
Di luar ruang operasi Arga duduk gelisah dengan baju berlumur darah dari istrinya, menunggu Ayu yang sedang menjalani operasi pemasangan pen di lututnya karena posisi kakinya yang terjepit dan terbentur keras.
"Arga bagaimana dengan Ayu?"
Dua orang perempuan, yang satu masih muda dan yang satu setengah baya datang dengan air mata yang sudah berlinangan di pipi. Mbak Gendhis dan ibu mertuanya datang dengan membrondong pertanyaan tentang istrinya
"Ayu masih di dalam buk, operasi lututnya."
"trus tadi kondisi Ayu gimana Ga?"
Brondong gendhis
"tadi pas di bawa kesini belum sadar mbak"
Ketiganya menjadi sama sama tegang dan gelisah, mondar mandir di depan ruang operasi.
"keluarga ibu Ayu"
Seorang perawat keluar dari ruang operasi dan memanggil keluarga Ayu
"bagaimana operasi istri saya suster"
"operasi ibu Ayu sudah selesai, berjalan lancar, dan akan di pindahkan ke ruang perawatan, silahkan keluarga menyelesaikan administrasi dulu."
Huffft semua menjadi lega mendengar berita dari suster
"Arga biar ibu aja yang ke kasir mengurus administrasi, kamu bersihkan diri dan ganti baju dulu, bajumu penuh darah"
"nggak, buk, ini adalah tanggung jawab Arga sebagai suami Ayu, ibu sama mbak Gendhis ke ruat perawatan Ayu aja, biar saya yang mengurus administrasinya"
Arga menolak tawaran dari ibu mertuanya karena memang semua tanggung jawab nya sebagai seorang suami
"iya buk, kita temenin Ayu aja, Gendhis pengen tau kondisi Ayu."
Ibu Rahmi tersenyum senang mendengar jawaban Arga, sepertinya suaminya, Ayah Ayu, tidak salah memilihkan suami untuk Ayu, Arga sangat bertanggung jawab pada istrinya
Tiga hari di rumah sakit Ayu di ijinkan pulang, dia tetap bersikeras untuk pulang ke apartemen Arga.
Ayu tak mau nanti merepotkan orang tuanya.
"sebaiknya kita cari suster buat bantu kamu."
"nggak usah, aku akan berusaha sendiri saja."
Ayu menolak tawaran Arga untuk memakai jasa suster buat merawat dia selama belum bisa berjalan.
Ayu sebenarnya sadar dia akan sangat kesulitan untuk beraktifitas, tapi dia tak mau terlalu bergantung pada orang lain, karena di keluarga nya Ayu sudah di didik mandiri sejak kecil.
"jangan ngeyel...kamu akan kesulitan aktifitan "
"aku masih bisa aktifitas di atas kursi roda, jangan khawatir"
"kamu bisa nggak sih nggak membuat aku cemas?"
"emang kamu cemas?"
Tanya Ayu membuat wajah Arga memerah karena malu
"jangan bantah, sebaiknya kita cari suster"
"jangan terlalu khawatir....aku masih bisa aktifitas....aku cuma butuh sopir aja"
"sopir?.....jangan bilang kamu tetap kerja"
"emang kenapa?"
"dasar perempuan keras kepala..."
Arga benar benar di buat pusing oleh istrinya yang tetap ingin bekerja.
"aku tidak mengijinkan mu bekerja!"
Kata Arga tegas
"emang aku meminta ijin mu?"
Kata Ayu pura pura bodoh
"Ayu....aku ini suami mu, dan sebagai kepala rumah tangga, aku tidak memberi mu ijin untuk bekerja selama kamu sakit"
"oh...suami ya..."
Kata Ayu mengulang kata kata Arga sambil manggut manggut sendiri
__ADS_1
"pokok nya aku tidak memperbolehkan kamu bekerja, titik."
"dan aku akan tetap bekerja, bukan demi aku, kamu atau apa pun....aku akan bekerja demi tanggung jawab ku."
