teratai

teratai
Salah siapa?


__ADS_3

"ada apa ini? Bisa jelaskan?....kenapa kalian diam....Arga ....Mitha....jelaskan? ...


Kenapa kalian diam? Tolong jelaskan"


wajah Ayu sudah merah padam antara rasa sakit, kecewa, penasaran dan bingung.


Mata nya tertuju pada perut Mitha yang membuncit.


"Mitha kamu hamil?....apakah ini....Arga...."


Ayu menggeleng geleng sendiri, dunia nya sekejab seperti gelap gulita di dalam terowongan yang sempit....


Ahhh...


Ayu berteriak sendiri, memegangi kepala nya melangkah mundur pelan.


"Ayu aku...."


Mitha menatap Ayu dengan berkaca kaca.


Sementara tubuh Ayu semakin hilang keseimbangan, terhuyung. Dengan sigap Arga meraih tubuh kecil istri nya dan mendekap erat dalam pelukan nya.


"jelaskan Arga...jelaskan..."


Kata Ayu semakin lirih sampai akhir nya tak sadarkan diri.


"aku harus bagaimana?"


Tanya Mitha menatap tubuh Ayu yang terbaring dengan wajah pucat pasi.


Arga hanya diam mengelus pucuk kepala istri nya, wajah nya kelihatan sedih dan bingung.


"katakan Ga? Aku harus bagaimana?"


Mitha mengulang pertanyaan nya dengan nada tinggi.


"maaf kan aku Mit....semua salah ku.


Kamu dan Ayu tak bersalah..."


Suasana ruang tamu yang luas dengan kursi sudut klasik itu menjadi hening.


Dua orang sedang duduk dengan saling diam, dan satu terbaring lemah.


"apakah aku salah jika aku menuntut tanggung jawab mu?"


Mitha menatap Arga dalam


"kamu nggak salah...."


Arga menunduk lesu, pikiran nya kacau.


"aku ambilkan Air"


Mitha pergi seraya mengusap bulir bening yang jatuh dari sudut matanya.


Semua ini terasa sulit,


Dari sudut pandang Mitha, dia tak salah menuntut tanggung jawab Arga atas kehamilan nya.


Namun dari sudut pandang Ayu dia bersalah karena Arga suami sah nya.


"Ayu...bangun Yuk....Ayuk, bangun sayang....jangan buat aku khawatir, Yuk...dari kemarin kamu sering pingsan, buat aku khawatir...Yuk, bangun sayang"


Arga mengguncang pelan tubuh istri nya yang terbaring, di usap usap kepala nya dan kecup kening nya penuh sayang membuat rasa sakit di hati Mitha tatkala melihat pemandangan itu dari belakang.


"apa kita bawa ke dokter saja?"


"kita tunggu dulu"


"minum lah, kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh"


Mitha menyodorkan teh hangat pada Arga, dengan tangan sedikit gemetar, Arga menimum teh nya.


"apakah kamu mencintai nya?"


Arga menatap Mitha sayu, tak menjawab hanya bisa menunduk.


Tanpa Arga menjawab, Mitha sudah tahu jawaban nya, di usap nya air mata yang mulai jatuh dari kelopak mata nya, dan di elus elus perut nya yang sudah mulai membuncit.


"bagaimana kandungan mu? Sehat"


pertanyaan yang terkesan canggung.

__ADS_1


Mitha hanya mengangguk meng iyakan


"lalu ...di mana orang tua mu?"


"mereka sedang ke rumah sodara di surabaya, silaturahmi, sekaligus mengundang mereka buat....."


Mitha menghentikan kata kata nya


"kenapa?"


"mereka kira kamu akan kesini untuk...menikahi ku"


Air mata Mitha semakin mengalir deras mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


"aku...akan tetap mempertanggung jawab kan semua ini"


jawab Arga lirih.


suasana menjadi hening di iringi dengan suara adzan magrib yang berkumandang.


Jamari Ayu bergerak pelan mendengar suara adzan yang berkumandang cukup keras.


"Ayu..kamu sudah sadar sayang, bangun sayang jangan bikin aku khawatir"


Arga mengguncang wajah cantik Ayu seraya menciumi nya penuh sayang.


Ayu mengerjab pelan mencoba mengingat kejadian yang baru saja terjadi, dengan memegangi kepala nya yang terasa luar biasa sakit Ayu mencoba bangun dari tidur nya untuk duduk.


"aku butuh penjelasan"


Ayu masih memijit pelan kening nya yang teramat sangat sakit


"Minum teh hangat dulu"


Mitha menyodor kan teh hangat.


Suasana hening sesaat, tak ada kata kata, tak ada suara...


"sudah berapa bulan?"


Tanya Ayu tanpa menoleh pada kedua nya


"sudah 5 bulan"


Ayu mengulang jawaban Mitha tak percaya


"waktu itu aku benar benar kacau saat kamu kabur dari pertunangan"


Arga menghentikan kata kata nya, menyulut seputung rokok, dan menghisap pelan menghadirkan segumpalan asap yang terbawa angin ke seluruh ruangan.


"aku memutuskan pindah ke luar negeri....aku pulang tujuh bulan yang lalu, saat aku di beri kabar bahwa rumah tangga mu tidak bahagia."


