
Seorang laki laki berlari lari di ruang tunggu bandara Adisutjipto kota jogjakarta, wajah nya nampak kusut dan cemas. Bahkan sesekali menabrak penumpang yang berlalu lalang.
Arga kalang kabut mencari istri nya setelah mendapat informasi dari orang suruhan nya untuk mencari keberadaan istri nya.
Nafas nya tersengal berlari sepanjang koridor, kemeja yang di pakai nya lusuh dan berantakan. Mata nya nanar memandang sekeliling nya mencari cari sosok yang tak jua di temukan nya.
"maaf tuan, ibuk sudah berangkat setengah jam yang lalu"
Dua orang berpakaian hitam hitam memberi nya informasi.
Arga tak menjawab wajah nya terlihat sangat kecewa.
"ibu juga berpamitan kepada keluarga kalau pergi dengan anda"
Seorang lagi memberi nya informasi.
Arga sudah tak bisa berkata apa apa lagi. Lidah nya seperti kaku, untuk kedua kali nya dia kehilangan sosok wanita nya.
"terima kasih, tugas kalian sudah selesai."
Arga terduduk di kursi tunggu, mengacak acak sendiri rambut nya. Hingga akhir nya tersadar saat dering ponsel di saku nya berbunyi.
"halo "
"halo nak Arga, kamu di mana?"
Suara laki laki setengah tua menyadar kan diri nya, bahwa dia punya janji untuk mempertanggung jawab kan perbuatan nya.
"iya, pak, saya segera kembali, hanya keluar cari angin sebentar."
Arga menutup ponsel nya dan beranjak dengan tubuh lemas, di sisi lain dia kehilangan cinta nya, ingin rasa nya pergi menyusul ke Pert, tapi di sisi lain, tak mungkin dia pergi dan membiarkan Mitha menanggung semua beban atas kesalahan mereka.
Wajah nya terlihat pucat dan garis mata nya menghitam, semalaman ridak tidur sama sekali.
Di lajukan mobil nya kembali ke arah Madiun tak bersemangat sama sekali, sesekali di pukul nya kemudi nya seraya berteriak meluap kan rasa sesal dan kecewa nya.
Arga menyadari telah menyakiti dua wanita sekaligus.
"bagaimana saksi sah?"
"sah.."
Teriak semua yang hadir menjadi saksi dalam pernikahan yang sebenar nya sama sekali tak di ingin kan Arga.
Tak ada raut muka bahagia di wajah kedua nya baik Arga maupun Mitha.
Saat semua tetangga dan sanak family memberi ucapan selamat pun wajah kedua nya hanya bermimik datar, bahkan kedua nya terlihat sama sekali tak saling berbicara, lebih sibuk dengan pemikiran masing masing.
Setelah acara kecil kecil an yang di adakan keluarga Mitha selesai Arga membantu membereskan rumah yang cukup berantakan.
Meski hati nya terasa sakit, kecewa dan bingung, dia tetap bersikap normal.
"minum lah...kamu pasti lelah"
Mitha menyodor kan secangkir teh hangat pada Arga, tetap tanpa senyuman dan wajah datar.
Terlihat jelas bahwa mereka tak merasa kan kebahagiaan dari pernikahan hari ini.
"terima kasih, istirahat lah biar aku yang bantu bantu keluarga mu"
__ADS_1
Hati Mitha terasa sakit, bahkan Arga berkata pun tanpa memandang nya, jelas jelas bahwa hati nya tidak berada di tempat ini, hati nya bersama dengan perempuan lain.
Arga membantu memberes kan sisa sisa acara hari itu, sebagian keluarga yang jauh juga sudah pulang.
Tinggal kerabat dan tetangga terdekat yang ikut membantu bersih bersih.
"apa yang akan kamu lakukan selanjut nya?"
Pertanyaan Mitha sontak membuyar kan lamunan Arga.
"entahlah?"
"kamu kembali ke Jogja saja, pekerjaan mu pasti sudah menanti mu"
Arga menghela nafas dalam, menyulut seputung rokok.
Karena Arga tahu Ayu pamit pergi dengan nya dan jika dia pulang ke Jogja pasti semua akan bertanya perihal istri nya dan pasti nya juga semua akan menyalah kan nya....
"sampai kan maaf ku pada Ayu, aku telah menyakiti hati nya, kamu bisa kembali pada nya setelah anak ini lahir"
Kedua bola Matha nampak berkaca kaca, karena memang itu pilihan yang sulit bagi nya, di sisi lain Mitha tak mau keluarga nya menanggung aib atas kehamilan nya jika Arga tak menikahi nya, tapi di sisi lain Ayu adalah sahabat karib nya, dan dia juga tak bisa menyalah kan Ayu karena memang Ayu tak tahu perihal hubungan nya dengan Arga sebelum nya.