Arga mrnggeleng geleng sendiri dengan keras kepala nya Ayu, geram campur gemas karena istri nya tidak mau menuruti perkataan nya
"oke kamu boleh bekerja tapi tidak full time dan harus ada yang mengawal kamu, kalau tidak mau tak usah kerja, ku kurung di rumah"
Arga menegaskan kepada istrinya karena tak mungkin bila melarang nya melakukan aktifitas.
"yaaaah...gapapa, besok aku akan minta edo mengawalku ke kantor."
"hah....besok...jangan bercanda kamu Yuk."
"emang kenapa kalau besok?"
"kamu baru keluar dari rumah sakit, apa kamu mau aku di marahi ibu, ayah, papah sama mamah ku di pikir aku tak bisa mencukupi kebutuhan mu."
Arga melotot tak percaya
"yah....itu derita mu"
"kamu...."
Arga semakin membulatkan matanya mendengan jawaban istrinya yang seenaknya
Ini hari pertama Ayu kerja pasca kecelakaan mobil, Ayu bekerja dengan di antar Edo, sekalian minta Edo jadi asisten pribadinye, selain sopir Edo juga membantu ayah nya di perusahaan karena Edo lulusan sarjana komunikasi.
Semua karyawan terkagum kagum tatkala melihat Edo yang mendorong kursi roda Ayu menuju ke ruangan nya, wajah Edo memang cukup tampan meskipun dia asli orang jawa.
Beberapa hari tidak masuk kerja karena kecelakaan membuat tumpukan file di meja Ayu lebih tinggi dari biasanya, untungnya Edo merupakan orang yang cekatan dalam bekerja, jadi pekerjaan Ayu menjadi tidak berat...
"Edo, aku lagi malas keluar, kalau kamu makan siang aku nitip saja"
"baik non, nanti saya belikan"
Edo sudah ikut Ayah Ayu semenjak masih duduk di bangku SMA, tak heran kalau dia sudah akrab dengan semua majikan nya, termasuk Ayu.
Begitu Edo keluar menyusuri koridor untuk makan siang, kulihat beberapa karyawati yang mengikuti nya, cari cari muka cari cari perhatian pada nya....
Seburuk itu kah perempuan perempuan zaman sekarang....
Entahlah, aku tak begitu suka melihat perempuan perempuan centil dan kegenitan pada laki laki...bagiku itu sangat memalukan
"non, ini pesanan nya"
"sebentar Do, aku sedikit pusing"
Kata Ayu seraya memijit pelipisnya sendiri
"non, nggak enak badan, saya antar pulang aja, biar kerjaan saya yang urus non,"
"nggak...nggak....nggak....aku nggak papa, ini cuma karena terlalu lama di depan monitor"
"tapi non, nanti mas Arga marah"
"biarin aja....selama dia nggak tau nggak apa apa"
Edo melongo mendengar jawaban ku
"bagus....bagus....bagus..."
Seorang laki laki masuk keruangan ku yang memang pintunya sengaja aku buka dengan bertepuk tangan, Novan
"ini jam makan siang, kalau ada urusan tentang pekerjaan, silahkan datang nanti setelah waktu makan siang selesai"
Edo berkata mengingatkan Novan yang tanpa permisi masuk ke ruangan atasan nya
"kamu siapa berani ikut bicara...oh...kamu laki laki barunya yah?
" jaga mulut anda kalau bicara"
Edo membentak Novan dengan nada tinggi, melihat kelakuan nya yang sama sekali tidak mencerminkan sopan santun.
"kenapa kamu marah....kamu merasa sudah berkuasa dengan menjadi ...."
Plakkk....
Sebuah tamparan mendarat di wajah Novan, Edo yang geram sukses menampar mulut lancang Novan, seandainya aku sedang tidak sakit mungkin aku sendiri yang menampar mulut kotornya
"tuan Novan, apakah anda tidak tahu peraturan dan cara bersopan santun di kantor ini?"
Ayu berkata dengan nada sedikit tinggi
__ADS_1
"anda pikir, anda siapa berhak mencampuri urusan pribadi saya..."
"iya, aku berhak karena kamu masih dalam masa idah Yuk, kita belum genap 3 bulan bercerai tapi kamu sudah.....ternyata bukan karena aku, memang kamu yang suka gonta ganti laki laki.."
