
"bisa kah kau tidak pergi lagi?"
Mitha menggenggam erat tangan Arga dan memandang penuh harap.
"istirahat lah, kamu sakit"
"aku mohon"
Mata nya semakin berkaca kaca.
Sementara Arga hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.
"kita bicara kan ini lain kali, setelah kamu sembuh"
"aku mau sekarang"
Entah lah, di saat bersama Arga, Mitha seperti telah benar benar sembuh, mungkin karena merasa nyaman dan mental nya tenang.
"kau terlihat sangat pucat, istirahat lah, ada banyak hal yang harus ku urus"
"aku mau ikut, biar kan aku ikut bersama mu"
"tidak bila kondisi mu masih seperti ini."
"tapi aku takut.... Aku takut kamu pergi lagi"
Mitha berucap lirih, mata nya sayu, sementara Arga hanya bisa menghela nafas panjang.
Benar benar di kondisi dilema, Ayu yang sedang koma dan membawa bayi yang berada dalam kandungan nya, sementara di sisi lain Mitha yang menuntut keadilan atas diri nya.
"aku akan mempersiap kan keberangkatan kita ke Astralia, kamu istirahat saja"
"kita..... Kita akan pergi kesana"
"hmm"
Arga segera keluar setelah membaring kan Mitha di kamar nya.
"tunggu Arga, bapak tidak mengijin kan kamu membawa Mitha kemana pun tanpa ada ikatan yang jelas."
Pak Slamet mencekal kuat lengan Arga yang hendak pergi lagi.
"saya mohon, jangan mempersulit lagi, saya akan mengusahakan yang terbaik"
"tetap saja bapak tidak akan pernah mengijin kan, sebelum kamu mengambil keputusan yang jelas"
Suasana seketika menjadi tegang kembali dengan adu argumen antara Arga dengan bapak Slamet.
"kamu tahu Mitha satu satu nya putri kami, dan bapak sudah semakin tua, jika terjadi sesuatu pada bapak....."
"bapak!!"
Ibu Marni menghenti kan kalimat pak Slamet, air mata nya sudah jatuh berderai mendengar kalimat yang akan di katakan suami nya.
"bu, kita ini sudah tua, dan yang bapak mau, Mitha mendapat kan apa yang menjadi hak nya sebelum kita meninggal kan nya."
Ibu Marni semakin terisak mendengar kata kata suami nya yang memang benar.
__ADS_1
"Arga, mama mohon, kali ini saja, mama benar benar memohon, pikir kan lagi semua nya"
"jangan memohon sesuatu yang tak bisa Arga penuhi ma, mama tahu sendiri tentang Ayu."
"bapak tidak pernah meminta kamu bercerai, bukan kah dalam agama pun di perboleh kan untuk poligami?"
Arga semakin tercekat dengan kalimat yang di lontar kan pak Slamet.
nafas nya naik turun tak beraturan menahan gejolak yang benar benar membuat nya hampir frustasi.
🥀
🥀
🥀
🥀
"bu, segera sadar, kasihan Naya, juga bayi yang ada di kandungan ibu"
hanya dari balik jendela kaca mbok Surti dan pak Slamet bisa melihat keadaan majikan nya yang terbaring lemah dengan banyak alat medis yang menempel di tubuh nya.
Tubuh nya semakin kurus dan pucat.
"kita doa kan saja yang terbaik buat bu Ayu mbok, bapak sangat tak tega melihat bu Ayu seperti ini."
Kedua nya berjalan pelan meninggal kan rumah sakit dengan wajah murung.
Setelah kepergian mereka seorang perempuan cantik berwajah bule datang , raut sedih sangat terlihat jelas di wajah nya.
"apa kah ada perkembangan Gus?"
"seharus nya Arga ada di sini, dengan dukungan mental dari nya aku yakin Ayu akan segera sadar."
Kedua nya menghela nafas dalam.
Suasana hening.
"lalu bagaimana keputusan Arga tentang perempuan itu?"
"saya belum tanya pada si bos mbak, tapi dari raut wajah nya akhir akhir ini, seperti nya si bos sangat tertekan."
"I know, tapi Arga juga harus memikir kan keluarga Ayu, sebelum mengambil keputusan."
"keluarga?"
"ya, aku juga kenal dengan keluarga nya, dulu kami satu sekolahan sebelum aku pindah ke Ausi."
"apakah, mereka sudah mengetahui tentang_..."
Tanya Agus pelan dan hati hati.
"of course no.... Kamu gila apa, kalau mereka sampai tahu, kiamat dunia Arga, pasti mereka nggak akan membiar kan Arga ketemu lagi sama Ayu dan anak mereka"
Agus menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak terasa gatal.
Menelan saliva nya dengan susah.
__ADS_1
Dia tahu siapa keluarga Ayu, tentu bukan orang sembarangan, dan mereka juga sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.
Pasti akan sangat fatal jika mereka sampai tahu.
"tapi bukan kah akan sulit menyembunyi kan hal sebesar ini kepada mereka"
"ya memang, sulit, tapi setidak nya kita harus ..... Mau tak mau.... Apa kamu mau atasan mu gila karena di pisah kan dari Ayu dan calon anak nya."
Agus bergidik pelan membayang kan sosok Arga yang tampan tapi kehilangan kewarasan nya.
Tiba tiba perhatian Agus tertuju pada seorang perempuan cantik yang baru keluar dari ruang periksa dokter spog.
Mata nya membelalak ketika melihat perempuan itu dengan perut yang membuncit.
"lepaskan.... Dasar laki laki gila"
Perempuan itu meronta ketika Agus mencekal kuat pergelangan tangan nya.
"kita harus bicara"
"tak ada yang perlu di bicarakan, semua sudah selesai"
"aku tak akan melepas kan sebelum kita bicara, aku meminta baik baik, jangan sampai aku memaksa mu"
"dasar laki laki bajingan, lepas kan tangan mu atau aku teriak"
"silah kan teriak saja, biar media segera meliput berita mu"
Wajah perempuan itu terlihat geram, tak bisa berkutik dengan ancaman Agus, dan pasrah ketika Agus menarik tangan nya menuju cafe yaang berada di sebelah rumah sakit.
"aku tak punya banyak waktu, apa yang mau kau katakan, cepat lah"
Kata perempuan itu dengan nada ketus dan wajah yang tidak bersahabat.
"aku butuh penjelasan mu"
"penjelasan apa lagi?"
"itu anak ku?"
Seketika kedua nya terdiam dengan tatapan mata yang sulit di arti kan.
"bukan urusan mu?"
"aku butuh kejelasan, jangan beralasan lagi"
"meskipun ini anak mu aku tak mau menuntut pertanggung jawab an dari mu, aku tak sudi menikah dengan mu"
Meskipun kata kata yang keluar dari mulut nya terasa pedas, setidak nya Agus sedikit lega , karen Sella tidak menggugur kan anak hasil kesalahan satu malam yang mereka lakukan.
"baik lah, aku tak masalah, tapi aku mau anak itu setelah lahir"
Sella melotot seketika, bola matanya membulat seolah mau keluar.
"jangan mimpi, dasar bajingan, harus nya ini anak Arga, bukan anak sopir sialan seperti mu"
Setelah melempar buku menu kepada Agus, Sella segera berlalu.
__ADS_1
Tak di sangka dia akan bertemu dengan laki laki yang telah membuat nya hamil, karena ingin menjebak Arga.
Dan karena kejadian itu dia harus sembunyi, tepat nya menyembunyikan kehamilan nya yang tanpa suami dari orang banyak demi menjaga nama baik keluarga nya.