"kenapa minta maaf, kalian tak salah sama sekali, aku lah yang salah telah membagi hati pada kalian"
"membagi?..... Apakah kamu mencintai ku"
Arga terdiam, mendengar pertanyaan Mitha
"tak apa, aku sudah paham, akulah yang terlalu berharap...."
Mitha mengusap bulir bening di sudut mata nya, hati nya terasa amat sakit.
Mitha terdiam, mematung seakan tak mendengan kata kata Arga.
Tiba tiba mata Arga tertuju pada secarik kertas yang sedikit tersembul dari bawah meja, hanya terlihat bagian atas dan tertulis nama Rahayu cahyaning tyas rahardjo.
Ini punya Ayu mungkin terjatuh saat Ayu pingsanbkemaren.
Di tarik nya secarik kertas itu dari bawah meja, di baca nya dengan seksama.
Mata nya melotot, dan wajah nya memerah...
"ada apa?"
Mitha bertanya melihat perubahan wajah Arga.
"jadi ..... Ayu....."
Arga mengacak acak rambut nya sendiri.
Itu adalah surat referensi dari dokter untuk Ayu melakukan operasi ke luar negeri.
"ada apa dengan Ayu?"
Mitha bertanya dengan cemas, di ambil nya secarik kertas dari tangan Arga.
"Ayu, dia sakit apa?"
mulut Arga hanya menganga tak mampu menjelaskan apa pun, di raih nya kunci mobil dan beranjak.
__ADS_1
"Arga, tolong jangan pergi..."
Teriak Mitha, menahan Arga
"aku hanya sebentar, segera kembali..."
"Arga acara tujuh bulanan sebentar lagi..."
Arga tak mendengar teriakan Mitha, pikiran nya sudah terlanjur kacau. Di laju kan mobil nya dengan sedikit kencang menuju Jogja, tepat nya ke tempat dokter yang memberi surat rujuk biat Ayu.
Pikiran nya benar benar tak terkendali kan, selama ini dia tak tahu sama sekali bahwa kecelakaan yang di alami Ayu berakibat fatal, dan ternyata itu lah alasan Ayu mengajak nya liburan ke luar negeri, bukan untuk honey moon, bukan untuk ber senang senang, melain kan untuk berjuang karena sakit nya....
Dan sekarang Ayu berangkat sendiri, dia berjuang sendiri tanpa seorang pun bersama nya, tanpa seorang pun yang memberi nya semangat, justru dia pergi dengan membawa luka hati.
Luka hati yang telah dia lakukan,
Sungguh bodoh sekali aku
Kata hati Arga memaki diri nya sendiri.
"separah itu kah dok?"
"iya pak, karena kemaren saya sudah peringat kan ibu Ayu jangan terlalu stres, itu akan semakin memperburuk keadaan nya"
Arga menggeleng geleng sendiri, mendengar penjelasan dokter
"akhir akhir ini Ayu sering pingsan, apakah itu juga pengaruh sakit nya dok?"
"iya pak,... Karena itu saya saran kan ibu agar segera operasi, sebelum makin parah agar bisa meminimalisir resiko buruk nya"
"apa resiko terburuk nya dok?"
"resiko yang terburuk bu Ayu akan kehilangan sebagian dari ingatan nya"
"kehilangan ingatan?"
"benar, tapi tidak semua ingatan, mungkin sebagian saja, bisa jadi ingatan yang paling di benci atau yang paling di sukai, akan hilang dari memori nya"
Separah itu kah kondisi Ayu, dan kenapa dia tak bilang pada Arga mengenai itu.
Ya Tuhan...suami macam apa aku ini.
Kata hati Arga mengetahui kenyataan yang sebenar nya.
"dok, saya minta alamat rumah sakit nya"
"maaf pak Arga, bu Ayu tidak memilih rumah sakit rekomendasi dari saya, beliau sudah punya rumah sakit tujuan sendiri."
Arga tak percaya bahkan Ayu merahasia kan keberadaan nya dari Arga.
Dengan langkah gontai Arga keluar dari rumah sakit, tak mendapat informasi tentang keberadaan istri nya sama sekali membuat nya semakin sedih dan khawatir, untuk tanya pada keluarga juga tak mungkin.
Drtt drtttt....drt....
Arga melihat ponsel nya yang bergetar panggilan masuk dari Mitha
"iya aku segera kembali"
"Ar..."
__ADS_1
Belum sempat mendapat jawaban Arga sudah mematikan ponsel nya dan segera melajukan mobil nya kembali ke arah rumah Mitha.