teratai

teratai
permintaan


__ADS_3

sudah 5 bulan sejak kepergian Ayu yang sampai sekarang tak ada kabar nya.Tapi Arga tak pernah menyerah, dia membayar banyak orang untuk mencari keberadaan Ayu.


Bukan hanya Arga, orang tua Arga juga orang tua Ayu pun ikut mencari keberadaan nya.


"kenapa kalian lamban sekali.... Saya bayar mahal kalian untuk pekerjaan ini, tak berguna kalian"


Brakk....


sebuah benda hancur di lantai, berserakan...


Dan itu bukan untuk pertama kali nya, sudah kesekian kali nya benda benda kecil hancur terbanting di lantai.


"bos, mereka juga sudah maksimal"


"aku nggak mau tahu, cari ke semua daerah juga di luar kota Solo, termasuk daerah terpencil, aku mau mereka di temukan secepat nya."


"oke bos, tapi lain kali jangan pake banting banting barang bos."


Meskipun kesal dengan kelakuan atasan nya Agus tetap membamtu membereskan serpihan serpihan yang berserakan di lantai.


"bagaimana dengan orang suruhan kamu yang lain."


"sama juga bos, belum ada tanda tanda keberadaan bu Ayu dan Naya."


Arga mengepal kan tangan nya geram, semenjak kepergian Ayu, dia tak bisa fokus pada apa pun, bahkan urusan pekerjaan, lebih banyak Agus yang menghandle.


Pikiran nya selalu tertuju pada Ayu dan calon anak nya yang berada dalam kandunga Ayu.


Dia tidak akan memaaf kan diri nya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada mereka.


Drt....drt.... Drt....


Perdebatan mereka buyar setelah ponsel arga bergetar.


"halo...... Iya......baik.... Saya usahakan kesana..."


Setelah menutup telfon nya wajah Arga terlihat lebih murung.


."kamu handle semua di sini, aku mau keluar kota beberapa hari."


Tanpa menunggu jawaban Arga segera berlalu, bahkan tanpa membereskan berkas yang berserakan di meja kerja nya.


Arga yang dulu gila kerja sekarang berubah 180%.


Dia tak pernah bisa fokus meski itu hanya pekerjaan kecil.


Agus hanya menggeleng pelan, merasa prihatin pada kondisi atasan nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


"silah kan masuk bapak Arga, dokter sudah menunggu anda"


"terima kasih suster."


"gimana kondisi nya dok?"


"begini pak Arga, terapi yang kami lakukan beberapa bulan ini memberikan hasil yang sangat bagus, kondisi kejiwaan ibu Mitha semakin baik, dia juga sudah bisa di ajak komunikasi, hanya dia akan histeris kalau mendengar kendaraan, mungkin itu bagian dari trauma nya"


"lalu?"


Tak ada rasa bahagia sedikit pun di hati Arga, mendengar kabar kesembuhan Mitha meskipun itu belum 100%.


"kami meminta orang orang terdekat dari ibu Mitha untuk sering sering mengajak komunikasi berbicara yang ringan ringan saja, itu bisa mempercepat lagi penyembuhan ibu Mitha."


Arga terdiam, tak bisa berfikir cepat, karena fikiran nya masih tertuju pada Ayu.


"Bisa saya bertemu dengan nya dok?"


"tentu, tapi tolong bicara yang ringan ringan saja."


Di ujung koridor, di atas bangku panjang seorang perempuan duduk sendiri dengan pandangan mata tertuju ke arah taman yang terdapat banyak pasien sedang bermain.


Dengan hati hati Arga duduk di samping perempuan dengan wajah sendu itu.


"apa kabar Mith?"


sapa Arga pelan, takut mengaget kan.


perempuan itu menoleh sejenak, memandang Arga dengan tatapan datar.

__ADS_1


"kamu dari mana"


Suara lembut dan datar itu membuat Arga seperti terbangun dari mimpi nya.


"aku..."


"kenapa kamu pergi"


Arga tak mampu menjawab, bibirnya seperti terkunci.


"apa aku seburuk itu?"


"apa kamu sudah makan?"


Arga mencoba mengalih kan pembicaraan.


"kamu jahat...kamu bawa pergi anak aku...kamu jahat...kembalikan anak ku....kembalikannnnnnn...."


Tiba tiba Mitha histeris dan memukuli Arga,. Suster yang bertugas segera membawa Mitha dan menyuntik kan obat penenang.


Rasa nya Arga akan semakin terpuruk saat Mitha benar benar sembuh.


"Arga!"


Dua orang paruh baya menyapa nya dengan pandangan mata datar dan lebih ke kecewa.


"bapak?"


"bapak dapat kabar dari dokter kalau Mitha sudah bisa komunikasi"


Arga mengangguk membenar kan pertanyaan kedua orang tua Mitha.


"bapak harap kamu membantu kesembuhan Mitha, dan segera membuat anak bapak keluar dari sini"


Laki laki itu berkata dengan menatap tajam Arga.


"ibu ingin kamu mengembalikan anak kami seperti dulu lagi, kami tak berharap apa pun, hanya ingin anak kami yang dulu."


Leher Arga seperti tercekat mendengar perkataan sederhana namun begitu dalam makna nya.


Arga hanya mengangguk tanpa mampu manjawab sepatah kata pun.


Pemandangan cukup mengharukan di depan mata Arga.


Terlihat pasangan itu menangis tersedu di ranjang putri nya yang terbaring lemah karena pengaruh obat penenang.


"bapak...ibu..."


Panggil nya lirih, semakin membuat kedua orang tua itu menangis haru.


"kami di sini nduk"


Usapan lembut tangan ibu di pucuk kepala anak nya mampu memuncul kan seutas senyum di bibir nya.