Arga kembali menghentikan ucapan nya


"aku mencari tahu semua melalui sahabat kamu Mitha, karena terlalu sering berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan nya ...aku merasa nyaman sama Mitha"


Ayu menggeleng pelan


"lalu ... Kenapa kamu terima begitu saja ketika di tunangkan dengan ku?"


"jujur, aku memang belum bisa move on dari kamu, meskipun kita di jodohkan hanya karena kakek kita, tapi sejak mendengar nama mu dan mencari semua artikel tentang mu, aku sudah jatuh cinta, meskipun kita belum pernah bertemu"


Perlahan bulir bening muncul di sudut mata indah Ayu.


"jika kamu cinta...kamu tak akan menghadirkan orang ketiga"


Ayu menatap Mitha dalam, dia tak percaya sahabat yang sudah di anggap seperti saudara bagi nya ternyata menjadi orang ketiga, disaat dia sudah mulai bisa membuka hati untuk Arga.


"rasanya tak adil kalau kamu sepenuh nya menyalahkan Arga Yuk"


Muka datar Mitha menatap sosok yang selama ini sangat dekat dengan nya


"yah...aku tahu...aku sadar....aku tak sepadan dengan cinta Arga yang begitu besar"


Ayu menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, terisak. Dia merasa dia lah yang telah meninggal kan perjodohan dengan Arga.


"tapi kenapa harus Mitha Ga....kenapa harus sahabatku?"


"maafkan aku...ku pikir, kamu tidak akan serius dengan pernikahan kita....dan aku merasa nyaman dengan Mitha"


Arga menunduk lemah...


"lalu bagaimana sekarang?"

__ADS_1


Ketiganya hanya terdiam, menunduk sibuk dengan pikiran masing masing.


"sungguh lucu Ga, kamu berkali kali bilang cinta ke aku, bilang aku satu satu nya perempuan yang kamu cinta tapi....kenyataan nya ada orang ketiga di antara kita"


"aku bukan orang ketiga Yuk, aku bersama Arga 7 bulan yang lalu, saat kamu masih jadi istri Novan...aku tidak pernah merebut Arga dari kamu"


"jadi....aku yang merebut Arga darimu..."


Kata Ayu sedikit sengit entah pada Mitha pada Arga atau kah pada diri nya sendiri. Ayu hampir bisa mengobati luka hati nya karena mantan suami nya, tapi sekarang justru laki laki yang Ayu pikir bisa mengobati luka nya malah memberi nya luka yang lebih dalam.


Lantas laki laki seperti apa lagi yang harus Ayu percayai.


"aku lah yang salah....memberi harapan pada kalian berdua..sementara..."


"sementara hati kamu masih milik Ayu?"


Mitha memotong kalimat Arga cepat


"ternyata disini akulah yang menjadi wanita bodoh yang percaya dengan mulut manis laki laki"


Mitha mengusap bulir bening di sudut mata nya seraya mengusap perut nya yang membuncit.


"lantas ...apakah salah jika aku menuntut tanggung jawab atas bayi yang ada dalam kandungan ku?"


Kata Mitha semakin lirih, namun begitu menghujam terasa di dada Ayu.


"sebaik nya kalian selesai kan masalah kalian...aku tak ada guna nya di sini"


Kata Ayu hendak beranjak tapi Arga mencekal kuat tangan nya.


"aku tak mau kamu pergi, aku benar benar cinta sama kamu Yuk"


"lalu bagaimana dengan Mitha?"


"aku akan tetap mempertanggung jawabkan perbuatan ku"


"lalu bagaimana dengan orang tua ku?"


Mitha menyela, memikirkan orang tua nya yang sudah mengundang sanak family jauh mengira Arga akan menikahi nya demi mempertanggung jawab kan kehamilan nya.


"kalian selesaikan saja...."


Air mata Ayu semakin deras, hati nya benar benar bak tersayat sembilu.


Mencoba melepaskan tangan Arga dan pergi


"Ayu aku mohon...tetap di sini Yuk...aku cinta sama kamu Yuk"


Arga mengikuti Ayu yang melangkah keluar di ikuti Mitha.


"disini aku lah yang bersalah, yang egois"


Terbata bata Ayu berkata menahan tangis...


"Ayu.."


Mitha mencekal tangan Arga yang hendak menyusul Ayu, sementara di luar, sudah datang keluarga Mitha beserta para family nya


"eh ada tamu"


Celetuk seorang perempuan, ibu nya Mitha.


Ayu tak menghiraukan, dan segera berlari keluar setelah sempat menoleh kebelakang dimana Mitha mencekal tangan Arga yang ingin mengejar nya.


Tangis nya tak terbendung lagi, Ayu segera berlari dari rumah yang membuat hati nya hancur tak tersisa..


Pikiran nya sangat kacau, dia tak tahu harus menyalah kan siapa....


Harus bagaimana, dan apa yang harus di jelaskan pada keluarga nya juga keluarga Arga.


Entah sudah berapa jauh Ayu berlari, menangis histeris sepanjang jalan seperti orang kesurupan, rasa sakit di kepala nya terkalah kan oleh rasa sakit di dada nya...


hari yang sudah gelap membuat suasana jalanan sepi jadi Ayu tidak menjadi tontonan karena berlari dan histeris di jalanan.


"pak ojek"


"iya, kemana buk?"


"ke pangkalan taxy yang bisa ke luar kota pak"


"siap, saya antar buk"


Dengan di antar ojek Ayu mencari taxy untuk segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2