masing masing.


Kedua nya saling memandang dengan ekspresi yang sulit di jelas kan.


"ah si bos sih.....suka mancing mancing singa yang lagi tidur"


"apa kamu bilang....


"itu hanya perumpamaan bos, bukan begitu maksud nya"


"seperti nya otak mu sedikit bergeser...


Aku baru sembuh, harus nya kamu bantu aku, bukan nya ikut ikutan cari masalah"


"malahan aku yang bantu bos.....


Coba kalau tadi mbak Ayu yang marah dan melakukan apa yang di katakan nya tadi, apa bos pikir aku bisa menghentikan nya?"


"sebenar nya yang bos di sini aku apa kamu..... Kenapa kamu marah marah pada ku"


"bos ini.....benar benar menyebal kan.... Tahu gini tadi nggak tak bela in"


Gerutu Agus merasa jengkel pada atasan nya, meskipun jauh di lubuk hati nya ada rasa senang dan lega yang luar biasa, karena setelah atasan nya sadar, pasti nya dia tidak akan memikir kan semua masalah sendiri.


Terkadang mereka memang terlihat akrab seperti saudara, namun tetap profesional saat di hadap kan dengan pekerjaan.


"sudah lah.... Kamu jelas kan semua nya yang terjadi selama aku koma."


Agus menceritakan semua hal yang terjadi sedetail detail nya, bahkan sampai hal terkecil sekalipun dia cerita kan.


Tak ada satu pun yang terlewati.


Meski kadang sesekali mereka akan saling berdebat karena ada cerita Agus yang membuat Arga geram dan merasa Agus tidak bisa tegas.


🥀


🥀


🥀


🥀

__ADS_1


"maaf mbak, untuk bertemu dengan dirut harus buat janji dulu"


"saya sudah buat janji."


"tapi tak ada dalam jurnal saya janji dirut ketemu dengan anda."


"minggir jangan halangi jalan ku."


"tapi mbak..."


Brak....


Tanpa dapat di cegah, perempuan itu membuka pintu ruang direktur dengan paksa, menimbulkan suara yang cukup keras, membuat para pegawai yang ada di sekitar melihat ke arah mereka.


"maaf pak, saya sudah mencoba menghalangi, tapi..."


"tak apa jen, kamu kembali kerja saja, mungkin mbak ini ada perlu dengan saya."


"baik pak, saya permisi.."


Laki laki itu hanya mengangguk dan tersenyum menawan, memperlihat kan lesung pipit nya yang hanya sebelah namun justru terlihat semakin mempesona.


"silahkan duduk, mungkin ada yang bisa saya bantu?"


Tanya nya ramah kemudian, kepada tamu perempuan yang masuk dengan paksa ke ruangan direktur itu.


"dimana dia?


Kamu pasti hanya bawahan nya saja"


"dia?.... Siapa yang anda maksud?"


"pemilik perusahaan ini...


Pemilik asli dari Lotus company ini, jangan pernah berbohong"


Sarkas nya penuh penekanan.


"maksud anda Michell?


Dia mengurus di kantor pusat, sedang di kantor cabang ini, semua di bawah kendali saya.


Kalau boleh saya tahu, anda siapa, dan ada masalah apa antara anda dan Michell?"


"bukan Michell yang ku tanya kan, sebagai direktur kantor cabang tentu kamu tahu kan mengenai kepemilikan dari Lotus company....


Dan kamu juga tahu kan siapa yang ku maksut"


Melihat seringai yang aneh dari perempuan itu, Chiko bisa menebak siapa perempuan yang ada di depan nya saat ini.


Karena Michell pernah sedikit cerita alasan Ayu memilih bekerja di balik layar dan belum siap untuk di publikasi kan.


"maksud nya pemilik yang satu nya lagi...


Kalau soal itu saya kurang tahu, karena saya belum pernah bertemu sama sekali dengan beliau dan saya di tunjuk oleh Michell sendiri."


Jawab Chiko berbohong namun tetap memasang wajah tenang dan datar.


"tak usah menyembunyi kan nya, aku tidak mau melakukan hal buruk, aku hanya perlu bicara dan bernegosiasi dengan nya"


"kalau begitu lebih baik mbak temui mbak Michell saja, karena saya tidak tahu apa pun"


"jangan bohong"


Sarkas nya seraya menggebrak meja di hadapan nya.


"hei.... Anda jangan bersikap tidak sopan di sini.... Perempuan terpelajar seperti anda, pasti tahu sopan santun"


Sebuah kalimat singkat namun seperti menampar di wajah Mitha, membuat nya sangat geram.


"saya tidak akan begini kalau anda bisa bekerjasama dengan ku"


"sepertinya kamu buang buang waktu ku, bila tak ada hal lain sebaik nya kamu pergi, atau aku panggil security"

__ADS_1


"sampaikan pada nya, aku hanya ingin sedikit bernegosiasi dengan nya."


Kata Mitha sebelum akhir nya meninggal kan ruang direktur dengan wajah masam.


__ADS_2