"jaga mulut kamu Novan....."
Ayu berteriak sembari mendelik memandang Novan dengan geram
"apakah kamu lupa kalau kamu sudah menikah di mana surat perceraian belum sah ku tandatangani.....apakah kamu lupa dengan penghinaan yang kamu dan keluarga kamu lakukan....lalu kenapa kalau aku sekarang punya banyak laki laki....apakah itu masalah buat kamu....ngaca kamu...."
Tangan Ayu mengepal geram
"jadi itu alasan kamu tidak mau rujuk mempertahan kan pernikahan meskipun itu demi Naya..."
"apa tadi...rujuk.....oh....itu yang ada di pikiran anda....oke....kita rujuk...."
Edo menatap Ayu kebingungan
"tapi apa kamu mampu mencukupi kebutuhan ku, kebutuhan Naya, oh iya....aku tak biasa beli baju di pasar, baju baju ku dari butik semua, aku juga tak suka makan di warteg, aku lebih suka italian food atau japanesee food, aku juga tak biasa beres beres rumah, apakah anda bisa membayar asisten rumah tangga...sementara anda hanya seorang staff karyawan biasa yang gajinya bagi saya...."
Ayu nyengir sembari mengernyitkan keningnya,sementara Novan mendengus geram mendengar kata kata Ayu yang baginya seperti sebuah penghinaan.
"bagaimana....anda sanggup."
Tanpa menjawab sepatah katapun Novan segera berlalu, keluar dari ruangan Ayu dengan wajah yang merah padam, marah dan malu.
"nona baik baik aja?"
Edo bertanya hati hati melihat Ayu yang berkali kali memghela nafas panjang
Ayu hanya mengangguk pelan seraya mengusap keningnya, membuat nafsu makan nya hilang.
"sebaiknya nona saya antar pulang, soal kerjaan biar saya yang selesaikan."
Ayu hanya mengangguk meng iya kan, setuju untuk di antar pulang setelah kejadiaan itu, benar benar muak rasanya, Ayu menjadi heran dengan dirinya sendiri, bisa bisanya dia dulu jatuh cinta pada seorang Novan, bahkan sampai mengorbankan semua yang di miliki nya demi laki laki itu.
"kamu baik baik saja, bukankah sudah ku bilang jangan kerja dulu, kamu keras kepala"
Arga sudah ada di parkiran apartemenen menyambut kedatangan Ayu dengan omelan.
Ayu manatap Edo paham....ternyata Edo sudah memberitahu Arga tentang kondisi Ayu.
"kamu kembali ke kantor Do, biar Ayu aku yang bawa"
Edo mengangguk setuju dengan perintah Arga
"dasar keras kepala.."
Arga mengomel setelah Edo perg.
Ayu hanya nyengir malas berdebat karena merasa kepalanya sedikit pening.
"makanlah kamu belum makan kan"
Arga membukakan nasi kotak, sepertinya dia sudah memesan sebelum Ayu datang
"aku tidak lapar, aku hanya sedikit lelah saja"
"makan dulu, setelah makan ku antar ke kamar"
"nanti saja makan nya"
"jangan keras kepala"
Arga mencekal tangan Ayu yang hendak menggerak kan kursi rodanya.
"jangan seperti anak kecil....sudah susah aktifitas, masih ngeyel"
"aku..."
Belum selesai Ayu ngomong Arga sudah menyuapi nya dengan sedikit paksa
"apa apa an sih, aku kan belum lapar"
Ayu ngomel tapi mulutnya tetap mengunyah makanan🤭🤭
"sudah nurut aja...jangan jadi pembangkang"
Arga tersenyum geli melihat Ayu yang protes tak mau makan tapi tetap mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"sudah aku tak mau lagi nggak enak"
Kata Ayu membungkam mulutnya sendiri. Rasanya perutnya mual, hendak muntah entah karena dia masih sakit atau karena belum makan.
__ADS_1
"kamu pusing?"
Arga bertanya pada Ayu, tapi Ayu hanya mendengar samar, kesadaran nya berkurang dan pandangan nya mulai gelap......Ayu pingsan di kursi rodanya...