"kamu istirahat saja nduk, biar cepet sembuh, biar bisa cepet pulang, bapak sama ibu sekarang tinggal di dekat sini biar bisa jenguk kamu tiap hari."


"Arga"


"kamu mau cari dia nduk? Lebih baik kamu istirahat saja biar sembuh, jangan memikir kan yang nggak penting"


Orang tua itu seakan tak mengijin kan putri nya membahas soal Arga.


"dia ada."


"dia tadi ada di sini, tapi sudah bapak usir, kamu jangan takut"


"dia bawa anak ku, dia tidak mengembali kan anak ku."


Ketiga nya menangis tersedu menahan sakit , sedih dan kecewa.


Arga yang tak mampu menyaksi kan pemandangam yang mengharu kan itu segera pergi mengurus administrasi, dia bisa membayang kan perasaan orang tua Mitha, karena dia sendiri merasakan nya saat ini.


Ayu yang sedang hamil anak nya, pergi dari nya, itu membuat nya frustasi, dan tak fokus pada apa pun, apalagi kedua orang tua Mitha.


Hati nya semakin merasa bersalah karena dia penyebab semua ini.


"Arga tunggu!"


Laki laki paruh baya itu menghentikan langkah Arga yang hendak keluar dari rumah sakit.


"iya pak"


"bapak mau bicara sama kamu"


Di restoran kecil seberang jalan mereka memutus kan untuk berbicara.

__ADS_1


"bapak mau meminta satu hal dari kamu, tentang Mitha."


"saya akan berusaha memenuhi semampu saya, asal Mitha bisa cepet sembuh"


"seandai nya Mitha nanti sembuh dan mau bersama kamu apa kamu bisa?"


Tatapan mata tajam laki laki itu membuat Arga menelan saliva nya kasar.


"apa permintaan bapak itu terlalu sulit buat kamu?"


"bukan begitu maksud saya, saya hanya takut menyakiti Mitha lagi."


"tapi bagaimana bila putri ku masih cinta sama kamu?"


Kata kata yang tanpa basa basi cukup membuat Arga terkejut.


Bagaimana dia akan menjawab nya, sementara hati nya sudah terisi penuh sosok Ayu.


Tak semudah itu mengganti Ayu dengan Mitha di dalam hati nya.


"bapak tahu perasaan kamu, kamu tidak cinta sama putri saya, kamu cinta nya pada Ayu, tapi apakah bapak salah kalau bapak menuntut tanggung jawab kamu atas putri bapak."


Rasanya leher Arga benar benar tercekat, tatapan tajam laki laki paruh baya itu membuat nya sedikit gemetar.


"bapak tidak salah, bukan nya saya menolak untuk bertanggung jawab, tapi.... Apakah bapak akan rela bila putri bapak tidak bahagia bersama saya."


Kedua nya sama sama diam, hanyut dalam pemikiran masing masing. Mencoba mencari sisi terbaik.


"jika kamu menjadi bapak, apakah kamu akan membiarkan orang yang menghancurkan hidup putri mu begitu saja."


Arga menunduk, rasa bersalah nya semakin menyeruak dengan kalimat perumpaan dari bapak Mitha.


"kenapa kamu seperti nya sulit mempertanggung jawab kan kesalahan mu, padahal nak Ayu saja sudah menepati janji nya untuk pergi dari hidup mu demi Mitha."


Seperti tersambar petir mendengar kata kata dari bapak Mitha, bahwa ternyata Ayu sudah berjanji pada nya untuk pergi dari Arga demi Mitha.


Bahkan dalam keadaan hamil.


Arga mengepal kan tangan nya.


"jadi... Bapak meminta Ayu untuk pergi dari hidup saya..."


Suara Arga terdengar parau.


"iya... Dan nak Ayu paham maksud bapak, setidak nya sampai Mitha sembuh, itu permintaan bapak."


Rasanya Arga ingin marah pada laki laki tua itu, demi dia, Ayu yang sedang mengandung rela pergi.


Betapa tersiksa nya hati Ayu saat ini.


🥀


🥀


🥀


🥀


Hamparan kebun bunga yang luas, terdapat beraneka macam bunga, dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata dan udara segar yang lebih ke dingin, beberapa pekerja sibuk memanen hasil kebun.


Dari kebun bunga itu mereka menjadi pemasok tetap di beberapa toko bunga besar dan kecil.


Sangat sederhana memang tapi bagi penduduk desa, itu adalah pekerjaan yang menyenang kan. Mereka selalu bekerja dengan senang hati, apalagi mereka punya majikan yang baik meskipun dia seorang janda.


Janda yang baru saja di tinggal suami nya meskipun dia sedang hamil.


"buk, semua sudah siap kirim"


"oh iya pak, ini untuk uang transport nya."


"ibu mau nitip sesuatu dari kota, nanti saya belikan"


"iya, saya nitip benih bunga, ini sudah saya catat semua nanti bapak tinggal kasih ke toko nya."


"baik buk, saya pamit."


"hati hati pak Eko."


Laki laki paruh baya yang bertugas sebagai sopir dan kurir yang mengantar bunga ke toko toko langganan nya, laki laki itu kepercayaan majikan nya.


Bahkan istri dari pak Eko juga ikut bekerja, membantu pekerjaan di rumah majikan nya.


Juga membantu merawat gadis cilik bule putri dari majikan nya.


Meskipun kehidupan di desa kecil hanya sederhana tapi suasana nya cukup menenang kan hati, itulah yang di rasakan Ayu bersama putri kecil nya Naya yang sebentar lagi akan menjadi kakak.

__ADS_1


__ADS_2